Home Blog

Tui Blue Berawa

0

Where Wellness, Sport and Social Energy Meet

Di tengah geliat Berawa yang semakin dikenal sebagai salah satu kawasan paling dinamis di Bali, Tui Blue Berawa hadir membawa pendekatan baru dalam pengalaman menginap. Bukan sekadar hotel, properti ini dirancang sebagai lifestyle destination yang memadukan kenyamanan, wellness, olahraga, dan koneksi sosial dalam satu ekosistem yang hidup.

Sebagai satu-satunya properti Tui Blue di Indonesia, hotel ini menggabungkan sentuhan butik yang intim dengan standar layanan internasional. Hasilnya adalah sebuah tempat yang terasa modern, energik, namun tetap hangat dan mudah diakses oleh para pelancong masa kini.

The AI Edge: Cara Tetap Relevan di Era Mesin Pintar

Berlokasi di jantung Berawa, Tui Blue Berawa menawarkan 121 kamar bergaya kontemporer dan 24 private pool villa yang dirancang untuk mereka yang ingin menikmati Bali lebih dari sekadar destinasi liburan. Setiap sudut hotel mencerminkan semangat lifestyle modern, di mana wellness, pengalaman lokal, dan komunitas bertemu secara alami. Mulai dari sesi spa dan kebugaran hingga ruang-ruang sosial yang dirancang untuk berinteraksi, seluruh pengalaman dihadirkan untuk membantu tamu terhubung lebih dekat dengan ritme Bali yang autentik.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Nilai lebih lainnya datang dari lokasinya yang terintegrasi dengan The Luc, sebuah lifestyle complex yang menjadi rumah bagi berbagai aktivitas, kuliner, dan komunitas kreatif. Di sini, tamu dapat dengan mudah berpindah dari sesi olahraga pagi, menikmati brunch santai, hingga menghabiskan sore bersama teman tanpa harus meninggalkan kawasan.

Salah satu tambahan terbaru yang memperkuat ekosistem ini adalah hadirnya Holywings Padel Club di The Luc. Dibuka pada April lalu, fasilitas ini menghadirkan energi baru bagi para pencinta olahraga dan wellness. Dengan empat lapangan padel berstandar internasional, area latihan khusus, serta program coaching yang dipandu pelatih profesional dari Spanyol, tempat ini menjadi salah satu destinasi baru bagi komunitas padel yang berkembang pesat di Bali.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

Wine Terbaik Italia Hadir di Bali

0

Bali kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu destinasi gaya hidup paling dinamis di Asia. Pada 18 Mei 2026, pulau yang dikenal dengan perpaduan budaya, kuliner, dan hospitality kelas dunia ini akan menjadi tuan rumah salah satu perhelatan wine paling bergengsi dari Italia.

Gambero Rosso, otoritas terkemuka dalam dunia makanan dan wine Italia, membawa tur internasionalnya ke Paradisus by Meliá Bali, menghadirkan deretan wine terbaik dari sejumlah produsen ternama Italia dalam sebuah pengalaman yang dirancang untuk para pecinta kuliner, kolektor, pelaku industri, hingga mereka yang sekadar ingin mengenal dunia wine lebih dalam.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Di tengah suasana tropis Nusa Dua yang elegan, para tamu akan diajak menjelajahi keragaman karakter wine Italia melalui sesi walkaround tasting yang menampilkan berbagai label pilihan dari sejumlah wilayah penghasil wine terbaik di negara tersebut. Mulai dari kawasan pegunungan di utara hingga kebun anggur yang bermandikan matahari di Sicilia, setiap botol membawa cerita tentang tradisi, terroir, dan keahlian yang telah diwariskan lintas generasi.

Kehadiran acara ini sekaligus mencerminkan semakin besarnya perhatian industri wine global terhadap Indonesia, khususnya Bali. Seiring meningkatnya jumlah wisatawan internasional dan berkembangnya budaya bersantap yang semakin sophisticated, Bali dinilai memiliki potensi besar sebagai pasar sekaligus destinasi bagi pengalaman gastronomi kelas dunia.

“Wine tidak mengenal batas,” ujar Giuseppe Carrus, salah satu kritikus wine paling berpengaruh di Italia sekaligus kontributor panduan Vini d’Italia. Menurutnya, Bali menjadi salah satu destinasi yang semakin menarik perhatian para produsen Italia berkat kombinasi wisatawan global, berkembangnya industri kuliner, serta meningkatnya minat masyarakat terhadap pengalaman food and beverage yang lebih beragam.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Selain sesi pencicipan, Carrus juga akan memimpin tiga masterclass eksklusif yang mengajak peserta memahami lebih dalam kekayaan dunia wine Italia. Mulai dari karakteristik berbagai varietas anggur lokal hingga filosofi di balik setiap wilayah penghasil wine, sesi ini menawarkan perspektif yang lebih mendalam bagi siapa saja yang ingin meningkatkan apresiasi mereka terhadap wine.

Tak hanya soal wine, acara ini juga menjadi perayaan budaya kuliner Italia secara lebih luas melalui pengumuman penghargaan Top Italian Restaurants. Penghargaan tersebut diberikan kepada restoran-restoran terbaik yang berhasil menghadirkan pengalaman bersantap Italia autentik, baik melalui konsep pizzeria kasual maupun fine dining berkelas.

Di saat Bali terus berkembang menjadi destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam tetapi juga pengalaman gastronomi yang semakin matang, kehadiran Gambero Rosso menjadi bukti bahwa pulau ini kini berada dalam radar para pelaku industri makanan dan wine dunia.

The Luxury of Space: Perjalanan Mewah Menjelajah Indonesia

The Spirit of Summer 2026

0

Liburan Kelas Dunia Ala Aman, dari Berenang Bareng Whale Shark hingga Menjelajah Pegunungan Dolomites

Kalau musim panas identik dengan petualangan, relaksasi, dan pengalaman yang sulit dilupakan, maka koleksi destinasi Aman tahun 2026 ini bisa jadi definisi sempurnanya.

Jaringan resort mewah yang dikenal dengan lokasi-lokasi spektakuler di berbagai penjuru dunia itu menghadirkan sederet pengalaman musim panas yang dirancang untuk para traveler yang ingin lebih dari sekadar liburan biasa. Mulai dari terapi air di gurun Utah, island hopping di Venesia, hingga berenang bersama whale shark di Indonesia.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Berikut beberapa destinasi Aman yang paling menarik untuk masuk daftar perjalanan musim panas tahun ini.

Menyatu dengan Alam Gurun di Utah

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Di tengah lanskap dramatis Canyon Country, Utah, Amerika Serikat, Amangiri menawarkan pengalaman wellness yang jauh dari kata biasa.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

The Rooster in Flame

0

Tamba by Junsei Memulai Babak Baru Lewat “The Rooster in Flame”

Di Bali, restoran baru bermunculan nyaris setiap minggu. Namun hanya sedikit yang benar-benar punya identitas cukup kuat untuk menciptakan semacam “scene” baru. Junsei tampaknya sedang menuju ke arah sana.

Belum genap sebulan sejak hadir di Sanur, Junsei mulai memperluas dirinya melampaui format yakitori izakaya konvensional lewat The Rooster in Flame—sebuah takeover satu malam di Night Rooster pada 29 Mei mendatang. Bukan sekadar dinner collaboration biasa, acara ini terasa seperti preview menuju fase berikutnya dari Junsei dan alter ego barunya: Tamba.

The AI Edge: Cara Tetap Relevan di Era Mesin Pintar

Jika Junsei dibangun lewat energi api, arang binchōtan, dan ritme izakaya modern Jepang, maka Tamba bergerak di sisi yang lebih subtil. Di siang hari, ia hidup sebagai tearoom yang tenang; saat malam turun, ruang tersebut berubah menjadi vinyl-led listening bar dengan atmosfer yang lebih lambat, sensual, dan immersive.

Semacam tempat yang membuat orang datang bukan hanya untuk makan—tetapi untuk tenggelam dalam mood.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Di balik konsep ini adalah Aman Lakhiani, sosok yang membayangkan Tamba sebagai “perpanjangan” dari Junsei, namun dengan frekuensi berbeda. Bila Junsei berbicara tentang tekstur, panas, dan energi, Tamba justru mengeksplorasi lapisan rasa, musik, teh, koktail, dan ambience dalam satu pengalaman yang bergerak perlahan sepanjang malam.

Untuk The Rooster in Flame, Junsei menghadirkan pengalaman set menu eksklusif dengan kapasitas hanya 10 kursi dari pukul 18.00 hingga 20.00, sebelum malam berlanjut dengan pilihan à la carte dan koktail signature.

Menu yang ditawarkan merepresentasikan pendekatan Junsei terhadap masakan Jepang modern: presisi teknik, keseimbangan rasa, dan penggunaan bahan lokal premium yang diterjemahkan lewat sensibilitas Jepang. Ada Crab Croquette dengan brown crab dan caviar, Snapper Crudo dengan citrus soy, hingga deretan yakitori panggang seperti Seseri, Hatsu, Shisomaki, dan Tsukune. Sementara Gyudon dengan onsen egg dan garlic chips hadir seperti comfort food yang dibuat jauh lebih sophisticated.

Namun seperti semua tempat yang mengerti pentingnya atmosfer, cerita sebenarnya mungkin justru ada di balik bar.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

Yacht Luxury Meets Formula 1

Explora Journeys Bikin SailGP Makin Stylish

Di dunia olahraga ekstrem, biasanya yang jadi sorotan adalah kecepatan, teknologi, dan adrenalin. Tapi di Bermuda akhir pekan lalu, ada satu elemen lain yang ikut mencuri perhatian: style.

Brand luxury ocean travel Explora Journeys resmi memperkenalkan identitas visual barunya bersama Swiss SailGP Team dalam ajang Bermuda Sail Grand Prix. Hasilnya? Sebuah F50 catamaran yang tampil seperti perpaduan antara superyacht futuristik dan mobil balap Formula 1.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Kalau biasanya dunia yacht identik dengan suasana santai, champagne, dan sunset deck, kali ini Explora Journeys membawa DNA kemewahan itu langsung ke lintasan balap laut paling brutal di dunia.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Ocean State of Mind, Tapi 100 Km/Jam

Visual baru tim ini terinspirasi dari filosofi “Ocean State of Mind” milik Explora Journeys—konsep tentang koneksi antara manusia, laut, dan pengalaman perjalanan yang lebih mindful. Terdengar zen? Mungkin. Tapi di SailGP, filosofi itu diterjemahkan dalam bentuk kapal karbon super ringan yang bisa melesat di atas 100 km/jam.

Yes, lebih cepat dari beberapa mobil di tol Jakarta tengah malam.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Markette dan Seni Menikmati Malam Tanpa Tergesa

0

Jakarta punya kebiasaan buruk: membuat semua orang terburu-buru.

Kota ini bergerak cepat, berbicara cepat, bahkan terkadang meminum malam terlalu cepat. Orang datang ke sebuah tempat dengan agenda yang sudah padat di kepala—meeting berikutnya, notifikasi yang belum dibalas, atau sekadar rasa bersalah karena pulang terlalu larut. Akibatnya, banyak yang lupa bahwa salah satu bentuk kemewahan paling sederhana dalam hidup modern adalah kemampuan untuk duduk lebih lama tanpa merasa harus ke mana-mana.

Di tengah ritme itu, Markette menemukan cara baru untuk dibaca.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Selama ini, Markette dikenal sebagai salah satu comfort spot urban yang konsisten. Tempat orang datang untuk menikmati sandwich berlapis tebal, sizzling plate yang masih mendesis saat tiba di meja, atau sekadar mencari sudut nyaman di tengah pusat kota Jakarta.

Sebagai bagian dari ISMAYA Group, Markette sudah lama memahami satu hal penting tentang gaya hidup urban: orang tidak hanya mencari makanan enak. Mereka mencari suasana yang terasa hidup.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Kini, suasana itu diperluas lewat sesuatu yang lebih cair—secara literal maupun atmosfer.

Melalui deretan Cocktail Classics, Markette mulai memperkenalkan sisi lain dirinya: lebih santai, lebih sosial, dan jauh lebih menikmati momen dibanding sekadar mengejar jam makan. Ini bukan transformasi menjadi cocktail bar yang terlalu serius dengan bartender yang sibuk menjelaskan notes dan aroma sampai terdengar seperti presentasi wine tasting.

Justru sebaliknya. Yang ditawarkan Markette adalah pengalaman drinking yang terasa ringan, approachable, dan relevan dengan bagaimana orang Jakarta menikmati malam hari hari ini. Karena tidak semua orang ingin “party”.

Kadang orang hanya ingin duduk lebih lama. Dan Markette memahami itu.

Begitu matahari turun dan lampu-lampu kota mulai mengambil alih cakrawala Jakarta, atmosfer di Markette berubah pelan-pelan. Bukan perubahan dramatis seperti klub malam yang mendadak gelap dan penuh bass. Perubahannya lebih subtil. Musik terasa lebih mellow, obrolan mulai memanjang, dan meja-meja perlahan berubah menjadi tempat singgah setelah hari yang terlalu panjang.

Di sinilah cocktail mengambil perannya.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Phubbing

0

SAAT PONSEL MENJADI ORANG KETIGA DALAM HIDUP KITA

Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob

Dulu, orang panik kalau dompet tertinggal. Sekarang? Yang membuat jantung langsung drop justru ponsel. Dompet masih bisa disiasati: pinjam uang, bayar digital, telepon teman. Tapi kehilangan ponsel terasa seperti kehilangan akses ke dunia—dan, sedikit banyak, kehilangan identitas sosial kita sendiri.

Ponsel telah berubah dari alat komunikasi menjadi ekstensi tubuh modern. Ia menyimpan percakapan, pekerjaan, hiburan, relasi, bahkan validasi sosial. Kita bangun dan mengeceknya sebelum menyapa siapa pun. Kita tidur dengan benda itu di samping kepala, seperti pasangan yang tak pernah benar-benar pergi.

Bisnis Kecil, Branding Besar: Rahasia UMKM Sukses di Era Digital, Tanpa Modal Besar

Masalahnya, benda yang membuat kita selalu terkoneksi itu diam-diam juga menciptakan jarak baru. Bukan jarak geografis. Jarak emosional.

Bayangkan seorang anak sedang bercerita antusias tentang harinya di sekolah. Sang ibu mendengarkan—setengah hadir—hingga notifikasi kecil muncul di layar. Sekilas saja. Balas cepat. Tidak sampai semenit. Tapi sesuatu berubah. Energi si anak turun. Kalimatnya memendek. Ceritanya kehilangan panggung.

Tak ada bentakan. Tak ada drama. Namun perhatian telah berpindah tangan. Itulah phubbing—phone snubbing—momen ketika seseorang di depan mata tiba-tiba kalah penting dibanding layar lima inci di tangan kita.

Mesin Uang AliExpress: Cara Mencetak Dolar Lewat Dropshipping

Fenomena ini begitu umum sampai nyaris terasa normal. Di restoran, pasangan duduk berhadapan sambil scrolling masing-masing. Di ruang rapat, ponsel diletakkan di atas meja seperti simbol kekuasaan diam-diam. Bahkan dalam percakapan intim, selalu ada kemungkinan interupsi digital yang lebih “mendesak”.

Ironisnya, kehadiran ponsel bahkan tak perlu aktif untuk mengganggu. Cukup ada.

Sejumlah penelitian dari University of Chicago menunjukkan bahwa hanya dengan meletakkan ponsel di atas meja—meski dalam mode senyap—kapasitas kognitif manusia sudah menurun. Otak kita diam-diam mengalokasikan energi untuk menahan diri agar tidak mengecek layar. Seperti gravitasi kecil yang terus menarik perhatian. Kita mengira sedang fokus. Padahal sebagian pikiran sudah tersandera.

Behind The Stage: Bisnis Gila Dunia Showbiz Musik Indonesia

Maha Beer Garden

0

Seni Menikmati Canggu Tanpa Tergesa

Canggu selalu punya cara unik untuk membuat orang lupa waktu. Sore yang awalnya dimulai dengan “sebentar saja” sering berakhir lewat tengah malam, diiringi meja penuh gelas kosong, tawa yang makin keras, dan keputusan impulsif untuk menambah satu ronde lagi.

Di tengah lanskap Bali yang semakin dipenuhi venue ambisius dengan estetika terlalu serius, Maha Resort menghadirkan sesuatu yang justru terasa lebih relevan: Maha Beer Garden — tempat yang tidak mencoba terlalu keras untuk terlihat keren, karena ia memang sudah punya energinya sendiri.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Beer garden ini bermain di wilayah yang sangat disukai generasi urban hari ini: comfort food yang dieksekusi serius, alkohol yang mengalir tanpa drama, dan suasana sosial yang bergerak natural dari siang menuju malam.

Ruangnya terbuka. Tropis. Hidup tanpa terasa berisik. Ada keseimbangan yang sulit dijelaskan tetapi langsung terasa begitu masuk. Tempat seperti ini biasanya berhasil bukan karena desain interiornya, melainkan karena chemistry-nya. Dan Maha Beer Garden tampaknya mengerti itu.

Sore hari menjadi momen terbaiknya. Matahari Canggu mulai turun perlahan, udara Bali kehilangan panas agresifnya, lalu meja-meja mulai terisi. Bukan crowd yang datang untuk sekadar foto lalu pergi, tetapi orang-orang yang memang ingin duduk lama. Ada pasangan yang berbagi cocktail, grup kecil dengan pitcher beer di tengah meja, hingga tamu yang terlihat baru selesai surfing dan memutuskan hari mereka belum selesai.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Menu makanannya mengikuti mood tersebut: bold, indulgent, dan dibuat untuk dinikmati bersama.

Smoked BBQ pork ribs dan brisket menjadi tulang punggung karakternya — dimasak low and slow hingga menghasilkan rasa smokey yang dalam dan tekstur yang nyaris runtuh begitu disentuh. Lalu ada Korean fried chicken dengan glaze gochujang yang lengket, manis, pedas, dan sangat berbahaya untuk sharing karena hampir pasti habis terlalu cepat.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

SubSavers

0

Subway Punya Cara Baru Menikmati “Budget Lunch” Tanpa Terasa Murahan

Di tengah harga makan siang yang makin sering bikin dompet refleks tarik napas panjang, Subway menghadirkan sesuatu yang terasa relevan untuk ritme urban saat ini: makan cepat, tetap fresh, tapi tidak membuat pengeluaran harian membengkak.

Lewat program terbaru bernama SubSavers, Subway Indonesia memperkenalkan paket sandwich hemat yang terasa seperti jawaban untuk generasi yang ingin semuanya praktis — tanpa mengorbankan rasa maupun lifestyle.

Bacaan Kekinian: AI Jadi Asisten, Kamu Jadi Bos

Dengan harga Rp39.000, pelanggan sudah mendapatkan satu sandwich 6-inch pilihan lengkap dengan minuman. Simple, straightforward, dan cukup masuk akal untuk jadi opsi lunch meeting santai, quick bite di sela kerja, atau bahkan comfort food setelah commuting Jakarta yang tidak pernah benar-benar santai.

