Home Blog

Seni Vietnam Menemukan Panggungnya

0

Ketika Sapa Berbalut Emas

Musim panen mengubah terasering Sapa menjadi lanskap keemasan. Di Hotel de la Coupole, panorama tersebut hadir kembali melalui karya lima seniman kontemporer Vietnam.

Ada masa ketika perjalanan terasa lebih bermakna daripada sekadar berpindah tempat. Di Sapa, Vietnam bagian utara, momen itu datang setiap September, saat sawah terasering perlahan meninggalkan warna hijaunya dan berubah menjadi lapisan emas yang mengikuti lekuk pegunungan.

Tahun ini, lanskap tersebut tidak hanya dapat dinikmati dari jalan setapak, desa-desa, dan Lembah Muong Hoa. Hotel de la Coupole Sapa – MGallery Collection membawanya ke dalam ruang seni melalui pameran bertajuk Upon the Mountain, Down on the Hill.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Berlangsung pada 25 September hingga 25 Oktober 2026, pameran ini mempertemukan 28 karya dari lima seniman kontemporer Vietnam: Pham Thai Binh, Nguyen Ngoc Thanh, Nguyen Quoc Trung, Pham Tra My, dan Pham Thuy Tien.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Bekerja sama dengan Hanoi Studio Gallery, pameran tersebut menyajikan interpretasi tentang gunung, perbukitan, manusia, ingatan, dan emosi. Bentang alam tidak sekadar ditempatkan sebagai latar yang indah, tetapi dibaca sebagai ruang hidup—tempat kenangan menetap dan identitas dibentuk.

Lanskap yang Hidup dalam Ingatan

Kelima seniman membawa latar belakang serta pendekatan artistik yang berlainan. Karya-karya mereka merentang dari seni lukis dan patung hingga teknik lacquer tradisional, lukisan sutra, serta instalasi berskala besar.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Ayana Bali Buka Babak Baru Perhelatan Berskala Besar

0

Grand Ballroom tanpa pilar, panorama laut Jimbaran, serta hampir seribu kamar dalam satu kawasan memperkuat posisi AYANA Bali sebagai destinasi terpadu untuk konferensi, pernikahan, dan perjalanan insentif.

Di atas tebing Jimbaran yang menghadap Samudra Hindia, AYANA Bali memperluas ambisinya sebagai destinasi perhelatan berskala besar. Mulai 1 September 2026, resor terpadu ini mengoperasikan Grand Ballroom terbarunya, sekaligus memperkenalkan rangkaian fasilitas pertemuan dan acara yang telah dikembangkan untuk mengakomodasi kebutuhan konferensi internasional, perjalanan insentif, peluncuran merek, hingga pernikahan dalam skala besar.

Permintaan informasi dan reservasi telah dibuka, dengan minat awal terutama mengarah pada penyelenggaraan acara sepanjang kuartal terakhir 2026 dan tahun 2027.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Grand Ballroom

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Pengembangan tersebut berlangsung di dalam kawasan resor seluas 90 hektare di Jimbaran. Berjarak sekitar 30 menit berkendara dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, AYANA Bali menawarkan suasana yang relatif terpisah dari keramaian pusat pariwisata Bali, tetapi tetap mudah dijangkau oleh tamu domestik maupun internasional.

Satu Destinasi, Beragam Pengalaman

Lebih dari sekadar menambah ruang konferensi, AYANA Bali merancang pengalaman acara dalam satu ekosistem resor. Penyelenggara dapat menghubungkan agenda pertemuan dengan jamuan makan, kegiatan kebugaran, pengalaman budaya, atau resepsi menghadap laut tanpa perlu memindahkan tamu ke lokasi berbeda.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Threads of Asia

0

Ketika Api Ubud Bertemu Presisi Seoul di Meja Makan

Kolaborasi Api Jiwa dan SU MA Jakarta mempertemukan teknik memasak dengan bara jerami, tradisi fermentasi Asia Timur, serta ingatan personal para chef dalam sebuah tasting menu eksklusif di Capella Ubud.

Ada makan malam yang sekadar memuaskan selera. Ada pula yang membuat kita melihat api, fermentasi, dan sepiring makanan sebagai bagian dari perjalanan budaya. Threads of Asia, kolaborasi antara Api Jiwa di Capella Ubud dan SU MA Jakarta, jelas memilih kategori kedua.

