Saat Aperitivo Menemukan Rumah Baru di Bali
Di Uluwatu, waktu terasa punya ritme sendiri. Matahari tenggelam lebih dramatis, percakapan mengalir lebih panjang, dan—kalau tahu tempatnya—malam bisa dimulai tanpa rencana pulang yang jelas. Di tengah vibe itu, Bartolo datang dengan satu pesan sederhana: minum tak harus cepat, dan malam tak perlu terburu-buru.
Lewat program bar terbarunya, Vermouth in Hand, Bartolo tidak sekadar menambah daftar koktail. Mereka sedang menyuntikkan gaya hidup—yang di Eropa dikenal sebagai aperitivo—ke dalam lanskap sosial Bali yang selama ini identik dengan beach club dan party tanpa jeda.
Bedanya? Ini bukan tentang “seberapa keras lo minum,” tapi “seberapa lama lo mau stay.”
Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine
Minum Pelan, Ngobrol Panjang
Konsep aperitivo itu sebenarnya simpel: minuman ringan sebelum makan malam, ditemani camilan kecil dan obrolan santai. Tapi di tangan Bartolo, konsep ini naik kelas—lebih curated, lebih playful, tapi tetap santai.



Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto
Vermouth jadi bintang utama. Minuman berbasis wine yang diinfus botanical ini punya karakter kompleks tapi ringan. Artinya? Lo bisa minum lebih lama tanpa feeling “too much too fast.” Dan itu disengaja.
Setiap koktail di menu baru—total 15 racikan—dibagi dalam profil rasa: dari yang segar dan fruity sampai yang savoury dan bittersweet. Bahkan kadar alkohol (ABV) dicantumkan. Transparan, tapi juga subtly mengajak: slow down, enjoy the ride.
The Luxury of Space: Perjalanan Mewah Menjelajah Indonesia

