HONO

Ruang Mendengarkan yang Menghidupkan Ritme Berawa

Di TUI BLUE Berawa, piringan hitam, sajian sepanjang hari, koktail, dan komunitas dipertemukan dalam sebuah lounge yang bergerak perlahan—dari kopi pertama hingga lagu terakhir.

Berawa memiliki cara tersendiri dalam menikmati waktu. Pagi dapat dimulai dengan secangkir kopi, berlanjut menjadi makan siang tanpa rencana, lalu berakhir jauh setelah matahari tenggelam. Ritme itulah yang ditangkap HONO, social listening lounge terbaru di TUI BLUE Berawa, Bali.

HONO dirancang sebagai tempat untuk mendengarkan musik dengan sungguh-sungguh, tanpa menghilangkan kenikmatan berbincang. Terinspirasi oleh keintiman vinyl lounge dan spontanitas sebuah sesi jam, ruang ini menghadirkan tata suara yang terasa nyata, tetapi tidak mendominasi. Cukup lantang untuk menikmati setiap detail rekaman, namun tetap nyaman untuk percakapan.

Namanya menyimpan beberapa lapis makna. Honō dalam bahasa Jepang merujuk pada bara lembut, sementara hono dalam bahasa Polinesia berarti hubungan. Ada pula gagasan Hawaii tentang tempat perlindungan atau ruang yang aman. Ketiganya membentuk karakter HONO: hangat, terbuka, dan memiliki jiwa—sebuah tempat yang mengundang orang datang untuk minum kopi, bertahan hingga makan siang, lalu menyadari tidak ada alasan untuk segera pulang.

Musik yang Mengikuti Waktu

Piringan hitam menjadi pusat pengalaman, meski kaset dan CD juga mendapat tempat. Pilihan musik bergerak bebas di antara jazz, bossa nova, soul, folk, dan funk. Alih-alih terpaku pada satu genre, kurasi mengikuti perubahan suasana sepanjang hari.

Pagi berjalan perlahan bersama kopi, sarapan, dan alunan jazz serta bossa nova. Memasuki siang, soul dan folk menemani menu all-day dining. Ketika matahari mulai turun, aperitivo hadir bersama funk bernuansa hangat. Malam kemudian menemukan ritmenya melalui koktail, vinyl, jazz, serta sejumlah penampilan langsung pilihan.

Di HONO, musik bukan sekadar latar. Ia menjadi bagian dari arsitektur suasana—membentuk tempo ruangan tanpa memaksakan perhatian.

Koktail dalam Struktur Sebuah Rekaman

Pendekatan musikal juga diterjemahkan ke dalam daftar koktail yang disusun seperti perjalanan sebuah album.

Bagian pembuka, Intro, menghadirkan minuman segar dengan kadar alkohol lebih ringan, antara lain Sencha Sour dan Earl Grey Highball. Pada bagian Chorus, Mezcal Sour serta Cherry & Scotch menawarkan keseimbangan rasa yang lebih tegas.

Perjalanan berlanjut menuju Bridge, dengan karakter berasap dan kedalaman rasa melalui Smoked Negroni serta Raisin & Port. Sementara itu, Coda menutup pengalaman dengan racikan yang lebih kaya dan spirit-forward, seperti Coconut Old Fashioned, Coffee & Whisky, dan Pineapple Negroni.

Daftar tersebut berubah karakter seiring berjalannya waktu: ringan saat seseorang baru mulai memilih rekaman, kemudian semakin kompleks ketika malam memasuki babak berikutnya.

Dapur HONO bekerja dalam harmoni serupa. Menu sarapan sepanjang hari beralih menuju hidangan ringan dan piring berbagi, sebelum berkembang menjadi sajian utama, pizza, serta pencuci mulut. Makanannya dirancang mengikuti cara orang berkumpul—menemani sebotol minuman, makan siang yang berlangsung lebih lama dari perkiraan, atau makan malam setelah beberapa lagu diputar.

Dari Pendengar Menjadi Bagian dari Musik

HONO tidak membatasi tamunya sebagai penonton. Mereka dapat membawa koleksi piringan hitam sendiri, meminta lagu, mengikuti sing-along, atau bergabung dalam sesi jam tertentu.

Program regulernya mencakup Selector Nights berbasis vinyl, Bring Your Own Vinyl, serta HONO Invites yang mempertemukan musisi dan komunitas kreatif lokal. Ada pula Board Game Afternoons serta Saturday Jazz and Breakfast, yang menghadirkan piano dan gitar secara langsung dua kali setiap bulan, pukul 08.00–10.00.

Setiap Jumat, penampilan gitar dan saksofon berlangsung pukul 17.00–19.00, dilanjutkan sesi Vinyl DJ. Pada malam-malam tertentu, musisi dan DJ akan tampil bersama, membawa aliran musik dari dalam lounge menuju area luar ruang.

Formatnya tidak dibuat sebagai pertunjukan megah dengan jarak antara penampil dan penonton. Sebaliknya, HONO menawarkan kedekatan—sensasi menyaksikan sesuatu terbentuk secara spontan, tepat di hadapan orang-orang yang sedang berada di ruangan.

Terbuka bagi tamu hotel maupun publik, HONO diposisikan sebagai destinasi sosial dan musik tersendiri di Berawa. Lounge ini juga menjalankan konsep bottle club, sehingga pengunjung dapat membawa dan membuka botol milik mereka sendiri dengan biaya corkage.

Pada akhirnya, HONO bukan tempat untuk sekadar singgah. Ia mengajak tamu menetap dalam suasana: datang karena rekaman yang telah dikenal, lalu bertahan demi lagu yang tidak pernah diperkirakan akan terdengar.

Dari kopi pertama hingga nada terakhir, selalu ada alasan untuk menikmati satu sisi piringan lagi.

HONO Social Listening Lounge
TUI BLUE Berawa, The Luc
Berawa, Bali
Terbuka untuk umum
Instagram: @hono.lounge

Previous article

Related Stories

spot_img

Discover

Musim Gugur, Cara Aman

Dari upacara minum teh di Kyoto hingga berenang bersama hiu paus di Sumbawa, Aman...

Seni Vietnam Menemukan Panggungnya

Ketika Sapa Berbalut Emas Musim panen mengubah terasering Sapa menjadi lanskap keemasan. Di Hotel de...

Ayana Bali Buka Babak Baru Perhelatan Berskala Besar

Grand Ballroom tanpa pilar, panorama laut Jimbaran, serta hampir seribu kamar dalam satu kawasan...

Threads of Asia

Ketika Api Ubud Bertemu Presisi Seoul di Meja Makan Kolaborasi Api Jiwa dan SU MA...

Ketika Para Chef Berbintang Michelin Menguasai Canggu

Regent Bali Canggu mendatangkan sejumlah nama berpengaruh dari London, Bangkok, Kuala Lumpur, dan Singapura....

Hilton Padalarang, Alasan Baru untuk Berhenti di Bandung

Terhubung lebih cepat dengan Jakarta lewat Whoosh, Hilton Padalarang Bandung menawarkan 218 kamar, empat...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here