Berlangsung pada 28 dan 29 Agustus 2026, kolaborasi tersebut mempertemukan Executive Chef Api Jiwa, Arvie Delvo, dengan Co-Executive Chef SU MA Jakarta, Ryan Kim. Keduanya menyusun tasting menu 10 hidangan yang menjadikan tradisi kuliner Asia sebagai titik berangkat—bukan sebagai benda museum yang harus dipertahankan dalam bentuk beku, melainkan sebagai bahasa yang dapat terus berkembang.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Di meja makan Api Jiwa, pertemuan ini tampil sebagai dialog antara dua pendekatan. Chef Arvie membawa filosofi memasak yang berpusat pada api dan kekayaan bahan lokal Bali. Sementara itu, Chef Ryan menghadirkan presisi teknik, fermentasi, dan sensibilitas kuliner Asia Timur yang berakar pada tradisi Korea dan Tiongkok.

Warisan yang Tidak Berhenti di Masa Lalu

Alih-alih sekadar merekonstruksi resep klasik, kedua chef menggali kisah, ritual, serta keterampilan yang telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Semua itu kemudian diterjemahkan melalui pengalaman personal, perjalanan lintas budaya, dan bahan-bahan regional.

Hasilnya adalah menu yang berbicara mengenai warisan tanpa terjebak nostalgia. Sebab, tradisi yang sehat memang seharusnya bergerak. Ia boleh berubah bentuk, selama tidak kehilangan ingatan.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Ketika Para Chef Berbintang Michelin Menguasai Canggu

0

Regent Bali Canggu mendatangkan sejumlah nama berpengaruh dari London, Bangkok, Kuala Lumpur, dan Singapura. Mereka tidak datang untuk berjemur.

Canggu punya banyak hal yang dapat membuat seseorang menunda penerbangan pulang: ombak, matahari terbenam, pesta hingga dini hari, serta jumlah kedai kopi yang agaknya sudah melampaui kebutuhan biologis manusia.

Namun, dari Agustus hingga November 2026, ada alasan lain untuk tinggal lebih lama. Regent Bali Canggu menghadirkan para chef dari restoran berbintang Michelin lewat The Michelin Master Series, rangkaian jamuan eksklusif di Chef’s Table.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Formatnya intim, kapasitasnya terbatas, dan jarak antara chef dengan tamu dibuat sedekat mungkin. Bukan sekadar makan malam, melainkan kesempatan menyaksikan bagaimana teknik, memori, dan obsesi seorang chef diterjemahkan menjadi sederet hidangan. Singkatnya, ini bukan tempat untuk tergesa-gesa meminta tagihan.

Prancis Datang dari Bangkok

Pada 11 dan 12 September 2026, Chef’s Table Presents akan menyambut Valentin Fouache, Chef de Cuisine Duet by David Toutain di Bangkok.

Fouache tumbuh secara profesional di sejumlah dapur terkemuka Prancis, termasuk Le Chèvre d’Or, Le Chantecler, dan Le Meurin. Riwayat tersebut menjelaskan masakannya: disiplin, presisi, tetapi tidak kehilangan rasa ingin tahu.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Untuk penampilannya di Canggu, Fouache akan membawa interpretasi gastronomi Prancis modern yang bertumpu pada bahan, alam, dan teknik. Tradisi klasik tetap hadir, hanya saja dilepaskan dari kekakuannya dan diberi napas kontemporer.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Hilton Padalarang, Alasan Baru untuk Berhenti di Bandung

0

Terhubung lebih cepat dengan Jakarta lewat Whoosh, Hilton Padalarang Bandung menawarkan 218 kamar, empat destinasi kuliner, spa, kolam air hangat, serta ruang acara yang menghadap lanskap perbukitan. Padalarang kini bukan lagi tempat yang sekadar dilewati.

Ada masa ketika Padalarang hanya dianggap sebagai penanda bahwa Bandung sudah dekat. Tempat untuk melambat sebentar sebelum kembali menghadapi lalu lintas, mencari jalan pintas, atau sekadar memastikan tujuan berikutnya di aplikasi navigasi.

