The Magic of Wine

Vin+ sendiri sering mengadakan wine testing, minimal sebulan sekali. Setiap Sabtu, komunitas penggemar anggur bisa mencicipi anggur gratis. Dalam acara tersebut, rata-rata Vin+ mengeluarkan 6 botol anggur untuk dicoba tamu. Menurut Reimer, wine testing bukan cara Vin+ mendapatkan keuntungan. “Tujuan kami agar mereka bisa mencoba, kemudian membeli koleksi kami,” katanya. Cara ini memang ampuh. Sehingga, sejak grand opening November 2004, pendapatan tiap bulan terus naik, 10%-20%.

Dengan luas toko sekitar 350 m2, Vin+ menyediakan sekitar 700 jenis anggur dengan harga US$ 6-1.600. Vin+ merupakan ritel terlengkap dan terbesar, koleksi anggurnya dari Kalifornia, Cile, Afrika Selatan, Argentina, Australia, Selandia Baru, Italia, Spanyol, Jerman serta Prancis. Kebanyakan anggur yang dijual adalah anggur dengan kategori fast moving, yang gampang dijual di pasaran. Namun, Vin + juga menyediakan anggur dengan harga sampai US$ 1.600 yang bisa disimpan selama 30 tahun.

“Dalam bisnis ini, risikonya hanya dalam hal pengadaan barang, ada kuota impor dari Deperindag, pengawasan dari bea cukai dan pengawasan lain, karena anggur dianggap sebagai barang mewah yang harus diawasi,” ujar Reimer yang juga menyediakan wiski dan beberapa minuman beralkohol lain sebagai tambahan, tapi kontribusi terbesarnya tetap anggur.

Di Indonesia, menurut Reimer, harga anggur tergolong mahal, apalagi ditambah dengan pajak seperti bea masuk, pajak barang mewah atau PPN. Jangan heran, anggur yang termasuk jenis koleksi, seperti Romane Conte tahun 1996, harganya bisa Rp 80 juta/botol. “Bisa dimaklumi kan, kalau pemain di bisnis anggur tidak banyak,” kata Reimer yang akhir tahun ini akan menyediakan wine lounge. “Ini bukan profit center, tapi fasilitas bagi pelanggan,” katanya.

Itu pula yang dilakukan Paprika Wine Lounge & Restaurant ketika didirikan tahun 2000. Restoran fine dining di Jakarta yang bertaraf internasional sudah banyak, tapi yang khusus anggur atau wine lounge bisa dihitung dengan jari, ujar Mury Susanto, salah satu dari empat pemilik resto yang berlokasi di Jl. Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, itu.

Hanya saja, karena persaingan bisnis anggur semakin ketat, terutama dengan semakin banyaknya para penjual anggur, baik melalui pasar swalayan atau wine shop khusus, maka Februari tahun ini Paprika, yang kelemahannya tidak terletak di hotel berbintang, lebih memaksimalkan dining area ketimbang wine lounge-nya.

Memang, kebanyakan resto memasukkan anggur sebagai menu tambahan. Apalagi, resto yang berlokasi di hotel berbintang, ketersediaan anggur adalah keniscayaan. Namun, tentu tidak tepat kalau ada yang berpendapat bahwa anggur tidak bisa dipertanggungjawabkan secara bisnis, apalagi sekadar gengsi. Meski kuantitasnya relatif kecil, margin laba anggur tergolong tebal, 30%-40%.

Anggur sangat banyak variasi dan jenisnya, bisa berdasarkan warna karena dari bahan dan proses produksinya (merah, putih dan rose), ada juga yang berdasarkan asal daerah penghasilnya, serta tahun panen anggur tersebut. Tidak ada satu merek yang lebih dominan ketimbang yang lain, kecuali kategorinya berdasarkan kualitasnya: premium dan nonpremium.

Photo by Scott Warman on Unsplash

Tidak seperti minuman beralkohol lain yang secara berkala melakukan promosi — sebutlah Chivas Regal atau Remy Martin untuk wiski, Martel atau Bols untuk cognac, Absolut atau Skyy untuk vodka, dan Bintang atau Anker untuk bir — kebanyakan pemasyarakatan anggur di sini pendanaannya tidak didukung prinsipalnya.

Itu sebabnya, pihak distributorlah di sini yang melakukan kegiatan khusus, seperti mengadakan event untuk menggaet atau mengikat pelanggan. Itu pula yang dilakukan Paprika yang masih mempertahankan acara wine dinner. Menyangkut masalah koleksi anggurnya, Paprika masih tergolong lengkap, sama dengan sebelum berubah. “Kami selalu mencari anggur yang terbaik dan paling bagus dari wine producer asal Prancis, Australia, Amerika, Afrika Selatan dan Cile,” kata Mury.

Previous article
Next article

Related Stories

spot_img

Discover

Introducing Villa Timeo: A Sicilian Noble Residence Re-Enchanted by...

An intimate hillside hideaway overlooking Naxos Bay—steps from the legendary Grand Hotel Timeo. Taormina memang...

Banyan Group Buka Properti ke-100

Bawa “Jungle Escape” Paling Premium ke Singapura Mandai Rainforest Resort by Banyan Tree bukan cuma...

PRU & JAMPA: Standar Baru Kuliner Phuket

Montara Hospitality Group kembali mendominasi Michelin Guide Thailand 2026 dengan filosofi yang berpihak pada...

The PuLi Group Siap Meluncur 2026

Luxury Baru Asia yang Tenang, Tajam, dan Penuh Attitude Ada dua jenis hotel mewah di...

Gosip: Olahraga Favorit Kantor yang Diam-diam Bikin Otot Kepercayaan...

Di kantor, tiga kata paling mematikan bukanlah “kita rapat sekarang”, tapi: “Eh, sudah dengar…?” Biasanya...

CasaLena Perkenalkan Identitas Kuliner Baru: Menu Lunch & Dinner...

Menjelang akhir tahun, CasaLena, restoran Latin American Grill premium di Jakarta Selatan, mengajak para...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here