Di kota yang makin serius soal dining culture, burger hari ini bukan lagi sekadar fast food pengganjal lapar tengah malam. Burger sudah naik kelas — menjadi bagian dari lifestyle, social scene, bahkan kadang lebih fotogenik daripada orang yang memesannya. Dan tahun ini, World Burger Day di Burger & Lobster Jakarta terasa seperti momentum yang tepat untuk merayakan semuanya sekaligus.
Sejak membuka pintunya di Jakarta pada awal 2026, restoran asal London ini nyaris tidak butuh waktu lama untuk menjadi salah satu spot makan paling ramai dibicarakan di ibu kota. Formula mereka sebenarnya sederhana: comfort food yang dibuat dengan standar premium, suasana yang lively tanpa terasa terlalu formal, dan energi khas London dining scene yang terasa modern, social, dan sedikit indulgent.
Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi
Untuk merayakan World Burger Day pada 28 Mei mendatang, Burger & Lobster Jakarta menghadirkan promo Buy One, Free One untuk beberapa menu burger pilihan — alasan yang cukup valid untuk membatalkan niat “makan ringan saja malam ini”.
Sorotan utamanya tentu jatuh pada menu terbaru mereka, Smoked BBQ Burger. Ini bukan tipe burger yang mencoba tampil terlalu rumit. Justru kekuatannya ada pada detail yang dibuat serius: double smashed beef patties berbahan Australian beef, lapisan melted cheese yang indulgent, aroma smoky BBQ yang dalam, hingga toasted buns yang lembut namun tetap mampu “menahan” seluruh isi burger tanpa berakhir berantakan di tangan. Hasil akhirnya terasa rich, juicy, dan deeply satisfying — tipe burger yang bikin makan sambil bilang, “satu gigitan lagi” sampai tiba-tiba habis.
Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine
Selain Smoked BBQ Burger, ada juga Mayfair Burger yang menjadi interpretasi klasik ala London — lebih timeless, lebih polished, dan tetap jadi favorit banyak tamu. Untuk yang suka sesuatu yang playful, Waffle Chicken Burger menawarkan kombinasi crispy chicken dan waffle yang surprisingly addictive. Sementara Atomic Burger hadir untuk mereka yang percaya hidup terlalu singkat untuk makanan yang tidak pedas.
Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

