Ada masa ketika liburan mewah hanya berarti satu hal: kamar hotel yang luas, kolam renang infinity yang dramatis, dan cocktail yang datang tepat saat matahari tenggelam. Indah, tentu. Tapi dunia perjalanan kini berubah. Wisatawan modern—terutama mereka yang sudah sering bepergian—tidak lagi sekadar mencari tempat indah untuk berfoto. Mereka ingin merasakan sebuah tempat secara utuh.
Di sinilah program Good Travel dari Marriott International mengambil peran. Inisiatif ini mengajak para tamu untuk tidak sekadar berkunjung, tetapi terhubung dengan budaya lokal, komunitas, dan lingkungan. Di Indonesia sendiri, program ini hadir dengan skala yang cukup impresif: 20 pengalaman berbeda di 15 hotel yang tersebar di tiga destinasi utama.
Bisnis Kecil, Branding Besar: Rahasia UMKM Sukses di Era Digital, Tanpa Modal Besar
Konsepnya sederhana, namun kuat: perjalanan yang meninggalkan kesan—bukan hanya bagi tamu, tetapi juga bagi tempat yang mereka kunjungi.


PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital
Ketika Perjalanan Memiliki Makna
Bagi industri hospitality global, tren perjalanan bermakna bukan sekadar jargon pemasaran. Ini adalah respons terhadap perubahan cara orang melihat dunia.
Menurut John Toomey, Chief Commercial Officer Asia Pacific (excluding China) di Marriott International, wisatawan masa kini ingin menjelajah lebih dalam dan memahami karakter autentik dari sebuah destinasi. Program Good Travel dirancang untuk menjembatani keinginan itu—menghubungkan para tamu dengan masyarakat lokal sambil memberi dampak positif bagi lingkungan dan komunitas setempat.
Indonesia menjadi salah satu panggung utama dari konsep ini. Negara ini menempati peringkat kedua di kawasan Asia Pasifik dalam jumlah pengalaman Good Travel dan properti yang berpartisipasi, sebuah indikator bahwa permintaan akan perjalanan yang lebih bermakna terus meningkat.
The Start Small, Scale Big: Strategi Praktis Membangun Startup Tanpa Drama

