Home Blog

Hiliwatu, Ubud

0

Tentang Bukit, Batu, dan Keheningan yang Tidak Kosong

Ubud tidak pernah benar-benar sunyi. Ia hanya memilih suara yang pantas didengar. Air yang mengalir pelan, dedaunan yang bergeser oleh angin, dan waktu yang menolak terburu-buru. Di lanskap seperti inilah Hiliwatu hadir—bukan sebagai pernyataan, melainkan sebagai jeda.

Nama itu sederhana: Hili, bukit. Watu, batu. Dua kata yang tidak perlu dijelaskan panjang-panjang. Bukit memberi jarak, batu memberi pijakan. Keduanya menyiratkan keteguhan, sekaligus kesabaran. Di Desa Bresela, Gianyar, di atas lahan hijau yang luas dan berlapis, Hiliwatu memilih berdiri dengan sikap yang sama: tenang, tidak menuntut perhatian, tapi sulit diabaikan.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

Hiliwatu bukan resor yang ingin mengesankan sejak pandangan pertama. Ia lebih tertarik pada kesan yang tinggal lebih lama—perasaan yang baru terasa setelah koper diletakkan, ponsel dibiarkan di meja, dan napas mulai melambat.

Arsitektur yang Tidak Mendominasi

Bangunan-bangunan di Hiliwatu tidak saling berlomba untuk terlihat. Mereka tersebar mengikuti kontur perbukitan, seolah sudah ada di sana jauh sebelum tamu datang. Kayu lokal, batu, ruang terbuka, dan cahaya alami menjadi bahasa utama. Tidak ada sudut yang berteriak “lihat saya”; yang ada adalah ruang yang mengajak tinggal lebih lama.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Lobi setinggi 24 meter bukan dimaksudkan untuk membuat orang kagum, melainkan untuk menurunkan tempo. Air mengalir dari kolam bertingkat, menandai transisi—dari luar ke dalam, dari ramai ke hening. Di sekitarnya, spa, ruang makan, dan sebuah kapel terbuka saling terhubung, terinspirasi oleh Rwa Bhineda: keseimbangan antara dua hal yang tampak berlawanan, namun justru saling menguatkan.

Di sinilah Hiliwatu menemukan karakternya. Bukan pada bentuk, tetapi pada rasa.

Bacaan Kekinian: AI Jadi Asisten, Kamu Jadi Bos

Jurnalisme 2026: Ketika Mesin Tak Percaya, Manusia Tak Sabar

0
Oleh Burhan Abe

Ada satu ironi besar dalam dunia jurnalisme hari ini: semua orang butuh berita, tapi makin sedikit yang percaya pada media. Laporan Journalism and Technology Trends and Predictions 2026 dari Reuters Institute for the Study of Journalism membuka tahun ini dengan nada yang jujur—bahkan agak muram.

Hanya 38 persen pimpinan media global yang optimistis pada masa depan jurnalisme. Angka ini bukan sekadar statistik; ini alarm keras yang berbunyi di ruang redaksi seluruh dunia.

Bisnis Kecil, Branding Besar: Rahasia UMKM Sukses di Era Digital, Tanpa Modal Besar

Yang menarik, para pemimpin media itu justru lebih percaya pada bisnis medianya sendiri ketimbang pada jurnalisme sebagai institusi. Seolah-olah mereka berkata: perusahaannya mungkin selamat, tapi misinya belum tentu. Dan saya paham kenapa.

Media Tak Lagi Jadi Gerbang

Dulu, jurnalisme adalah gerbang. Politisi masuk lewat media. Pebisnis butuh media. Publik bergantung pada media. Sekarang? Gerbangnya jebol dari segala arah.

Politisi memilih podcast yang ramah, YouTube yang jinak, dan influencer yang tidak banyak bertanya. Laporan Reuters menyebut ini sebagai “playbook Trump 2.0”—model komunikasi langsung yang melewati media, sambil sesekali menuding media sebagai “fake news” jika tidak sejalan .

The Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Di sisi lain, publik—terutama yang muda—tidak sabar. Mereka tidak mau membaca panjang, tidak mau klik banyak, dan tidak mau menunggu verifikasi. Mereka ingin jawaban, sekarang juga. Dan di sinilah AI masuk sebagai solusi yang sekaligus masalah.

Ketika Google Berhenti Mengirim Tamu

Salah satu temuan paling mengganggu dalam laporan ini adalah prediksi bahwa trafik dari mesin pencari akan turun lebih dari 40 persen dalam tiga tahun ke depan. Bukan karena berita tidak penting, tapi karena berita tidak lagi dikunjungi.

Google kini bukan sekadar mesin pencari. Ia berubah menjadi mesin penjawab. AI Overviews menyajikan ringkasan langsung di layar. Pengguna puas. Media kehilangan klik.

Mesin Uang AliExpress: Cara Mencetak Dolar Lewat Dropshipping

Eri Maldives Kembali Dibuka: Eco-Chic Tanpa Basa-Basi, Mewah Tanpa Ribet

0

Barefoot luxury, tapi dengan isi. Bukan sekadar liburan—ini soal cara hidup.

Maladewa tak pernah kekurangan resor cantik. Tapi Eri Maldives datang dengan pendekatan berbeda: lebih tenang, lebih sadar, dan jauh dari kemewahan yang sok pamer. Setelah menjalani rebranding dan renovasi menyeluruh, resor pulau ini resmi dibuka kembali—membawa satu pesan sederhana tapi serius: eco-chic yang otentik, bukan kosmetik.

Terletak di North Malé Atoll, Eri adalah pulau alami dengan house reef yang hidup, pantai bersih tanpa drama, dan filosofi barefoot luxury yang dijalani, bukan dijual. Di sini, kemewahan tidak berteriak. Ia berbisik—pelan tapi dalam.

Start Small, Scale Big: Strategi Praktis Membangun Startup Tanpa Drama

Datang Mudah, Pergi Berat

Eri bisa dicapai lewat speedboat 45 menit dari Bandara Internasional Velana. Kalau ingin versi “opening scene film arthouse”, ambil seaplane 15 menit dengan panorama Malé Atoll dari atas. Begitu tiba, ritmenya langsung turun. Tidak ada dorongan untuk sibuk. Tidak ada tuntutan untuk terlihat keren. Ironisnya, justru itu yang bikin tempat ini keren.

Keluar vila, Anda langsung menginjak pasir. Melangkah sedikit lagi, terumbu karang sudah menunggu. Ikan-ikan warna-warni berlalu-lalang seperti ini rumah mereka—karena memang iya.

UMKM Naik Kelas: Cara Sederhana Go Digital dan Cuan Maksimal

The Island of Becoming

Eri menyebut dirinya “The Island of Becoming.” Kedengarannya filosofis, tapi masuk akal setelah Anda menjalaninya. Ini bukan resor yang memaksa Anda doing things. Ini resor yang memberi ruang untuk being.

Budaya Maladewa hadir lewat seni, musik, tarian, dan makanan—bukan sebagai atraksi, tapi bagian dari keseharian. Wellness di sini bukan jargon spa brosur; ia menyatu dengan tempo pulau, dengan cara Anda bernapas, makan, dan tidur. Pelan. Penuh. Tanpa FOMO.

Rahasia Sukses UMKM Jaman Now: Strategi Branding & Digital Marketing untuk UMKM

Hennessy Menyambut Tahun Kuda dengan Koleksi Edisi Terbatas yang Sarat Energi dan Karakter

0

Ada merek yang merayakan Tahun Baru Imlek sekadar dengan mengganti kemasan. Ada pula yang menjadikannya pernyataan sikap. Hennessy jelas memilih yang kedua.

Menyambut Tahun Kuda 2026, Maison cognac legendaris ini meluncurkan koleksi edisi terbatas Hennessy V.S.O.P dan Hennessy X.O, dengan desain yang bukan hanya estetis, tetapi juga sarat makna—tentang energi, kebebasan, dan dorongan untuk terus bergerak maju.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Diluncurkan di Jakarta pada 8 Januari 2026, edisi ini menampilkan interpretasi kuda yang dinamis dalam balutan nuansa tembaga metalik, pigmen mineral kaya, dan palet merah yang mengalir. Sosok kuda yang berlari tak digambarkan secara statis, melainkan seolah menembus permukaan botol—kuat, elegan, dan penuh momentum. Ini bukan sekadar visual, melainkan metafora: tentang kecepatan zaman dan keberanian untuk tidak tertinggal.

Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Terinspirasi dari filosofi Timur yang memandang perspektif dan energi sebagai sesuatu yang cair, desain ini bermain dengan bentuk pahatan dan ruang terbuka. Setiap sudut botol menawarkan tafsir berbeda, mengajak peminumnya terlibat secara personal. Sama seperti karakter Hennessy itu sendiri—berlapis, kompleks, dan terus berevolusi.

Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Jakarta

Musim Baru di Amanpulo

0

Ketika Angin Amihan Kembali, dan Gaya Hidup Bergerak Lebih Tenang

Ada tempat yang tak perlu berisik untuk terlihat berkelas. Amanpulo adalah salah satunya. Memasuki awal 2026—musim terbaik untuk mengunjungi Filipina—pulau privat Amanpulo di Pamalican Island kembali menemukan momentumnya.

Langit cerah, suhu bersahabat, dan angin Amihan yang legendaris berembus stabil, membawa serta musim kitesurfing dan rangkaian pembaruan yang terasa presisi, bukan sensasional. Di sini, kemewahan tak pernah berteriak. Ia berbicara pelan, tapi jelas.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

Terletak di gugusan Cuyo Archipelago, Amanpulo berdiri seperti permata biru kehijauan di tengah lautan yang lebih gelap. Terumbu karang mengelilinginya, airnya jernih nyaris tak masuk akal, dan jarak—secara fisik maupun mental—menjadi kemewahan utama yang ditawarkan.

Masuk ke Mode Pulau

Satu-satunya akses ke Amanpulo adalah pesawat privat bermesin ganda milik Aman. Sebuah penyaring alami dari dunia luar. Begitu mendarat, ritmenya langsung turun satu tingkat: vila-vila yang berjauhan, hamparan pasir putih tanpa jejak kaki, dan penyu sisik yang berenang santai di garis pantai—seolah ini memang wilayah mereka, dan kita hanya numpang lewat.

Privasi di Amanpulo bukan konsep. Ia sistem.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Grand Beach Pool Casita

Musim ini, Amanpulo memperkenalkan Grand Beach Pool Casita, akomodasi paling intim sekaligus paling statement di pulau ini. Terletak di sisi tenggara yang lebih tenang, casita seluas 257 meter persegi ini menyatu dengan taman tropis dan memiliki akses langsung ke pantai—tanpa perantara, tanpa distraksi.

Interiornya menampilkan kayu bernuansa Filipina modern, langit-langit tinggi dengan balok terbuka, serta jendela besar dari lantai ke plafon yang menghadap matahari terbit di atas laguna dan terumbu karang biru terang.

Bacaan Kekinian: AI Jadi Asisten, Kamu Jadi Bos

Tempat Nongkrong Baru Buat Orang yang Nggak Cuma Mau Liburan

0

Seminyak itu keras. Panas, cepat, penuh distraksi. Kalau lo ke sini cuma buat tidur dan sarapan hotel, lo salah main. Masuklah ke KLEO Seminyak—hotel butik JdV by Hyatt pertama di Asia Tenggara—yang posisinya jelas: bukan sekadar tempat menginap, tapi markas sosial.

Di sini, tamu bukan cuma check-in. Mereka ikut hidup. Dengan desain mid-century modern yang ketemu seni Bali tradisional dan kontemporer, KLEO terasa seperti tempat nongkrong orang-orang yang sadar gaya, peduli tubuh, dan masih mau ngobrol beneran—bukan cuma scrolling.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Kamis Seni, Jumat Basah, Sabtu Sadar

Agenda mingguannya padat, tapi santai. Kayak hidup yang ideal.

Kamis sore, lo bisa pilih: Batik Painting (iya, seni warisan UNESCO—bukan gimmick) atau Rudraksha Bracelet Making, gelang simbol kejernihan dan proteksi. Kedengarannya spiritual? Iya. Efeknya? Bikin kepala lebih waras.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Jumat, waktunya main air. Aquarobics di rooftop—low impact, high resistance, high fun. Dengan kursi dan payung kuning buttercup, ini bukan olahraga sok serius. Ini cardio sambil ketawa.

Sabtu pagi, tempo diturunin. Yoga & Balance, angin Seminyak, langit terbuka, kadang suara upacara dari pura kejauhan. Habis itu? Glutes & Core training di gym. Karena keseimbangan hidup tetap butuh fondasi fisik.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

KLEO Seminyak: Ruang Sosial Baru di Jantung Seminyak

0

Di Seminyak, hotel tak lagi sekadar tempat singgah. Ia menjadi ruang hidup—tempat ide, tubuh, dan komunitas saling berpapasan. KLEO Seminyak, debut jenama JdV by Hyatt di Asia Tenggara, memahami perubahan itu dengan sangat sadar.

