In This Economy

Istilah tersebut dipopulerkan Leonard Lauder dari Estée Lauder setelah mengamati penjualan lipstik justru meningkat ketika dunia dilanda krisis finansial. Di tengah tekanan ekonomi, orang tetap mencari sesuatu yang mampu memberi rasa nyaman, percaya diri, dan sedikit kebahagiaan.

L’Oréal, misalnya, tetap mencatat pertumbuhan penjualan ketika banyak sektor lain justru melemah. Namun lipstick effect bukan sekadar soal kosmetik.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Hari ini ia bisa berupa sneakers edisi terbaru, biji kopi premium, smartwatch, sepatu lari, skincare, atau makan malam di restoran yang sudah lama masuk daftar keinginan.

Yang dibeli sesungguhnya bukan barangnya. Yang dibeli adalah perasaan.

Riset Sarah E. Hill dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa ketika dihadapkan pada situasi ekonomi yang mengancam, perempuan justru menunjukkan preferensi lebih besar terhadap produk kecantikan premium dibanding alternatif yang lebih murah. Menariknya, pilihan itu bukan semata karena status, melainkan karena produk tersebut dianggap lebih efektif meningkatkan daya tarik.

Dengan kata lain, dalam situasi penuh ketidakpastian, manusia mencari sesuatu yang membuat dirinya merasa tetap bernilai.

Pada titik inilah konsumsi berubah menjadi mekanisme psikologis. Kita mungkin tidak bisa mengendalikan inflasi, nilai tukar, atau arah ekonomi global. Namun kita masih bisa memilih lip gloss, parfum, atau kopi favorit.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Keputusan kecil itu menghadirkan ilusi bahwa masih ada bagian hidup yang sepenuhnya berada dalam kendali kita. Di saat yang sama, konsumsi juga merupakan bahasa sosial.

Apa yang kita kenakan, kopi yang kita minum, restoran yang kita datangi, bahkan sepatu yang kita pilih, ikut membentuk narasi tentang siapa diri kita.

Bagi banyak orang, kehilangan kemampuan untuk tetap berpartisipasi dalam gaya hidup tertentu terasa sama menyakitkannya dengan kehilangan daya beli itu sendiri.

Karena itu, seorang pelari mungkin membatalkan perjalanan ke luar negeri, tetapi tetap membeli sepatu lari berkualitas. Seorang pencinta kopi mengurangi banyak pengeluaran lain, tetapi tetap menikmati secangkir espresso di kedai langganan.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Related Stories

spot_img

Discover

Pengalaman Golf Kini Tak Lagi Berakhir di Hole ke-18

Riverside Golf Club memperbarui fasilitas locker room dengan sentuhan desain elegan, teknologi modern, dan...

Di Meja William Wongso, Indonesia Disajikan dalam Sepiring Cerita

Ada cara sederhana untuk mengenal sebuah negeri. Bukan dengan membuka atlas atau membaca buku...

The Late Shift

Menikmati Comfort Food di Penghujung Hari lewat The Late Shift di Artotel Living World...

The New Caribbean, Curated by Aman

Aman at Sea menghadirkan cara baru menikmati Karibia—lebih sunyi, lebih personal, dan nyaris tanpa...

Djournal Monster Cafe Hadirkan Wajah Baru Blok M

Ketika Kopi, Street Art, dan Komunitas Bertemu Blok M selalu punya cara untuk berevolusi. Dari...

Clipper Penghasil Cuan dengan AI Gratis

Peluang Baru di Ekonomi Kreator Di balik video-video pendek yang memenuhi TikTok, Instagram Reels, hingga...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here