Kereta Cepat Whoosh mengubah percakapan itu. Kini Padalarang menjadi salah satu pintu utama menuju Bandung—dan, seperti lazimnya setiap pintu baru, peluang bisnis segera berdatangan.

The AI Edge: Cara Tetap Relevan di Era Mesin Pintar

Salah satunya datang melalui Hilton Padalarang Bandung, yang resmi beroperasi pada 17 Juli 2026. Berlokasi di Kota Baru Parahyangan, hotel dengan 218 kamar dan suite ini menandai debut Hilton Hotels & Resorts di Bandung Barat. Ia sekaligus menjadi properti ketiga merek utama Hilton tersebut di Indonesia.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Lokasinya jelas menjadi kartu as. Stasiun Kereta Cepat Whoosh Padalarang dapat dicapai dalam waktu sekitar 10 menit, sedangkan pusat Kota Bandung berjarak kurang lebih 30 menit berkendara—tentu dengan catatan lalu lintas sedang tidak punya agenda sendiri.

Kedekatan dengan Jakarta membuat Hilton Padalarang Bandung relevan bagi dua jenis pelancong sekaligus: tamu bisnis yang menghargai efisiensi dan warga urban yang ingin kabur sejenak dari rutinitas. Tidak terlalu jauh, tetapi cukup jauh untuk membuat akhir pekan terasa seperti liburan.

Bandung, tetapi Bukan Bandung yang Itu-Itu Saja

Hilton memilih Kota Baru Parahyangan, kota mandiri yang terus berkembang dengan kawasan hunian, pusat gaya hidup, lapangan golf 18 lubang, tempat berbelanja, serta taman bermain air untuk keluarga.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

The Life of the Tree

0

Di Oliverra, Umana Bali, sembilan koktail membawa perjalanan dari benih hingga kelahiran kembali—dengan rempah, spirit premium, dan pemandangan Samudra Hindia sebagai latarnya.

Ada koktail yang dibuat untuk menyegarkan tenggorokan. Ada pula yang dirancang agar tampak fotogenik di meja bar. Namun di Oliverra, restoran dan bar tepi tebing milik Umana Bali, LXR Hotels & Resorts, koktail terbaru mereka datang dengan ambisi yang sedikit lebih besar: mengajak tamu memikirkan kehidupan.

Koleksi bertajuk The Life of the Tree menerjemahkan perjalanan simbolis sebuah pohon ke dalam sembilan racikan. Ceritanya dimulai dari benih, berlanjut menuju akar, batang, cabang, daun, bunga, dan buah, sebelum tiba pada gugurnya daun serta sebuah permulaan baru.

Terdengar filosofis? Memang. Tetapi untungnya, koleksi ini tidak berubah menjadi kuliah kebudayaan yang kebetulan disajikan dalam gelas.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Di tangan tim bar Oliverra, filosofi Bali Tri Hita Karana—tentang keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam—diterjemahkan melalui spirit berlapis, infusi botanikal, buah tropis, aromatik lokal, serta beragam sirup racikan sendiri. Hasilnya adalah sembilan minuman dengan kepribadian berbeda, tetapi tetap berada dalam satu narasi yang utuh.

“Oliverra sejak awal bukan hanya tentang apa yang tersaji di meja, tetapi tentang bagaimana setiap momen membuat tamu merasa,” ujar Nicolas Kassab, General Manager Umana Bali, LXR Hotels & Resorts.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Menurutnya, The Life of the Tree merefleksikan cara resor tersebut memandang keramahtamahan: berakar pada tempat, dipandu oleh keahlian, dan dibentuk oleh hubungan antarmanusia.

Bermula dari Sebuah Benih

Perjalanan dibuka dengan Namirasa, representasi benih sekaligus bangkitnya pancaindra. Nusa Caña Tropical Island Rum yang diinfusi biji wijen putih panggang dipadukan dengan Nusa Caña Coconut Rum, lychee brine, sirup pandan, citrus segar, dan coconut foam buatan sendiri.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Nuju Uluwatu: Menjelajahi Indonesia dari Selatan Bali

0

Resor khusus dewasa ini merangkai arsitektur, seni, tradisi, wellness, dan cita rasa Nusantara dalam pengalaman menginap yang intim sekaligus kontemporer.

