Musim kuliner ini sebelumnya dibuka oleh Charlie Tayler dari Aulis London pada 28 dan 29 Agustus. Gaya memasak Tayler mempertemukan gastronomi Inggris modern dengan presisi Jepang—hasil perjalanan dari sejumlah dapur fine dining London hingga tradisi kaiseki di Kyoto. Hasilnya bukan masakan yang sibuk mencari perhatian. Ia lebih senang berbicara pelan, kemudian menetap cukup lama di kepala.
Saat Hasil Laut Menjadi Pemeran Utama
Selanjutnya, pada 16 dan 17 Oktober, giliran Andy Beynon dari Behind, London, mengambil alih dapur. Beynon dikenal melalui masakan Inggris modern yang berpusat pada hasil laut. Ia mengandalkan bahan hiper-musiman, sumber yang berkelanjutan, serta teknik klasik yang digunakan dengan pengendalian diri.
The Luxury of Space: Perjalanan Mewah Menjelajah Indonesia
Di tangannya, ikan dan makanan laut tidak diperlakukan sebagai kanvas untuk pamer teknik. Bahan justru menjadi tokoh utama. Elemen lain hadir seperlunya—mendukung, bukan berebut sorotan. Pendekatan itu terasa masuk akal di sebuah resor yang menghadap langsung ke pesisir Batu Bolong. Laut bukan hanya pemandangan dari meja makan, tetapi bagian dari percakapan di atas piring.
Membaca Malaysia dari Meja Makan
Pada 6 dan 7 November, Regent Bali Canggu menghadirkan Chong Yu Cheng dari Terra Dining, Kuala Lumpur. Chef Chong menggali kuliner Malaysia melalui tradisi, warisan, dan bahan lokal. Namun, jangan mengharapkan nostalgia yang disajikan apa adanya. Ia mengambil rasa yang familier, membongkarnya, kemudian menyusunnya kembali dengan teknik dan perspektif masa kini.
Masakannya menunjukkan bahwa tradisi tak harus disimpan seperti benda museum. Ia bisa bergerak, berubah, bahkan sedikit nakal—selama tidak lupa jalan pulang. Melalui menu degustasinya, tamu diajak mengenali kembali rasa-rasa Malaysia dalam wujud yang mungkin tak langsung tertebak, tetapi tetap menyimpan jejak asalnya.
Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Jakarta


Penutup yang Sangat Personal
Musim ini akan mencapai babak terakhir pada 27 dan 28 November bersama Zor Tan dari Restaurant Born, Singapura. Karier Zor Tan pernah membawanya ke sejumlah dapur penting Asia, termasuk Restaurant André, RAW, dan Sichuan Moon yang menyandang dua bintang Michelin. Kini, ia mengembangkan bahasa kuliner sendiri yang mempertemukan teknik Prancis dengan tradisi Asia.
Masakannya banyak berangkat dari memori dan perjalanan pribadi. Dalam setiap hidangan, teknik bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk mengolah kembali pengalaman, identitas, dan warisan budaya. Ini jenis makanan yang tidak hanya ingin dinikmati. Ia juga ingin dipikirkan—tentu setelah fotonya selesai diambil.
Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

