Home Blog

The Life of the Tree

0

Di Oliverra, Umana Bali, sembilan koktail membawa perjalanan dari benih hingga kelahiran kembali—dengan rempah, spirit premium, dan pemandangan Samudra Hindia sebagai latarnya.

Ada koktail yang dibuat untuk menyegarkan tenggorokan. Ada pula yang dirancang agar tampak fotogenik di meja bar. Namun di Oliverra, restoran dan bar tepi tebing milik Umana Bali, LXR Hotels & Resorts, koktail terbaru mereka datang dengan ambisi yang sedikit lebih besar: mengajak tamu memikirkan kehidupan.

Koleksi bertajuk The Life of the Tree menerjemahkan perjalanan simbolis sebuah pohon ke dalam sembilan racikan. Ceritanya dimulai dari benih, berlanjut menuju akar, batang, cabang, daun, bunga, dan buah, sebelum tiba pada gugurnya daun serta sebuah permulaan baru.

Terdengar filosofis? Memang. Tetapi untungnya, koleksi ini tidak berubah menjadi kuliah kebudayaan yang kebetulan disajikan dalam gelas.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Di tangan tim bar Oliverra, filosofi Bali Tri Hita Karana—tentang keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam—diterjemahkan melalui spirit berlapis, infusi botanikal, buah tropis, aromatik lokal, serta beragam sirup racikan sendiri. Hasilnya adalah sembilan minuman dengan kepribadian berbeda, tetapi tetap berada dalam satu narasi yang utuh.

“Oliverra sejak awal bukan hanya tentang apa yang tersaji di meja, tetapi tentang bagaimana setiap momen membuat tamu merasa,” ujar Nicolas Kassab, General Manager Umana Bali, LXR Hotels & Resorts.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Menurutnya, The Life of the Tree merefleksikan cara resor tersebut memandang keramahtamahan: berakar pada tempat, dipandu oleh keahlian, dan dibentuk oleh hubungan antarmanusia.

Bermula dari Sebuah Benih

Perjalanan dibuka dengan Namirasa, representasi benih sekaligus bangkitnya pancaindra. Nusa Caña Tropical Island Rum yang diinfusi biji wijen putih panggang dipadukan dengan Nusa Caña Coconut Rum, lychee brine, sirup pandan, citrus segar, dan coconut foam buatan sendiri.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Nuju Uluwatu: Menjelajahi Indonesia dari Selatan Bali

0

Resor khusus dewasa ini merangkai arsitektur, seni, tradisi, wellness, dan cita rasa Nusantara dalam pengalaman menginap yang intim sekaligus kontemporer.

Di Uluwatu, kemewahan tidak selalu datang dengan suara lantang. Terkadang ia hadir melalui selembar batik yang dibuat dengan tangan, tekstur tenun dari Flores, aroma terapi tradisional, atau taman tropis yang memberi ruang untuk berhenti sejenak.

Pendekatan itulah yang ditawarkan Nuju Uluwatu, destinasi khusus dewasa yang kini resmi menyambut tamu di kawasan selatan Bali. Namanya diambil dari kata nuju, yang berarti “menuju”—sebuah gagasan sederhana tentang perjalanan, baik menuju suatu tempat maupun kembali kepada diri sendiri.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Nuju Uluwatu juga bergabung dengan Preferred Hotels & Resorts, jaringan hotel independen global yang menaungi berbagai properti dengan karakter khas dan standar pelayanan premium. Namun, daya tarik utama Nuju bukan sekadar afiliasi internasional tersebut. Identitasnya justru berakar kuat pada Indonesia.

“Nuju diciptakan dengan visi sederhana: merayakan Indonesia melalui hospitality yang penuh perhatian,” ujar Yohanes Barlianto, General Manager Nuju Uluwatu. “Setiap detail dirancang agar tamu dapat mengapresiasi keindahan kerajinan, budaya, dan tradisi Indonesia dalam suasana yang kontemporer, hangat, dan autentik.”

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Indonesia, Tanpa Menjadi Klise

Alih-alih mengambil inspirasi dari satu daerah, Nuju merangkum keberagaman kepulauan Indonesia. Hasilnya bukan semacam museum kebudayaan yang kebetulan menyediakan tempat tidur, melainkan interpretasi modern terhadap arsitektur, material, dan keterampilan para perajin Nusantara.

Bentuk rumah tradisional Indonesia diterjemahkan melalui atap bertingkat, penggunaan material alami, taman yang luas, serta ruang-ruang terbuka yang menjaga hubungan dengan lanskap tropis. Semuanya terasa bersahaja, tetapi tidak kehilangan presisi desain.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Dinner at 100: Akira Back Is Back in Jakarta

0

Ada banyak cara menikmati Jakarta. Namun, jika Anda sudah sampai di lantai 100, turun untuk makan malam terasa seperti keputusan yang buruk.

Oleh karena itu, jangan turun dulu. Jakarta terlihat berbeda dari lantai 100 Autograph Tower. Lampu-lampunya berpendar seperti circuit board raksasa, gedung-gedung pencakar langit berdiri seperti ego yang dipertontonkan, sementara lalu lintas di bawah sana perlahan berubah menjadi garis-garis cahaya.

Di ketinggian seperti ini, kota terasa sedikit lebih jinak. Dan malam terasa punya aturan sendiri.

Di sinilah Akira Back Jakarta memilih untuk kembali. Setelah meninggalkan jejak pertamanya di Jakarta pada 2014, Chef Akira Back kini membawa restoran ikoniknya ke lantai 100 Autograph Tower, Thamrin Nine—sebuah lokasi yang mungkin memang dirancang untuk mereka yang menganggap makan malam sebagai sebuah occasion, bukan sekadar agenda.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Enam puluh kursi. Tidak lebih.

Lima puluh dua berada di dining room utama. Delapan lainnya tersimpan di private dining room. Jumlah yang cukup kecil untuk membuat Anda merasa bahwa malam ini tidak dibuat untuk semua orang. Dan memang bukan.

The View Is Only the Beginning

Pemandangan adalah kartu pertama yang dimainkan Akira Back Jakarta. Tetapi jika itu satu-satunya alasan Anda datang, Anda salah masuk lift.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Chef Akira Back tidak membangun reputasinya dengan memasak makanan yang aman. Lahir di Seoul dan dibesarkan di Aspen, Colorado, ia lebih dulu mengenal dunia sebagai snowboarder profesional. Kemudian hidup membawanya ke dapur restoran Jepang di Aspen. Dari sana, kariernya meluncur—kali ini bukan di atas salju—ke berbagai kota dunia. Karakter itu terasa dalam makanannya.

Teknik Jepang bertemu dengan warisan Korea dan Amerika. Sushi bertemu robata. Seafood bertemu smoky notes. Traditional discipline bertemu sedikit rebellion. Hasilnya adalah masakan yang tidak terlalu peduli pada batas-batas kategori. Persis seperti orang yang membuatnya.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Melampau Birunya Laut, Menyusuri Pesona Manado

0

Di Likupang, laut, lanskap vulkanik, dan warisan Minahasa bertemu dalam sebuah pengalaman perjalanan baru

Pagi datang perlahan di pesisir Likupang. Cahaya keemasan merambat di permukaan laut, mengubah biru menjadi kilau perak sebelum matahari sepenuhnya mengambil alih langit. Dari kejauhan, siluet perbukitan dan garis pantai membentuk lanskap yang nyaris sinematik. Udara membawa aroma asin laut, sementara hening pagi hanya sesekali dipecah suara perahu yang bergerak menuju horizon.

Di tempat seperti ini, perjalanan tidak perlu terburu-buru.

Likupang mengajarkan satu hal sederhana: bahwa kemewahan sejati terkadang bukan tentang apa yang ditambahkan, melainkan tentang ruang untuk menikmati apa yang telah diberikan alam.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Di kawasan inilah Manado Marriott Resort & Spa akan membuka pintunya pada kuartal keempat 2026, menghadirkan sebuah pengalaman hospitality baru di Sulawesi Utara. Berlokasi di Paputungan, Likupang—salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas Indonesia—resor ini menjadi bagian dari babak baru perjalanan kawasan yang selama bertahun-tahun telah dikenal para penyelam, pencinta alam, dan mereka yang mencari sisi Indonesia yang lebih tenang.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Where the Ocean Begins

Sulawesi Utara memiliki hubungan yang hampir intim dengan laut. Provinsi ini berada di jantung Coral Triangle, kawasan dengan salah satu keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia. Dari permukaan, lautnya tampak tenang dan jernih. Namun di bawahnya terbentang dunia yang jauh lebih dramatis.

Taman Nasional Bunaken menjadi salah satu permata kawasan ini. Dinding-dinding karang menjunam ke kedalaman, membentuk lanskap bawah laut yang menjadi rumah bagi ratusan spesies ikan tropis, terumbu karang, dan penyu hijau.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Mooncake, Elevated

0

JW Marriott Hotel Jakarta Membawa Tradisi Mid-Autumn ke Level Berikutnya

Tujuh koleksi mooncake, dari klasik hingga Wagyu dengan foie gras dan truffle, membuktikan bahwa tradisi tidak harus berjalan mundur.

