Home Blog Page 108

Lemak Hilang, Pede Terbilang

0

Operasi sedot lemak dan pembesaran buah dada kembali marak seiring pengakuan terbuka sejumlah selebriti yang melakukannya. Tekniknya pun kian aman dan tak menyakitkan. Bahkan bermunculan tour operator yang menawarkan paket wisata medis ke Thailand dan Malaysia – sambil tetirah di resor mewah membuang lemak yang berlimpah!

Dua minggu lebih menghilang dari tanah air, Sita – maaf, nama aslinya saya samarkan – kembali dengan membuat kejutan. Wajahnya sumringah dan selalu menebar senyum. Berbeda dengan kebiasaannya menggunakan baju longgar, kali ini ia datang ke pesta dengan mengenakan baju model kemben yang memamerkan lengan, bahu, sebagian bukit dadanya, serta belahan paha tinggi yang memajang paha dan betis mulusnya. Body Sita memang kelihatan lebih langsing. Pipinya yang biasanya agak gembil (chubby) juga lebih tirus. “Sexy nggak gua?” katanya sambil mengerling genit.  

Sumpah, nilai Sita di mata saya memang naik dua angka. Bukan cuma pesona ragawi. Tampang cemberutnya juga sudah hilang entah ke mana. Ia kelihatan lebih percaya diri. Ketika saya tanya apa yang membuatnya begitu berbeda, ia menjawab sambil tersenyum manis, “Saya baru kembali dari Phuket.”  

Berlibur? Ya. Tapi lebih tepatnya berlibur plus. Wanita pengusaha beranak dua balita ini baru saja kembali dari perjalanan ‘liburan’ ke Thailand. Phuket – juga Chiang Mai dan Bangkok – kini menjadi surga bagi kaum platinum untuk bersalin raga menjadi The Swan. Mereka dilayani bak ratu di rumah-rumah sakit swasta yang lebih mirip resor, namun dengan dokter-dokter spesialis di berbagai bidang. Soal makanan maupun bahasa tak menjadi masalah. Seperli laiknya resor eksklusif, Anda bisa memesan makanan apa saja yang Anda suka. Hampir semua rumah sakit memiliki perawat yang mahir berbahasa asing: Melayu, Mandarin, Jepang, Arab, apalagi Inggris. Para dokternya semua bisa berbahasa Inggris.  

Data Kantor Layanan Ekspor, Departemen Promosi Ekspor Thailand mencatat pada 2003 saja jumlah pasien asing yang menjalani perawatan di berbagai rumah sakit swasta di Thailand mencapai 973.532 dan memberi pemasukan THB 27 miliar (sekitar Rp 6,35 triliun). Seiring dengan promosi gencar yang dilakukan pemerintah Thailand, pada 2005 angka ini melesat menjadi sekitar THB 40 miliar (sekitar Rp 9,4 triliun).  

Kebanyakan pasien asing berasal dari Asia, seperti Cina, Jepang, Korea, dan Indonesia, serta Eropa dan Amerika. Umumnya datang untuk melakukan bedah plastik. Orang Cina umumnya datang untuk membesarkan kelopak mata, sementara Korea, Jepang dan Indonesia umumnya untuk membesarkan payudara, sedot atau bedah lemak dan vaginoplasty­ – mengencangkan kembali organ intim wanita yang mulai kedodoran. Sebaliknya, banyak orang Barat yang datang untuk mengecilkan buah dada yang kebesaran hingga membuat sakit punggung.  

Sejak lima tahun belakangan, tren memperindah penampilan diri memang kian marak saja, termasuk di Indonesia. Ini ditandai dengan kian menjamurnya klinik-klinik yang memberikan layanan kecantikan secara instan ini. Peminatnya bukan cuma para entertainer dan model yang memang harus selalu tampil memukau, namun juga pengusaha dan ibu rumah tangga. “Ada yang karena ingin tampil lebih percaya diri, tapi ada juga yang karena tuntutan suami yang ingin melihat pasangannya selalu tampil sempurna,” tutur Yulfi Herman, pengusaha butik papan atas.  

Seperti juga di Thailand dan Malaysia, klinik-klinik ini melayani mulai dari bedah kosmetik, menanam implant untuk memperbesar payudara, hingga melenyapkan lemak yang tak diinginkan dari bagian tubuh tertentu. Sumber Platinum di sebuah rumah sakit besar menyebut permintaan tertinggi masih membuang lemak berlebih. Bahkan, kini ada beberapa biro perjalanan yang siap melayani permintaan medical trip alias wisata kesehatan ke Thailand atau Malaysia yang dikemas dalam liburan yang menyenangkan. Sambil tetirah di resor mewah Anda bisa membuang lemak yang berlimpah, atau membuat payu dara semakin indah! (Teguh Poeradisastra)  

Platinum Society No. 14 – Majalah SWA, Maret 2006

Berobat sambil Berwisata di Penang

0

Penang, Malaysia, diam-diam telah menjelma menjadi medical destination di Asia. Rumah sakit-rumah sakit di sana mempunyai servis seperti hotel. Sebagian besar pasiennya ternyata orang Indonesia. Pengalaman apa yang mereka tawarkan? (Burhan Abe)  

Singapura sering disebut sebagai medical destination dunia, paling tidak Asia. Memang tidak salah, orang Indonesia pun banyak yang berobat ke sana – tepatnya berobat sambil berwisata. Tapi tidak banyak yang tahu, Malaysia juga menawarkan pengalaman yang tak kalah menariknya dengan Negeri Singa.  