Di Uluwatu, kemewahan tidak selalu datang dengan suara lantang. Terkadang ia hadir melalui selembar batik yang dibuat dengan tangan, tekstur tenun dari Flores, aroma terapi tradisional, atau taman tropis yang memberi ruang untuk berhenti sejenak.

Pendekatan itulah yang ditawarkan Nuju Uluwatu, destinasi khusus dewasa yang kini resmi menyambut tamu di kawasan selatan Bali. Namanya diambil dari kata nuju, yang berarti “menuju”—sebuah gagasan sederhana tentang perjalanan, baik menuju suatu tempat maupun kembali kepada diri sendiri.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Nuju Uluwatu juga bergabung dengan Preferred Hotels & Resorts, jaringan hotel independen global yang menaungi berbagai properti dengan karakter khas dan standar pelayanan premium. Namun, daya tarik utama Nuju bukan sekadar afiliasi internasional tersebut. Identitasnya justru berakar kuat pada Indonesia.

“Nuju diciptakan dengan visi sederhana: merayakan Indonesia melalui hospitality yang penuh perhatian,” ujar Yohanes Barlianto, General Manager Nuju Uluwatu. “Setiap detail dirancang agar tamu dapat mengapresiasi keindahan kerajinan, budaya, dan tradisi Indonesia dalam suasana yang kontemporer, hangat, dan autentik.”

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Indonesia, Tanpa Menjadi Klise

Alih-alih mengambil inspirasi dari satu daerah, Nuju merangkum keberagaman kepulauan Indonesia. Hasilnya bukan semacam museum kebudayaan yang kebetulan menyediakan tempat tidur, melainkan interpretasi modern terhadap arsitektur, material, dan keterampilan para perajin Nusantara.

Bentuk rumah tradisional Indonesia diterjemahkan melalui atap bertingkat, penggunaan material alami, taman yang luas, serta ruang-ruang terbuka yang menjaga hubungan dengan lanskap tropis. Semuanya terasa bersahaja, tetapi tidak kehilangan presisi desain.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Dinner at 100: Akira Back Is Back in Jakarta

0

Ada banyak cara menikmati Jakarta. Namun, jika Anda sudah sampai di lantai 100, turun untuk makan malam terasa seperti keputusan yang buruk.

Oleh karena itu, jangan turun dulu. Jakarta terlihat berbeda dari lantai 100 Autograph Tower. Lampu-lampunya berpendar seperti circuit board raksasa, gedung-gedung pencakar langit berdiri seperti ego yang dipertontonkan, sementara lalu lintas di bawah sana perlahan berubah menjadi garis-garis cahaya.

Di ketinggian seperti ini, kota terasa sedikit lebih jinak. Dan malam terasa punya aturan sendiri.

Di sinilah Akira Back Jakarta memilih untuk kembali. Setelah meninggalkan jejak pertamanya di Jakarta pada 2014, Chef Akira Back kini membawa restoran ikoniknya ke lantai 100 Autograph Tower, Thamrin Nine—sebuah lokasi yang mungkin memang dirancang untuk mereka yang menganggap makan malam sebagai sebuah occasion, bukan sekadar agenda.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Enam puluh kursi. Tidak lebih.

Lima puluh dua berada di dining room utama. Delapan lainnya tersimpan di private dining room. Jumlah yang cukup kecil untuk membuat Anda merasa bahwa malam ini tidak dibuat untuk semua orang. Dan memang bukan.

The View Is Only the Beginning

Pemandangan adalah kartu pertama yang dimainkan Akira Back Jakarta. Tetapi jika itu satu-satunya alasan Anda datang, Anda salah masuk lift.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Chef Akira Back tidak membangun reputasinya dengan memasak makanan yang aman. Lahir di Seoul dan dibesarkan di Aspen, Colorado, ia lebih dulu mengenal dunia sebagai snowboarder profesional. Kemudian hidup membawanya ke dapur restoran Jepang di Aspen. Dari sana, kariernya meluncur—kali ini bukan di atas salju—ke berbagai kota dunia. Karakter itu terasa dalam makanannya.