Mid-Autumn Festival selalu punya satu ritual yang sulit ditolak: mooncake. Bulat, simbolis, dan secara tradisional menjadi representasi reuni serta kebersamaan. Namun, di tangan JW Marriott Hotel Jakarta, tradisi tersebut mendapat sebuah upgrade yang cukup serius.

Untuk perayaan Mid-Autumn Festival 2026, Executive Chef Kok Ann Soo bersama Chinese Executive Chef Ken Choy menghadirkan JW Marriott Mooncakes 2026 Collection—tujuh koleksi gifting yang bermain di antara warisan kuliner Tiongkok, teknik pastry modern, dan seni memberi hadiah.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Hasilnya bukan sekadar mooncake yang cantik untuk difoto. Ini adalah koleksi yang dirancang untuk dimakan, dibagikan, dan—dalam beberapa kasus—dipamerkan terlebih dahulu sebelum akhirnya dibuka.

Old School, Done Right

Mari mulai dari yang klasik. Baked Mooncakes hadir dengan empat rasa yang tidak perlu diperkenalkan terlalu panjang: White Lotus, Red Bean, Pandan, dan Black Sesame. Anda bisa menikmatinya plain, dengan satu kuning telur, atau dua. Untuk setiap tambahan kuning telur, dikenakan biaya IDR 50.000 net. Klasik, tentu. Tetapi bukan berarti membosankan.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Untuk mereka yang menginginkan sesuatu yang lebih eksperimental, ada Snow Skin Mooncakes. Pilihannya bergerak jauh dari pakem tradisional dengan rasa seperti Pistachio Kunafa, Hazelnut, Coconut Pandan, Chocolate Orange, Crunchy Nutella, Cheesecake, Chocolate, hingga Durian.

Teksturnya lembut dan dingin, sementara flavour profile-nya lebih dekat dengan dunia dessert kontemporer. Singkatnya: mooncake yang tahu bahwa tahun sudah 2026.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Liburan ke Bali Makin Beruntung dengan Nakula Rewards

0

Pesan vila langsung, dapatkan lebih banyak keuntungan hingga 15 persen. Plus, ada sarapan, airport transfer, dan poin yang bisa digunakan untuk kunjungan berikutnya.

Ada satu hal yang membuat liburan ke Bali terasa semakin menyenangkan: ketika pengalaman menginap yang sudah nyaman ternyata datang bersama berbagai bonus. Bagi Anda yang gemar kembali ke Bali—entah untuk weekend getaway, wellness retreat, quality time bersama pasangan, atau sekadar melepas penat—Nakula menghadirkan alasan baru untuk menjadikan vila favorit sebagai bagian dari perjalanan berikutnya.

Melalui Nakula Rewards, program loyalitas khusus untuk pemesanan langsung, Nakula menawarkan berbagai keuntungan dengan total nilai hingga 15 persen.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Menariknya, program ini tidak hanya bicara soal harga. Ada sarapan, layanan antar-jemput bandara untuk pemesanan tertentu, penawaran eksklusif, hingga poin yang dapat digunakan kembali untuk perjalanan selanjutnya. Dengan kata lain, semakin sering Anda kembali, semakin banyak pula yang bisa dinikmati.

Pesan Langsung, Dapat Lebih Banyak

Di era ketika membandingkan harga hotel dan vila cukup dilakukan melalui layar ponsel, pemesanan lewat OTA memang terasa paling praktis. Namun, ada keuntungan lain ketika Anda bertransaksi langsung dengan pengelola properti. Melalui website resmi atau WhatsApp Nakula, tamu dapat menikmati sejumlah benefit yang dirancang khusus untuk pemesanan langsung.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Di antaranya adalah penghematan hingga 15 persen melalui Nakula Rewards, akses terhadap limited-time offers, sarapan harian gratis, serta antar-jemput bandara gratis untuk pemesanan tertentu. Ada pula berbagai fleksibilitas lain yang tidak tersedia melalui platform pihak ketiga.

Bagi perempuan yang terbiasa merencanakan liburan dengan detail—dari pilihan kamar, jadwal penerbangan, restoran hingga aktivitas selama berada di Bali—akses langsung ke tim vila tentu menjadi nilai tambah tersendiri. Sebab, liburan ideal bukan hanya soal destinasi cantik. Detail kecil yang berjalan lancar justru sering kali menentukan apakah sebuah perjalanan terasa menyenangkan atau melelahkan.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Riserva: Steak, Ritual, dan Seni Menikmati Malam di Ubud

0

Fine dining steakhouse terbaru di Ubud ini tidak sekadar menyajikan daging premium. Riserva merancang sebuah malam dalam tujuh babak—lengkap dengan ritual Bali, wine pilihan, dan waktu yang sengaja dibuat berjalan lebih lambat. Ada restoran yang mengajak Anda datang untuk makan. Ada pula yang membuat Anda lupa bahwa tujuan awalnya memang untuk makan. Riserva termasuk yang kedua.