Pertengahan Februari 2006 lalu saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Malaysia, tepatnya Penang. Pulau yang eksotis namun infrastrukturnya terbangun rapi ini terdapat beberapa rumah sakit kelas dunia. Island Hospital, Adventist Hospital, Mount Miriam Hospital, Lam Wah Ee Hospital, Gleneagles Medical Centre, atau Loh Guan Lye Specialists Centre, untuk menyebut beberapa.  

Sebagaimana layaknya RS yang profesional, mereka menawarkan layanan medis yang lengkap, mutakhir, dan berorientasi pada pasien. Mulai dari sekadar pelayanan general check up, operasi penyakit serius seperti jantung, kanker, dan penyakit dalam lainnya, hingga pelayanan yang berurusan dengan penampilan, mulai dari sedot lemak, lasik (operasi mata dengan memakai teknologi laser), bahkan bedah kosmetik.  

Saya sendiri melakukan general check up dengan paket executive screening programme di Island Hospital. Dokter ahli mewawancarai saya untuk mengetahui riwayat penyakit, memeriksa, dan mengetesnya dengan peralatan paling mutakhir. Ada Chest X-Ray dan Ultrasound Examination of Upper Abdomen yang memeriksa paru-paru dan rongga tubuh, ada tes jantung dengan memakai treadmil dan peralatan lainnya, serta pemeriksaan urine dan darah. Hasil check up seharga RM 600 (1 RM setara dengan Rp 2.500) itu bisa diketahui hari itu juga, tepatnya memakan waktu total 5,5 jam.  

Alhamdulillah, tidak terdeteksi penyakit yang serius dalam tubuh saya. Hanya saja, kandungan kolesterol saya cukup tinggi. Kandungan kolestrol dalam darah orang normal berkisar 50.26 – 201.03 mg/dl, tapi saya 243.94 mg/dl. Huh!

“Tidak usah risau, orang kota penyakitnya rata-rata memang begitu. Kelebihan kolesterol. Sebenarnya, kolestreol tinggi bisa diturunkan asal pola makan kita benar, menghindari makanan berlemak dan banyak mengonsumsi sayur serta buah-buahan. Jangan lupa, rajin berolah raga,” ujar DR. Chong Keat Foong, Consultant Physician yang menangani saya, menghibur.  

Selain berobat medis, biasanya orang yang memilih berobat ke luar negeri akan memanfaatkan kesempatan untuk berbelanja atau berwisata. Penang sebagai salah satu tujuan berobat mungkin belum begitu banyak diketahui orang Indonesia, khususnya Jakarta. Tapi bagi orang Medan, Penang sebagai twin city begitu dekat, baik secara psikis maupun fisik – hanya 40 menit dicapai dengan pesawat terbang. Yang menarik, jika Anda ber-KTP atau paspor Medan, tidak perlu lagi membayar fiskal jika ke Malaysia.

So, lebih murah ke Penang ketimbang ke Jakarta, misalnya. Bahkan sebuah masakapai penerbangan asal Malaysia yang kini sedang gencar-gencarnya berpromosi menawarkan tiket hemat Medan – Penang hanya Rp 29.999.  

Photo by Zhen Hu on Unsplash

Orang yang belum pernah mengunjungi Malaysia, khususnya Penang, dalam lima tahun terakhir mungkin tidak akan menyangka bahwa negara bagian ini sudah sedemikian maju di segala bidang, termasuk dunia pelayanan kesehatan. Island Hospital, misalnya, yang didirikan pada 1996, melayani berbagai pelayanan kesehatan.

Menurut DR. Chan Kok Ewe, Chief Executive Officer Island Hospital, rumah sakit yang berlokasi di George Town dan mampu menampung kunjungan 400 pasien dan 140 pasien tinggal ini, memiliki kapasitas untuk pembedahan jantung dengan dokter yang berkompeten. Jenis pembedahan yang dapat dilakukan adalah operasi pembuatan by pass jantung (CABG-Coronary Artery By-Pass Graft) dan perbaikan penggantian katup (off pumps and valve replacement).  

Mobile Office is Today’s Office Trend

0
Ika Sastrosubroto glanced at her notebook screen while sipping coffee. That morning she had to send a proposal to a client. She read it briefly and after checking the address, just clicked and the proposal was dispatched to the client. Within seconds, the client received it in her e-mail inbox.

Ika, the director of Momentum Communications Consultant, did not send the proposal from her office but from a cafe in Plaza Senayan, Jakarta. Living in Cibubur, East Jakarta, that morning she did not drive to her office, located in Santa in Blok M, South Jakarta, because later in the morning she had an appointment with another client in the same plaza.

“It’s isn’t just today that it’s like this. Most of the time I’m on the road. I can manage my company from anywhere thanks to my laptop, the Internet and my cell phone,” she said.

Information technology has made everything very simple and easy to do. Thanks to the wi-fi Internet facility, Ika can contact clients online.

“These days any job can be done with ease regardless of where you are, as long as there is a wi-fi area to let you connect to the Internet. To make it even easier, you can simply put a 3G data card into your laptop to be connected to the Internet. And there is a great array of things that you can do, ranging from lobbying to making a presentation, chatting and using e-mail facilities. Internet banking facility also allows you to transfer money,” Ika said.

To many, a conventional office is used only as a workshop where administrative and secretarial work is done. Important work can be done just about anywhere, particularly at meeting points located in most strategic places. Like Ika, many people work while mobile. They are marketing people, management consultants, reporters, writers and people with creative jobs. And, of course, this group includes entrepreneurs managing their own businesses.

