Dari London ke Sanur

Malam Panjang, Arang Panas, dan Vinyl yang Berputar di Junsei

Sanur dulu identik dengan pagi—sunrise, sepeda santai, dan tempo hidup yang tidak terburu-buru. Sekarang? Malamnya mulai punya cerita. Di Jalan Tamblingan, Junsei datang bukan sekadar sebagai restoran, tapi sebagai pengalaman: makan, dengar, dan pelan-pelan tenggelam dalam ritme.

Dibawa dari London (lahir 2021), Junsei menggabungkan dua hal yang jarang dipertemukan dengan serius: yakitori Jepang dan kultur listening bar berbasis vinyl. Hasilnya bukan gimmick. Ini tempat di mana arang menyala stabil, musik diputar dengan rasa, dan waktu berjalan sedikit lebih lambat—persis seperti yang kadang kita butuhkan, tapi jarang kita akui.

The Luxury of Space: Perjalanan Mewah Menjelajah Indonesia

Di balik dapur, ada Aman Lakhiani—chef dengan latar India-Indonesia yang memilih jalan ā€œless is moreā€ setelah berkeliling dapur Eropa hingga Jepang. Filosofinya sederhana tapi kejam: kalau bahan sudah bagus, jangan sok kreatif berlebihan. Tugas chef bukan pamer, tapi tahu kapan berhenti.

Dan itu terasa di setiap tusuk.

Yakitori di sini bukan sekadar sate ayam. Mereka pakai arang binchōtan—jenis arang Jepang yang panasnya stabil, bersih, dan nyaris tanpa asap. Kedengarannya teknis, tapi efeknya jelas: rasa lebih jernih, tekstur lebih presisi. Bahkan untuk bisa pegang panggangan saja, chef di sini harus training sampai satu tahun. Ya, satu tahun cuma buat ngerti api. Kalau itu belum serius, saya nggak tahu lagi.

Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Jakarta

Menu yang wajib dicoba? Tsukune—bakso ayam berbentuk torpedo dengan glaze manis-asin yang halus, disajikan dengan kuning telur kecap untuk dicelup. Sederhana di tampilan, tapi begitu masuk mulut: umami langsung naik kelas. Ini comfort food versi orang yang ngerti detail.

Di luar tusukan, pilihan izakaya-style-nya juga nggak main-main. Dari sayap ayam isi kepiting sampai katsu sando dengan babi hitam Bali, lalu sashimi segar dengan sentuhan citrus. Mau lebih berat? Ada ramen babi asap, rice bowl, sampai claypot rice yang dimasak fresh per order. Atau kalau lagi ingin dimanjakan tanpa mikir, tinggal ambil omakase—biarkan dapur yang bicara.

Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Related Stories

spot_img

Discover

Burger Season Has Officially Arrived at Jakarta

Di kota yang makin serius soal dining culture, burger hari ini bukan lagi sekadar...

Vermouth, Sunset, Repeat

Saat Aperitivo Menemukan Rumah Baru di Bali Di Uluwatu, waktu terasa punya ritme sendiri. Matahari...

Paspor Baru Kaum Privileged

Cara Baru Menikmati Dunia Tanpa Benar-Benar ā€œMenyewaā€ Ada satu fase dalam hidup ketika hotel bintang...

Selling Houses in the Age of Algorithms

Ketika AI bukan lagi sekadar alat, tapi cara baru bermain. Ada masa ketika menjual properti...

Liburan Sambil Berkarya?

Di Hotel Ini, Seniman dari Seluruh Dunia Melakukannya Kalau biasanya hotel identik dengan tempat istirahat,...

UNBOUND: Resonating Light

Ketika Logam Berdenyut dan Lanskap Bicara Balik Jakarta belakangan ini makin sering memberi ruang untuk...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here