Hennessy MyWay 2026 dan Generasi Bartender yang Tak Mau Biasa Saja
Ada masa ketika bartender hanya dituntut cepat, rapi, dan hafal resep. Masa itu sudah lewat. Hari ini, di kota-kota besar Indonesia, bartender sedang berevolusi—menjadi storyteller, performer, bahkan sedikit filsuf. Dan di tengah pergeseran itu, Hennessy MyWay 2026 datang bukan sekadar kompetisi, tapi semacam panggung pembuktian.
Ini bukan soal siapa yang bisa meracik paling enak. Ini soal siapa yang punya sesuatu untuk dikatakan—melalui segelas cocktail.
Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine
Bukan Sekadar Minuman, Tapi Pernyataan
Di dunia Hennessy, cocktail bukan lagi produk akhir. Ia adalah medium. Medium untuk menyampaikan cerita, nilai, bahkan sikap. Maka tak heran jika MyWay menuntut lebih: sustainability, ritual, storytelling. Tiga kata yang mungkin terdengar seperti jargon, tapi di tangan yang tepat, berubah jadi pengalaman yang sulit dilupakan.


Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto
Bartender ditantang untuk tidak hanya “mix”, tapi “mean”. Setiap bahan harus punya alasan. Setiap gerakan punya makna. Bahkan cara menyajikan—itu bagian dari narasi.
Indonesia, Dari Pinggiran ke Spotlight
Kalau masih ada yang menganggap Indonesia sekadar “ikut meramaikan”, mungkin mereka belum update.
Nama seperti Rizky Ramdhani Razak yang menembus Global Top 3 sekaligus menyabet penghargaan sustainability, atau I Gusti Putu Agus Giri Asta dengan ritual service terbaiknya, adalah bukti bahwa kita tidak lagi bermain aman. Bahkan Arya Dharmayasa mempertegas satu hal: bartender Indonesia mulai nyaman berdiri di panggung global—dan tidak grogi.
Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

