Ini bukan kebetulan. Ini keputusan strategis. Jakarta memilih menjaga positioning, bukan membakar harga. Sebuah langkah berani—dan berisiko—jika tidak dibarengi diferensiasi yang nyata.
Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine
Ganti Nama, Ganti Arah
Tahun ini juga ditandai dengan sejumlah rebranding penting. Beberapa hotel memilih berganti bendera, operator, bahkan identitas: dari Discovery SCBD yang kini menjadi Alila SCBD, hingga pergeseran brand di kawasan Harmoni dan Sawah Besar.
Pesannya jelas: pasar lama sudah jenuh. Hotel Jakarta sedang mencari audiens baru—lebih muda, lebih privat, lebih experience-driven.
Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto
MICE berbasis pemerintah tak lagi bisa jadi satu-satunya tulang punggung. Fokus bergeser ke korporasi swasta, komunitas profesional, event lifestyle, hingga private political gatherings yang tidak bergantung pada APBN.
2026: Bukan Tentang Lebih Ramai, Tapi Lebih Tepat
Ke depan, 2026 diprediksi tetap menantang. Daya beli belum sepenuhnya pulih. Frekuensi perjalanan menurun. Tapi peluang belum mati—hanya berpindah bentuk.
Hotel kelas atas dengan brand global dan pasar individual traveler punya kans lebih baik. Sementara hotel bintang tiga justru bisa diuntungkan oleh gelombang event non-konvensional: konser musik, marathon, festival, dan agenda urban yang tidak lagi butuh ballroom berkarpet tebal.
Jakarta sedang memasuki fase baru. Bukan kota dengan hotel terbanyak. Tapi kota yang menuntut hotel paling cerdas.
Dan seperti gaya sejati: yang bertahan bukan yang paling besar—melainkan yang paling relevan. (Abe)
Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

