Home Blog

Alunê

0

Membuka Babak Baru Beach Club Ikonis di W Bali – Seminyak

Mengambil alih lokasi legendaris Woobar, Alunê menyatukan panorama matahari terbenam, gastronomi pesisir, musik, serta sentuhan wellness dalam destinasi tepi pantai terbaru di Seminyak.

Ada sesuatu yang selalu memikat dari matahari terbenam di Seminyak. Warna keemasan perlahan menyapu langit, suara ombak menjadi latar alami, lalu suasana bergerak dari sore yang santai menuju malam yang lebih hidup. Ritme inilah yang diterjemahkan W Bali – Seminyak ke dalam Alunê, destinasi beach club terbarunya yang menempati lokasi ikonis Woobar.

Bukan sekadar perubahan nama, Alunê menandai babak baru pengalaman bersantai di tepi pantai. Konsepnya dirancang untuk menggugah seluruh indra melalui perpaduan desain, hidangan, koktail, musik, dan atmosfer sosial yang menjadi karakter khas W Hotels.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Nama Alunê terinspirasi dari kata “alunan”, yang menggambarkan gerak ombak serta irama musik yang mengalir, dipadukan dengan lune, bahasa Prancis untuk bulan. Keduanya merangkum karakter tempat ini: dinamis, cair, dan bergerak mengikuti siklus alam serta energi para tamunya.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Desain yang Mengabadikan Golden Hour

Menghadap langsung ke barat daya, Alunê memperoleh posisi terbaik untuk menyaksikan matahari tenggelam di Samudra Hindia. Alih-alih memperlakukan panorama tersebut hanya sebagai pemandangan, studio desain WELD menjadikannya bagian penting dari keseluruhan interior.

Interpretasi paling menarik terlihat pada area indoor bar. Dinding belakangnya memadukan mosaik yang dipotong dengan tangan dan panel kaca bernuansa jingga. Ketika diterangi dari belakang, permukaannya memancarkan warna amber serta keemasan—seolah menghadirkan versi matahari terbenam di dalam ruangan.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Elephant Grounds

0

Membawa Ritme Kafe Hong Kong ke Jakarta

Specialty coffee, sajian sepanjang hari, dan ruang ramah hewan peliharaan bertemu dalam sebuah destinasi urban yang dirancang untuk dikunjungi berulang kali.

Jakarta selalu memiliki ruang untuk satu lagi kafe—tentu saja selama tempat tersebut menawarkan alasan yang cukup kuat untuk kembali. Elephant Grounds, jenama kafe gaya hidup asal Hong Kong, mencoba memenuhi syarat itu dengan membawa perpaduan antara kopi berkualitas, comfort food, desain kontemporer, dan keramahan yang terasa personal.

Resmi hadir di Jakarta, Elephant Grounds tidak memosisikan diri sekadar sebagai persinggahan untuk mengambil kopi sebelum bekerja. Kafe ini dirancang sebagai destinasi sepanjang hari: tempat memulai pagi dengan flat white, mengadakan pertemuan informal menjelang siang, menikmati brunch pada akhir pekan, atau berhenti sejenak ketika ritme kota mulai terasa terlalu riuh.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Konsep tersebut merupakan kelanjutan dari perjalanan Elephant Grounds sejak didirikan di Hong Kong pada 2013. Dalam perkembangannya, brand ini membangun pengikut setia melalui kombinasi specialty coffee, hidangan all-day dining, pastry segar, dan suasana yang berorientasi pada komunitas. Setelah berekspansi ke Manila dan Singapura, Jakarta menjadi babak berikutnya dalam pertumbuhan Elephant Grounds di Asia.

Namun, ekspansi lintas negara bukan semata-mata urusan menyalin formula. Elephant Grounds membawa identitas Hong Kong yang modern dan kosmopolitan, kemudian menerjemahkannya agar relevan dengan kebiasaan masyarakat Jakarta—sebuah kota yang memperlakukan kafe sebagai kantor kedua, ruang pertemuan, tempat bersosialisasi, sekaligus pelarian singkat dari kemacetan.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

“Di Elephant Grounds, kami percaya bahwa kafe yang baik harus menjadi lebih dari sekadar tempat untuk menikmati secangkir kopi,” kata Joshua Wee, General Manager Elephant Grounds. “Kafe seharusnya menjadi tempat yang ingin dikunjungi kembali setiap hari, baik untuk menikmati kopi pada pagi hari, bertemu untuk urusan bisnis, menikmati brunch dengan santai, maupun beristirahat sejenak pada sore hari.”

Kopi sebagai Fondasi

Di tengah menjamurnya kafe yang menjadikan desain sebagai daya tarik utama, Elephant Grounds tetap menempatkan kopi sebagai fondasi. Biji kopi dipilih secara cermat, kemudian dipanggang secara mandiri melalui program in-house roasting.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

HONO

0

Ruang Mendengarkan yang Menghidupkan Ritme Berawa

Di TUI BLUE Berawa, piringan hitam, sajian sepanjang hari, koktail, dan komunitas dipertemukan dalam sebuah lounge yang bergerak perlahan—dari kopi pertama hingga lagu terakhir.

Berawa memiliki cara tersendiri dalam menikmati waktu. Pagi dapat dimulai dengan secangkir kopi, berlanjut menjadi makan siang tanpa rencana, lalu berakhir jauh setelah matahari tenggelam. Ritme itulah yang ditangkap HONO, social listening lounge terbaru di TUI BLUE Berawa, Bali.

HONO dirancang sebagai tempat untuk mendengarkan musik dengan sungguh-sungguh, tanpa menghilangkan kenikmatan berbincang. Terinspirasi oleh keintiman vinyl lounge dan spontanitas sebuah sesi jam, ruang ini menghadirkan tata suara yang terasa nyata, tetapi tidak mendominasi. Cukup lantang untuk menikmati setiap detail rekaman, namun tetap nyaman untuk percakapan.

E-Book Cashflow Machine: Ubah Ide Sederhana Jadi Mesin Uang Otomatis

Namanya menyimpan beberapa lapis makna. Honō dalam bahasa Jepang merujuk pada bara lembut, sementara hono dalam bahasa Polinesia berarti hubungan. Ada pula gagasan Hawaii tentang tempat perlindungan atau ruang yang aman. Ketiganya membentuk karakter HONO: hangat, terbuka, dan memiliki jiwa—sebuah tempat yang mengundang orang datang untuk minum kopi, bertahan hingga makan siang, lalu menyadari tidak ada alasan untuk segera pulang.

Musik yang Mengikuti Waktu

Piringan hitam menjadi pusat pengalaman, meski kaset dan CD juga mendapat tempat. Pilihan musik bergerak bebas di antara jazz, bossa nova, soul, folk, dan funk. Alih-alih terpaku pada satu genre, kurasi mengikuti perubahan suasana sepanjang hari.

Jadi Clipper Penghasil Cuan dengan AI Gratis: Ini Tutorialnya

Pagi berjalan perlahan bersama kopi, sarapan, dan alunan jazz serta bossa nova. Memasuki siang, soul dan folk menemani menu all-day dining. Ketika matahari mulai turun, aperitivo hadir bersama funk bernuansa hangat. Malam kemudian menemukan ritmenya melalui koktail, vinyl, jazz, serta sejumlah penampilan langsung pilihan.

Di HONO, musik bukan sekadar latar. Ia menjadi bagian dari arsitektur suasana—membentuk tempo ruangan tanpa memaksakan perhatian.

Bikin E-Course Berbasis AI: Script, Voice Over, dan Materi Dibantu AI, Siap Jual

Musim Gugur, Cara Aman

0

Dari upacara minum teh di Kyoto hingga berenang bersama hiu paus di Sumbawa, Aman mengubah musim perayaan Asia menjadi alasan untuk berhenti sejenak—dan kembali menikmati perjalanan.

Ada perjalanan yang dibuat untuk mengejar sebanyak mungkin tempat. Ada pula perjalanan yang justru mengajak kita mengurangi kecepatan. Aman memilih yang kedua.

Memasuki musim gugur 2026, jaringan resor mewah tersebut menghadirkan rangkaian pengalaman di Asia yang berpusat pada kebersamaan, tradisi, dan pemulihan diri. Festival Pertengahan Musim Gugur pada 25–27 September serta Silver Week di Jepang pada 19–23 September menjadi dua poros utamanya.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Namun, Aman tidak menerjemahkan perayaan melalui pesta berlebihan. Tidak ada urgensi untuk selalu terlihat sibuk. Sebaliknya, para tamu diajak mengikuti ritual minum teh, berjalan di antara hutan bambu, mencari jamur liar, bermeditasi di air terjun, atau sekadar duduk diam menunggu bulan muncul. Kemewahan, rupanya, tidak selalu harus berisik.

