Kekayaan Kuliner

Ketika berkunjung ke Malaysia atas undangan Malaysia Tourism Board beberapa waktu yang lalu saya tidak melewatkan untuk berwisata kuliner. Nasi lemak, roti canai, laksa, itulah beberapa nama makanan yang populer.

Di pusat perbelanjaan Suria KLCC (Kuala Lumpur City Center), letaknya di kaki menara kembar Petronas, saya mendapati banyak gerai makan, tak beda dengan foood court yang ada di mal-mal di Indonesia. Sementara di kawasan Chow Kit makanannya lebih ”aman”, terdapat sejumlah restoran Padang dan makanan ala Indonesia. Sebagian penduduk KL menyebut daerah ini sebagai kampung Indonesia.

Seekstrem apa pun, makanan Malaysia agaknya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, terutama dari gagrak masakan Melayu yang sama-sama nasi sebagai makanan pokoknya.

Makanan Melayu memang sangat dominan, tapi dengan keranekagaman etnis dan ras, negeri ini memiliki beragam resep masakan yang khas. Secara garis besar masakan Malaysia terdiri atas tiga jenis: masakan Melayu, Cina dan India. Masing-masing punya ciri khas dan rasa istimewa. Selain itu, juga ada masakan pembauran budaya dari masyarakat Nyonya (keturunan) dan India Islam. Sedang menu-menu internasional, macam masakan Eropa dan Mediterania tersedia di restoran-restoran modern. Betapa beragamnya kuliner di Malaysia!

Tapi kalau dipikir-pikir kuliner Indonesia tidak kalah kayanya dengan negeri jiran tersebut, bahkan amat jauh lebih kaya. Bayangkan, ada ribuan pulau, etnis yang mencapai 1.340 suku menurut sensus Badan Pusat Statistik terbaru, serta ribuan gagrak makanan pula tentunya.

Memang, kita hanya mengenal beberapa saja yang populer, karena tidak semua jenis makanan Nusantara sudah terekspos dengan baik. Kalau Anda rajin mengikuti Festival Jajanan Bango, misalnya, tentu akan terperanjat, betapa beragamnya makanan ”pinggiran” yang sudah menjadi menu sehari-hari orang Indonesia.

Untuk mencari yang lebih otentik memang kita harus rajin bertandang ke daerah-daerah langsung. Apalagi, menurut pakar kuliner William Wongso, banyak makanan Indonesia yang tidak bisa dikemas praktis sebagai makanan orang kota.

Itu sebabnya kita harus acungi jempol ketika The Ritz-Carlton Jakarta menggelar festival makanan Indonesia = Samarinda + Bangka, bertepatan dengan hari jadi ke 63 RI, Agustus lalu.

Kalau makanan Jawa, Madura, Sunda, apalagi Padang yang restorannya ada berbagai tikungan jalan, pasti kita sudah mafhum. Tapi kalau Samarinda atau Bangka? Saya yakin hanya sebagian saja yang tahu, minimal pernah mendengar dan melihatnya, apalagi pernah merasakannya.

Beberapa makanan Samarinda memang mengingatkan gagrak makanan lain di Nusantara, tapi percayalah, tetap saja ada yang khas. Sebutlah nasi bakepor, patin bakar, udang goreng karang melenu, satai payau, pindang kepala patin, oseng genjer, atau soto acil aiunun – yang penciptanya memang bernama Acil Ainun, seorang ibu yang jago masak, khususnya masakan Samarinda.

Previous article
Next article

Related Stories

spot_img

Discover

AI Melaju, Pertahanan Bisnis Tertinggal

Perusahaan di Indonesia berlomba memanfaatkan kecerdasan buatan. Namun, fondasi keamanan, tata kelola, dan ketahanan...

Pasihan

Menyelami Jiwa Subak Melalui Pasihan, Film Dokumenter Baru dari SAKA Museum di AYANA Bali Di...

Luigis Enters a New Era—Without Losing Its Soul

Di tengah derasnya transformasi Canggu menjadi salah satu destinasi gaya hidup paling dinamis di...

Sebuah Sanctuary di Tengah Jakarta

Wajah Baru JimBARan Lounge AYANA Midplaza Merayakan Ketenangan dan Warisan Kuliner Nusantara Di kota yang...

Tantangan Berikutnya bagi Dunia Usaha Indonesia

Membuktikan Nilai AI bagi Bisnis Adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia terus meningkat. Namun,...

Saat Trisara Mengajarkan Arti Kemewahan yang Sesungguhnya

Phuket yang Tak Banyak Orang Kenal Di tengah tren slow travel yang semakin digemari...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here