Di kota yang identik dengan rekor—tertinggi, terbesar, termahal—hadir satu proyek yang tidak berteriak, tapi tetap mencuri perhatian. Bukan karena gemerlapnya, melainkan karena sikapnya. Janu resmi mendarat di Dubai, dan kali ini bukan sekadar hotel. Ini soal cara hidup.
Bagian dari Aman Group, Janu—yang berarti “jiwa” dalam bahasa Sanskerta—adalah interpretasi baru dari kemewahan. Jika Aman identik dengan ketenangan kontemplatif, Janu bermain di spektrum yang lebih dinamis: sosial, energik, dan kreatif. Setelah sukses membuka Janu Tokyo pada 2024, brand ini kini memperkenalkan debut residensialnya di Timur Tengah lewat Janu Dubai.
Dan ya, ini bukan alamat biasa.
Mesin Uang AliExpress: Cara Mencetak Dolar Lewat Dropshipping

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital
Arsitektur yang Punya Karakter (Bukan Sekadar Tinggi)
Berlokasi di Dubai International Financial Centre (DIFC)—episentrum finansial sekaligus distrik seni dan kuliner paling progresif di kota—Janu Dubai berdiri di atas lahan yang tak main-main: satu tower penuh.
Desainnya digarap oleh firma arsitektur peraih Pritzker Prize, Herzog & de Meuron. Hasilnya? Struktur dengan kualitas mineral, bertekstur, skulptural—seolah dipahat, bukan dibangun. Di tengah skyline Dubai yang serba licin dan reflektif, tower ini terasa lebih “manusiawi”. Banyak teras, balkon luas, tanaman hijau yang bukan tempelan kosmetik, tapi bagian dari DNA bangunan.
The Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

