Home Blog

Mooncake, Elevated

0

JW Marriott Hotel Jakarta Membawa Tradisi Mid-Autumn ke Level Berikutnya

Tujuh koleksi mooncake, dari klasik hingga Wagyu dengan foie gras dan truffle, membuktikan bahwa tradisi tidak harus berjalan mundur.

Mid-Autumn Festival selalu punya satu ritual yang sulit ditolak: mooncake. Bulat, simbolis, dan secara tradisional menjadi representasi reuni serta kebersamaan. Namun, di tangan JW Marriott Hotel Jakarta, tradisi tersebut mendapat sebuah upgrade yang cukup serius.

Untuk perayaan Mid-Autumn Festival 2026, Executive Chef Kok Ann Soo bersama Chinese Executive Chef Ken Choy menghadirkan JW Marriott Mooncakes 2026 Collection—tujuh koleksi gifting yang bermain di antara warisan kuliner Tiongkok, teknik pastry modern, dan seni memberi hadiah.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Hasilnya bukan sekadar mooncake yang cantik untuk difoto. Ini adalah koleksi yang dirancang untuk dimakan, dibagikan, dan—dalam beberapa kasus—dipamerkan terlebih dahulu sebelum akhirnya dibuka.

Old School, Done Right

Mari mulai dari yang klasik. Baked Mooncakes hadir dengan empat rasa yang tidak perlu diperkenalkan terlalu panjang: White Lotus, Red Bean, Pandan, dan Black Sesame. Anda bisa menikmatinya plain, dengan satu kuning telur, atau dua. Untuk setiap tambahan kuning telur, dikenakan biaya IDR 50.000 net. Klasik, tentu. Tetapi bukan berarti membosankan.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Untuk mereka yang menginginkan sesuatu yang lebih eksperimental, ada Snow Skin Mooncakes. Pilihannya bergerak jauh dari pakem tradisional dengan rasa seperti Pistachio Kunafa, Hazelnut, Coconut Pandan, Chocolate Orange, Crunchy Nutella, Cheesecake, Chocolate, hingga Durian.

Teksturnya lembut dan dingin, sementara flavour profile-nya lebih dekat dengan dunia dessert kontemporer. Singkatnya: mooncake yang tahu bahwa tahun sudah 2026.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Liburan ke Bali Makin Beruntung dengan Nakula Rewards

0

Pesan vila langsung, dapatkan lebih banyak keuntungan hingga 15 persen. Plus, ada sarapan, airport transfer, dan poin yang bisa digunakan untuk kunjungan berikutnya.

Ada satu hal yang membuat liburan ke Bali terasa semakin menyenangkan: ketika pengalaman menginap yang sudah nyaman ternyata datang bersama berbagai bonus. Bagi Anda yang gemar kembali ke Bali—entah untuk weekend getaway, wellness retreat, quality time bersama pasangan, atau sekadar melepas penat—Nakula menghadirkan alasan baru untuk menjadikan vila favorit sebagai bagian dari perjalanan berikutnya.

Melalui Nakula Rewards, program loyalitas khusus untuk pemesanan langsung, Nakula menawarkan berbagai keuntungan dengan total nilai hingga 15 persen.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Menariknya, program ini tidak hanya bicara soal harga. Ada sarapan, layanan antar-jemput bandara untuk pemesanan tertentu, penawaran eksklusif, hingga poin yang dapat digunakan kembali untuk perjalanan selanjutnya. Dengan kata lain, semakin sering Anda kembali, semakin banyak pula yang bisa dinikmati.

Pesan Langsung, Dapat Lebih Banyak

Di era ketika membandingkan harga hotel dan vila cukup dilakukan melalui layar ponsel, pemesanan lewat OTA memang terasa paling praktis. Namun, ada keuntungan lain ketika Anda bertransaksi langsung dengan pengelola properti. Melalui website resmi atau WhatsApp Nakula, tamu dapat menikmati sejumlah benefit yang dirancang khusus untuk pemesanan langsung.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Di antaranya adalah penghematan hingga 15 persen melalui Nakula Rewards, akses terhadap limited-time offers, sarapan harian gratis, serta antar-jemput bandara gratis untuk pemesanan tertentu. Ada pula berbagai fleksibilitas lain yang tidak tersedia melalui platform pihak ketiga.

Bagi perempuan yang terbiasa merencanakan liburan dengan detail—dari pilihan kamar, jadwal penerbangan, restoran hingga aktivitas selama berada di Bali—akses langsung ke tim vila tentu menjadi nilai tambah tersendiri. Sebab, liburan ideal bukan hanya soal destinasi cantik. Detail kecil yang berjalan lancar justru sering kali menentukan apakah sebuah perjalanan terasa menyenangkan atau melelahkan.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Riserva: Steak, Ritual, dan Seni Menikmati Malam di Ubud

0

Fine dining steakhouse terbaru di Ubud ini tidak sekadar menyajikan daging premium. Riserva merancang sebuah malam dalam tujuh babak—lengkap dengan ritual Bali, wine pilihan, dan waktu yang sengaja dibuat berjalan lebih lambat. Ada restoran yang mengajak Anda datang untuk makan. Ada pula yang membuat Anda lupa bahwa tujuan awalnya memang untuk makan. Riserva termasuk yang kedua.

Berlokasi di Kenderan, Ubud, restoran fine dining steakhouse ini memperkenalkan An Evening in Seven Chapters, sebuah pengalaman kuliner yang dirancang seperti perjalanan malam: perlahan, intim, dan penuh detail. Hanya 16 tamu diterima setiap malam, dalam satu kali seating. Jadi, ini bukan tempat untuk makan terburu-buru sebelum mengejar agenda berikutnya.

Malam bahkan dimulai sebelum Anda duduk di meja.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Ketika cahaya terakhir mulai jatuh di atas hutan dan hamparan sawah Ubud, pengalaman dibuka dengan Gong Ritual, dilanjutkan Foot Wash Ritual, Seven Tirta, dan Final Purification. Serangkaian ritual tersebut menjadi semacam tombol reset—meninggalkan hiruk-pikuk di luar dan masuk ke dunia Riserva.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Setelah itu, tamu mengikuti pengalaman Wariga yang dipersonalisasi, sebelum menikmati Lungsuran, canapés penyambutan khas Bali, dan welcome drink. Sebagai penanda bahwa malam resmi dimulai, sebuah Champagne Sabrage menjadi transisi menuju pengalaman bersantap.

Tidak ada kesan dikejar waktu. Justru sebaliknya.

When Steak Becomes the Main Character

Di balik menu Riserva terdapat Chef Putu Armen, yang memilih pendekatan sederhana namun tidak sederhana untuk dieksekusi: gunakan bahan terbaik, masak dengan presisi, lalu biarkan kualitasnya berbicara. Pilihan steak menjadi salah satu alasan utama untuk datang.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

The City Bites

0

Saat Semangat New York Menemukan Panggungnya di Jakarta

Comfort food, cocktail playful, dan cita rasa khas New York hadir dalam babak terbaru The Coach Restaurant.

New York punya cara sendiri untuk membuat makanan terasa seperti bagian dari gaya hidup. Cepat, berani, eklektik, sekaligus akrab. Semangat itulah yang kini dibawa The Coach Restaurant ke meja makan Jakarta melalui The City Bites, rangkaian menu terbaru yang mempertegas karakter New York restoran tersebut.

Bukan sekadar pembaruan daftar menu, The City Bites adalah eksplorasi atas budaya kuliner New York yang tidak pernah benar-benar mengenal satu definisi. Ada comfort food, hidangan untuk berbagi, sajian indulgent, cocktail yang playful, hingga dessert yang membawa nostalgia—semuanya dirancang untuk dinikmati dengan cara yang santai namun tetap sophisticated.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

“Melalui The City Bites, kami ingin menghadirkan lebih banyak karakter New York ke dalam The Coach Restaurant. Kuliner New York sangat beragam, bisa terasa casual, indulgent, playful, maupun sophisticated, terkadang semuanya dalam satu waktu,” ujar Chef Gabriel Jamias, Executive Chef of The Coach Restaurant. “Pembaruan menu ini memungkinkan kami mengeksplorasi semangat tersebut melalui hidangan yang terasa familiar namun tetap memiliki karakter Coach kami sendiri.”