Teknik Jepang bertemu dengan warisan Korea dan Amerika. Sushi bertemu robata. Seafood bertemu smoky notes. Traditional discipline bertemu sedikit rebellion. Hasilnya adalah masakan yang tidak terlalu peduli pada batas-batas kategori. Persis seperti orang yang membuatnya.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Melampau Birunya Laut, Menyusuri Pesona Manado

0

Di Likupang, laut, lanskap vulkanik, dan warisan Minahasa bertemu dalam sebuah pengalaman perjalanan baru

Pagi datang perlahan di pesisir Likupang. Cahaya keemasan merambat di permukaan laut, mengubah biru menjadi kilau perak sebelum matahari sepenuhnya mengambil alih langit. Dari kejauhan, siluet perbukitan dan garis pantai membentuk lanskap yang nyaris sinematik. Udara membawa aroma asin laut, sementara hening pagi hanya sesekali dipecah suara perahu yang bergerak menuju horizon.

Di tempat seperti ini, perjalanan tidak perlu terburu-buru.

Likupang mengajarkan satu hal sederhana: bahwa kemewahan sejati terkadang bukan tentang apa yang ditambahkan, melainkan tentang ruang untuk menikmati apa yang telah diberikan alam.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Di kawasan inilah Manado Marriott Resort & Spa akan membuka pintunya pada kuartal keempat 2026, menghadirkan sebuah pengalaman hospitality baru di Sulawesi Utara. Berlokasi di Paputungan, Likupang—salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas Indonesia—resor ini menjadi bagian dari babak baru perjalanan kawasan yang selama bertahun-tahun telah dikenal para penyelam, pencinta alam, dan mereka yang mencari sisi Indonesia yang lebih tenang.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Where the Ocean Begins

Sulawesi Utara memiliki hubungan yang hampir intim dengan laut. Provinsi ini berada di jantung Coral Triangle, kawasan dengan salah satu keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia. Dari permukaan, lautnya tampak tenang dan jernih. Namun di bawahnya terbentang dunia yang jauh lebih dramatis.

Taman Nasional Bunaken menjadi salah satu permata kawasan ini. Dinding-dinding karang menjunam ke kedalaman, membentuk lanskap bawah laut yang menjadi rumah bagi ratusan spesies ikan tropis, terumbu karang, dan penyu hijau.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Mooncake, Elevated

0

JW Marriott Hotel Jakarta Membawa Tradisi Mid-Autumn ke Level Berikutnya

Tujuh koleksi mooncake, dari klasik hingga Wagyu dengan foie gras dan truffle, membuktikan bahwa tradisi tidak harus berjalan mundur.

Mid-Autumn Festival selalu punya satu ritual yang sulit ditolak: mooncake. Bulat, simbolis, dan secara tradisional menjadi representasi reuni serta kebersamaan. Namun, di tangan JW Marriott Hotel Jakarta, tradisi tersebut mendapat sebuah upgrade yang cukup serius.

Untuk perayaan Mid-Autumn Festival 2026, Executive Chef Kok Ann Soo bersama Chinese Executive Chef Ken Choy menghadirkan JW Marriott Mooncakes 2026 Collection—tujuh koleksi gifting yang bermain di antara warisan kuliner Tiongkok, teknik pastry modern, dan seni memberi hadiah.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Hasilnya bukan sekadar mooncake yang cantik untuk difoto. Ini adalah koleksi yang dirancang untuk dimakan, dibagikan, dan—dalam beberapa kasus—dipamerkan terlebih dahulu sebelum akhirnya dibuka.

Old School, Done Right

Mari mulai dari yang klasik. Baked Mooncakes hadir dengan empat rasa yang tidak perlu diperkenalkan terlalu panjang: White Lotus, Red Bean, Pandan, dan Black Sesame. Anda bisa menikmatinya plain, dengan satu kuning telur, atau dua. Untuk setiap tambahan kuning telur, dikenakan biaya IDR 50.000 net. Klasik, tentu. Tetapi bukan berarti membosankan.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Untuk mereka yang menginginkan sesuatu yang lebih eksperimental, ada Snow Skin Mooncakes. Pilihannya bergerak jauh dari pakem tradisional dengan rasa seperti Pistachio Kunafa, Hazelnut, Coconut Pandan, Chocolate Orange, Crunchy Nutella, Cheesecake, Chocolate, hingga Durian.

Teksturnya lembut dan dingin, sementara flavour profile-nya lebih dekat dengan dunia dessert kontemporer. Singkatnya: mooncake yang tahu bahwa tahun sudah 2026.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi