Noosa Cuisine

Perjalanan selanjutnya adalah ke Noosa, kawasan pantai di Sunshine Coast dan menginap di The Sebel Resort Noosa. Pantai selalu menarik perhatian orang Australia. Menjadi area untuk berjemur atau sekadar menikmati hangatnya matahari, yang merupakan kemewahan tersendiri bagi penduduk yang berdiam di wilayah empat musim.

Itu sebabnya Noosa yang beriklim subtropis menjadi sangat hidup. Padanannya mungkin Kuta di Bali, tapi dalam versi yang lain, lebih tertata rapi. Pembangunan secara modern di wilayah ini dimulai sejak 1940. Dan kini, kota dengan 40.000 penduduk ini berkembang pesat, berbagai tempat pelesiran didirikan, hotel-hotel mewah bermunculan.

Resto dan kafe juga berkembang pesat di Noosa. Masing-masing tidak hanya unik, tapi juga stylish. Lebih dari 200 fine dining restaurant, belum termasuk fast food outlet. Ada yang berlokasi di tepi pantai, di tebing, juga di pinggir sungai. Jenis makanannya terdiri dari daging-dagingan hingga seafood, dimasak ala makanan Barat.

Belakangan bahan makanan organik menjadi tren dengan pengaruh masakan ala Asia dan Mediteranean. Yang menarik, “rahasia dapur” masing-masing resto itu sering dipublikasikan dalam koran lokal, juga diterbitkan dalam bentuk buku. Di antaranya adalah Noosa – The Cook Book (1999) yang memuat lebih dari 30 resep resto ternama di kawasan Noosa. Dengan berbagai keunikannya, pantas saja kalau Jane Robinson, Marketing Co-Ordinator Tourism Noosa Limited, menyebut Noosa sebagai salah satu melting pot yang penting di Australia.

Di Noosa kami berkesempatan menikmati makan malam di dua restoran ternama. Ricky Ricardo’s dan Berardo’s Restaurant. Resto yang pertama berlokasi di tepi sungai. Ricky yang pernah memenangkan American Express Award 2001 dan Best Sunshine Coast Restaurant itu menyajikan makanan ala Mediteranean.

Sementara Berardo’s dengan pemilik yang juga sekaligus chef David Rayner menyuguhkan sajian khas Australia, mewakili salah satu gaya Noosa Cuisine. Meski masuk melalui pintu kecil di tengah-tengah keramaian Noosa, di dalamnya ternyata lega. Dengan dekorasi etnik-modern yang serba putih, serta alunan piano, suasana menjadi romantis. Selama makan kami ditemani langsung oleh David yang kelahiran Inggris sambil menjelaskan satu per satu makanan yang datang ke meja kami. Makanan pembukanya terdiri dari tiga jenis, yakni sepotong ikan tuna yang dimasak ala sashimi, dada burung, dan kemudian salad yang terdiri dari tomat dan sayur-sayuran organik.

Menu utama banyak pilihan, dan saya memilih lobster yang dimasak dengan white wine, chili, basil dan vanila. Pilihan teman-teman yang lain beraneka, tapi semuanya memuji kelezatannya, dan saya mengamininya. Restoran yang masuk “the big five” di Noosa itu mengklaim makanan yang disajikan hampir 95% terbebas dari bahan kimia. Oleh koran lokal, The Courier Mail, Berardo’s juga dipuji sebagai resto yang mempunyai makanan yang enak, suasana yang mengasyikkan, serta mempunyai wine list yang sempurna.

Ke Noosa kurang lengkap kalau tidak mengetahui rahasia makanannya. Maka, kami pun pergi Villa Alba House of Sunshine untuk ikut cooking class – salah satu item yang dijual sebagai daya tarik pariwisata. Vila tersebut terletak di Noosa Valley, dekorasinya bergaya Eropa modern yang dipengaruhi gaya Bali, mempunyai kolam renang, serta berhalaman luas dengan pemandangan kebun dan pepohonan besar.

Selain para wartawan ada beberapa ibu yang ikut bergabung. Pemandu kursus tersebut sekaligus pemilik vila adalah sepasang suami istri, Sebastian dan Fiona Falzon. Dari namanya mereka memang berasal dari Italia. Siang itu kami membuat makanan Italia, terdiri dari agnello (seperti gule kambing dengan kentang), tortellini (pastel kecil yang berisi daging), serta Italian Easter.

Fiona yang pengacara tapi mempunyai hobi memasak itu menerangkan resep sambil mempraktekannya. Para peserta tidak hanya menyimak, tapi juga ikut membantu. Acara masak-memasak memakan waktu sekitar dua jam, kemudian diakhiri dengan makan siang bersama dari hasil masakan tersebut. Tidak lupa, selama makan berlangsung tersedia berbagai wine Australia. (Burhan Abe)

ME 2002

Previous article
Next article

Related Stories

spot_img

Discover

Belitung yang Dijaga Waktu

Alam, Warisan, dan Cara Hidup di Tanjung Kelayang Reserve Di Kepulauan Belitung, lanskap tidak sekadar...

Da Maria, dan Seni Tetap Relevan di Bali

Di Bali, restoran datang dan pergi seperti ombak. Yang bertahan lama? Biasanya bukan yang...

Hawker Legends di NIHI Sumba

Ketika Warisan Rasa Tak Perlu Berteriak Ada jenis kemewahan yang tak merasa perlu menjelaskan dirinya...

AlUla dan The Red Sea Punya Tawaran Panas 2026

Ramadan, Tapi Versi Paling Stylish Lupakan bayangan Ramadan yang serba sunyi dan repetitif. Di Saudi,...

Java Jazz Festival Buka Babak Baru di Usia 21

Penyelenggara Java Festival Production mengumumkan penyelenggaraan myBCA International Java Jazz Festival 2026, yang menandai...

Genki Sushi Hadirkan Wajah Baru di Summarecon Mall Bekasi

Mengawali 2026 dengan energi segar, Genki Sushi resmi membuka gerai terbarunya di Summarecon Mall...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here