Alih-alih menjual kemewahan yang berjarak, KLEO justru menawarkan sesuatu yang lebih relevan: kebersamaan yang dirancang dengan selera. Melalui rangkaian program mingguan yang memadukan workshop kreatif, social fitness, dan wellness ringan, hotel butik ini membuka diri bukan hanya untuk tamu yang menginap, tetapi juga masyarakat lokal yang ingin merasakan ritme hidup Seminyak dari dalam.

Bali Pocket Guide: Hotels, Culture, Eats and Secret Spots

Dengan desain mid-century modern yang bersih namun hangat—diperkaya sentuhan seni Bali tradisional dan kontemporer—area komunal KLEO terasa mengundang tanpa dibuat-buat. Dari rooftop hingga ruang publiknya, hotel ini secara alami mendorong orang untuk berbaur, berbagi cerita, dan mungkin mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Dari Batik hingga Aquarobics

Setiap Kamis sore, KLEO menghadirkan sesi Batik Painting atau Rudraksha Bracelet Making secara bergantian. Satu minggu mengeksplorasi seni batik Indonesia yang telah diakui UNESCO; minggu berikutnya merangkai gelang rudraksha—simbol kejernihan dan kesejahteraan. Aktivitas yang santai, personal, dan terasa tepat di tengah hiruk-pikuk Seminyak.

Hari Jumat bergeser ke mode yang lebih dinamis lewat Aquarobics di rooftop pool. Latihan berdampak rendah namun penuh energi ini berlangsung di bawah payung kuning buttercup yang ikonik—sebuah detail visual yang seolah mengingatkan bahwa wellness tak harus selalu serius.

Jakarta After Dark: City of Sins and Dreams

Si Paling Tahu

0
Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob

Di setiap lingkar pertemanan—dan hampir pasti di setiap kantor—selalu ada satu sosok spesial: si paling tahu. Dia bukan cuma update berita, tapi juga update meme, gosip seleb, tren LinkedIn, sampai isu geopolitik yang baru nongol lima menit lalu. Dan ajaibnya, semua itu “gue udah tau dari lama.”

Begitu ada orang lain mulai cerita, refleksnya cepat: dipotong. Lalu disambung dengan, “Oh iya, itu kayak temen gue…” atau “Sepupu gue kemarin juga ngalamin hal yang sama.” Bukan buat nambah diskusi, tapi buat satu pesan jelas: gue lebih dulu di sini.

Versi Kantoran: Lebih Berbahaya

Di kantor, tipe ini naik level. Dia selalu paling update soal tren industri, paling kenal “orang dalam”, paling ngerti isu panas. Setiap meeting terasa seperti TED Talk dadakan—versi tanpa undangan.

Cuan dari Rumah: 5 Bisnis Digital yang Bisa Kamu Mulai Hari Ini

Orang lain baru buka mulut, dia sudah menyela, menebak, lalu menjelaskan panjang lebar. Ironisnya, sering kali yang diulang adalah hal yang sebenarnya sudah dipahami semua orang. Tapi ya itu: panggung harus tetap milik dia.

Padahal, bisa jadi dia memang kompeten. Masalahnya bukan di otak, tapi di ego mic-nya. Cara penyampaiannya membuat orang malas mendengar, bahkan sebelum dia selesai bicara.

Di Balik Percaya Diri, Ada Rasa Takut

Yang jarang disadari: banyak “si paling tahu” sebenarnya digerakkan oleh kecemasan. Takut tidak dianggap. Takut terlihat biasa. Takut tidak relevan.

Ini sering terjadi pada mereka yang lama berada di posisi minoritas—entah karena latar belakang, status, atau pengalaman—lalu merasa harus selalu membuktikan diri. Apalagi di budaya kerja yang lebih menghargai siapa yang paling lantang bicara ketimbang siapa yang idenya paling tajam.

Seri Digital: Algoritma Bukan Musuhmu

Akhirnya, yang dipoles bukan lagi substansi, tapi performa. Yang penting kelihatan pintar—soal benar atau tidak, belakangan.

Jadi, Destruktif atau Tidak?

Jawabannya: iya, kalau dibiarkan.

Satu orang mendominasi, yang lain otomatis mengerem. Tim yang pemalu makin memilih diam. Anak buah ogah lempar ide karena tahu bakal dipotong. Meeting berubah jadi monolog. Inovasi? Mati gaya.

