Saat Aperitivo Menemukan Rumah Baru di Bali
Di Uluwatu, waktu terasa punya ritme sendiri. Matahari tenggelam lebih dramatis, percakapan mengalir lebih panjang, dan—kalau tahu tempatnya—malam bisa dimulai tanpa rencana pulang yang jelas. Di tengah vibe itu, Bartolo datang dengan satu pesan sederhana: minum tak harus cepat, dan malam tak perlu terburu-buru.
Lewat program bar terbarunya, Vermouth in Hand, Bartolo tidak sekadar menambah daftar koktail. Mereka sedang menyuntikkan gaya hidup—yang di Eropa dikenal sebagai aperitivo—ke dalam lanskap sosial Bali yang selama ini identik dengan beach club dan party tanpa jeda.
Bedanya? Ini bukan tentang “seberapa keras lo minum,” tapi “seberapa lama lo mau stay.”
Minum Pelan, Ngobrol Panjang
Konsep aperitivo itu sebenarnya simpel: minuman ringan sebelum makan malam, ditemani camilan kecil dan obrolan santai. Tapi di tangan Bartolo, konsep ini naik kelas—lebih curated, lebih playful, tapi tetap santai.
Vermouth jadi bintang utama. Minuman berbasis wine yang diinfus botanical ini punya karakter kompleks tapi ringan. Artinya? Lo bisa minum lebih lama tanpa feeling “too much too fast.” Dan itu disengaja.
Setiap koktail di menu baru—total 15 racikan—dibagi dalam profil rasa: dari yang segar dan fruity sampai yang savoury dan bittersweet. Bahkan kadar alkohol (ABV) dicantumkan. Transparan, tapi juga subtly mengajak: slow down, enjoy the ride.
Dari Bay Leaf ke Cascara: Eksperimen Tanpa Sok Pintar
Beberapa highlight dari menu ini terasa seperti liburan kecil dalam gelas:
- Bay Leaf Highball – ringan, sparkling, ada sentuhan olive dan preserved lemon. Rasanya seperti Mediterania ketemu tropis.
- Peach Sour – lembut, sedikit nutty, dengan foam halus. Visualnya aja sudah kayak sunset Uluwatu.
- Cherry Royale – playful, sedikit sparkling, dengan cherry di atasnya. Instagramable? Jelas. Tapi rasanya bukan gimmick.
- Calamansi Paloma – twist Asia Tenggara dengan mezcal, jeruk calamansi, dan ginger foam.
- Cascara Negroni – buat yang lebih serius, dengan sentuhan kulit kopi (cascara) yang bikin klasik jadi lebih edgy.
Ini bukan bar yang trying too hard buat jadi “mixology lab.” Justru sebaliknya—semuanya terasa effortless, tapi jelas dipikirin matang.
Makanannya? Ngerti Peran
Alih-alih heavy dishes, Bartolo memilih conservas—seafood premium ala Spanyol dan Portugal yang diawetkan. Simple. Salty. Perfect pairing. Ini bukan dinner. Ini alasan buat nambah satu gelas lagi.
Bukan Reinventing, Tapi Evolving
Yang menarik, Bartolo tidak berubah jadi tempat baru. Atmosfernya tetap sama: hangat, sedikit remang, penuh suara gelas bertemu dan tawa yang tidak dibuat-buat. Pendiri Bartolo, Rafael Nardo, merumuskannya dengan jujur: ini bukan tentang konsep besar, tapi tentang kebiasaan kecil yang menyenangkan.
Datang habis pantai, minum satu gelas. Lalu nambah. Lalu mungkin stay sampai tengah malam. Tanpa agenda. Tanpa tekanan.
Bali, Tapi Lebih Eropa (Dengan Cara yang Tepat)
Di tengah Bali yang semakin cepat dan crowded, Bartolo menawarkan sesuatu yang agak langka: alasan untuk melambat. Dan di era di mana semua orang terburu-buru—bahkan untuk bersenang-senang—itu terasa seperti kemewahan baru.
Jadi ya, kalau biasanya malam di Bali dimulai dengan “ke mana lagi setelah ini?”, di Bartolo pertanyaannya berubah jadi: “Kenapa harus pindah?” (Burhan Abe)