A Taste of the City

Perjalanan dimulai dari pilihan bites yang terasa seperti potongan kecil kehidupan New York. Roasted Cashew Dip hadir bersama confit garlic, bagel seasoning, dan crudites, sementara Egg & Truffle Dip mempertemukan black truffle mayo, chives, dan potato chips dalam kombinasi yang indulgent.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Ada pula Crispy Mushroom Salad dengan wild-field mushrooms, mesclun greens, dan truffle dressing; Cheddar Biscuits dengan sharp cheddar, buttermilk, serta Maldon sea salt; dan tentu saja interpretasi khas The NY Hotdog, menggunakan all-beef frankfurter, onions & peppers, serta brioche bun.

Namun The City Bites juga tahu kapan harus sedikit berlebihan—dalam arti terbaik. Chicken Nuggets & Caviar mempertemukan Oscietra caviar, salmon roe, dan crème fraîche. Sementara The Fried Chicken Bucket datang lengkap dengan homemade honey mustard, hot sauce, dan creamy ranch. Untuk pencinta seafood, Seafood Dip menggabungkan chopped shrimp, lobster, dan US scallop.

Dari sini, eksplorasi berlanjut ke hidangan utama yang mengambil inspirasi dari ikon kuliner New York.

Manhattan Seafood Chowder menghadirkan green mussels, Manila clams, dan blue swimmer crab meat. Untuk mereka yang menginginkan sesuatu yang lebih substantial, tersedia New York Strip 300 gram dari USDA Prime Black Angus, Yellowfin Tuna NY Strip dengan charred lemon, brown butter, dan fine herbs, serta Whole Maine Lobster dengan spicy béarnaise, chives, dan tarragon.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Byrd House Bali

0

Rayakan Kemerdekaan Lewat Tafsir Modern Kuliner Nusantara

Nusantara Degustation Dinner menghadirkan perjalanan tujuh babak rasa Indonesia di pesisir Sanur

Perayaan kemerdekaan tak selalu harus berlangsung dengan upacara, bendera, atau perlombaan. Di Sanur, Bali, Byrd House Bali memilih cara lain: menyajikan Indonesia melalui makanan.

Pada 16 Agustus 2026, pukul 19.00–22.00 WITA, destinasi gaya hidup di tepi Pantai Segara itu menggelar Nusantara Degustation Dinner, sebuah pengalaman bersantap yang menempatkan kekayaan kuliner Indonesia sebagai pusat perhatian. Dalam konsep tersebut, hidangan-hidangan yang akrab di meja makan Indonesia diolah kembali melalui pendekatan gastronomi modern.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Acara ini dirancang bukan sekadar sebagai jamuan makan malam, melainkan perjalanan rasa yang mempertemukan cita rasa tradisional dengan teknik dan penyajian kontemporer. Semangatnya berangkat dari keberagaman budaya Indonesia, lalu diterjemahkan ke dalam rangkaian hidangan yang lebih refined.

Konsep tersebut terasa sejak hidangan pembuka. Fresh oyster dan sea urchin dipadukan dengan sentuhan kemangi, menciptakan pertemuan antara karakter laut dan aroma khas Nusantara. Setelah itu, perjalanan bergerak menuju sejumlah hidangan yang lebih familiar bagi lidah Indonesia, tetapi tampil dalam interpretasi berbeda.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Rujak, misalnya, dipertemukan dengan torched mackerel. Lumpia kepiting hadir dalam tekstur renyah, sementara bulung buni selada khas Bali menjadi bagian dari rangkaian pembuka. Hidangan-hidangan klasik seperti rendang sapi, opor bebek, udang balado, dan sayur urap juga mendapat perlakuan kontemporer.

Pendekatan tersebut memperlihatkan satu hal: makanan tradisional tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang sama untuk tetap memiliki identitas. Dalam ruang gastronomi modern, resep dan cita rasa lama dapat dibaca kembali tanpa harus kehilangan akar budayanya.

Perjalanan kemudian berlanjut melalui Soto Sari Laut. Sup seafood ini menggabungkan kekayaan rempah Indonesia dengan sentuhan santan, sebelum tamu memasuki bagian utama dari degustation.

