Chupacabras, Ubud

Di Mana Api Menjadi Seni: Chupacabras Membawa Jiwa Amerika Selatan ke Ubud

Ada sesuatu yang selalu memikat dari aroma kayu yang terbakar. Bukan sekadar wangi asap, melainkan aroma yang mengingatkan bahwa sebelum dapur dipenuhi teknologi dan presisi modern, manusia mengenal rasa lewat api. Di Amerika Selatan, api bukan hanya teknik memasak. Ia adalah ritual. Sebuah alasan untuk berkumpul, membuka botol anggur, bercakap hingga larut malam, dan menghormati kualitas bahan terbaik.

Semangat itulah yang kini menyala di Ubud. Tersembunyi di kawasan hijau Kedewatan, Chupacabras hadir sebagai steakhouse berkelas yang membawa filosofi asado khas Amerika Selatan ke salah satu destinasi paling kosmopolitan di Bali. Namun jangan bayangkan restoran steak yang kaku dengan taplak putih dan formalitas berlebihan. Tempat ini justru memadukan kemewahan yang santai dengan lanskap tropis Ubud, menciptakan pengalaman yang terasa intim sekaligus dramatis.

Sorotan pertama langsung jatuh pada panggangan kayu Argentina sepanjang dua meter yang menjadi pusat gravitasi restoran. Bara menyala sepanjang malam, sementara potongan-potongan daging premium perlahan mencapai titik sempurnanya. Api bekerja tanpa tergesa, memberi lapisan karamel alami, aroma asap yang elegan, dan tekstur yang hanya bisa dihasilkan oleh kayu bakar.

Ketika matahari mulai tenggelam di balik lembah hijau Ubud, pertunjukan itu menjadi semakin magis. Di balik dapur, Chef Mauro Santarelli membawa pengalaman lintas benua—dari Amerika Selatan hingga Eropa dan Asia—ke dalam setiap hidangan. Filosofinya sederhana namun sulit ditiru: hormati bahan, biarkan api berbicara.

Hasilnya adalah menu yang tidak berusaha menjadi rumit, tetapi kaya karakter.

Bagi pecinta daging, Rib Eye menjadi representasi terbaik dari filosofi tersebut. Marbling yang kaya bertemu panas kayu Argentina, menghasilkan kerak tipis beraroma asap yang kontras dengan bagian dalam yang tetap juicy dan lembut.

Namun Chupacabras bukan hanya soal steak. Perjalanan rasa dimulai dari Humita & Huancaína, kombinasi klasik Argentina dan Peru yang mempertemukan manisnya jagung dengan saus keju bercita rasa lembut dan sedikit pedas. Ada pula Camarones con Cupuaçu, udang panggang yang dipadukan dengan leche de tigre berbasis buah cupuaçu asal Brasil, menghadirkan profil rasa tropis yang segar sekaligus kompleks.

Related Stories

spot_img

Discover

Mamula Island by Banyan Tree

Benteng Tua, Laut Adriatik, dan Sentuhan Asia: Mamula Island by Banyan Tree Resmi Membuka...

The New Taste of Sanur

Semesta Bistro & Bar Bukan Sekadar Tempat Makan. Ini Cara Baru Menikmati Sanur. Di Sanur,...

Karier Bukan Lagi Anak Tangga, Tapi Kanvas

Saatnya Mendesain Pekerjaan yang Benar-Benar Cocok dengan Diri Kita Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob Dulu,...

Wellness dengan Rasa Sisilia

Dior Membuka Spa Permanen Pertamanya di Sisilia, dan Lokasinya Bukan Main: di Jantung Taormina...

Menjelajah Belitung dengan Ritme yang Lebih Pelan

Saat Liburan ke Kepulauan Belitung Tak Lagi Soal Berpindah Tempat, Melainkan Menikmati Waktu Belitung selama...

Ayana Bali Rayakan Global Wellness Day 2026

Rangkaian Pengalaman yang Menyatukan Kebahagiaan, Keseimbangan, dan Gaya Hidup Mindful Di tengah meningkatnya minat terhadap...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here