People don’t always need an office in which to work. In its conventional sense, an office is where business activities are conducted, but today’s professionals can do their jobs anywhere: in cafes and malls, which have become meeting points. Indeed, in research by a national newspaper, it was found that Indonesians still feel the need to have an office in the physical sense despite the great advance in technology, marked with the introduction of new gadgets with features that make jobs much easier to do. It is expected, however, that with the introduction of 3G technology, more and more people will have mobile offices in Indonesia.

Not only has cell phone technology become increasingly more sophisticated but Internet-based technology has also seen great developments. As a result, mobile offices are also becoming cheaper, easier and more effective.

Take, for example, the VoIP (Voice over Internet Protocol) facility, which makes long-distance communication inexpensive. Vonage, headquartered in Williamsburg, Virginia, U.S., for example, offers a cheap package: US$49.99 per month for local and long-distance calls. Meanwhile Yahoo! Messenger with Voice, GoogleTalk and Skype, offers free services.

To send bulky files, for example, it is not necessary to use a disk and physically deliver it to a client or send it via the Internet, which may take hours. Today there is an online service by Ibackup (www.ibackup.com), which costs just $9.95 per month for storage and sharing space of 5 gigabytes. You simply give your client the password and he or she can access the file.

Besides corporate websites, now there are blogs, web pages that are very easy to make because the various necessary templates are readily available. These business blogs can obviously intensify business communication, either with customers or corporate partners. In short, a company can make use of many technologies today to get ahead in business.

Understandably, much has changed in this Internet and 3G era. Today’s office does not necessarily need space or a building in the conventional sense. A mobile office is a virtual office that is not confined by space or time but it is as effective as an ordinary office, with office hours spanning between 9 a.m. and 5 p.m.

As Jakarta’s traffic gets increasingly worse, the mobile office is very helpful to professionals as it allows them to work efficiently and effectively. The presence of cafes and coffee shops in malls and plazas also make the mobile office concept workable. In the past, comfortable cafes could only be found in star-rated hotels.

Today, coffee shops, whether foreign (Starbucks, Coffee Bean, Dome, Glora Jeans, etc.) or domestic chains (Exelso, Tator, Bakoel Koffie, etc.), can be found anywhere in the city.

These are places to not only drink and dine; they are also cozy places at which to unwind or hang out. Or to just kill time until the traffic eases. More interestingly, they are also highly suitable places where you can get work done, especially since they are wi-fi ready, therefore enabling professionals to work online.

Mall and plaza developers and management companies are aware that people need these spots not only for shopping but also as meeting points that must be complete with facilities that provide comfort and allow people to work easily.

Cilandak Town Square, to mention one example, is not merely a place at which to shop or drink and dine, it is much more than that. It is a lifestyle center. That’s why you can find not only a department store and a supermarket there but also a number of cafes and coffee shops, places frequently used as meeting places by highly mobile people. The presence of these venues helps contribute to the growth of the mobile office.

“On the other hand, the mobile office as a lifestyle has also transformed the concept of a cafe. A cafe is no longer a place at which to just hang out but has become a place to work and do business,” said an executive of the company managing Mal Kelapa Gading in North Jakarta. (Burhan Abe)

The Jakarta Post, January 23, 2007

Combining the Concept of Sports and Lifestyle

0

It is 30 minutes since Stanley started to run on the treadmill. With a headphone covering his ears and his eyes glued to the TV in front of him relaying world news, he is working out in full spirit. “I do this twice a week, which is not bad to keep myself fit,” said Stanley while wiping sweat off his body.

Stanley, who works in an advertising company, is not alone at the gym. Dozens of other people are working out on treadmills or on static bicycles. Their eyes are also glued to TVs affixed to the walls of the gym.

When one visits Celebrity Fitness one can really feel the atmosphere promised by the management. The fitness center is a hive of activity, with fitness buffs working out to the accompaniment of entertaining TV programs. The management has designed the interior with a distinctive style. The concept here is futuristic complemented with flat screen TVs and large speakers. There is also the Cardio Theater. It is a luxury changing room for members that includes a minimalist style caf‚ and lounge. Also available is an attractive spinning and aerobic studio.

Celebrity Fitness, located in upmarket malls such as EX Center and Plaza Indonesia, looks more like an entertainment spot than a fitness club. The management says that a fitness center or club should not only be filled with fitness facilities but can be combined with an entertainment concept. “That way fitness can be fun,” said John Franklin, representing the management during its launch a few years ago.

Maybe a concept combining fitness and entertainment under one roof is refreshing for fitness buffs in Indonesia. Those who used to go the gym with their own walkman or discman can now leave the devices at home. Working out at Celebrity Fitness promises to be enjoyable as 35 strategically located speakers provide soothing company in the form of popular music.

This concept has successfully altered the way people regard fitness centers as places at which to exercises only. The customers of Celebrity Fitness are mostly professionals over 25 years of age who love the cosmopolitan life and to mingle. Since first opening in Jakarta in 2003, Celebrity Fitness has established several branches in the city. All of them are located in malls, which are the hangout of choice these days.

Celebrity Fitness is not the only player in the business. Fitness First has also applied the same concept. Complementing the lifestyle of city people, Fitness First, which has 440 centers all over the world, is also present in Jakarta’s malls and plazas, such as in Plaza Semanggi, Taman Anggrek Mall and Cibubur Junction. At Senayan City it is a larger and more complete and called Fitness First Plus.