Nasi kuning menjadi salah satu elemen penting dalam sajian utama. Ia ditemani sate kambing dengan saus kacang serta kerapu dengan sambal kecombrang. Kombinasi tersebut mempertemukan rasa darat dan laut dalam satu rangkaian, dengan karakter rempah yang menjadi benang merah. Jika hidangan utama membawa tamu pada kekayaan rasa gurih, pedas, dan aromatik, bagian penutup justru bermain dengan nostalgia.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

AI Melaju, Pertahanan Bisnis Tertinggal

0

Perusahaan di Indonesia berlomba memanfaatkan kecerdasan buatan. Namun, fondasi keamanan, tata kelola, dan ketahanan teknologi belum selalu bergerak secepat ambisinya. Risiko terbesar justru bisa muncul ketika AI sudah telanjur menjadi bagian dari bisnis sehari-hari.

Ada paradoks dalam demam kecerdasan buatan di Indonesia. Perusahaan semakin agresif mengadopsi AI untuk mengejar pertumbuhan, efisiensi, dan inovasi. Namun, semakin dalam teknologi itu masuk ke jantung bisnis, semakin besar pula risiko yang harus ditanggung.

Ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai nilai transaksi bruto US$100 miliar pada 2025. Pada 2030, nilainya diproyeksikan mendekati US$180 miliar, menurut laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company. AI diperkirakan menjadi salah satu mesin pertumbuhan berikutnya.

Gaptek Bukan Alasan:  Mahir Digital Tanpa Jadi Anak IT

Masalahnya, banyak perusahaan tampaknya ingin berlari sebelum selesai membangun pagar pengaman. Survei PwC’s 29th Global CEO Survey menunjukkan 75 persen CEO di Indonesia berencana mengejar peluang pertumbuhan di luar bisnis utama perusahaan dalam tiga tahun mendatang. Angkanya hampir dua kali lipat rata-rata Asia-Pasifik yang mencapai 37 persen.

Semangat ekspansi itu berjalan beriringan dengan investasi pada teknologi baru. Tetapi manfaat AI belum dirasakan secara merata.

Sekitar satu dari lima CEO di Indonesia mengaitkan AI dengan pertumbuhan pendapatan. Lebih dari seperempat melihat penghematan biaya. Hanya sekitar satu dari sepuluh yang mengaku memperoleh kedua manfaat tersebut sekaligus. Ada jarak antara ambisi dan kemampuan mengeksekusi.

Cuan dari Rumah: 5 Bisnis Digital yang Bisa Kamu Mulai Hari Ini

Hanief Bastian, Technical Manager Manage Engine Indonesia

PwC menemukan 63 persen organisasi di Indonesia telah memiliki budaya yang mendukung AI. Sebanyak 57 persen mengaku mampu mengintegrasikan teknologi tersebut. Namun hanya 36 persen yang telah memformalkan proses AI yang bertanggung jawab.

Pertanyaannya sederhana: kalau perusahaan belum sepenuhnya siap mengelola AI, seberapa siap mereka menghadapi konsekuensi ketika AI gagal?

Cuma Modal HP: Bisa Cuan dari YouTube? Simak Rahasianya!

Pasihan

0

Menyelami Jiwa Subak Melalui Pasihan, Film Dokumenter Baru dari SAKA Museum di AYANA Bali

Di mata banyak wisatawan, hamparan sawah berundak Bali adalah lanskap yang memikat kamera. Namun di balik panorama tersebut tersimpan sebuah sistem kehidupan yang telah bertahan selama berabad-abad—perpaduan harmonis antara spiritualitas, komunitas, dan kecerdasan ekologis. Melalui film dokumenter terbaru berjudul Pasihan, SAKA Museum di AYANA Bali mengajak pengunjung melampaui keindahan visual itu, menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang salah satu warisan budaya paling berharga di dunia.

Berdurasi 13 menit, Pasihan menjadi pelengkap pengalaman menikmati pameran interaktif Subak: The Ancient Order of Bali. Dikembangkan bersama Niskala Studio, dokumenter ini mengikuti perjalanan air suci dari Pura Ulun Danu Batur hingga menghidupi persawahan Subak Pulagan, sembari memperlihatkan masyarakat yang menjaga aliran kehidupan tersebut melalui tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Lebih dari sekadar sistem irigasi, Subak merupakan filosofi hidup masyarakat Bali. Sistem yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia ini memperlihatkan bagaimana tata kelola air, pertanian, ritual keagamaan, dan kehidupan sosial berpadu menjadi satu kesatuan yang harmonis. Film Pasihan menghadirkan dimensi manusia dari sistem tersebut—menggambarkan bagaimana hubungan antarkomunitas dibangun di atas rasa syukur, gotong royong, dan tanggung jawab bersama terhadap alam.

Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Jakarta

Judul Pasihan sendiri berasal dari kata sih dalam bahasa Bali yang berarti kasih dan pengabdian. Makna ini menjadi benang merah sepanjang film, menggambarkan jaringan masyarakat Subak yang menerima berkah air dan kesuburan dari Dewi Danu melalui Pura Ulun Danu Batur. Air bukan sekadar sumber kehidupan, melainkan anugerah suci yang harus dijaga melalui upacara, kerja sama, dan komitmen kolektif.

Pengembangan pameran Subak: The Ancient Order of Bali melibatkan antropolog sekaligus ilmuwan kompleksitas Profesor Dr. J. Stephen Lansing, yang selama puluhan tahun meneliti sistem Subak. Jika pameran mengupas sejarah, filosofi, dan kecanggihan ekologinya, maka Pasihan membawa narasi tersebut menjadi lebih personal melalui kisah para penjaga tradisi yang menjalankannya setiap hari.

Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Luigis Enters a New Era—Without Losing Its Soul

0

Di tengah derasnya transformasi Canggu menjadi salah satu destinasi gaya hidup paling dinamis di Asia, hanya sedikit tempat yang berhasil mempertahankan identitasnya. Luigis adalah salah satunya.

Selama hampir satu dekade, restoran ini telah menjadi lebih dari sekadar destinasi pizza. Ia adalah ruang di mana percakapan mengalir tanpa batas waktu, persahabatan tumbuh secara alami, dan malam-malam yang seharusnya berakhir lebih awal justru berubah menjadi kenangan yang ingin terus diulang.

The AI Edge: Cara Tetap Relevan di Era Mesin Pintar

Kini, Luigis membuka lembaran baru. Bukan melalui perubahan yang radikal, melainkan lewat penyempurnaan yang menghormati akar sejarahnya.

Sejak pertama kali berdiri, bangunan berbahan kontainer dengan oven pizza Acunto yang didatangkan langsung dari Napoli telah menjadi simbol keaslian Luigis. Saat Canggu masih jauh dari hiruk-pikuk yang dikenal hari ini, restoran ini sudah menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan: suasana yang hangat, makanan yang jujur, dan energi yang terasa begitu autentik.

E-Book Cashflow Machine: Ubah Ide Sederhana Jadi Mesin Uang Otomatis

Karakter itulah yang tetap dipertahankan.

“Kami tidak pernah berniat mengubah apa yang sudah dicintai orang dari Luigis. Yang kami lakukan adalah menyempurnakannya,” ujar Executive Chef Lorenzo De Petris.

Filosofi tersebut tercermin dalam seluruh pengalaman bersantap. Bersama pizzaiolo peraih penghargaan Marcos Bonotto—yang baru saja menerima pengakuan 1 Slice dari Gambero Rosso International—De Petris menghadirkan menu baru yang semakin memperkuat identitas Italia-Amerika yang selama ini menjadi DNA Luigis.

Jadi Clipper Penghasil Cuan dengan AI Gratis: Ini Tutorialnya

Sebuah Sanctuary di Tengah Jakarta

Wajah Baru JimBARan Lounge AYANA Midplaza Merayakan Ketenangan dan Warisan Kuliner Nusantara

Di kota yang bergerak nyaris tanpa jeda, kemewahan hari ini bukan lagi sekadar suite yang luas atau layanan yang sempurna. Kemewahan sejati adalah kemampuan untuk memperlambat waktu—menemukan ruang yang memungkinkan seseorang bernapas lebih dalam, menikmati percakapan tanpa tergesa, dan merasakan bahwa hiruk pikuk kota seakan berhenti sejenak.

Inilah pengalaman yang ingin dihadirkan AYANA Midplaza Jakarta melalui transformasi terbaru JimBARan Lounge.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Terletak di jantung kawasan bisnis Sudirman, lounge yang selama ini dikenal sebagai destinasi untuk business meeting, afternoon tea, maupun evening cocktails itu kini hadir dengan identitas yang lebih matang. Bukan sekadar pembaruan desain, melainkan sebuah reinterpretasi mengenai bagaimana sebuah ruang hospitality dapat menjadi urban sanctuary bagi para profesional, wisatawan, maupun warga Jakarta yang mendambakan ketenangan tanpa harus meninggalkan kota.

Begitu memasuki area JimBARan Lounge, atmosfer Jakarta yang serba cepat perlahan memudar. Lanskap tropis yang telah ditata ulang, elemen air yang mengalir lembut, serta pulau-pulau taman yang intim menghadirkan suasana yang terasa jauh dari pusat ibu kota, meski lokasinya hanya beberapa langkah dari gedung-gedung pencakar langit.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Transformasi ini memperlihatkan filosofi yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari DNA AYANA: menciptakan pengalaman yang tidak hanya memanjakan, tetapi juga memulihkan. Sebuah tempat di mana tamu datang bukan hanya untuk bersantap, melainkan untuk mengisi ulang energi sebelum kembali menghadapi ritme kota.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Tantangan Berikutnya bagi Dunia Usaha Indonesia

0

Membuktikan Nilai AI bagi Bisnis

Adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia terus meningkat. Namun, bagi kalangan dunia usaha, tantangan yang sesungguhnya bukan lagi sekadar menggunakan teknologi tersebut, melainkan membuktikan bahwa investasi AI benar-benar mampu menghasilkan pertumbuhan bisnis yang terukur.

Di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,11 persen pada 2025 dengan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp23.821,1 triliun, perusahaan menghadapi tuntutan yang semakin besar untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga efisiensi operasional. Dalam konteks inilah teknologi digital, termasuk AI, dipandang sebagai salah satu motor penggerak daya saing. Namun, keberhasilannya kini mulai diukur dari dampak nyata terhadap bisnis, bukan lagi dari sekadar tingkat adopsinya.

Gaptek Bukan Alasan:  Mahir Digital Tanpa Jadi Anak IT

Survei Global Workforce Hopes and Fears 2025 yang dilakukan PwC menunjukkan bahwa 69 persen pekerja di Indonesia telah memanfaatkan AI dalam aktivitas kerja mereka selama setahun terakhir. Bahkan, 16 persen responden mengaku menggunakan teknologi generative AI setiap hari.

Dari kelompok pengguna harian tersebut, sebanyak 96 persen melaporkan peningkatan produktivitas. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan pengguna yang hanya sesekali memanfaatkan AI, yakni sebesar 75 persen. Temuan tersebut menunjukkan bahwa AI memang memiliki potensi meningkatkan efisiensi kerja. Meski demikian, pertanyaan yang kini mengemuka adalah bagaimana peningkatan produktivitas itu dapat diterjemahkan menjadi keuntungan bisnis yang nyata dan berkelanjutan.

Cuan dari Rumah: 5 Bisnis Digital yang Bisa Kamu Mulai Hari Ini

Dari Indikator TI ke Nilai Bisnis

Selama bertahun-tahun, keberhasilan investasi teknologi informasi umumnya diukur melalui indikator teknis, seperti tingkat ketersediaan sistem (uptime), stabilitas infrastruktur, maupun kecepatan penyelesaian gangguan (incident resolution). Indikator tersebut tetap penting, tetapi dinilai tidak lagi cukup.

Kini, pemimpin teknologi informasi dituntut mampu menghubungkan berbagai metrik teknis tersebut dengan dampaknya terhadap produktivitas karyawan, kualitas layanan kepada pelanggan, hingga efisiensi biaya operasional perusahaan.

Penyelesaian gangguan sistem yang lebih cepat, misalnya, dapat mengurangi waktu henti (downtime) sehingga aktivitas karyawan tidak terganggu. Pemantauan infrastruktur secara proaktif juga memungkinkan perusahaan mendeteksi masalah sebelum berdampak pada pelanggan. Sementara itu, otomatisasi pekerjaan yang berulang memberi ruang bagi tim TI untuk berfokus pada inovasi yang lebih strategis.

Cuma Modal HP: Bisa Cuan dari YouTube? Simak Rahasianya!