Transformasi digital itu bukan pilihan. Dia datang, gedor pintu, dan kalau kita nggak siap, bisnis bisa ambruk dalam sekejap. Banyak pemimpin perusahaan masih salah kaprah: dikira cukup beli software canggih atau tempel label AI, lalu semua masalah beres. Nyatanya, teknologi secanggih apa pun cuma besi tua kalau nggak ada orang yang bisa menggerakkan, menguasai, dan memberi makna.
Game Bukan Lagi di Divisi IT
Kita sering dengar perusahaan buru-buru cari data analyst, software engineer, atau UX designer. Bagus, tapi jangan salah: kegagalan transformasi digital justru bukan karena teknologinya kurang mumpuni, tapi karena manusianya nggak siap. Teknologi bisa dibeli, adaptasi nggak.
Bisnis Kecil, Branding Besar: Rahasia UMKM Sukses di Era Digital, Tanpa Modal Besar
Itulah kenapa konsep digital dexterity jadi kunci. Talenta dengan mentalitas ini bukan cuma melek teknologi, tapi juga taktis, lincah, dan tahan banting. Mereka nggak panik lihat perubahan, malah menjadikan perubahan sebagai kesempatan buat menyalip pesaing. Gartner mencatat, organisasi dengan digital dexterity tinggi punya peluang sukses tiga kali lipat dalam program transformasi.
Era “New Collar”
Kita sudah lewat masa membagi orang ke dalam kerah putih atau kerah biru. Sekarang, lahir jenis baru: new collar workers. Mereka bisa datang dari mana saja—bootcamp, kursus daring, atau belajar otodidak di lapangan. Yang membedakan adalah mentalitas: mau belajar cepat, adaptif, dan langsung bisa turun ke arena. Mereka bukan akademisi menara gading, tapi petarung yang siap tumbuh bareng teknologi.
Di dunia yang berubah secepat sekarang, skill teknis bisa basi dalam hitungan bulan. Hari ini jago coding, besok bisa disalip AI. Yang nggak bisa ditumbangkan mesin adalah insting, rasa ingin tahu, kreativitas, dan daya juang. Itu modal utama para new collar untuk tetap relevan.
Pemimpin Harus Jadi Role Model
Masalah terbesar dalam transformasi digital justru datang dari ketakutan manusia. Banyak karyawan merasa akan digusur mesin. Di sinilah peran pemimpin: bukan sekadar kasih instruksi, tapi jadi role model. Tugasnya bukan cuma rekrut talenta baru, tapi juga upgrade pasukan yang sudah ada. Caranya? Bukan cuma training formal, tapi juga job rotation, mentoring, sampai reverse mentoring—biar yang muda juga bisa transfer ilmu ke yang senior.
The Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal
Budaya organisasi harus jadi medan latihan: ada ruang untuk eksperimen, bahkan kegagalan. Karena dari situ lahir keberanian untuk inovasi.
Kita nggak tahu teknologi apa yang bakal datang lima tahun lagi. Tapi satu hal pasti: hanya orang-orang yang berani belajar terus, tahan banting, dan punya mentalitas petarung yang bakal tetap berdiri.
Talenta baru itu bukan sekadar orang yang punya skill. Talenta baru adalah mereka yang siap main di level berikutnya. (Eileen Rachman dan Emilia Jakob)
Start Small, Scale Big: Strategi Praktis Membangun Startup Tanpa Drama