Saturday, May 02, 2009

Tak Lekang oleh Waktu


PESAN pendek masuk ke telepon genggam saya beberapa waktu yang lalu. Pengirimnya Olga Lydia: We would like to welcome you to Elbow Room’s Soft Opening. Enjoy our great food and exclusive beers & wine at 30% discount!

Menarik, bukan diskonnya semata, tapi model cantik itu benar-benar serius masuk ke bisnis food and beverage (F&B). Sebelumnya ia bersama teman-temannya membuka La Forca, kafe yang mempunyai fasilitas biliar, kemudian Poke Sushi, dan kini bersama Anya Dwinov, Olga membuka bar di bilangan Kemang Jakarta. “Tidak selamanya saya jalan di catwalk, jadi harus memikirkan bisnis di luar modeling,” katanya waktu itu.

Alasan kali ini mungkin sama, tidak selamanya Olga menjadi artis, dan tidak hanya mengandalkan penghasilan dari dunia keartisan. “Tidak sembarang bisnis tentu saja, kebetulan bisnis yang saya tekuni saat ini sesuai dengan passion saya, lifestyle,” jelasnya.

Kalau mau jujur, dunia keartisan di Indonesia memang sangat terbatas. Berbeda dengan di AS, misalnya, artis dan penyanyi bisa bertahan sampai tua. Meryl Streep, misalnya, di usia yang tidak bisa dikatakan muda, masih mendapatkan peran utama dalam banyak film. Gloria Estefan atau Natalie Cole masih mengeluarkan album dan selalu mengadakan konser.

Di Indonesia bukannya tidak ada artis yang mampu bertahan sampai gaek, tapi bisa dihitung dengan jari. Itu sebabnya para selebriti, selagi beada di puncak karier, harus memikirkan karier di luar keartisan. Pelawak Tukul Arwana membuka bisnis kos-kosan, artis cantik Titi Kamal terjun ke bisnis restoran, DJ Riri buka kafe & bar, penyanyi dangdut Inul Daratista pun terjun ke bisnis karaoke keluarga dengan nama Inul Vizta. “Kalau ngebor terus pasti berisiko,” itulah salah satu alasannya. Bisnis yang dimulai Inul sejak 2004 itu tergolog sukses dan kini memiliki lebih dari 25 cabang.

Kalau diperhatikan, bisnis yang paling banyak ditekuni para selebriti adalah bisnis F&B, paling tidak yang masih ada hubungannya dengan gaya hidup. Apakah karena bisnis F&B mudah dilakukan? Tidak juga. Karena ang dibutuhkan tidak sekadar menyalurkan hobi semata, tapi harus ada passion, skill, diferensiasi, strategi pemasaran yang jitu, dan tentu saja strategi bisnis yang matang. Kalau tidak, siap-siap saja untuk gulung tikar.

Tapi yang jelas, bisnis F&B mempunyai potensi yang besar di Indonesia. Banyak restoran, kafe dan bar baru bermunculan – meski tak sedikit yang tutup. Kalau tidak mana mungkin investor-investor asing melirik bisnis ini. Kenny Rogers Roasters, untuk menyebut contoh. Restoran franchise asal AS ini sudah ada di Pacific Place, dan akan dikembangkan di Mal Pondok Indah 2 Jakarta. Yang membawa ke Indonesia adalah Berjaya Corporation Berhard asal Malaysia.

Di Malaysia sendiri, saat ini Kenny Rogers Roasters sudah mempunyai lebih dari 50 gerai, padahal jumlah penduduknya lebih sedikit dibandingkan Indonesia. “Di Kuala Lumpur dengan populasi tidak lebih dari 5 juta jiwa, terdapat lebih hampir 30 gerai. Jadi, kalau Jakarta dengan penduduk 14 juta jiwa, mestinya terbuka kemungkinan untuk lebih tumbuh,” Dato' Francis Lee, Executive Director Berjaya Group, sekaligus President Roasters Asia Pacific, kepada Majalah MIX.
.
Ya, bisnis F&B, mengutip (almarhum) Benyamin Sueb, memang kagak ada matinye. Dalam ungkapan yang lebih baru, mengutip judul lagu terbaru Kersipatih, Tak Lekang oleh Waktu. Secara logika yang utama dalam industri ini adalah orang harus makan. Di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia masih peluang untuk membuka tempat makan itu sanat besar, entah itu di mal, plaza, ITC, atau yag sedang ngetren sebagai tempat kongko-kongko, yaitu square. Meskipun saat ini mungkin banyak orang yang mulai mengurangi kegiatan makan di luar – sebutlah karena pengaruh resesi global, pasar komoditas ini tetap prospektif.

Memang belum ada riset yang mendalam tentang potensi pasar F&B di Indonesia. Tapi sebagai gambaran saja, menurut Francis Lee, di Malaysia total nilai besaran pasarnya mencapai 2 miliar dolar AS, maka Indonesia yang berpenduduk lebih besar angkanya pasti lebih besar. Yang penting adalah, whatever business you do, do well. (Burhanuddin Abe)

Appetite Journey, Mei 2009

No comments:

Post a Comment