Besides the usual fitness facilities and equipment, a spa and a swimming pool can also be found here. Its lounge and VCD rental shop also make it different to other fitness centers. The members’ lounge provides free soft drinks, tea and coffee, while VCDs can be borrowed free of charge for two days.

Celebrity Fitness and Fitness First are indeed pioneers in combining sports and entertainment. They not only offer weightlifting and aerobics classes, but also various exercise facilities with a lot of equipment. About 60 percent of the members are females, and just like on ladies’ nights at nightclubs, a large number of men tend to crowd the places.

Previously, fitness centers in Indonesia were designed as sports centers or were attached to hotels, like Clark Hatch, Odiseus, Life Spa & Fitness Center, MyBody Gym, Body Soul Centre and Quantum. Today, however, fitness centers are setting up in different locations, like malls and entertainment centers. The proliferation of fitness centers is no doubt in response to the needs of city people with a stable, established life.

“Fitness centers have turned into social settings just like other places, say bars or offices,” said Doug McKee, a private fitness trainer at The San Francisco Bay Club. “Each social setting has things about it that you don’t like.”

Safety, Security in Aviation

0

Who in Indonesia was not offended when on July 4 the European Commission blacklisted Indonesian airlines, barring their planes from flying to Europe? The basic reason, they argued, was safety issues. Although debatable, this fact is really too painful to accept. Indeed, no Indonesian airlines presently fly to Europe. National flag-carrier Garuda stopped flying to Holland after the economic crisis, but had recently announced plans to resume scheduled flights to this destination. But now it is prohibited from doing so.

Even without this ban, a friend jokingly said that Indonesian aircraft would never arrive on the continent of Europe as scheduled anyway. Take, for example, the case of Boeing 737-300, which was scheduled to fly to Hasanuddin Airport, Makassar, but arrived instead at Tambolaka Airport, East Nusa Tenggara. Greater attention, however, was paid to the air disaster befalling Adam Air’s Boeing 737-400 on Jan. 1, 2007.

Many people were surprised to learn of this air disaster. Adam Air is a low cost carrier (LCC) and was presented the Award of Merit in 2006 in the category of low cost airlines at the third annual Asia Pacific and Middle East Aviation Outlook Summit in Singapore. The question is whether low cost carriers like Adam Air neglect safety regulations in a bid to cut costs.

The LCC concept was first introduced by Southwest Airlines in the United States in 1971. This concept was then adopted by Ryanair, an Irish airline, in 1985. In time, this concept spread to Asia. AirAsia adopted it in late 2001. This Malaysian airline entered Indonesia on April 10, 2004 with attention-grabbing advertisements about low-cost air tickets.

The term LCC itself came from the aviation industry in reference to a low or very low operating cost structure in comparison to traditionally managed airline companies. Operating costs are reduced by applying a point-to-point flight system, reducing labor costs and not offering any regular services (food and drinks) to passengers during flights.

A point-to-point flight system is aimed at increasing the utilization of an aircraft, so that its turn around is faster and costs incurred for airport facilities are less. Meanwhile, labor costs are also reduced. Take, for example, two leading LCC airlines in the United States, Southwest and JetBlue. They pay their employees 30 to 40 percent less than regular airlines (Wall Street Journal, October 2002).

Another cost-saving measure is not to serve food or beverages during flights. This measure cuts costs by US$5 to $10 per passenger. Not serving food or refreshments means a 3.2 percent reduction in total costs (Air Transport Association, 2001).

But is it true that the LCC concept could be the cause of various air accidents? In other words, is it true that a low cost carrier ignores the safety of its passengers?

Following the Adam Air tragedy early this year, there is a strong public perception that a low-cost flight could mean a loss of life. However, if the LCC concept is properly understood, this opinion is unfounded. As Widijastoro Nugroho, the marketing and distribution director of AirAsia, puts it, “Safety and security are the two main things that must never be tinkered with.”

That’s why, Widijastoro, said, AirAsia and other airlines adopting the LCC concept, such as Southwest and JetBlue, have a zero accident rate.

Full Service Carrier, a Great Way to Fly

0

The popularity of aviation under the low-cost carrier (LCC) concept does not necessarily mean a damaged full-service carrier (FSC) market. Even Adam Air, which came under the spotlight following the mid-air disappearance of one of its airplanes on Jan. 1, has expressed its intention to enter the FSC market.

This step, said executive chairman of PT Bhakti Investama Tbk., Hary Tanoesoedibjo, the new boss of this airline, is intended to increase its income and at the same time help it face the liberalization of the aviation industry in ASEAN, since the Indonesian government agreed to implement an open sky policy in ASEAN territory as of 2008 (for passengers) and in 2010 (for cargo).

Hary said that there were two types of air passengers in Indonesia, namely passengers who choose cheap and safe flights, and passengers who want not only safety but also comfort. “There were as many as 36 million air passengers last year. This is a very big market,” he stressed.

Hary expressed optimism that the merger of Adam Air with the Bhakti Group, whose core business is media, among others RCTI, TPI and Global TV, will strengthen the competitiveness of this airline in the domestic and international aviation arenas.

Adam Air began operations in December 2003 and currently operates 26 Boeing 737 airplanes. It serves 21 domestic and international destinations, including Singapore and Penang. In the next five years, Hary noted, Adam Air aims to operate at least 60 airplanes and increase its flight routes and frequency at home and abroad.

