Minuman yang Perlu Diapresiasi

DIKENAL di Indonesia pada sekitar 1980-an, keberadaan wine kini semakin populer di semua kalangan, mulai anak muda, eksekutif, sosialita, hingga komunitas wine di Jakarta.

Mendengar kata wine, yang tebersit di benak adalah sebuah minuman berkelas. Kenyataan ini memang tak bisa dipungkiri. Selain karena harganya yang tak dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat, wine pun tidak bisa dinikmati sembarangan. Ada teknik menikmati segelas wine hingga cara memadupadankannya dengan makanan. Ini karena penikmat wine tidak sekadar mencicipi wine, lebih dari itu juga harus mengapresiasi wine dengan benar.

Misalkan melalui wine dinner atau wine tasting di mana para peserta bisa saling membandingkan rasa wine yang mereka cicipi. Teknik yang harus dikuasai mulai dari penggunaan gelas khusus, cara membuka botol, hingga menuangkan wine. Dan seperti disebutkan sebelumnya, untuk menikmati wine ada teknik tersendiri.

Ketika wine  sudah dituang ke dalam gelas, hal pertama yang harus dilakukan adalah memutar-mutar gelas tersebut agar alkohol yang terdapat dalam wine menguap. Nah, udara yang mendorong penguapan itulah yang akan membawa aroma wine ke hidung kita dan selanjutnya hidung membiarkan kita menikmati cita rasa wine.

Lalu, dekatkan hidung kita ke ujung gelas dan mulailah menghirup aromanya. Kita akan dapat mengidentifikasi lebih spesifik aroma wine tersebut dengan mengira-ngira dari jenis buah anggur apakah wine itu dibuat. Misalkan dari jenis cabernet sauvignon atau chardonnay dengan hanya menghirupnya beberapa kali. Apabila menemukan aroma lain yang kita rasakan, hal itu sangat baik untuk menjadikan poin referensi guna ditambahkan lagi sebagai informasi dari jenis wine tersebut.

Tapi, jangan khawatir apabila kita tidak bisa persis mengidentifikasinya karena wine bukanlah sesuatu hal yang dapat didikte. Orang lain mengatakan jenis chardonnay memiliki rasa lemon, sedangkan kita bisa saja mengatakan memiliki rasa buah apel.

Sekarang mulailah mencicipi wine. Reguk wine hingga memenuhi rongga mulut, kemudian lakukan seperti orang yang sedang berkumur-kumur, tahan sekejap, lalu telan, maka indera kita bakal menemukan tekstur, cita rasa, keseimbangan, dan kualitas pada wine tersebut.

Tapi kenyataannya, masih ada segelintir orang yang kurang memberi apresiasi pada minuman premium ini. Satu contoh ketika ada sebuah wine lounge yang mengadakan promosi wine free-flow selama dua jam dengan membayar jumlah tertentu. Pengunjung datang dan menikmati wine seperti layaknya meminum air putih.

Menikmatinya tanpa jeda demi waktu yang dibatasi hanya sampai dua jam. Istilahnya, tidak mau rugi karena telah membayar ratusan ribu, maka sebisa mungkin mereka menikmati wine sebanyak-banyaknya dalam waktu dua jam tersebut.

Alhasil, ketika pulang ada seorang pengunjung yang jatuh tersungkur setelah muntah dan harus dibopong oleh kawan-kawannya!

Dari namanya, red wine, sudah pasti dibuat dari anggur merah. Di kalangan peminum wine Indonesia, jenis-jenis red wine yang terkenal adalah Merlot, Cabernet Sauvignon, Shiraz, dan Pinot Noir.

Related Stories

spot_img

Discover

Bekerja dari Bali, Tapi Bukan Liburan Biasa

Ketika villa privat jadi kantor, kolam renang jadi “meeting room”, dan hidup terasa sedikit...

Clifftop Contemplation: Umana Bali Unveils a More Meaningful Island...

Di ujung selatan Bali yang dramatis—di mana tebing kapur jatuh tegak ke Samudra Hindia—Umana...

Whisky, Cerutu, dan Sedikit Dosa Kecil di Tengah Jakarta

Ada dua jenis orang di dunia ini: yang minum untuk lupa, dan yang minum...

A New Chapter at Amangiri

Carved by Light and Silence Di dunia yang semakin bising oleh definisi “luxury”, Amangiri tetap...

When Borneo Calls

Escape Tropis yang Siap Jadi Bucket List Baru Asia Tenggara Kalau selama ini Bali terlalu...

CURE Bali Tidak Berusaha Mengesankan—Justru Itu Kelebihannya

Ada restoran yang datang dengan suara bising. Ada juga yang datang dengan niat. CURE Bali...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here