Home Blog

Satu Malam di Tuscany, Tanpa Meninggalkan Sanur

0

Chef Luca Masini membawa cita rasa pesisir Italia ke tepi Pantai Sanur melalui sebuah jamuan makan malam yang merayakan kesederhanaan, kebersamaan, dan seni menikmati hidup.

Ada sesuatu yang selalu menarik dari budaya makan orang Italia. Bukan semata soal pasta segar, minyak zaitun berkualitas, atau wine yang dipilih dengan cermat. Yang membuatnya begitu memikat adalah filosofi di baliknya: keyakinan bahwa makanan terbaik selalu dinikmati perlahan, bersama orang-orang yang tepat, dalam suasana yang memungkinkan percakapan mengalir tanpa tergesa.

Pada 26 Juni 2026 mendatang, semangat itu akan hadir di tepian Pantai Sanur melalui Tuscan Dinner by Chef Luca Masini, sebuah pengalaman bersantap eksklusif yang digelar di Byrd House Bali.

Selama satu malam, restoran tepi pantai yang berada di kawasan Segara Village Hotel tersebut akan berubah menjadi perpanjangan imajiner dari pesisir Tuscany. Ketika matahari mulai turun dan warna langit berubah menjadi jingga keemasan, para tamu akan diajak menikmati makan malam yang terinspirasi dari kawasan pantai Italia Barat—tempat kehidupan berjalan sedikit lebih lambat dan setiap hidangan memiliki cerita.

Di balik pengalaman ini berdiri sosok Chef Luca Masini, Executive Chef Byrd House Bali yang lahir dan besar di Livorno, kota pelabuhan bersejarah di Tuscany. Kariernya telah membawanya melintasi berbagai belahan dunia, dari Eropa hingga Australia, Singapura, dan Indonesia. Namun sejauh apa pun ia melangkah, akar kuliner Mediterania tetap menjadi kompas yang membimbing setiap kreasinya.

“Masakan Tuscany bagi saya selalu bersifat personal,” ujar Chef Luca. “Ini bukan tentang teknik yang rumit atau presentasi yang berlebihan. Ini tentang menghormati bahan terbaik, menikmati kebersamaan, dan menciptakan momen yang membuat orang ingin berlama-lama di meja makan.”

Destinasi Baru di Berawa, Bali

0

Pony, untuk Makan Malam yang Berlanjut Hingga Larut Malam

Bali selalu memiliki tempat-tempat baru yang menarik perhatian, tetapi hanya sedikit yang berhasil memadukan pengalaman bersantap, koktail, dan kehidupan malam dalam satu alur yang terasa begitu alami. Hadir di kawasan Berawa, Pony menawarkan konsep yang berbeda: sebuah ruang di mana makan malam tidak harus berakhir ketika hidangan terakhir tersaji, dan malam bisa berkembang mengikuti ritmenya sendiri.

Dibuka pada Juni ini, Pony hadir sebagai restoran, bar, dan lounge yang menyatu dalam satu pengalaman. Berlokasi di jantung kawasan Tibubeneng yang dinamis, tempat ini dirancang untuk mereka yang menikmati santapan tanpa terburu-buru, percakapan panjang, serta malam yang mengalir dari satu momen ke momen berikutnya.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Di tengah lanskap kuliner Bali yang terus berkembang, Pony mengusung filosofi sederhana: makanan yang baik dan kehidupan malam yang menyenangkan seharusnya dapat dinikmati di bawah satu atap. Hasilnya adalah sebuah destinasi yang terasa santai namun tetap sophisticated, di mana tamu dapat memulai malam dengan makan malam yang intim, melanjutkannya dengan koktail di bar, lalu menikmati suasana yang semakin hidup seiring waktu berjalan.

Api, Asap, dan Sentuhan Jepang Modern

Jantung pengalaman Pony terletak pada dapurnya yang berpusat pada teknik memasak menggunakan panggangan kayu bakar. Menu yang ditawarkan mengambil inspirasi dari tradisi kuliner Eropa, dipadukan dengan sentuhan Jepang modern yang halus.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Alih-alih mengandalkan teknik yang rumit, Pony membiarkan elemen-elemen dasar seperti api, arang, asap, dan kualitas bahan berbicara dengan sendirinya. Hidangan-hidangan yang disajikan dirancang untuk dinikmati bersama, menciptakan suasana komunal yang menjadi bagian penting dari pengalaman bersantap.

