Gosip: Olahraga Favorit Kantor yang Diam-diam Bikin Otot Kepercayaan Koyak

Di kantor, tiga kata paling mematikan bukanlah “kita rapat sekarang”, tapi: “Eh, sudah dengar…?”

Biasanya diikuti bisikan dramatis, tatapan penuh kode, dan aroma sensasi yang menguar seperti popcorn panas. Santai? Terdengar lucu? Ya. Tapi jangan salah: ini bibit badai kategori lima.

Bryan Robinson sudah ngomong, gosip itu bukan “small talk”—lebih mirip core exercise untuk meruntuhkan semangat tim. Sedikit rumor di grup WhatsApp, sedikit bisik-bisik dekat pantry, voila: aura kantor langsung berubah jadi film thriller murah.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

Menurut Forbes, 80% karyawan merasa kantornya toksik, dan hampir setengahnya menunjuk gosip sebagai biang kerok. Di balik tawa-tawa cekikikan itu sebenarnya berkeliaran rasa cemas, iri, insecure, sampai kehilangan arah. Kantor jadi seperti pesta tanpa musik: ramai di belakang, sunyi di depan.

Kenapa Gosip Laris?

Karena ngomong jujur itu ribet. Ada risikonya. Gosip? Gratis. Tanpa tanggung jawab pula. Ibarat ventilasi bagi mereka yang muak tapi tak berani protes terang-terangan.

Amy Edmondson, sang ratu topik “psychological safety”, bilang ketidakamanan psikologis menciptakan budaya diam. Dan kalau orang diam di depan, mereka kompensasi dengan berbicara kencang di belakang. LiveCareer bahkan menemukan 48% karyawan tidak percaya siapa pun untuk menjaga rahasia. Dengan angka segitu, seharusnya kantor sekalian bikin divisi baru: Departemen Bisik-Bisik Internal.

Suhu Ruang Ditentukan Bos

Budaya gosip itu bukan muncul dari udara berkat AC kantor. Itu tumbuh dari atmosfer pemimpin yang toxic.
Kalau bos suka nyindir, suka ngomongin anak buah satu sama lain, suka bikin drama… ya jelas timnya ikut-ikutan.

Nancy Rothbard dari Wharton terang-terangan bilang, “Kalau dia ngomongin orang lain, apa yang dia omongin soal kita?” Boom. Tepat sasaran.

Awalnya, si bos bikin seolah-olah kita “orang kepercayaan”. Lama-lama malah bikin paranoid: tiap langkah kita seperti bahan podcast informal. Dari situ muncullah rasa tidak aman tingkat dewa.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Related Stories

spot_img

Discover

Langkah Sinematik Explora Journeys dari New York ke Samudra

Maybe the Best Hotel Has No Address Di sebuah kota yang tak pernah benar-benar tidur,...

Wishful Ramadan

Artotel Hub Simpang Temu Meriahkan Bulan Suci Ramadan Lewat Kampanye Wishful Ramadan Ramadan selalu punya...

Kecerdasan Relasi

Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jako Di dunia pria modern, ada dua hal yang sering...

Maha Resort Bali, Ritme Baru Pengalaman Menginap di Canggu

Di Batu Mejan, hanya beberapa menit dari debur ombak yang membentuk karakter Canggu, berdiri...

Berpikir di Era AI: Antara Cepat, Cerdas, dan Tetap...

Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob AI sekarang bukan lagi “teknologi masa depan”. Ia sudah...

Janu Residences, Dubai: Ketika Gaya Hidup Naik Level

Di kota yang identik dengan rekor—tertinggi, terbesar, termahal—hadir satu proyek yang tidak berteriak, tapi...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here