Although the aviation trend worldwide is going in the direction of LCC, full service carriers have their own market. That’s why, although once successful with Citilink, Garuda Indonesia has never abandoned the FSC segment. Garuda felt it would be impossible to merge low cost carrier Citilink with Garuda. “Take managing a restaurant, for example. Of course, managing a five-star steak house is different from running a Padang food stall,” said Emirsyah Satar, president director of Garuda, to The Jakarta Post recently.

Of course, you cannot simply sit back when you wish to increase the number of customers in the FSC segment. For years Garuda has built up a reputation of offering a unique experience and in this way it has created passenger loyalty. With a positioning that is different from most other airlines, Garuda can offer value-added services to its loyal customers, particularly members of Garuda Frequent Flyers (GFF).

GFF members, now numbering about 15 percent of total Garuda passengers, enjoy a lot of benefits, such as access to the executive lounge at Jakarta’s Soekarno-Hatta Airport. The lounge offers comfort and various services, ranging from a bathroom with showers, the pressing of clothes, a cafeteria, a bar and Internet access all free of charge.

Garuda has had this airport lounge for many years but is now giving GFF members special attention. GFF membership is now categorized in four levels from the lowest to the highest, namely blue, silver, gold and platinum.

Various facilities are offered to GFF members of every level. For a blue level member, for example, the mileage is recorded while the membership card can be used as a discount card at a number of merchants. A platinum cardholder, meanwhile, enjoys a free baggage allowance of up to 20 kilos, can use the executive lounge and is involved in GFF activities, such as Garuda-sponsored classical music concerts.

Peran Ganda Para Model

0

Model bukanlah profesi yang tabu, bahkan boleh jadi impian para wanita saat ini. Populer, wajahnya terpampang di mana-mana, dan secara finansial sangat berkecukupan. Hanya saja, jalan untuk menjadi model profesional tidak selalu mulus dan membutuhkan perjuangan yang panjang. Lalu, muncullah jalan pintas, mereka tidak hanya menjual jasa modelling, tapi juga menawarkan kecantikan dan tubuhnya secara harafiah. Aha, peran ganda model? Honornya sangat menggiurkan lho, apalagi kalau sudah punya nama. (Burhan Abe)

Dicari: Model Wanita Indonesia! Kami tidak ingin membuang waktu Anda ataupun kami. Kami mencari calon model yang berdikasi penuh untuk menjadi seorang model dan siap tampil international. Kami bukan mengumpulkan model untuk membuat models showcase, melainkan khusus menangani model yang siap tampil dengan sungguh-sungguh. Kami telah melakukan seleksi ketat, menghubungi beberapa modeling managements, men-seleksi beberapa model independen, namun belum menemukan model yang sepenuhnya masuk dalam kriteria kami.

Begitulah iklan yang terpampang di situs models web Indonesia. Iklan itu selanjutnya menentukan kriteria model yang dicari: Freelance, usia 22-30 tahun, wajah khas wanita Indonesia, kulit bersih sawo muda (bukan putih), rambut panjang sedikit melampaui bahu, warna/raut muka dan bibir sensual, kaki sempurna untuk menggunakan miniskirt dan high heel shoes, tinggi 155 – 170 cm berat badan proporsional. Berdedikasi penuh sebagai profesional model, bisa bekerja sama untuk menghasilkan foto-foto terbaik.

Tidak pelak lagi, kegiatan fashion yang terus menggeliat dan dunia entertainmen yang berkembang subur tak pelak membuat kebutuhan akan model semakin besar. Pencarian model bisa dilakukan melalui talent scouting, pencarian bakat lewat berbagai pemilihan, kontes putri remaja, lomba gadis sampul, bahkan pencarian via televisi dalam acara reality show.

Model pun kini menjadi profesi impian banyak anak muda karena bisa menjadi batu pijakan untuk melompat ke dunia sinetron, film, model iklan, videoklip, sampai masuk dapur rekaman menjadi penyanyi. Siapa yang tidak tergiur, karena “hanya”dengan berani tampil di depan kamera, honor pun bisa didapat dengan gampang. Bahkan kalau jam terbang semakin tinggi, dunia modelling bisa dijadikan tumpuan untuk melangkah ke jenjang berikutnya dunia selebriti. Popularitas dan kemewahan, itulah dua hal yang melekat pada profesi wangi ini.

Siapa yang tidak kenal supermodel dunia, sebutlah Naomi Campbel, yang dengan profesinya menjadi multi jutawan. Atau di Indonesia kita mengenal beberapa nama yang mukanya sering muncul di media cetak dan layar kaca; Arzeti Bilbina, Indah Kalalo, Caroline Zachri, Chaterine Wilson, Aline, Naila, Luna Maya, Dominique, dan lain-lain.

Kita juga mengenal Tracy Trinita yang go international. Peraih juara I versi Elite Model Management yang berbasis di New York pada tahun 1995 itu telah merasakan berbagai pengalaman menyenangkan sebagai model dunia. Dia pernah dikontrak sebagai model sebuah produk milik Iman, istri penyanyi terkenal David Bowie, penyanyi terkenal asal Inggris. Dia juga mendapat kesempatan bekerja di brand top dunia, United Color of Benetton. Fotonya terpampang di mana-mana.

”Ketika melihat poster saya yang segede jendela di Amerika, Eropa, Singapura, di seluruh dunia, saya sempat kaget. Ternyata, saya bisa diterima di modeling internasional,” ujar gadis berdarah Bali-Hongaria kelahiran Surabaya pada 29 Setember 1980 ini suatu ketika.

