Markette dan Seni Menikmati Malam Tanpa Tergesa

Jakarta punya kebiasaan buruk: membuat semua orang terburu-buru.

Kota ini bergerak cepat, berbicara cepat, bahkan terkadang meminum malam terlalu cepat. Orang datang ke sebuah tempat dengan agenda yang sudah padat di kepala—meeting berikutnya, notifikasi yang belum dibalas, atau sekadar rasa bersalah karena pulang terlalu larut. Akibatnya, banyak yang lupa bahwa salah satu bentuk kemewahan paling sederhana dalam hidup modern adalah kemampuan untuk duduk lebih lama tanpa merasa harus ke mana-mana.

Di tengah ritme itu, Markette menemukan cara baru untuk dibaca.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Selama ini, Markette dikenal sebagai salah satu comfort spot urban yang konsisten. Tempat orang datang untuk menikmati sandwich berlapis tebal, sizzling plate yang masih mendesis saat tiba di meja, atau sekadar mencari sudut nyaman di tengah pusat kota Jakarta.

Sebagai bagian dari ISMAYA Group, Markette sudah lama memahami satu hal penting tentang gaya hidup urban: orang tidak hanya mencari makanan enak. Mereka mencari suasana yang terasa hidup.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Kini, suasana itu diperluas lewat sesuatu yang lebih cair—secara literal maupun atmosfer.

Melalui deretan Cocktail Classics, Markette mulai memperkenalkan sisi lain dirinya: lebih santai, lebih sosial, dan jauh lebih menikmati momen dibanding sekadar mengejar jam makan. Ini bukan transformasi menjadi cocktail bar yang terlalu serius dengan bartender yang sibuk menjelaskan notes dan aroma sampai terdengar seperti presentasi wine tasting.

Justru sebaliknya. Yang ditawarkan Markette adalah pengalaman drinking yang terasa ringan, approachable, dan relevan dengan bagaimana orang Jakarta menikmati malam hari hari ini. Karena tidak semua orang ingin “party”.

Kadang orang hanya ingin duduk lebih lama. Dan Markette memahami itu.

Begitu matahari turun dan lampu-lampu kota mulai mengambil alih cakrawala Jakarta, atmosfer di Markette berubah pelan-pelan. Bukan perubahan dramatis seperti klub malam yang mendadak gelap dan penuh bass. Perubahannya lebih subtil. Musik terasa lebih mellow, obrolan mulai memanjang, dan meja-meja perlahan berubah menjadi tempat singgah setelah hari yang terlalu panjang.

Di sinilah cocktail mengambil perannya.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Previous article
Next article

Related Stories

spot_img

Discover

Seni Vietnam Menemukan Panggungnya

Ketika Sapa Berbalut Emas Musim panen mengubah terasering Sapa menjadi lanskap keemasan. Di Hotel de...

Ayana Bali Buka Babak Baru Perhelatan Berskala Besar

Grand Ballroom tanpa pilar, panorama laut Jimbaran, serta hampir seribu kamar dalam satu kawasan...

Threads of Asia

Ketika Api Ubud Bertemu Presisi Seoul di Meja Makan Kolaborasi Api Jiwa dan SU MA...

Ketika Para Chef Berbintang Michelin Menguasai Canggu

Regent Bali Canggu mendatangkan sejumlah nama berpengaruh dari London, Bangkok, Kuala Lumpur, dan Singapura....

Hilton Padalarang, Alasan Baru untuk Berhenti di Bandung

Terhubung lebih cepat dengan Jakarta lewat Whoosh, Hilton Padalarang Bandung menawarkan 218 kamar, empat...

The Life of the Tree

Di Oliverra, Umana Bali, sembilan koktail membawa perjalanan dari benih hingga kelahiran kembali—dengan rempah,...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here