Malam yang Lebih Panjang di Tiongkok

Di Amandayan, Lijiang, hari dimulai dengan Tai Chi. Menjelang sore, tamu menikmati kue bulan buatan tangan sebelum berkumpul dalam jamuan makan dan menari mengelilingi api unggun di bawah langit malam.

Musim gugur juga mengubah hutan di sekitar resor menjadi semacam ruang makan alami. Setelah hujan musim panas, berbagai jenis jamur liar tumbuh di bawah lapisan daun dan jarum pinus yang lembap. Para tamu dapat mencarinya di pegunungan Wenhai atau hutan Qihe, kemudian menikmatinya sebagai hotpot bersama keluarga Naxi.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Di Amanfayun, Hangzhou, suasananya lebih kontemplatif. Dikelilingi perkebunan teh dan hutan bambu, resor ini menawarkan perjalanan menyusuri jalur ziarah menuju kuil-kuil setempat dan Lingyin Feilai Peak.

Fayun Place, pusat kebudayaan milik resor, menjadi rumah bagi pameran Encountering Plumes: The Hundred Crane Album hingga 16 Oktober. Di dalam aula kayu berusia ratusan tahun, seniman Lu Shang mempertemukan estetika Timur dengan bahasa visual kontemporer.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Seni Vietnam Menemukan Panggungnya

0

Ketika Sapa Berbalut Emas

Musim panen mengubah terasering Sapa menjadi lanskap keemasan. Di Hotel de la Coupole, panorama tersebut hadir kembali melalui karya lima seniman kontemporer Vietnam.

Ada masa ketika perjalanan terasa lebih bermakna daripada sekadar berpindah tempat. Di Sapa, Vietnam bagian utara, momen itu datang setiap September, saat sawah terasering perlahan meninggalkan warna hijaunya dan berubah menjadi lapisan emas yang mengikuti lekuk pegunungan.

Tahun ini, lanskap tersebut tidak hanya dapat dinikmati dari jalan setapak, desa-desa, dan Lembah Muong Hoa. Hotel de la Coupole Sapa – MGallery Collection membawanya ke dalam ruang seni melalui pameran bertajuk Upon the Mountain, Down on the Hill.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Berlangsung pada 25 September hingga 25 Oktober 2026, pameran ini mempertemukan 28 karya dari lima seniman kontemporer Vietnam: Pham Thai Binh, Nguyen Ngoc Thanh, Nguyen Quoc Trung, Pham Tra My, dan Pham Thuy Tien.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Bekerja sama dengan Hanoi Studio Gallery, pameran tersebut menyajikan interpretasi tentang gunung, perbukitan, manusia, ingatan, dan emosi. Bentang alam tidak sekadar ditempatkan sebagai latar yang indah, tetapi dibaca sebagai ruang hidup—tempat kenangan menetap dan identitas dibentuk.

Lanskap yang Hidup dalam Ingatan

Kelima seniman membawa latar belakang serta pendekatan artistik yang berlainan. Karya-karya mereka merentang dari seni lukis dan patung hingga teknik lacquer tradisional, lukisan sutra, serta instalasi berskala besar.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Ayana Bali Buka Babak Baru Perhelatan Berskala Besar

0

Grand Ballroom tanpa pilar, panorama laut Jimbaran, serta hampir seribu kamar dalam satu kawasan memperkuat posisi AYANA Bali sebagai destinasi terpadu untuk konferensi, pernikahan, dan perjalanan insentif.

Di atas tebing Jimbaran yang menghadap Samudra Hindia, AYANA Bali memperluas ambisinya sebagai destinasi perhelatan berskala besar. Mulai 1 September 2026, resor terpadu ini mengoperasikan Grand Ballroom terbarunya, sekaligus memperkenalkan rangkaian fasilitas pertemuan dan acara yang telah dikembangkan untuk mengakomodasi kebutuhan konferensi internasional, perjalanan insentif, peluncuran merek, hingga pernikahan dalam skala besar.

Permintaan informasi dan reservasi telah dibuka, dengan minat awal terutama mengarah pada penyelenggaraan acara sepanjang kuartal terakhir 2026 dan tahun 2027.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Grand Ballroom

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Pengembangan tersebut berlangsung di dalam kawasan resor seluas 90 hektare di Jimbaran. Berjarak sekitar 30 menit berkendara dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, AYANA Bali menawarkan suasana yang relatif terpisah dari keramaian pusat pariwisata Bali, tetapi tetap mudah dijangkau oleh tamu domestik maupun internasional.