Rahasia Main Threads: Modal Jempol, Panen Rupiah

Bulan Madu di Saudi: Romansa Kelas Sultan, Sensasi Kelas Dunia

0

Lupakan sejenak Bali, Maldives, atau Paris yang itu-itu saja. Untuk pasangan Indonesia yang ingin bulan madu naik level—lebih bold, lebih eksotis, lebih “nggak semua orang pernah”—Saudi Arabia kini tampil sebagai destinasi baru yang diam-diam menggoda. Bayangkan romansa di tepi Saudi Red Sea, malam privat di gurun berhiaskan bintang, hingga city escape futuristik dengan standar kemewahan kelas sultan. Ini bukan bulan madu biasa. Ini statement.

Bulan madu adalah momen sakral sekaligus sensual: waktu untuk menyatu, melambat, dan menikmati dunia berdua tanpa distraksi. Dan Saudi, dengan segala transformasinya, menawarkan kombinasi yang jarang ada—privasi ekstrem, kemewahan serius, dan sentuhan spiritual yang bikin perjalanan terasa lebih “berisi”, bukan sekadar pamer foto.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

(Source: Saudi Tourism Authority)

Saudi: Permata Baru untuk Pasangan yang Berani Beda

Saudi bukan destinasi mainstream—dan justru di situlah daya tariknya. Negara ini menyimpan lanskap dramatis yang terasa sinematik: laut sebening kristal, gurun luas yang sunyi tapi seksi, hingga kota modern yang hidup 24 jam. Romansa di sini terasa dewasa, tenang, dan eksklusif. Cocok untuk pasangan yang tahu apa yang mereka mau—dan tidak perlu validasi publik.

Perjalanan di Saudi bukan soal ke mana kamu pergi, tapi bagaimana rasanya saat kamu di sana. Intim. Private. Berkelas.

Sunset di Corniche, Pelarian Rahasia di AlUla

Untuk pasangan pencinta laut, Saudi Red Sea adalah kejutan yang menyenangkan. Di Corniche Jeddah, matahari terbenam terasa dramatis—langit memerah, angin laut lembut, dan vibe romantis tanpa keramaian turis.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Rayakan Akhir Tahun di Surga

0

Pesta Natal & Tahun Baru Paling Stylish di Mulia Bali

Kalau liburan akhir tahun identik dengan keramaian, Mulia Bali memilih jalur lain: elegan, penuh gaya, dan tetap fun. Bertempat di garis pantai Nusa Dua yang ikonik, The Mulia, Mulia Resort & Villas mengemas Natal dan Tahun Baru sebagai pengalaman lifestyle kelas atas—di mana makan enak, pesta serius, dan quality time berjalan beriringan tanpa drama.

Singkatnya: ini bukan liburan biasa. Ini liburan versi upgrade.

Natal: Saat Meja Makan Jadi Pusat Segalanya

Natal di Mulia Bali dimulai—dan jujur saja, dimenangkan—di meja makan. Selama Christmas Eve dan Christmas Day, restoran-restoran andalan Mulia tampil all-out.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

The Café menyajikan buffet internasional dengan comfort food lintas negara. Soleil menggabungkan Mediterania dan Pan-Asian dengan bonus pemandangan laut yang bikin lupa waktu. Table8 tetap setia pada Cantonese fine dining dan dim sum autentik, sementara Edogin menghidupkan suasana lewat teppanyaki buffet dan menu Jepang yang solid.

Sentuhan Natal terasa di seluruh area resort: Christmas Day brunch di Soleil, dessert festif dari Cannelé, hingga choir performance yang bikin suasana hangat tanpa jadi cheesy. Untuk tamu yang datang bersama keluarga, Santa Corner siap jadi spot wajib foto—karena liburan tetap perlu bukti visual.

Cuan dari Rumah: 5 Bisnis Digital yang Bisa Kamu Mulai Hari Ini

Buat yang ingin merayakan di luar resort, Mulia Bali juga menyiapkan Christmas Hampers (tersedia mulai 25 November) dan Festive Takeaways sepanjang Desember. Isinya? Gourmet food, pastry artisan, dan minuman musiman. Cocok buat hadiah—atau buat pamer selera.

Liburan Keluarga, Tapi Tetap Keren

Mulia Bali paham satu hal penting: liburan keluarga tak harus membosankan. Anak-anak dimanjakan lewat rangkaian aktivitas kreatif, workshop tematik, dan dekorasi festif yang playful. Orang dewasa? Tenang. Live music di ZJ’s Island, performance spesial, dan vibe santai resort tetap terjaga.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI