Masa Lalu vs Masa Kini

Hal-hal seperti itulah yang menjadi dasar dalam merancang sebuah kantor. Kantor tersebut tersebut bergerak dalam indutsri apa, apakah sistem kerjanya konvensional yang mengharuskan karyawannya berada di kantor dari jam 09.00 hingga 17.00 atau tidak? Atau, justru sebagian besar karyawannya harus mobile, yang tolok ukurnya result oriented, bukan time based?

Seberapa besar jumlah karyawan, bagaimana mereka menjalankan pekerjaannya, berapa orang yang bekerja secara klerikal dan harus tinggal di kantor, berapa orang yang menghabiskan banyak waktunya di luar kantor, dan berapa orang yang hanya touch down, datangnya hanya beberapa jam dalam sehari atau seminggu. Lalu bagaimana mereka berinterakasi dan berkomunikasi, baik yang diwadahi dalam rapat maupun informal. Kemudian yang tidak kalah pentingnya, bagaimana kebiasan mereka, kultur mereka dalam bekerja, misi dan visi perusahaan, dan seterusnya.

Faktor-faktor itulah yang menentukan bagaimana sebuah ruang kantor dibangun, bagaimana lay out ruang didesain.

Tapi yang jelas, demikian Rivan, kantor yang sehat adalah tempat yang menyenangkan di mana individu yang terlibat bisa bekerja secara maksimal dan produktif. Sebagai second home karyawan, interior kantor memegang peranan penting agar seseorang betah dalam beraktivitas. Idealnya, desain interior harus peka dalam mengakomodasi kebutuhan kerja, tanpa menghilangkan aspek privasi, komunikasi, fleksibilitas, dan efisiensi.

Bahkan tren yang kini sedang berkembang di negara maju adalah kantor yang ramah lingkungan – mulai dari kursi yang ergonomis, AC yang hemat listrik dan lain-lain, yang mungkin investasinya lebih besar, tapi lebih hemat dalam jangka waktu yang lama.

Secara fisik, interior kantor harus bersifat terbuka atau open source sehingga menimbulkan kesan akrab. Setidaknya dapat menyerap cahaya secara maksimal guna meminimalisir sudut-sudut yang gelap. Bisa juga dengan menggunakan kaca transparan di beberapa sudut untuk memberikan kesan yang luas dan terbuka, namun tetap mengutamakan unsur privasi. Selain itu ruangan transisi multifungsi antar ruang atau antar lantai juga memberikan solusi yang efektif, karena memungkinan interaksi secara maksimal. (Burhan Abe)

Related Stories

spot_img

Discover

AI Melaju, Pertahanan Bisnis Tertinggal

Perusahaan di Indonesia berlomba memanfaatkan kecerdasan buatan. Namun, fondasi keamanan, tata kelola, dan ketahanan...

Pasihan

Menyelami Jiwa Subak Melalui Pasihan, Film Dokumenter Baru dari SAKA Museum di AYANA Bali Di...

Luigis Enters a New Era—Without Losing Its Soul

Di tengah derasnya transformasi Canggu menjadi salah satu destinasi gaya hidup paling dinamis di...

Sebuah Sanctuary di Tengah Jakarta

Wajah Baru JimBARan Lounge AYANA Midplaza Merayakan Ketenangan dan Warisan Kuliner Nusantara Di kota yang...

Tantangan Berikutnya bagi Dunia Usaha Indonesia

Membuktikan Nilai AI bagi Bisnis Adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia terus meningkat. Namun,...

Saat Trisara Mengajarkan Arti Kemewahan yang Sesungguhnya

Phuket yang Tak Banyak Orang Kenal Di tengah tren slow travel yang semakin digemari...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here