Jakarta Hotel Scene: Saat Pasar Melambat, Gaya Justru Diuji

Jakarta tidak sedang kehabisan hotel. Ia hanya sedang memilih siapa yang layak bertahan.

Sepanjang 2025, industri perhotelan ibu kota bergerak pelan—nyaris kalem. Hanya dua hotel baru yang resmi beroperasi: d’primahotel PIK Jakarta dan ARTOTEL Hub Simpang Temu. Total tambahan kamar? Tak sampai 200. Sebuah angka yang, untuk ukuran Jakarta, nyaris simbolis.

Menurut laporan terbaru Cushman & Wakefield, total suplai hotel kelas menengah hingga luxury kini berada di kisaran 44 ribu kamar. Artinya jelas: pasar tidak sedang kebanjiran. Masalahnya bukan di supply. Masalahnya ada di siapa yang datang, dan untuk apa.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

Efisiensi Negara, Efek Domino ke Hotel

Tahun 2025 menjadi pengingat pahit bahwa hotel Jakarta terlalu lama bergantung pada satu jenis tamu: negara.

Ketika pemerintah mengetatkan anggaran—membatasi perjalanan dinas, rapat, dan event resmi—okupansi langsung turun ke 63,5%, terkoreksi 4,7% dibanding tahun sebelumnya. Yang paling terpukul? Hotel bintang empat, dengan penurunan terdalam hingga -6,1%.

Masuk akal. Segmen ini adalah “kantor kedua” bagi rapat kementerian, BUMN, dan seminar formal. Begitu keran ditutup, kursi ballroom pun kosong.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Namun menariknya, hotel luxury nyaris tak terguncang. Penurunannya hanya -0,5%. Karena uang pribadi—baik dari korporasi swasta, high-level business travelers, maupun social events—ternyata lebih kebal terhadap kata “efisiensi”.

Harga Tetap Tegak, Meski Angin Tidak Bersahabat

Di tengah tekanan okupansi, satu hal patut dicatat: harga kamar tidak runtuh. Average Daily Rate (ADR) justru masih tumbuh tipis, sekitar 1,5–3%. Angkanya kini berada di kisaran:

  • Rp500 ribuan untuk hotel bintang tiga
  • Rp800 ribuan untuk bintang empat
  • Rp1,8 jutaan untuk bintang lima
  • Hampir Rp2,4 juta untuk hotel luxury

Bacaan Kekinian: AI Jadi Asisten, Kamu Jadi Bos

Related Stories

spot_img

Discover

Amankora

Membuktikan Bahwa Kemewahan Terbesar Adalah Kemampuan untuk Melambat Di Bhutan, Aman tidak membangun hotel yang...

Bekerja Lebih Sedikit, Memberi Dampak Lebih Besar

Bukan Soal Sibuk, Tapi Berdampak: Mengapa Kualitas Kerja Kini Lebih Penting daripada Kuantitas Di era...

7 Years of Flames & Friendships

Sudestada: Tujuh Tahun Menghidupkan Tradisi Asado di Jantung Jakarta Ada sesuatu yang memikat dari aroma...

Jejak Rempah

Menghubungkan Dua Negeri: Taste of Asia Kembali Hadir di Aman Indonesia Selama berabad-abad, lautan bukan...

Living the Heritage

Ketika Senja Flores Menjadi Panggung Budaya di Kisik Seafood & Grill Labuan Bajo tak pernah...

Chupacabras, Ubud

Di Mana Api Menjadi Seni: Chupacabras Membawa Jiwa Amerika Selatan ke Ubud Ada sesuatu yang...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here