Model Plus

Namun impian memang kadang-kadang tidak sesuai dengan kenyataan. Simaklah kisah Dina (bukan nama sebenarnya). Gadis asal Sukabumi ini sudah memimpikan untuk menjadi model, atau artis di Ibu Kota. Sejak kecil ia sudah dunia tersebut lewat televisi di rumahnya, melalui tayangan sinetron, iklan, atau pun infotainmen yang membicarakan dunia selebiriti yang lagi marak-maraknya. Adegan demi adegan dalam tayangan sinetron Tersanjung, hampir tidak pernah ia lewatkan. Ini adalah salah satu sinetron yang ia gemari, ceritanya menarik, dan bintang-bintang yang memerankannya keren-keren. Pemeran utama prianya ganteng, dan pemeran utama wanitanya, sudah pasti cantik. “Saya ingin menjadi bagian dari mereka,” Dina bergumam pelan.

Niat itulah yang menuntun Dina bertekat untuk pergi ke Jakarta selepas SMU di kota kelahirannya. Segala informasi ia endus, hingga terdampalah ia ke sebuah agensi model. “Siapa tahu, ini hanya salah satu jalan untuk menuju cita-cita saya menjadi artis,”ungkapnya. Cantik, bertubuh sensual, dan berani tampil, itulah modal Dina. Itu sebabnya, bukan dalam hitungan lama ia pun mulai diburu tabloid dan majalah yang ingin memajang wajahnya yang kata orang mirip Dina Lorenza dan tubuhnya yang indah.

Use Your Body Language!

0

Peminat kelas body language makin membludak. Inilah olah tubuh baru yang memaduan gerak tari dan teknik pernapasan asal Cina. Semua orang bisa melakukannya, tapi kalau tanpa pengawasan yang ahli, bisa fatal akibatnya.

Body language. Kosa kata ini belakangan sangat akrab di kalangan para eksekutif yang sadar kesehatan. Inilah salah satu bentuk olah tubuh yang memadukan gerak tari dan teknik pernapasan asal Cina, yang selain bertujuan untuk meningkatkan kebugaran, juga untuk membentuk tubuh. Gerakan-gerakannya halus, sederhana, bahkan cenderung lamban tanpa unsur lompatan, itu sebabnya body language bisa dilakukan siapa saja, termasuk ibu-ibu hamil.

Menurut Roy Ahmad Julius Tobing, sang kreator, body language mempunyai pengertian yang luas, bahkan sulit untuk didefinisikan. Konon, koreografer lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang pernah mendapat sertfikat dari Claudine Kamoun dan David Allen “Geneve Dancer Centre” itu mendapat inspirasi dari salah satu dialog di film musikal Staying Alive yang dibintangi John Travolta. Dalam film itu seorang koregrafer menyapa salah seorang penarinya dengan mengatakan, ”Use your body language!”

Pada dasarnya, body language adalah latihan “berkomunikasi” dengan bahasa tubuh yang benar melalui pengenalan setiap titik di badan. Dalam olah tubuh yang ditemukan Roy pada 1981 itu dilakukan penyelarasan sikap tubuh dengan napas dan gerak tubuh. “Tiga dimensi itulah yang menjadi ciri khas body language,” jelas pria yang tetap bugar di usia 46 tahun itu.  

Penemuan body language bukan karena kebetulan. Roy, memang menggali gerak dari tari untuk kebugaran yang berasal dari kebudayaan sendiri. Tidak hanya itu, ia juga mempertimbangkan struktur orang Asia yang berbeda dengan orang Eropa, jenis makanan, serta lingkungan keseharian.   Dari situlah ia menciptakan olah gerak, yang dipadukan dengan teknik pernapasan asal Cina – dalam tampilan yang berbeda, gerak dan teknik pernapasan ini, juga menjadi gerakan dasar baku seni tari modern yang dikembangkan, antara lain, oleh tokoh balet legendaris asal AS, mendiang Martha Graham.

“Ilmu pernapasan sangat memperhatikan kekuatan tubuh si pelaku, sehingga tidak akan melampaui kekuatan serta kondisi setiap orang yang tentu berbeda satu sama lain,” ungkap Roy kepada Intisari.  

Setelah matang, pria yang pernah mendapat predikat memuaskan dari Guner Ozkan, Direktur Kebudayaan dan Pariwisata Konya, Turki itu pun memperkenalkan body language kepada masayarakat pada 1986. Sejak saat itu, di studionya yang berlokasi di bilangan Pondok Indah, Jakarta, banyak didatangi para wanita yang ingin belajar body language, sedangkan kaum pria lebih suka mengambil privat.  

Kini, body language memang bukan hanya monopoli Roy Tobing, sebab kini sejumlah sanggar senam dan health club di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia, juga membuka kelas serupa. Studio Pesona Tiga Primadona, misalnya, selain menyelenggarakan pelbagai jenis senam, mulai dari aerobik, balet, senam lantai, senam kamar, calestenic (pembentukan tubuh), juga menawarkan body language. Studio milik Minati Atmanagara itu berlokasi cukup mewah, interiornya didominasi oleh perabot antik berkualitas tinggi. Selain studio, ada fasilitas sauna yang bisa dipakai para anggota. Dilengkapi pula “kafe garasi”, lantaran memang memanfaatkan ruang garasi rumah tersebut.

Tampak jelas, kalangan mana yang dibidik studio senam yang berlokasi di Jl. Prof. Joko Sutono 33, Kebayoran Baru, Jakarta itu. Lihat saja, jika menjelang sore, puluhan mobil mewah tampak berjejer parkir.  

Kendati banyak kelas, tapi body language yang paling populer. Untuk body language Primadona menawarkan beberapa paket. Untuk para pemula ada yang dinamakan Paket I (Basic), yang berisi pemahaman awal tentang body language dan dasar-dasar gerakannya. Kemudian ada Paket II (Lanjutan), dan Paket III (Mahir). Masing-masing paket terdiri 10 kali pertemuan, dengan frekwensi latihan lima kali pertemuan seminggu, kecuali Paket III cukup tiga kali seminggu. Tarifnya Rp 350.000 per paket.  

Minati mengaku, peminat body language cukup besar. Sejak didirikan 1991, tak kurang dari 10.000 orang yang mencatatkan diri jadi anggota, dan datang dalam sehari sekitar 150-200 orang. Krismon pun agaknya tidak menurutkan animo masyakarat. “Saat ini ada 125 calon member yang berstatus waiting list,” ujar ibu dari Cakra (13) dan Cantika (8) itu.  

Si Raja Kasur Pegas

0

King Koil memimpin pasar kasur pegas untuk kelas atas di Indonesia. Selain disukai di pasar ritel, produk asal AS ini juga jaya di hospitality industry. Hotel-hotel mewah di Bali dan Jakarta mempercayakan kenyamanan tempat tidurnya pada merek ini. Rahasianya?

Heavenly Bad by King Koil. Begitulah kenyamanan tidur yang ditawarkan Hotel Westin Bali. Siapa yang diuntungkan, pihak hotel ataukah King Koil? Pertanyaan naif sebenarnya, karena dalam dunia pemasaran ada istilah yang disebut sebagai mutualisme simbiosa, di mana dua merek melakukan cobranding yang saling menguntungkan.

King Koil diposisikan sebagai produk kelas atas, sementara Westin sebagai hotel berbintang lima perlu menyediakan fasilitas tidur yang memang benar-benar premium, yang dalam hal ini diwakili oleh kasur pegas asal Amerika itu.

Menurut Kapsin, Executive Housekeeping Hotel Westin, pihaknya menggunakan King Koil sejak tahun 2003 setelah hotel tersebut melakukan renovasi. Alasannya, karena King Koil mampu menenuhi spesifikasi yang diinginkan hotel, antara lain berapa ukuran yang dibutuhkan, juga lapisan yang dibutuhkan. Kualitas King Koil tidak diragukan lagi, “Keunggulan King Koil yang lain, selain mereknya sudah kuat, pelayanan purna jualnya pun oke. Mereka berani memberikan garansi terhadap kerusakan. Setiap ada komplain, selalu ditanggapi dengan baik,” katanya.

Itu sebabnya Westin tidak ragu-ragu ketika tagline iklan seperti yang disebut di awal tulisan ini, disosialisasikan melalui media cetak dan radio setahun yang lalu. Saat ini Westin yang mempunyai sekitar 335 kamar menggunakan King Koil 90 unit untuk ukuran King, sedangkan tipe single 400 unit – termasuk extra bed. Tidak hanya Westin ternyata. Sebab King Koil juga dipercaya hotel-hotel lain, berbintang empat dan lima, sebagai “kasur resmi”.

Selain menjual langsung ke pasar eceran, King Koil rupanya juga menggarap hospitality industry, seperti hotel dan apartemen. Pasar “B2B” alias business to business ini cukup besar, sekitar 20-30 persen dari total penjualan. “Selain Westin, Bali, kami juga menyuplai Hotel Mulia dan JW Marriot Jakarta,” ungkap Rob Nijkrake Direktur Pemasaran PT King Koil Internasional.

Menurut lajang kelahiran Henggelo, Belanda, 7 Oktober 1974 itu, King Koil hadir di Indonesia sejak 1996 melalui PT King Koil Internasional Indonesia. Sejak awal kasur pegas ini dirancang untuk masuk pasar segmen kelas atas. Meski ada beberapa pemain di kelas ini, sebutlah Serta, Dunlopillo, Lady Americana, Spring Air, dan Dreamline – dengan harga jualnya mulai Rp 4 hingga 40 juta, Rob menuturkan bahwa pertumbuhan penjualan King Koil relatif cepat. Bahkan saat ini ia mengklaim market share-nya untuk pasar kelas atas mencapai 35%-40%. “Kami menjadi market leader untuk segmen premium,” tegasnya.

Memang, King Koil yang produksinya dipusatkan di Galeong, Mauk, Tangerang, sempat terkena imbas dari krisis moneter tahun 1998, namun demikian dari pertumbuhan penjualannya tidak pernah negatif. Bahkan, menurut Rob, pada saat krisis tersebut King Koil tetap melakukan investasi untuk mereknya, tetap melakukan promosi dan meneyediakan bujet untuk iklan. “Meskipun daya beli masyarakat turun, tapi kami bisa tumbuh sekitar 10%,” katanya.

Dalam kondisi makro yang kurang menguntungkan angka tersebut relatif baik, sementara rata-rata pertumbuhan penjualan King Koil saat ini sekitar 20% per tahun. Jika pada awal kehadirannya di Indonesia King Koil bisa menjual 8.000 unit, maka akhir tahun 2004 King Koil bisa membukukan penjualan sekitar 28.000 unit, dan tahun ini diperkirakan meningkat sekitar 20% menjadi 35.000 unit di seluruh Indonesia.

