Monday, December 28, 2009

Sayang Bordeaux


WINE makin mendapat tempat di Indonesia. Paling tidak, jumlah wine lounge di Jakarta makin banyak saja. Bandingkan dengan klub yang itu-itu saja – tahun 2009 memang ada 2-3 new entry, tapi ada beberapa yang tutup juga, sehingga secara kuantitas sebenarnya tidak bertambah.

Selain wine lounge yang tumbuh bak cendawan di musim hujan, klub-klub pecinta wine juga bermunculan. Tidak sekadar wine lover, tapi lebih spesifik, wine kayak apa yang mereka sukai. Contohnya adalah Sayang Bordeaux Indonesia Wine Club.

Dari namanya jelas bahwa mereka adalah sekumpulan orang yang maniak terhadap wine asal Bordeaux, salah satu wilayah penting di Prancis yang menghasilkan wine – di sana banyak viniyard dan wineries yang tersohor di dunia. Selain kerap mengadakan wine tasting, wine dinner, atau wine party, mereka secara berkala juga mengunjungi chateau-chateau di sana, sebutlah Petrus, Haut Brion, Trotanoy, Angelus, dan lain-lain.

Klub itu diresmikan pertengahan November 2009, ditandai dengan wine tasting dan wine dinner di Jakarta. Dihadiri oleh lima wine maker dan pemilik chateau asal Bordeaux: Alain Moueix (Chateau Mazeyrez), Pierre Blois (Chateau Moulin Du Cadet), Dominique Hebrard (Chateau Cheval Blanc, Bellefont Belcier, dan Trianon), Laurence Brun (Chateau Dassault), dan Vincent Priou (Chateau Beauregard). 

Tapi mengapa harus Bordeaux? Apa kelebihannya dibandingkan dengan wine yang berasal Margaux, Medoc, atau Burgundy, misalnya? Kalau hal ini ditanyakan kepada pecinta wine Bordeaux, mereka pasti akan fasih menjawabnya. 

Bordeaux adalah sebuah wilayah barat daya Prancis, terletak di mulut Sungai Gironde. Wilayah ini dikenal sebagai penghasil wine yang sangat penting di dunia, “Banyak wine terbaik berasal dari daerah ini,” ujar Evander Njolito, salah seorang anggota Sayang Bordeaux. Bahkan menurut Hugh Johnson dan Jancis Robinson dalam “The World Atlas of Wine” (2003), Bordeaux adalah “the largest fine wines district in the world.”

Sejarah wine di Bordeaux dimulai sejak zaman Romawi. Tentara Romawi membawa pokok anggur yag ditanam di daerah St Emilion, yang ternyata tumbuh dan dalam waku singkat menjadi salah satu daerah penghasil anggur yang penting di Prancis. Hal ini dimungkinkan karena wilayah dengan sungai besar itu terkenal sebagai daerah subur, dengan kontur tanah serta iklim yang memungkinkan anggur tumbuh subur. Industri wine di sana berkembang pesat dan Bordeaux dikenal sebagai produsen wine berkualitas tinggi.

Inggris menguasai wilayah ini pada abad 12 – 15, dan membawa budaya wine yang memungkinkan Bordeaux menjadi lebih sebagai penghasil wine dunia. Bordeaux kini menghasilkan tak kurang dari 900 juta botol wine per tahun.

Red wine sangat mendominasi wine Bordeaux, meski masih ada beberapa jenis white wine. Varietas anggur yang digunakan untuk pembuatan red wine di sini adalah Merlot dan Cabernet Sauvignon, serta jenis anggur yang lain, seperti Cabernet Franc, Petit Verdot, dan Malbec. Tapi yang menarik, ciri wine asal Bordeaux ini adalah campuran dari beberapa jenis anggur, atau blend. 

Memang ada beberapa chateau – yang tidak sekadar sebuah bangunan tempat wine dibuat tapi winery dalam pengertian modern, yang membuat wine dari satu jenis saja. Sebutlah Chateau Petrus yang kadang-kadang menggunakan Merlot saja. Tapi kebanyakan kebanyakan chateau mencampurkan produknya dari beberapa jenis wine. Inilah yang membuat wine Bordeaux unik, yang masing-masing wine maker di sana mempunyai keunikan masing-masing. 

Rasa memang personal, tapi kalau ingin lidah Anda menyukai rasa wine yang kompleks, tidak ada salahnya kalau Anda menjatuhkan pilihan ke wine asal Bordeaux ini.

Wine asal Bordeaux, yang dihasilkan 61 chateau, diklasifikasikan dalam lima kategori. Penggolongan ini berdasarkan harga jualnya, yakni first growths, second growths, dan seterusnya hingga fifth growths. Di kategori pertama, tentu dianggap mempunyai jenjang kualitas terbaik, terdiri dari Chateau Lafite-Rothschild (yang berlokasi di desa Pauilac), Chateau Latour (Pauilac), Chateau Haut-Brion (Grave), Chateau Mouton-Rothschild (Pauilac), dan Chateau Margaux (Margaux). 

Pengklasifikasian di atas adalah berdasarkan penilaian Bordeaux Chamber of Commerce di Prancis tahun 1855, yang disebut pula sebagai pengklasifikasian tertua. Memang, pengklasifikasian tersebut memang tidak mutlak, bahkan tidak mencakup semua daerah penghasil wine, sehingga ada pengklasifikasian lagi, misalnya yang dilakukan pada tahun 1973 dan 2006. 

Yang terang, industri wine di Bordeaux berkembang mengikuti zaman. Pemerintah, terutama lembaga yang mempunyai otoritas, dan masyarakat di sana tentunya, menganggap wine adalah identitas nasional sehingga tradisinya perlu dijaga turun temurun, dari generasi ke generasi. “Menikmati wine Bordeaux tidak sekadar mencicipinya, tapi juga harus mengerti sejarah dan mencintai budaya di sana,” ujar Evander. (Burhanuddin Abe)