Pilihan menu bergerak dari aneka daging dan seafood yang dipanggang di atas bara api, hidangan mentah yang segar, hingga pasta buatan tangan yang menghadirkan kenyamanan dalam setiap suapan. Semuanya dirancang dengan pendekatan yang mengutamakan rasa yang berani namun tetap elegan, menghadirkan keseimbangan antara kemewahan dan kenyamanan.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Di Rote, Kemewahan Tidak Diukur dari Kemegahan

0

Di dunia perjalanan modern, kemewahan sering kali identik dengan segala sesuatu yang besar, megah, dan serba berlebihan. Namun di Pulau Rote, pulau paling selatan Indonesia yang masih menyimpan pesona liar dan ketenangan yang semakin langka ditemukan, definisi tersebut terasa berbeda.

Di sepanjang pesisir Bo’a yang menghadap hamparan Laut Sawu, sebuah destinasi baru tengah menulis narasinya sendiri. Bukan sekadar resor mewah yang menawarkan vila-vila privat dan pemandangan laut yang memukau, NIHI Rote & Hospitality Academy hadir dengan sebuah gagasan yang lebih besar: bagaimana hospitality dapat tumbuh berdampingan dengan budaya, komunitas, dan kehidupan pulau yang sesungguhnya.

Di sini, kemewahan bukanlah tentang kemegahan. Ia hadir dalam bentuk yang lebih subtil—waktu yang berjalan lebih lambat, ruang untuk terhubung dengan alam, serta pengalaman yang terasa autentik dan manusiawi.

Sebuah Kedatangan yang Tidak Biasa

Pengalaman di NIHI Rote dimulai dengan cara yang tidak lazim.

Alih-alih disambut oleh lobi besar yang dirancang untuk mengesankan, para tamu justru pertama kali diperkenalkan pada Hospitality Academy, pusat pembelajaran yang menjadi jantung dari keseluruhan proyek ini.

Keputusan tersebut bukan sekadar pilihan desain atau tata ruang. Ia merefleksikan filosofi yang mendasari destinasi ini sejak awal: bahwa hospitality pada dasarnya adalah tentang manusia.

Academy tersebut menjadi tempat generasi muda Rote, bersama sejumlah siswa dari Timor-Leste, belajar secara langsung mengenai dunia hospitality. Mulai dari kuliner, pelayanan, wellness hingga operasional, seluruh proses berlangsung dalam lingkungan yang hidup dan terintegrasi dengan pengalaman tamu sehari-hari.

Dengan dukungan Presiden Timor-Leste sekaligus penerima Nobel Perdamaian, José Ramos-Horta, akademi ini menjadi simbol komitmen jangka panjang terhadap pemberdayaan masyarakat dan pengembangan sumber daya manusia di kawasan timur Indonesia.

Menyelami Kehidupan Pulau Autentik di Bintan

0

Lebih dari Sekadar Staycation

Banyak orang datang ke Bintan untuk mencari ketenangan. Pantai yang sepi, semilir angin laut, dan suasana tropis yang jauh dari hiruk-pikuk kota menjadi alasan utama. Namun kini, ada cara baru menikmati pulau ini—bukan hanya sebagai destinasi liburan, tetapi sebagai tempat untuk benar-benar merasakan denyut kehidupan lokalnya.

Di tengah pesisir timur Bintan yang tenang, The Residence Bintan menghadirkan serangkaian pengalaman baru yang mengajak tamu keluar dari area resor dan masuk lebih dalam ke kehidupan masyarakat, budaya, serta alam Pulau Bintan yang sesungguhnya.

Menemukan Sisi Lain Bintan

Hanya kurang dari dua jam perjalanan dari Singapura, The Residence Bintan selama ini dikenal sebagai sanctuary tropis seluas 70 hektar yang menawarkan vila-vila mewah dengan kolam renang pribadi, spa di tengah alam, serta pengalaman wellness yang menenangkan.

Namun, pengalaman menginap kini tidak berhenti di balik pintu vila.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Para tamu diajak menjelajahi sisi Bintan yang jarang masuk dalam brosur wisata. Mulai dari berjalan kaki menyusuri gang-gang bersejarah di Tanjung Pinang hingga menikmati suasana pagi di pasar tradisional yang menjadi pusat aktivitas warga lokal.