Bikin E-Course Berbasis AI: Script, Voice Over, dan Materi Dibantu AI, Siap Jual

Yang menarik, pilihan menunya dibuat cukup playful untuk berbagai mood makan siang. Ada Chick ‘N Chick untuk yang ingin sesuatu yang familiar dan gurih, Pepperoni & Cheese yang lebih bold, Cheesy Egg Mayo yang creamy dan comforting, sampai Chick ‘N Tuna untuk yang mencari rasa lebih ringan.

Pelanggan juga tetap bisa memilih jenis roti favorit mereka — Italian White atau Wheat Bread — detail kecil yang sebenarnya penting di era ketika personal preference sudah jadi bagian dari pengalaman makan itu sendiri.

Jadi Clipper Penghasil Cuan dengan AI Gratis: Ini Tutorialnya

Lebih dari sekadar promo harga, SubSavers terasa seperti langkah Subway membaca perubahan gaya hidup urban: orang ingin makan lebih cepat, lebih fleksibel, tetapi tetap punya sensasi “treat” kecil di tengah hari yang padat.

Menu ini sudah tersedia di seluruh restoran Subway Indonesia (kecuali area bandara), baik untuk dine-in maupun takeaway. Cocok untuk pekerja kantoran, mahasiswa, sampai mereka yang sekarang hidup dengan kalender penuh meeting dan notifikasi. Karena kadang, kemewahan kecil paling realistis hari ini memang sesederhana: makan enak tanpa harus cek saldo dulu.

E-Book Cashflow Machine: Ubah Ide Sederhana Jadi Mesin Uang Otomatis

Burger Season Has Officially Arrived at Jakarta

0

Di kota yang makin serius soal dining culture, burger hari ini bukan lagi sekadar fast food pengganjal lapar tengah malam. Burger sudah naik kelas — menjadi bagian dari lifestyle, social scene, bahkan kadang lebih fotogenik daripada orang yang memesannya. Dan tahun ini, World Burger Day di Burger & Lobster Jakarta terasa seperti momentum yang tepat untuk merayakan semuanya sekaligus.

Sejak membuka pintunya di Jakarta pada awal 2026, restoran asal London ini nyaris tidak butuh waktu lama untuk menjadi salah satu spot makan paling ramai dibicarakan di ibu kota. Formula mereka sebenarnya sederhana: comfort food yang dibuat dengan standar premium, suasana yang lively tanpa terasa terlalu formal, dan energi khas London dining scene yang terasa modern, social, dan sedikit indulgent.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Untuk merayakan World Burger Day pada 28 Mei mendatang, Burger & Lobster Jakarta menghadirkan promo Buy One, Free One untuk beberapa menu burger pilihan — alasan yang cukup valid untuk membatalkan niat “makan ringan saja malam ini”.

Sorotan utamanya tentu jatuh pada menu terbaru mereka, Smoked BBQ Burger. Ini bukan tipe burger yang mencoba tampil terlalu rumit. Justru kekuatannya ada pada detail yang dibuat serius: double smashed beef patties berbahan Australian beef, lapisan melted cheese yang indulgent, aroma smoky BBQ yang dalam, hingga toasted buns yang lembut namun tetap mampu “menahan” seluruh isi burger tanpa berakhir berantakan di tangan. Hasil akhirnya terasa rich, juicy, dan deeply satisfying — tipe burger yang bikin makan sambil bilang, “satu gigitan lagi” sampai tiba-tiba habis.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Selain Smoked BBQ Burger, ada juga Mayfair Burger yang menjadi interpretasi klasik ala London — lebih timeless, lebih polished, dan tetap jadi favorit banyak tamu. Untuk yang suka sesuatu yang playful, Waffle Chicken Burger menawarkan kombinasi crispy chicken dan waffle yang surprisingly addictive. Sementara Atomic Burger hadir untuk mereka yang percaya hidup terlalu singkat untuk makanan yang tidak pedas.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto