Monday, July 07, 2014

Revolusi



Istilah “Revolusi Mental” sangat populer belakangan ini. Tapi tanpa disadari  sesungguhnya revolusi telah terjadi di ranah kebudayaan populer. Bukan hanya menyangkut kreativitas, tapi juga perangkat keras atau pun lunaknya. Sebutlah di industri musik, perangkatnya selalu mengalami perubahan terus-menerus, dimulai dari piringan hitam, kaset, compact disc (CD), hingga MP3 yang dikenal sebagai musik digital, yang dapat menyimpan data dalam jumlah besar, jangka panjang, dan berjaringan luas.

Sepanjang 1960 hingga 1970-an terjadi revolusi besar-besaran di panggung kebudayaan populer, khususnya di dunia musik, dan hiburan pada umumnya. Kebudayaan populer bukan lagi sekadar hiburan, tapi meliputi beragam bentuk kreativitas, mulai dari pelampiasan rasa cinta hingga yang berbau politik.

Revolusi besar dianggap sudah berlalu dan terus dinamis. Namun, tanpa disadari, sebenarnya kembali terjadi revolusi budaya populer pada awal 1980-an. Di dunia musik khususnya, perekam yang dikenal saat itu adalah piringan hitam—yang sudah mulai ditinggalkan ketika itu, dan berganti dengan kaset yang lebih kompak dan ringan dibawa.

Perubahan terjadi ketika Sony merilis CDP-101, peranti yang digunakan untuk membaca compact disc. Kerja sama antara Sony dan Philips kemudian menghadirkan bentuk CD. Kedua produsen elektronik ini sudah sejak pertengahan 1970-an melakukan penelitian mengenai CD. Baru sekitar akhir 1970-an keduanya bekerja sama.

CD rekaman pertama yang dirilis adalah Alpine Symphony yang digarap oleh Richard Strauss. Kemudian album Living Eyes milik Bee Gees menyusul. Bee Gees memperkenalkan teknologi digital dan albumnya itu melalui BBC lewat program Tomorrow’s World pada 1981. Setahun kemudian, keluarlah CD yang kita kenal saat ini.

Pada paruh kedua 1982, CDP-101, yang diproduksi oleh Sony, dilempar ke pasar bersamaan dengan CD album milik Billy Joel berjudul 52nd Street. Harga alat ini sangat mahal kala itu. Maka tak semua orang mampu membelinya, hanya kalangan tertentu yang dapat membawanya pulang.

Tapi revolusi tersebut masih tertutupi oleh keberadaan kaset yang naik kelas saat itu, dengan hadirnya perangkat pemutar portabel Walkman. Kemudian pemutar kaset di mobil juga kian beragam dan kualitasnya semakin baik. CD kala itu harus tersambung dengan sistem audio yang kompleks untuk mendapatkan suara yang baik dan enak didengar. Tentunya perangkat itu tidaklah portabel. Sejak 1970-an, CD sudah berevolusi menjadi media rekaman.

Format Berubah, Aturan Berganti
Ketika bentuk fisik sudah tak ada, bukan berarti aturan pun lenyap. Ketika kualitas CD semakin baik, tentunya dengan durasi yang lebih panjang, yang disusul dengan pemutarnya yang juga kian bermutu dan murah, lantas CD menjadi pilihan yang terbaik dibanding kaset. Pada awal 1990-an, pendistribusian CD mulai tampak. Perusahaan rekaman mulai menggunakan CD, dan sedikit demi sedikit meninggalkan kaset sebagai media rekaman. Total pada 2000 penjualan CD rekaman mencapai angka 2,5 miliar keping.

Ternyata revolusi tidak hanya terjadi pada perangkat keras. Perubahan besar-besaran pun merambah sisi legalitasnya. Angka pendistribusian CD tersebut sebenarnya bisa lebih besar. Hal ini disebabkan oleh pembajakan yang sangat mudah terjadi.

Kehadiran fasilitas burning membuat CD mudah diduplikasi. Hal itu dilakukan oleh pembajak atau individu, tentunya dengan tujuan masing-masing. Maka lahirlah aturan digital download, yang menggantikan aturan media fisik untuk pembelian album atau bentuk kreativitas lainnya dalam dunia musik.

Bentuk CD kemudian berubah menjadi DVD, yang memiliki ruang rekam yang lebih besar. Format CD terus dipakai hingga lebih dari satu dekade. Namun usianya tidak lebih dari itu. Kenyataannya, format CD kemudian tertinggal oleh teknologi digital yang lebih efisien. Perekaman tidak membutuhkan perangkat keras lagi untuk mendapatkan file musik, misalnya.

Dapat disimpulkan, aturan itu lahir akibat maraknya pembajakan dan download ilegal, yang sangat berpengaruh terhadap penjualan karya kreatif artis. Masalah file sharing ini menjadi perdebatan di dunia hukum. Keputusan Mahkamah Agung menunjuk pada kreator P2P yang dapat diseret ke pengadilan bila program yang dijalankan jelas-jelas mencederai copyright.

Saat ini musik digital telah berkembang sedemikian rupa sampai kepada hanya berupa suatu file (musik) yang dapat diperdengarkan dalam format MIDI ataupun menggunakan iPod – inilah peranti musik canggih yang merupakan perpaduan kenyamanan web dengan portabilitas dan fungsi sebagai sebuah platform yang benar-benar universal.

Transformasi terus berlangsung, peta industri musik berubah, karenanya perlu aturan main baru yang tidak hanya menguntungkan konsumen, dan mengorbankan produsen – sebutlah para musisi, kreator, dan pemilik label, tapi memberikan keadilan kepada semua pihak.


Sumber: MALE Zone by Paksi Suryo Raharjo, MALE Edisi 89 http://male.detik.com