Melalui program Tanjung Pinang Walking Tour, wisatawan dapat melihat bagaimana warisan budaya Melayu, Tionghoa, dan berbagai pengaruh sejarah lainnya hidup berdampingan dalam keseharian masyarakat. Bangunan tua, rumah ibadah bersejarah, hingga cerita-cerita lokal menjadi bagian dari perjalanan yang memberikan perspektif berbeda tentang pulau ini.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Tui Blue Berawa

0

Where Wellness, Sport and Social Energy Meet

Di tengah geliat Berawa yang semakin dikenal sebagai salah satu kawasan paling dinamis di Bali, Tui Blue Berawa hadir membawa pendekatan baru dalam pengalaman menginap. Bukan sekadar hotel, properti ini dirancang sebagai lifestyle destination yang memadukan kenyamanan, wellness, olahraga, dan koneksi sosial dalam satu ekosistem yang hidup.

Sebagai satu-satunya properti Tui Blue di Indonesia, hotel ini menggabungkan sentuhan butik yang intim dengan standar layanan internasional. Hasilnya adalah sebuah tempat yang terasa modern, energik, namun tetap hangat dan mudah diakses oleh para pelancong masa kini.

The AI Edge: Cara Tetap Relevan di Era Mesin Pintar

Berlokasi di jantung Berawa, Tui Blue Berawa menawarkan 121 kamar bergaya kontemporer dan 24 private pool villa yang dirancang untuk mereka yang ingin menikmati Bali lebih dari sekadar destinasi liburan. Setiap sudut hotel mencerminkan semangat lifestyle modern, di mana wellness, pengalaman lokal, dan komunitas bertemu secara alami. Mulai dari sesi spa dan kebugaran hingga ruang-ruang sosial yang dirancang untuk berinteraksi, seluruh pengalaman dihadirkan untuk membantu tamu terhubung lebih dekat dengan ritme Bali yang autentik.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Nilai lebih lainnya datang dari lokasinya yang terintegrasi dengan The Luc, sebuah lifestyle complex yang menjadi rumah bagi berbagai aktivitas, kuliner, dan komunitas kreatif. Di sini, tamu dapat dengan mudah berpindah dari sesi olahraga pagi, menikmati brunch santai, hingga menghabiskan sore bersama teman tanpa harus meninggalkan kawasan.

Salah satu tambahan terbaru yang memperkuat ekosistem ini adalah hadirnya Holywings Padel Club di The Luc. Dibuka pada April lalu, fasilitas ini menghadirkan energi baru bagi para pencinta olahraga dan wellness. Dengan empat lapangan padel berstandar internasional, area latihan khusus, serta program coaching yang dipandu pelatih profesional dari Spanyol, tempat ini menjadi salah satu destinasi baru bagi komunitas padel yang berkembang pesat di Bali.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

Wine Terbaik Italia Hadir di Bali

0

Bali kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu destinasi gaya hidup paling dinamis di Asia. Pada 18 Mei 2026, pulau yang dikenal dengan perpaduan budaya, kuliner, dan hospitality kelas dunia ini akan menjadi tuan rumah salah satu perhelatan wine paling bergengsi dari Italia.

Gambero Rosso, otoritas terkemuka dalam dunia makanan dan wine Italia, membawa tur internasionalnya ke Paradisus by Meliá Bali, menghadirkan deretan wine terbaik dari sejumlah produsen ternama Italia dalam sebuah pengalaman yang dirancang untuk para pecinta kuliner, kolektor, pelaku industri, hingga mereka yang sekadar ingin mengenal dunia wine lebih dalam.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Di tengah suasana tropis Nusa Dua yang elegan, para tamu akan diajak menjelajahi keragaman karakter wine Italia melalui sesi walkaround tasting yang menampilkan berbagai label pilihan dari sejumlah wilayah penghasil wine terbaik di negara tersebut. Mulai dari kawasan pegunungan di utara hingga kebun anggur yang bermandikan matahari di Sicilia, setiap botol membawa cerita tentang tradisi, terroir, dan keahlian yang telah diwariskan lintas generasi.

Kehadiran acara ini sekaligus mencerminkan semakin besarnya perhatian industri wine global terhadap Indonesia, khususnya Bali. Seiring meningkatnya jumlah wisatawan internasional dan berkembangnya budaya bersantap yang semakin sophisticated, Bali dinilai memiliki potensi besar sebagai pasar sekaligus destinasi bagi pengalaman gastronomi kelas dunia.

“Wine tidak mengenal batas,” ujar Giuseppe Carrus, salah satu kritikus wine paling berpengaruh di Italia sekaligus kontributor panduan Vini d’Italia. Menurutnya, Bali menjadi salah satu destinasi yang semakin menarik perhatian para produsen Italia berkat kombinasi wisatawan global, berkembangnya industri kuliner, serta meningkatnya minat masyarakat terhadap pengalaman food and beverage yang lebih beragam.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Selain sesi pencicipan, Carrus juga akan memimpin tiga masterclass eksklusif yang mengajak peserta memahami lebih dalam kekayaan dunia wine Italia. Mulai dari karakteristik berbagai varietas anggur lokal hingga filosofi di balik setiap wilayah penghasil wine, sesi ini menawarkan perspektif yang lebih mendalam bagi siapa saja yang ingin meningkatkan apresiasi mereka terhadap wine.

Tak hanya soal wine, acara ini juga menjadi perayaan budaya kuliner Italia secara lebih luas melalui pengumuman penghargaan Top Italian Restaurants. Penghargaan tersebut diberikan kepada restoran-restoran terbaik yang berhasil menghadirkan pengalaman bersantap Italia autentik, baik melalui konsep pizzeria kasual maupun fine dining berkelas.

Di saat Bali terus berkembang menjadi destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam tetapi juga pengalaman gastronomi yang semakin matang, kehadiran Gambero Rosso menjadi bukti bahwa pulau ini kini berada dalam radar para pelaku industri makanan dan wine dunia.

The Luxury of Space: Perjalanan Mewah Menjelajah Indonesia

ASR Festival 2026

0

Saat Pameran Travel Berubah Menjadi Destinasi Akhir Pekan

Bagi banyak orang, merencanakan liburan biasanya dimulai dari layar ponsel. Namun selama lima hari di awal Juni lalu, ribuan orang justru memilih mencari inspirasi perjalanan secara langsung di tengah suasana festival yang penuh hiburan, aktivitas keluarga, hingga pengalaman kuliner.

Itulah yang terjadi di ASR Festival 2026, festival tahunan yang digelar oleh The Ascott Limited di The Forum, Mall Kelapa Gading 3, Jakarta. Mengusung tema “Beyond The Stay”, acara ini berhasil menarik lebih dari 7.000 pengunjung yang datang bukan hanya untuk berburu promo hotel, tetapi juga menikmati pengalaman yang memadukan travel, lifestyle, hiburan, dan komunitas dalam satu tempat.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Tren perjalanan saat ini memang semakin bergeser. Menginap di hotel bukan lagi sekadar mencari tempat tidur yang nyaman, melainkan bagian dari pengalaman yang lebih besar. Mulai dari eksplorasi destinasi, aktivitas keluarga, hingga pengalaman budaya dan kuliner lokal menjadi bagian yang dicari para wisatawan modern.

Semangat itulah yang terasa sepanjang penyelenggaraan ASR Festival 2026. Pengunjung dapat menjelajahi berbagai penawaran dari jaringan hotel dan serviced residence Ascott di Indonesia, sekaligus mengenal beragam brand yang berada di bawah naungannya, mulai dari Citadines, lyf, Somerset, Oakwood, hingga Harris Hotels dan Yello Hotels.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Namun yang membuat festival ini terasa berbeda adalah ragam aktivitas yang dihadirkan. Mulai dari cooking demo, sesi yang mengangkat kekayaan warisan budaya Indonesia, talkshow bertema keberlanjutan, hingga kompetisi menyanyi anak-anak yang menjadi salah satu atraksi favorit keluarga.

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap konsep responsible travel, ASR Festival juga menghadirkan sisi yang lebih bermakna. Bertepatan dengan World Environment Day, festival ini menggelar diskusi mengenai konservasi mangrove dan pentingnya peran ekosistem pesisir dalam mendukung lingkungan serta ekonomi masyarakat lokal.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

The Spirit of Summer 2026

0

Liburan Kelas Dunia Ala Aman, dari Berenang Bareng Whale Shark hingga Menjelajah Pegunungan Dolomites

Kalau musim panas identik dengan petualangan, relaksasi, dan pengalaman yang sulit dilupakan, maka koleksi destinasi Aman tahun 2026 ini bisa jadi definisi sempurnanya.

Jaringan resort mewah yang dikenal dengan lokasi-lokasi spektakuler di berbagai penjuru dunia itu menghadirkan sederet pengalaman musim panas yang dirancang untuk para traveler yang ingin lebih dari sekadar liburan biasa. Mulai dari terapi air di gurun Utah, island hopping di Venesia, hingga berenang bersama whale shark di Indonesia.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Berikut beberapa destinasi Aman yang paling menarik untuk masuk daftar perjalanan musim panas tahun ini.

Menyatu dengan Alam Gurun di Utah

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Di tengah lanskap dramatis Canyon Country, Utah, Amerika Serikat, Amangiri menawarkan pengalaman wellness yang jauh dari kata biasa.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

The Rooster in Flame

0

Tamba by Junsei Memulai Babak Baru Lewat “The Rooster in Flame”

Di Bali, restoran baru bermunculan nyaris setiap minggu. Namun hanya sedikit yang benar-benar punya identitas cukup kuat untuk menciptakan semacam “scene” baru. Junsei tampaknya sedang menuju ke arah sana.

Belum genap sebulan sejak hadir di Sanur, Junsei mulai memperluas dirinya melampaui format yakitori izakaya konvensional lewat The Rooster in Flame—sebuah takeover satu malam di Night Rooster pada 29 Mei mendatang. Bukan sekadar dinner collaboration biasa, acara ini terasa seperti preview menuju fase berikutnya dari Junsei dan alter ego barunya: Tamba.

The AI Edge: Cara Tetap Relevan di Era Mesin Pintar

Jika Junsei dibangun lewat energi api, arang binchōtan, dan ritme izakaya modern Jepang, maka Tamba bergerak di sisi yang lebih subtil. Di siang hari, ia hidup sebagai tearoom yang tenang; saat malam turun, ruang tersebut berubah menjadi vinyl-led listening bar dengan atmosfer yang lebih lambat, sensual, dan immersive.

Semacam tempat yang membuat orang datang bukan hanya untuk makan—tetapi untuk tenggelam dalam mood.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Di balik konsep ini adalah Aman Lakhiani, sosok yang membayangkan Tamba sebagai “perpanjangan” dari Junsei, namun dengan frekuensi berbeda. Bila Junsei berbicara tentang tekstur, panas, dan energi, Tamba justru mengeksplorasi lapisan rasa, musik, teh, koktail, dan ambience dalam satu pengalaman yang bergerak perlahan sepanjang malam.

Untuk The Rooster in Flame, Junsei menghadirkan pengalaman set menu eksklusif dengan kapasitas hanya 10 kursi dari pukul 18.00 hingga 20.00, sebelum malam berlanjut dengan pilihan à la carte dan koktail signature.

Menu yang ditawarkan merepresentasikan pendekatan Junsei terhadap masakan Jepang modern: presisi teknik, keseimbangan rasa, dan penggunaan bahan lokal premium yang diterjemahkan lewat sensibilitas Jepang. Ada Crab Croquette dengan brown crab dan caviar, Snapper Crudo dengan citrus soy, hingga deretan yakitori panggang seperti Seseri, Hatsu, Shisomaki, dan Tsukune. Sementara Gyudon dengan onsen egg dan garlic chips hadir seperti comfort food yang dibuat jauh lebih sophisticated.

Namun seperti semua tempat yang mengerti pentingnya atmosfer, cerita sebenarnya mungkin justru ada di balik bar.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

Yacht Luxury Meets Formula 1

Explora Journeys Bikin SailGP Makin Stylish

Di dunia olahraga ekstrem, biasanya yang jadi sorotan adalah kecepatan, teknologi, dan adrenalin. Tapi di Bermuda akhir pekan lalu, ada satu elemen lain yang ikut mencuri perhatian: style.

Brand luxury ocean travel Explora Journeys resmi memperkenalkan identitas visual barunya bersama Swiss SailGP Team dalam ajang Bermuda Sail Grand Prix. Hasilnya? Sebuah F50 catamaran yang tampil seperti perpaduan antara superyacht futuristik dan mobil balap Formula 1.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Kalau biasanya dunia yacht identik dengan suasana santai, champagne, dan sunset deck, kali ini Explora Journeys membawa DNA kemewahan itu langsung ke lintasan balap laut paling brutal di dunia.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Ocean State of Mind, Tapi 100 Km/Jam

Visual baru tim ini terinspirasi dari filosofi “Ocean State of Mind” milik Explora Journeys—konsep tentang koneksi antara manusia, laut, dan pengalaman perjalanan yang lebih mindful. Terdengar zen? Mungkin. Tapi di SailGP, filosofi itu diterjemahkan dalam bentuk kapal karbon super ringan yang bisa melesat di atas 100 km/jam.

Yes, lebih cepat dari beberapa mobil di tol Jakarta tengah malam.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal