Si Paling Tahu

Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob

Di setiap lingkar pertemanan—dan hampir pasti di setiap kantor—selalu ada satu sosok spesial: si paling tahu. Dia bukan cuma update berita, tapi juga update meme, gosip seleb, tren LinkedIn, sampai isu geopolitik yang baru nongol lima menit lalu. Dan ajaibnya, semua itu “gue udah tau dari lama.”

Begitu ada orang lain mulai cerita, refleksnya cepat: dipotong. Lalu disambung dengan, “Oh iya, itu kayak temen gue…” atau “Sepupu gue kemarin juga ngalamin hal yang sama.” Bukan buat nambah diskusi, tapi buat satu pesan jelas: gue lebih dulu di sini.

Versi Kantoran: Lebih Berbahaya

Di kantor, tipe ini naik level. Dia selalu paling update soal tren industri, paling kenal “orang dalam”, paling ngerti isu panas. Setiap meeting terasa seperti TED Talk dadakan—versi tanpa undangan.

Cuan dari Rumah: 5 Bisnis Digital yang Bisa Kamu Mulai Hari Ini

Orang lain baru buka mulut, dia sudah menyela, menebak, lalu menjelaskan panjang lebar. Ironisnya, sering kali yang diulang adalah hal yang sebenarnya sudah dipahami semua orang. Tapi ya itu: panggung harus tetap milik dia.

Padahal, bisa jadi dia memang kompeten. Masalahnya bukan di otak, tapi di ego mic-nya. Cara penyampaiannya membuat orang malas mendengar, bahkan sebelum dia selesai bicara.

Di Balik Percaya Diri, Ada Rasa Takut

Yang jarang disadari: banyak “si paling tahu” sebenarnya digerakkan oleh kecemasan. Takut tidak dianggap. Takut terlihat biasa. Takut tidak relevan.

Ini sering terjadi pada mereka yang lama berada di posisi minoritas—entah karena latar belakang, status, atau pengalaman—lalu merasa harus selalu membuktikan diri. Apalagi di budaya kerja yang lebih menghargai siapa yang paling lantang bicara ketimbang siapa yang idenya paling tajam.

Seri Digital: Algoritma Bukan Musuhmu

Akhirnya, yang dipoles bukan lagi substansi, tapi performa. Yang penting kelihatan pintar—soal benar atau tidak, belakangan.

Jadi, Destruktif atau Tidak?

Jawabannya: iya, kalau dibiarkan.

Satu orang mendominasi, yang lain otomatis mengerem. Tim yang pemalu makin memilih diam. Anak buah ogah lempar ide karena tahu bakal dipotong. Meeting berubah jadi monolog. Inovasi? Mati gaya.

Rahasia Main Threads: Modal Jempol, Panen Rupiah

Related Stories

spot_img

Discover

The Rooster in Flame

Tamba by Junsei Memulai Babak Baru Lewat “The Rooster in Flame” Di Bali, restoran baru...

Yacht Luxury Meets Formula 1

Explora Journeys Bikin SailGP Makin Stylish Di dunia olahraga ekstrem, biasanya yang jadi sorotan adalah...

Markette dan Seni Menikmati Malam Tanpa Tergesa

Jakarta punya kebiasaan buruk: membuat semua orang terburu-buru. Kota ini bergerak cepat, berbicara cepat, bahkan...

Phubbing

SAAT PONSEL MENJADI ORANG KETIGA DALAM HIDUP KITA Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob Dulu, orang...

Maha Beer Garden

Seni Menikmati Canggu Tanpa Tergesa Canggu selalu punya cara unik untuk membuat orang lupa waktu....

SubSavers

Subway Punya Cara Baru Menikmati “Budget Lunch” Tanpa Terasa Murahan Di tengah harga makan siang...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here