Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob
Masuk dunia kerja dengan kepala penuh ide segar itu rasanya seperti datang ke pesta pakai jas mahal—lalu disuruh duduk di pojok. Banyak anak muda mengalami hal yang sama: semangat membara, gagasan baru, tapi mentok di hadapan atasan yang terlihat alergi perubahan.
Di sinilah drama klasik generation gap muncul. Yang muda merasa yang tua keras kepala. Yang tua merasa yang muda sok tahu. Ide bagus pun gugur sebelum sempat diuji. Padahal masalahnya sering kali bukan pada idenya—melainkan cara idenya disampaikan.
Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi
Persuasi bukan soal siapa paling pintar. Ini soal siapa paling bisa membuat orang lain merasa aman untuk berubah.
Masalahnya Bukan Ide, Tapi Ego
Persuasi sejatinya bukan keterampilan baru. Kita semua pernah mempraktikkannya sejak kecil—saat merayu orang tua agar boleh pulang malam atau minta mainan mahal. Bedanya sekarang, persuasi jadi lebih rumit. Bukan karena orang makin bodoh, tapi karena makin banyak orang merasa sudah cukup pintar.
Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine
Dunia kerja bergerak cepat. Informasi datang tanpa jeda. Tanpa sadar, banyak orang membangun benteng ego. Ide baru terasa seperti sindiran: “Jadi keputusan gue selama ini salah?” Refleks pertama pun bukan mendengar, tapi bertahan.
Aristoteles Sudah Bilang dari 2.000 Tahun Lalu
Aristoteles merangkum seni persuasi dalam tiga kata yang masih relevan sampai hari ini: ethos, pathos, logos.
- Ethos: siapa lo di mata mereka. Bukan jabatan atau usia, tapi apakah lo dianggap matang dan bisa dipercaya.
- Pathos: emosi. Apakah orang merasa dimengerti, bukan dihakimi.
- Logos: logika. Tapi logika versi pendengar, bukan ego pembicara.
Masalah dunia kerja modern? Terlalu cinta logos. Proposal rapi, data lengkap, presentasi kinclong—tapi lupa satu hal: manusia bukan spreadsheet. Banyak ide ditolak bukan karena salah, tapi karena orang belum siap menerimanya.
Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