Satu Destinasi, Beragam Pengalaman

Lebih dari sekadar menambah ruang konferensi, AYANA Bali merancang pengalaman acara dalam satu ekosistem resor. Penyelenggara dapat menghubungkan agenda pertemuan dengan jamuan makan, kegiatan kebugaran, pengalaman budaya, atau resepsi menghadap laut tanpa perlu memindahkan tamu ke lokasi berbeda.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Threads of Asia

0

Ketika Api Ubud Bertemu Presisi Seoul di Meja Makan

Kolaborasi Api Jiwa dan SU MA Jakarta mempertemukan teknik memasak dengan bara jerami, tradisi fermentasi Asia Timur, serta ingatan personal para chef dalam sebuah tasting menu eksklusif di Capella Ubud.

Ada makan malam yang sekadar memuaskan selera. Ada pula yang membuat kita melihat api, fermentasi, dan sepiring makanan sebagai bagian dari perjalanan budaya. Threads of Asia, kolaborasi antara Api Jiwa di Capella Ubud dan SU MA Jakarta, jelas memilih kategori kedua.

Berlangsung pada 28 dan 29 Agustus 2026, kolaborasi tersebut mempertemukan Executive Chef Api Jiwa, Arvie Delvo, dengan Co-Executive Chef SU MA Jakarta, Ryan Kim. Keduanya menyusun tasting menu 10 hidangan yang menjadikan tradisi kuliner Asia sebagai titik berangkat—bukan sebagai benda museum yang harus dipertahankan dalam bentuk beku, melainkan sebagai bahasa yang dapat terus berkembang.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Di meja makan Api Jiwa, pertemuan ini tampil sebagai dialog antara dua pendekatan. Chef Arvie membawa filosofi memasak yang berpusat pada api dan kekayaan bahan lokal Bali. Sementara itu, Chef Ryan menghadirkan presisi teknik, fermentasi, dan sensibilitas kuliner Asia Timur yang berakar pada tradisi Korea dan Tiongkok.

Warisan yang Tidak Berhenti di Masa Lalu

Alih-alih sekadar merekonstruksi resep klasik, kedua chef menggali kisah, ritual, serta keterampilan yang telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Semua itu kemudian diterjemahkan melalui pengalaman personal, perjalanan lintas budaya, dan bahan-bahan regional.

Hasilnya adalah menu yang berbicara mengenai warisan tanpa terjebak nostalgia. Sebab, tradisi yang sehat memang seharusnya bergerak. Ia boleh berubah bentuk, selama tidak kehilangan ingatan.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Ketika Para Chef Berbintang Michelin Menguasai Canggu

0

Regent Bali Canggu mendatangkan sejumlah nama berpengaruh dari London, Bangkok, Kuala Lumpur, dan Singapura. Mereka tidak datang untuk berjemur.

Canggu punya banyak hal yang dapat membuat seseorang menunda penerbangan pulang: ombak, matahari terbenam, pesta hingga dini hari, serta jumlah kedai kopi yang agaknya sudah melampaui kebutuhan biologis manusia.

Namun, dari Agustus hingga November 2026, ada alasan lain untuk tinggal lebih lama. Regent Bali Canggu menghadirkan para chef dari restoran berbintang Michelin lewat The Michelin Master Series, rangkaian jamuan eksklusif di Chef’s Table.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Formatnya intim, kapasitasnya terbatas, dan jarak antara chef dengan tamu dibuat sedekat mungkin. Bukan sekadar makan malam, melainkan kesempatan menyaksikan bagaimana teknik, memori, dan obsesi seorang chef diterjemahkan menjadi sederet hidangan. Singkatnya, ini bukan tempat untuk tergesa-gesa meminta tagihan.

Prancis Datang dari Bangkok

Pada 11 dan 12 September 2026, Chef’s Table Presents akan menyambut Valentin Fouache, Chef de Cuisine Duet by David Toutain di Bangkok.

Fouache tumbuh secara profesional di sejumlah dapur terkemuka Prancis, termasuk Le Chèvre d’Or, Le Chantecler, dan Le Meurin. Riwayat tersebut menjelaskan masakannya: disiplin, presisi, tetapi tidak kehilangan rasa ingin tahu.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Untuk penampilannya di Canggu, Fouache akan membawa interpretasi gastronomi Prancis modern yang bertumpu pada bahan, alam, dan teknik. Tradisi klasik tetap hadir, hanya saja dilepaskan dari kekakuannya dan diberi napas kontemporer.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Hilton Padalarang, Alasan Baru untuk Berhenti di Bandung

0

Terhubung lebih cepat dengan Jakarta lewat Whoosh, Hilton Padalarang Bandung menawarkan 218 kamar, empat destinasi kuliner, spa, kolam air hangat, serta ruang acara yang menghadap lanskap perbukitan. Padalarang kini bukan lagi tempat yang sekadar dilewati.

