Little Secrets of a Sommelier

Ketika saya memposting artikel tentang nikmatnya mereguk wine Australia di blog pribadi, seorang teman memberi komentar pedas. “Orang-orang Indonesia itu mau dibohongi, wine yang beredar di sini kebanyakan bukan dari Prancis. Kalau pun ada yang dari Prancis, di sana yang kelasnya bawah,” katanya.

Kalimat tersebut mempunyai banyak arti, tapi yang jelas teman saya tersebut berpendapat bahwa wine ada kelas-kelasnya. Ini mungkin saja benar. Tapi pengertian berikutnya adalah, bahwa wine asal negara Prancis lebih OK ketimbang wine dari negara lain. 

Ini memang perdebatan lama, apakah benar bawah wine Prancis memiliki bobot yang lebih ketimbang wine yang lain? Atau, kalau diperluas, benarkah old world wine (yang di dalamnya termasuk Prancis, ditambah Italia, Spanyol, Portugal, Austria, dan Yunani) memiliki keunggulan dibandingkan dengan new world wine (yang di dalamnya ada Australia, plus Amerika, Selandia Baru, Afrika Selatan, Chile, Argentina, Kanada, dan lain-lain).

Para ahli wine senang menggunakan pengelompokan seperti itu, karena memang gaya maupun rasa kedua grup ini dianggap cukup berbeda. Old world wine dianggap lebih elegan, sedangkan new world wine sering kali karakter yang lebih “kasar” – bahkan ada yang menganggap bahwa wine di luar old world wine bukanlah wine. Benarkah? 

Orang boleh berpendapat apa saja. Tapi nyatanya banyak wine-wine dari negara-negara penghasil wine yang disebut “baru”, banyak memenangkan medali dalam kompetisi global – yang pesertanya tidak dibatasi hanya new world wine tentu saja. Juga jangan salah, banyak wine maker top yang membudidayakan wine di negara-negara yang dikategorikan new world itu.

Michel Rolland yang ahli membuat merlot, misalnya, untuk menyebut contoh, punya banyak proyek di Amerika Selatan. Juga Christian Vannequé, ahli wine asal Prancis, kini membuka wine bar di Bali, tidak hanya merekomendasikan wine asal Prancis saja, tapi juga wine-wine dari segala penjuru dunia – termasuk Hatten, merek asal Pulau Dewata tersebut.

Photo by CHUTTERSNAP on Unsplash

Tapi menikmati wine kurang asyik kalau hanya memperdebatkan dari mana wine tersebut berasal. Sama dengan musik jazz yang tidak harus didiskusikan (meski menambah wawasan) tapi nikmati saja!

Jean-Pascal Paubert, ahli wine asal Prancis, yang datang pada acara “The Battle of The Best” dalam rangka mencari sommelier terbaik di Indonesia di Jakarta awal Agustus 2009 lalu, mengungkapkan bahwa selera terhadap wine itu sangat personal. Minum wine sangat menyenangkan kalu kita tahu seninya. Jadi, lupakan sejenak perdebatan, kalau Anda merasa nikmat dengan wine yang Anda minum, tidak perlu merasa berkecil hati, meski wine tersebut bukan kategori premium. Apalagi hanya sekadar new world wine!

Saya suka pendapat penulis wine Yohan Handoyo, “Janganlah terjebak pada dikotomi old world dan new world wine karena pembagian ini semakin tidak relevan. Jauh lebih aman jika Anda memperhatikan merk dari wine yang Anda sukai.” (Burhan Abe)

Related Stories

spot_img

Discover

CURE Bali Tidak Berusaha Mengesankan—Justru Itu Kelebihannya

Ada restoran yang datang dengan suara bising. Ada juga yang datang dengan niat. CURE Bali...

Dapur Masa Depan Ada di Jakarta

Saat Teknologi Bertemu Ambisi Kuliner Indonesia Di kota yang tak pernah benar-benar tidur, dapur kini...

Mengelola Atasan

Bukan Tentang Menyenangkan, Tapi Membuat Mereka Lebih Tajam Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob “People don’t...

Strategi Baru Centara: Mengubah Hotel Jadi “Experience Platform” di...

Industri perhotelan global sedang bergeser. Ketika kamar mewah dan fasilitas premium menjadi standar, diferensiasi...

Kompas yang Tak Pernah Bergerak

Di banyak organisasi, “visi” sering lebih mirip dekorasi daripada navigasi. Ia terpajang rapi di...

POCO X8 Pro Series: Main Cepat, Tampil Tajam

Ada dua tipe orang di dunia smartphone hari ini: mereka yang sekadar pakai, dan...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here