Program minuman Tamba dipimpin oleh Dedi Mulyadi, bartender dengan pendekatan rasa yang cenderung savoury, restrained, dan sangat dipengaruhi bahan-bahan dapur Jepang—mulai dari koji, katsuobushi, teh, hingga berbagai teknik fermentasi.
Bikin E-Course Berbasis AI: Script, Voice Over, dan Materi Dibantu AI, Siap Jual
Cocktail seperti Last Tea Ceremony, Quiet Path, dan Side Garden tidak dirancang untuk sekadar “kuat” atau manis. Minuman-minuman ini terasa seperti bagian dari ruangan itu sendiri: berubah mengikuti musik, makanan, bahkan tempo percakapan di meja.
Menariknya, latar belakang Dedi justru bukan hospitality, melainkan teknik mesin. Namun mungkin justru di situ letak daya tariknya. Ada pendekatan teknis yang presisi, tetapi tetap intuitif dan emosional—sesuatu yang sangat terasa dalam keseluruhan identitas Tamba.
AI Marketing untuk Properti: Mengubah Leads ke Deal
Inspirasi konsepnya sendiri datang dari filosofi Jepang utsuroi, tentang keindahan transisi yang perlahan berubah seiring waktu. Maka di Tamba, malam memang didesain untuk berkembang: rasa menjadi lebih dalam, musik semakin hangat, dan energi ruang bergerak semakin lambat.
Di tengah lanskap hospitality Bali yang semakin dipenuhi tempat-tempat “cantik untuk difoto”, Junsei dan Tamba tampaknya mencoba membangun sesuatu yang lebih sulit dibuat: suasana yang benar-benar punya jiwa. Dan biasanya, justru tempat-tempat seperti itu yang bertahan paling lama.
Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