Ada masa ketika Padalarang hanya dianggap sebagai penanda bahwa Bandung sudah dekat. Tempat untuk melambat sebentar sebelum kembali menghadapi lalu lintas, mencari jalan pintas, atau sekadar memastikan tujuan berikutnya di aplikasi navigasi.

Kereta Cepat Whoosh mengubah percakapan itu. Kini Padalarang menjadi salah satu pintu utama menuju Bandung—dan, seperti lazimnya setiap pintu baru, peluang bisnis segera berdatangan.

The AI Edge: Cara Tetap Relevan di Era Mesin Pintar

Salah satunya datang melalui Hilton Padalarang Bandung, yang resmi beroperasi pada 17 Juli 2026. Berlokasi di Kota Baru Parahyangan, hotel dengan 218 kamar dan suite ini menandai debut Hilton Hotels & Resorts di Bandung Barat. Ia sekaligus menjadi properti ketiga merek utama Hilton tersebut di Indonesia.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Lokasinya jelas menjadi kartu as. Stasiun Kereta Cepat Whoosh Padalarang dapat dicapai dalam waktu sekitar 10 menit, sedangkan pusat Kota Bandung berjarak kurang lebih 30 menit berkendara—tentu dengan catatan lalu lintas sedang tidak punya agenda sendiri.

Kedekatan dengan Jakarta membuat Hilton Padalarang Bandung relevan bagi dua jenis pelancong sekaligus: tamu bisnis yang menghargai efisiensi dan warga urban yang ingin kabur sejenak dari rutinitas. Tidak terlalu jauh, tetapi cukup jauh untuk membuat akhir pekan terasa seperti liburan.

Bandung, tetapi Bukan Bandung yang Itu-Itu Saja

Hilton memilih Kota Baru Parahyangan, kota mandiri yang terus berkembang dengan kawasan hunian, pusat gaya hidup, lapangan golf 18 lubang, tempat berbelanja, serta taman bermain air untuk keluarga.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

The Life of the Tree

0

Di Oliverra, Umana Bali, sembilan koktail membawa perjalanan dari benih hingga kelahiran kembali—dengan rempah, spirit premium, dan pemandangan Samudra Hindia sebagai latarnya.

Ada koktail yang dibuat untuk menyegarkan tenggorokan. Ada pula yang dirancang agar tampak fotogenik di meja bar. Namun di Oliverra, restoran dan bar tepi tebing milik Umana Bali, LXR Hotels & Resorts, koktail terbaru mereka datang dengan ambisi yang sedikit lebih besar: mengajak tamu memikirkan kehidupan.

Koleksi bertajuk The Life of the Tree menerjemahkan perjalanan simbolis sebuah pohon ke dalam sembilan racikan. Ceritanya dimulai dari benih, berlanjut menuju akar, batang, cabang, daun, bunga, dan buah, sebelum tiba pada gugurnya daun serta sebuah permulaan baru.

Terdengar filosofis? Memang. Tetapi untungnya, koleksi ini tidak berubah menjadi kuliah kebudayaan yang kebetulan disajikan dalam gelas.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Di tangan tim bar Oliverra, filosofi Bali Tri Hita Karana—tentang keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam—diterjemahkan melalui spirit berlapis, infusi botanikal, buah tropis, aromatik lokal, serta beragam sirup racikan sendiri. Hasilnya adalah sembilan minuman dengan kepribadian berbeda, tetapi tetap berada dalam satu narasi yang utuh.

“Oliverra sejak awal bukan hanya tentang apa yang tersaji di meja, tetapi tentang bagaimana setiap momen membuat tamu merasa,” ujar Nicolas Kassab, General Manager Umana Bali, LXR Hotels & Resorts.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Menurutnya, The Life of the Tree merefleksikan cara resor tersebut memandang keramahtamahan: berakar pada tempat, dipandu oleh keahlian, dan dibentuk oleh hubungan antarmanusia.

Bermula dari Sebuah Benih

Perjalanan dibuka dengan Namirasa, representasi benih sekaligus bangkitnya pancaindra. Nusa Caña Tropical Island Rum yang diinfusi biji wijen putih panggang dipadukan dengan Nusa Caña Coconut Rum, lychee brine, sirup pandan, citrus segar, dan coconut foam buatan sendiri.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi