Simfoni Pasar Burung

Secara tradisional ada lima simbol prestisius yang harus dimiliki oleh lelaki Jawa; rumah, istri, keris, kuda, dan burung perkutut. Bisa dipahami Pasar Ngasem atau yang dikenal juga sebagai Pasar Burung menjadi meeting point yang cukup penting bagi masyarakat Yogyakarta. Pasar ini tidak hanya menjadi pusat transaksi burung perkutut, yang kalau juara dalam perlombaan berkicau harganya bisa setara dengan mobil mewah, tapi juga jenis burung lainnya.

Sebagai pecinta burung meski sebatas hobi, saya merasa tidak asing dengan Pasar Burung. Pasar yang buka mulai jam 9 pagi hingga jam 4 sore itu mempunyai atmosfer yang khas. Kicau burung yang merdu, bersahut-sahutan bagai simfoni alam, keramaian orang-orangnya, lengkap dengan kekumuhannya, serta aromanya yang khas.

Suasana seperti ini memberikan inspirasi tersendiri bagi saya, dan membangkitkan gairah kreativitas saya sebagai seorang fotografer. Lana, model yang saya foto, berkebaya encim modern berwarna terang, menjadikan paling menonjol di antara kerumunan orang-orang. Berpayung merah makin membuat makin kontras di antara pasar yang padat. Lana sendiri memang menonjol, dengan wajah Indonya, berkulit terang, berhidung bangir. Persis noni-noni Belanda zaman dulu yang sedang JJS (jalan-jalan sore).

Model bergerak cepat, berjalan di antara kerumunan orang-orang pasar. Untuk menangkap sang objek saya menggunakan otofokus. Kalau tidak, tentu akan ada kendala mengabadikan momen-momen indah yang kadang-kadang harus diputuskan dalam hitungan detik. Saya menggunakan kamera Canon EOS-1 Ds Mark II dengan resolusi 16 Megapixel, yang mampu menangkap objek 16 frame per detik.

Sinar matahari yang masih kuat siang itu, sekitar jam 14.00, bisa diakali dengan memberi fill in ke arah objeknya, untuk mengurangi kontras akibat back light – sinar matahari dari belakang objek. Kendala model yang bergerak bisa diatasi dengan menggunakan lighting Broncolor Mobilite yang portable dan luwes bergerak mengikuti gerakan model dan perpindahan angle kamera.

Saya cukup puas karena bisa dapat feel-nya. Dari dari suasana tersebut itu muncul satu touch yang luar biasa. Itulah efek yang ingin saya tampilkan, yang mungkin orang lain tidak melihatnya. (Darwis Triadi/Ilustrasi utama by Miss Zhang on Unsplash)

Yogyakarta, 16 – 19 April 2005

Related Stories

spot_img

Discover

Mooncake, Elevated

JW Marriott Hotel Jakarta Membawa Tradisi Mid-Autumn ke Level Berikutnya Tujuh koleksi mooncake, dari klasik...

Liburan ke Bali Makin Beruntung dengan Nakula Rewards

Pesan vila langsung, dapatkan lebih banyak keuntungan hingga 15 persen. Plus, ada sarapan, airport...

Riserva: Steak, Ritual, dan Seni Menikmati Malam di Ubud

Fine dining steakhouse terbaru di Ubud ini tidak sekadar menyajikan daging premium. Riserva merancang...

The City Bites

Saat Semangat New York Menemukan Panggungnya di Jakarta Comfort food, cocktail playful, dan cita rasa...

Byrd House Bali

Rayakan Kemerdekaan Lewat Tafsir Modern Kuliner Nusantara Nusantara Degustation Dinner menghadirkan perjalanan tujuh babak rasa...

AI Melaju, Pertahanan Bisnis Tertinggal

Perusahaan di Indonesia berlomba memanfaatkan kecerdasan buatan. Namun, fondasi keamanan, tata kelola, dan ketahanan...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here