Ada momen dalam bisnis ketika angka berhenti menjadi tujuan. Bagi Banyan Group, angka 100—jumlah hotel dan resor yang kini mereka operasikan di seluruh dunia—bukanlah puncak. Itu garis start yang baru.
Memasuki 2026, grup hospitality global yang lahir di Singapura ini melangkah dengan postur berbeda: lebih tenang, lebih terukur, dan jelas tahu ke mana ia akan pergi. Bukan ekspansi membabi buta, tapi pertumbuhan yang punya arah—dan nyali.
Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now
“Menembus 100 resor adalah awal babak baru,” kata Eddy See, President dan CEO Banyan Group. “Kami fokus masuk ke pasar yang relevan, memperkuat setiap brand, dan memperdalam pendekatan wellbeing serta regenerative travel—tanpa kehilangan disiplin bisnis.”
Terjemahannya sederhana: lebih tajam, bukan sekadar lebih besar.
Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI


Afrika & Karibia: Masuk, Tapi Penuh Perhitungan
Langkah Banyan Group ke Afrika bukan langkah serampangan. Tahun ini, mereka masuk ke safari hospitality lewat Ubuyu, a Banyan Tree Escape di Tanzania—debut di Afrika Timur yang langsung bermain di kelas atas. Di Afrika Barat, Dhawa Ouidah akan dibuka di Benin, memperluas peta tanpa harus berisik.
Di Karibia, Banyan Group membuka dua pintu sekaligus di Republik Dominika. Angsana Cap Cana hadir sebagai resor penuh, sementara Cassia Punta Cana menyasar extended stay—strategi ganda untuk tamu yang tak lagi liburan, tapi living on the move.
Bacaan Kekinian: AI Jadi Asisten, Kamu Jadi Bos