Saat ini King Koil memliki cabang di beberapa kota besar, seperti Semarang, Surabaya, Bali, Medan, Pekanbaru, Palembang, Makasar, Manado, dan lain-lain. Rahasianya, selain menjual ke end user langsung, sejak 1997 King Koil tidak melupakan permintaan korporat yang biasanya membutuhkan kasur dalam partai besar.

Hotel, misalnya, dengan kapasitas 500 kamar, permintaannya bahkan bisa dua kali lipat. Harganya pun relatif tinggi, Hotel Mulia Senayan, contohnya, berani memakai kasur seharga Rp 10 juta per unit. “Tempat tidur merupakan komponen terpenting bagi hotel, demi kenyamanan tidur para tamu. Untuk itu mereka tidak segan-segan mengeluarkan investasi yang tinggi,” jelas Rob.

Membangun Citra, Menumbuhkan Loyalitas

0

Memasarkan barang-barang bermerek super mahal tidak seperti menjual komiditi biasa.Tidak hanya kelas sosial, kondisi psikografis dan gaya hidup konsumen sebagai sasaran potensial pun penting untuk dipahami. Bagaimana strategi para distributor dan pemilik gerai merek eksklusif memasarkan produknya?

Giorgio Armani bukan sekadar merek, tapi juga citra eksklusif. Itu sebabnya, ketika fashion designer kondang itu turun tangan untuk merancang interior dan mencampur warna dua model Mercedes Benz yang dinamai CLK Cabriolet Giorgio Armani, yang diproduksi secara terbatas (hanya 100 buah) November 2004, efek yang ingin dimunculkan adalah eksklusivitas.

Simbiosis mutualisme, atau yang juga disebut sebagai cobranding dalam ilmu pemasaran, itulah kata kuncinya. Barangkali itu pula tujuan yang ingin dicapai dalam Mercedes-Benz Indonesia Fashion Festival beberapa waktu yang lalu di Jakarta. Acara itu juga ditandai dengan pemberian Mercedes-Benz Asia Fashion Award Indonesia di Jakarta Convention Center 8 Oktober lalu.

“Orang membeli Mercedes bukan karena butuh mobil sebagai alat transportasi. Mereka punya gaya hidup tertentu, selera mode tertentu, memakai merek tertentu,” ungkap Yuniadi H Hartono, Deputy Director Marketing Planning & Communication PT Daimler Chrysler Distribusi Indonesia. Indonesia memang bukan yang pertama, sebelumnya sudah dimulai di Australia, kemudian New York.

Berikutnya acara serupa akan digelar di sejumlah negara di Asia Tenggara. Menjual produk eksklusif seperti Mercy memang tidak sekadar memasarkan mobil kepada orang-orang berduit – harga Mercy rancangan Armani haragnya 75.000 dolar AS, belum termasuk pajak kalau dijual di Indonesia. Karena di dalam mobil mewah asal Jerman itu ada citra dan gaya hidup. Hal senada juga diungkapkan pemegang merek Versace di Indonesia.

“Membeli sebuah produk mode bukan hanya sekadar menikmati fungsinya, tetapi membeli gaya hidup itu sendiri,” ujar Anita Utama, PR, Advertising & Promotion Executive PT Busana Perkasa Abadi (BPA), yang selain Versace juga memegang Versus, GF Ferre, dan Ermenegildo Zegna.    

Jadi, kendati produk yang dipasarkan tergolong mahal, ia tidak khawatir dengan kehadiran produk serupa tapi tak sama dengan harga yang jauh lebih murah. Sebagai contoh, harga dasi Versace berkisar Rp 800.000 – 1,5 juta per potong, sedangkan tasnya berkisar Rp 4 – 20 juta, tergantung modelnya. “Kami memang mempunyai pembeli banyak, tapi kosumen khusus yang mempunyai buying power tinggi,” katanya sambil menambahkan bahwa tipe pemakai Versace adalah pria dan wanita dengan yang established, dan fashionable bahkan cenderung sebagai trend setter.    

Yang menarik, usia penggemar Versace rentangnya panjang, dari 22 tahun hingga 55 tahun. Yessy, 25 tahun, yang bekerja di bagian penjualan kendaraan Mitshubisi, misalnya, mengaku penggemar berat produk Versace. “Hampir setiap bulan saya membeli produk Versace, busana atau aksesoris, di gerainya Plaza Indonesia, Jakarta,” ungkapnya.    

Sementara usia yang lebih matang diwakili oleh para selebriti (ada Anwar Fuadi) dan eksekutif yang cenderung ingin tampil trendy, juga para pengacara yang ingin tampil beda (ada Hotman Paris Hutapea, Warsito Sastrowardoyo, dan lain-lain). Simbol kepala medusa dan corak baroco yang ‘’rame’’ sebagai ciri khas desain Versace menjadi semacam kebanggaan bagi pemakainya.

Photo by Birgith Roosipuu on Unsplash

Sementara Zegna diperuntukkan pria yang relatif konservatif meski masih mengikuti tren. Ikon yang pas adalah aktor Italia Adrien Brody. Sejumlah eksekutif pria, mulai lawyer hingga bankir, menjadi pelanggan setia merek ini. Yang unik, Zegna melayani pembelian dengan ukuran yang sesuai, tentu setelah diukur terlebih dahulu, dalam program Made to Measure, layaknya pembuatan jas (stelan) di tailor.

“Badan saya kan tidak seperti manekin di toko itu,” ujar seorang konsultan manajemen yang berkantor di segi tiga emas Jakarta yang biasa memakai Zegna selain Hugo Boss.