Home Sweet Home

Christine V. Meaty, Psikolog

“Home Sweet Home” sedang tren di kalangan masyarakat Amerika Serikat. Namun anehnya, di Indonesia malah sedang terjadi kegamangan perkawinan. Fenomena seperti ini bisa terjadi dalam suatu dekade, dan kemudian terjadi pergeseran kembali ke “back to nature – back to family”.

Ada beberapa faktor yang memberi peluang pria berperilaku free father. Pertama, gaya hidup metropolis yang penuh godaan. Pria yang lemah akan menjerat dirinya ke dalam posisi ini. “Yang penting saya happy, bikin hidup lebih hidup”.

Kedua, tidak komitmen terhadap nilai-nilai perkawinan dan motivasi berkeluarga yang jauh dari hakekat normatif. Pria yang tidak komit cenderung mengabaikan keluarga. Dan dia akan berusaha menghindar dari tanggung-jawab, sekalipun menyadari tapi ia tidak ingin melakukan perubahan sepenuhnya.

Ketiga, masa kecil yang kurang bahagia, dan masa muda yang kurang puas. Atas kekurangan ini, diapun akhirnya mencari kesenangan untuk memuaskan dahaga “pleasure”-nya.

Keempat, hidup di luar koridor ikatan keluarga, sehingga ia merasa dapat mengatur perilakunya sendiri. Tanggung-jawab sebagai suami atau ayah malah dirasakan sebagai beban yang dapat membatasi kebebasannya.

Apakah pola hidup seperti ini bisa dibenarkan oleh sosial dan budaya Indonesia? Tergantung pada kompromi dan penerimaan lingkungan. Karena setiap lingkungan mempunyai nilai-nilai sosial yang berbeda, misalnya lingkungan elite kota besar tentu berbeda dengan kota kecil.

Di pemukiman kota kecil, misalnya, seorang suami lebih memilih nongkrong di pos hansip sambil main gaple, minum kopi sampai tengah malam bahkan sampai subuh. Sementara di kota besar, fenomenanya pasti berbeda, tawaran dunia gemerlap alias dugem lengkap dengan hiburan yang akrab dengan minuman keras, narkoba sampai wanita penghibur dan pacar gelap, kerap menjadi tawaran menggoda. Itulah realita kehidupan kota.

Jika menemukan suami yang suka hidup bebas seperti ini, istri sebaiknya bersikap bersabar sambil mencari waktu yang tepat untuk mengajak dialog, dan mengingatkan kembali tujuan perkawinan serta komitmen berkeluarga. Sementara, anak sebaiknya mengajak ayah untuk melakukan kegiatan bersama, misalnya menonton, memancing, berenang dan belanja bersama. Mengajak sang ayah terlibat dalam pengambilan setiap keputusan, memilih sekolah dan memberi pertimbangan dalam hal-hal pribadi maupun yang bersifat umum. Bahkan sekali waktu mengikuti kegiatan ayah di luar rumah dan menawarkan diri untuk ikut serta dalam kegiatannya.

Hubungan keluarga semacam ini sangat rentan konflik, karena tidak adanya ikatan yang kokoh untuk saling berbagi dan memahami. Hubungan seperti juga rentan terhadap sikap saling tidak peduli, sibuk dengan urusan masing-masing. Harus disadari, rumah tangga ideal adalah tempat keluarga berkumpul dan bercanda, berbagi suka-duka, layaknya home sweet home. Ada waktu makan bersama, menonton TV, berdiskusi dan bertukar pendapat.

Previous article
Next article

Related Stories

spot_img

Discover

Introducing Villa Timeo: A Sicilian Noble Residence Re-Enchanted by...

An intimate hillside hideaway overlooking Naxos Bay—steps from the legendary Grand Hotel Timeo. Taormina memang...

Banyan Group Buka Properti ke-100

Bawa “Jungle Escape” Paling Premium ke Singapura Mandai Rainforest Resort by Banyan Tree bukan cuma...

PRU & JAMPA: Standar Baru Kuliner Phuket

Montara Hospitality Group kembali mendominasi Michelin Guide Thailand 2026 dengan filosofi yang berpihak pada...

The PuLi Group Siap Meluncur 2026

Luxury Baru Asia yang Tenang, Tajam, dan Penuh Attitude Ada dua jenis hotel mewah di...

Gosip: Olahraga Favorit Kantor yang Diam-diam Bikin Otot Kepercayaan...

Di kantor, tiga kata paling mematikan bukanlah “kita rapat sekarang”, tapi: “Eh, sudah dengar…?” Biasanya...

CasaLena Perkenalkan Identitas Kuliner Baru: Menu Lunch & Dinner...

Menjelang akhir tahun, CasaLena, restoran Latin American Grill premium di Jakarta Selatan, mengajak para...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here