Threads of Asia

Bagi Chef Arvie, Threads of Asia merupakan kelanjutan dari filosofi Api Jiwa dalam merayakan spektrum gastronomi Asia melalui rasa ingin tahu, kepedulian terhadap bahan, dan keterampilan memasak. Salah satu identitas utama restoran ini adalah teknik Wara, metode memasak dengan api terbuka yang memanfaatkan jerami padi berlebih dari persawahan di sekitar restoran.

Di tangan dapur Api Jiwa, material pertanian sederhana tersebut menghasilkan aroma asap lembut, lapisan rasa yang kompleks, serta karakter panggangan yang sulit diperoleh dari perangkat dapur modern.

The Luxury of Space: Perjalanan Mewah Menjelajah Indonesia

Ada sesuatu yang nyaris puitis di sana. Hasil sawah kembali digunakan untuk mengolah makanan, sementara lanskap Keliki tidak hanya menjadi latar pemandangan, tetapi benar-benar mengambil bagian dalam hidangan.

Dipadukan dengan bahan musiman dan berbagai teknik yang diwariskan turun-temurun, pendekatan tersebut membentuk karakter Api Jiwa: farm-to-flame, tetapi dengan kedalaman yang melampaui slogan pemasaran.

Dari Seoul, Sydney, hingga Jakarta

Jika Chef Arvie berbicara melalui api, Chef Ryan Kim datang dengan bahasa presisi dan fermentasi. Lahir di Korea Selatan, Ryan membangun fondasi kulinernya melalui pendidikan formal di bidang pastry, cuisine, kopi, dan oenologi. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Le Cordon Bleu Australia sebelum bekerja di sejumlah restoran ternama di Sydney, termasuk Quay dan Bennelong.

Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Jakarta

Pengalaman tersebut memberinya disiplin teknis yang kuat. Namun, gaya masaknya tidak berhenti pada kesempurnaan teknik. Warisan Korea dan perjalanannya melintasi Asia Timur turut membentuk pendekatan yang lebih personal—masakan sebagai medium untuk mengingat, merawat, dan menyampaikan cerita.

Pada 2020, Ryan bersama istrinya mendirikan Fragments, patisserie yang terinspirasi oleh cita rasa Korea dan kemudian berkembang menjadi salah satu destinasi artisan pastry terkemuka di Jakarta. Kiprahnya bersama SU MA juga membawanya masuk dalam Gold List Prestige Gourmet Awards 2026.

Di SU MA, tradisi dapur Korea dan Tiongkok diterjemahkan ke dalam pengalaman bersantap kontemporer. Fermentasi, musim, kesabaran, dan ketepatan teknik memainkan peranan penting. Di balik seluruh presisi tersebut terdapat gagasan sederhana: makanan merupakan bentuk kepedulian.

Itu sebabnya hidangan SU MA cenderung tidak berteriak meminta perhatian. Karakternya dibangun perlahan, berlapis, dan penuh perhitungan—kurang lebih seperti hubungan yang baik, hanya saja dengan plating lebih rapi.

Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Related Stories

spot_img

Discover

Ketika Para Chef Berbintang Michelin Menguasai Canggu

Regent Bali Canggu mendatangkan sejumlah nama berpengaruh dari London, Bangkok, Kuala Lumpur, dan Singapura....

Hilton Padalarang, Alasan Baru untuk Berhenti di Bandung

Terhubung lebih cepat dengan Jakarta lewat Whoosh, Hilton Padalarang Bandung menawarkan 218 kamar, empat...

The Life of the Tree

Di Oliverra, Umana Bali, sembilan koktail membawa perjalanan dari benih hingga kelahiran kembali—dengan rempah,...

Nuju Uluwatu: Menjelajahi Indonesia dari Selatan Bali

Resor khusus dewasa ini merangkai arsitektur, seni, tradisi, wellness, dan cita rasa Nusantara dalam...

Dinner at 100: Akira Back Is Back in Jakarta

Ada banyak cara menikmati Jakarta. Namun, jika Anda sudah sampai di lantai 100, turun...

Melampau Birunya Laut, Menyusuri Pesona Manado

Di Likupang, laut, lanskap vulkanik, dan warisan Minahasa bertemu dalam sebuah pengalaman perjalanan baru Pagi...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here