Dari “Sungguh-sungguh Terjadi” Menjadi Wartawan Sungguh-sungguh

Kejelian itu juga membuat saya bisa mengirimkan foto untuk majalah dari Jepang, Pacific Friend, dengan bayaran 25 dolar AS per satu foto yang dimuat. Majalah tersebut tersedia di perpustakaan di Jalan Malioboro dan sebagai majalah yang misinya membawa pesan perdamaian dari Jepang untuk negara-negara di Asia Pasifik, mereka menerima foto atau tulisan mengenai kegiatan Jepang di kawasan.  

Saya menemukan beberapa kegiatan yang dilakukan masyarakat Jepang di Yogyakarta, dan foto hitam putih (yang rasanya standarnya rendah) dimuat oleh Pasific Friend karena membawa pesan yang mereka inginkan.  

Kejelian juga membuat saya bisa menjadi “reporter” bagi KR untuk berita-berita olahraga yang terjadi di seputar Yogyakarta. Karena saya sudah mengenal beberapa wartawan olahraga, maka ketika saya menonton sebuah pertandingan di GOR Kridosono, misalnya, saya akan memperhatikan apakah ada wartawan KR yang hadir atau tidak. Kalau tidak, saya akan mencatat hasil pertandingan, dan kemudian pulang ke rumah mengetik berita dan melaju dengan sepeda ke kantor redaksi di Jalan Mangkubumi 42 untuk menyerahkan naskah yang sebagian besar dimuat keesokan harinya.  

Honor dari tulisan-tulisan di KR dan terbitan lain “cukup” untuk menopang hidup sebagai mahasiswa kos-kosan di Yogyakarta waktu itu (antara 1983-1988), dan sekaligus mematangkan kemampuan menulis.  

Honor Sungguh-sungguh Terjadi misalnya adalah sekitar Rp 1.500, sementara artikel teknologi dibayar sekitar Rp 5.000-Rp 7.000. Biaya hidup waktu itu sebulan berkisar antara Rp 75 sampai Rp 100 ribu. Dengan sebulan menulis 3-5 artikel, saya bisa mendapatkan Rp 25-30 ribu.  

Kebiasaan menulis ini juga menjadi modal baik ketika terbuka kesempatan untuk kursus jurnalistik serius yang diadakan oleh LP3Y. Lembaga yang didirikan antara lain oleh Ashadi Siregar ini ketika iitu diminta oleh Yayasan Asia Foundation untuk menyelenggarakan kursus guna memberi kesempatan menciptakan wartawan-wartawan baru.  

Pada awalnya mereka menjaring wartawan untuk magang di harian berbahasa Inggris The Jakarta Post. Saya ikut mendaftar tetapi dalam tiga kali kesempatan tidak terpilih. Namun di kali keempat, LP3Y membuka kesempatan kursus jurnalistik di mana enam lulusan terbaik mereka akan mendapatkan kesempatan magang di berbagai penerbitan seperti Kompas, Tempo, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, dan KR.

Sebelumnya ketika dites untuk magang di The Jakarta Post, salah seorang pewawancaranya adalah Amin Effendy Siregar. Setelah melihat saya tiga kali sebelumnya, Bang Amir hanya bertanya “jadi kamu serius mau jadi wartawan” ketika saya mendaftar lagi.

Seingatan saya dia tidak bertanya soal lain-lain lagi. Juga barangkali dalam tes tertulis, saya merupakan peserta dengan hasil terbaik. Dengan mentor sehari-hari Mardjoeki, Rondang Pasaribu, I Made Suarjana, dan kemudian Yami Wahyono, kursus jurnalistik yang saya jalani di LP3Y ini merupakan yang terbaik di Indonesia.  

Selain ditempa dengan teknik-teknik jurnalistik serius, Ashadi Siregar juga mendatangkan banyak pakar di bidang mereka  masing–masing untuk memberi kami insight. Saya ingat nama seperti Daniel Dhakidae, Aristides Katoppo, Hotman Siahaan, Musa Asyhari, Ashadi Siregar, dan Amir Effendi hadir memberikan pengetahuan dan pengalaman mereka.  

Related Stories

spot_img

Discover

Bekerja dari Bali, Tapi Bukan Liburan Biasa

Ketika villa privat jadi kantor, kolam renang jadi “meeting room”, dan hidup terasa sedikit...

Clifftop Contemplation: Umana Bali Unveils a More Meaningful Island...

Di ujung selatan Bali yang dramatis—di mana tebing kapur jatuh tegak ke Samudra Hindia—Umana...

Whisky, Cerutu, dan Sedikit Dosa Kecil di Tengah Jakarta

Ada dua jenis orang di dunia ini: yang minum untuk lupa, dan yang minum...

A New Chapter at Amangiri

Carved by Light and Silence Di dunia yang semakin bising oleh definisi “luxury”, Amangiri tetap...

When Borneo Calls

Escape Tropis yang Siap Jadi Bucket List Baru Asia Tenggara Kalau selama ini Bali terlalu...

CURE Bali Tidak Berusaha Mengesankan—Justru Itu Kelebihannya

Ada restoran yang datang dengan suara bising. Ada juga yang datang dengan niat. CURE Bali...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here