Berlokasi di Kenderan, Ubud, restoran fine dining steakhouse ini memperkenalkan An Evening in Seven Chapters, sebuah pengalaman kuliner yang dirancang seperti perjalanan malam: perlahan, intim, dan penuh detail. Hanya 16 tamu diterima setiap malam, dalam satu kali seating. Jadi, ini bukan tempat untuk makan terburu-buru sebelum mengejar agenda berikutnya.

Malam bahkan dimulai sebelum Anda duduk di meja.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Ketika cahaya terakhir mulai jatuh di atas hutan dan hamparan sawah Ubud, pengalaman dibuka dengan Gong Ritual, dilanjutkan Foot Wash Ritual, Seven Tirta, dan Final Purification. Serangkaian ritual tersebut menjadi semacam tombol reset—meninggalkan hiruk-pikuk di luar dan masuk ke dunia Riserva.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Setelah itu, tamu mengikuti pengalaman Wariga yang dipersonalisasi, sebelum menikmati Lungsuran, canapés penyambutan khas Bali, dan welcome drink. Sebagai penanda bahwa malam resmi dimulai, sebuah Champagne Sabrage menjadi transisi menuju pengalaman bersantap.

Tidak ada kesan dikejar waktu. Justru sebaliknya.

When Steak Becomes the Main Character

Di balik menu Riserva terdapat Chef Putu Armen, yang memilih pendekatan sederhana namun tidak sederhana untuk dieksekusi: gunakan bahan terbaik, masak dengan presisi, lalu biarkan kualitasnya berbicara. Pilihan steak menjadi salah satu alasan utama untuk datang.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

The City Bites

0

Saat Semangat New York Menemukan Panggungnya di Jakarta

Comfort food, cocktail playful, dan cita rasa khas New York hadir dalam babak terbaru The Coach Restaurant.

New York punya cara sendiri untuk membuat makanan terasa seperti bagian dari gaya hidup. Cepat, berani, eklektik, sekaligus akrab. Semangat itulah yang kini dibawa The Coach Restaurant ke meja makan Jakarta melalui The City Bites, rangkaian menu terbaru yang mempertegas karakter New York restoran tersebut.

Bukan sekadar pembaruan daftar menu, The City Bites adalah eksplorasi atas budaya kuliner New York yang tidak pernah benar-benar mengenal satu definisi. Ada comfort food, hidangan untuk berbagi, sajian indulgent, cocktail yang playful, hingga dessert yang membawa nostalgia—semuanya dirancang untuk dinikmati dengan cara yang santai namun tetap sophisticated.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

“Melalui The City Bites, kami ingin menghadirkan lebih banyak karakter New York ke dalam The Coach Restaurant. Kuliner New York sangat beragam, bisa terasa casual, indulgent, playful, maupun sophisticated, terkadang semuanya dalam satu waktu,” ujar Chef Gabriel Jamias, Executive Chef of The Coach Restaurant. “Pembaruan menu ini memungkinkan kami mengeksplorasi semangat tersebut melalui hidangan yang terasa familiar namun tetap memiliki karakter Coach kami sendiri.”

A Taste of the City

Perjalanan dimulai dari pilihan bites yang terasa seperti potongan kecil kehidupan New York. Roasted Cashew Dip hadir bersama confit garlic, bagel seasoning, dan crudites, sementara Egg & Truffle Dip mempertemukan black truffle mayo, chives, dan potato chips dalam kombinasi yang indulgent.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Ada pula Crispy Mushroom Salad dengan wild-field mushrooms, mesclun greens, dan truffle dressing; Cheddar Biscuits dengan sharp cheddar, buttermilk, serta Maldon sea salt; dan tentu saja interpretasi khas The NY Hotdog, menggunakan all-beef frankfurter, onions & peppers, serta brioche bun.

Namun The City Bites juga tahu kapan harus sedikit berlebihan—dalam arti terbaik. Chicken Nuggets & Caviar mempertemukan Oscietra caviar, salmon roe, dan crème fraîche. Sementara The Fried Chicken Bucket datang lengkap dengan homemade honey mustard, hot sauce, dan creamy ranch. Untuk pencinta seafood, Seafood Dip menggabungkan chopped shrimp, lobster, dan US scallop.

Dari sini, eksplorasi berlanjut ke hidangan utama yang mengambil inspirasi dari ikon kuliner New York.

Manhattan Seafood Chowder menghadirkan green mussels, Manila clams, dan blue swimmer crab meat. Untuk mereka yang menginginkan sesuatu yang lebih substantial, tersedia New York Strip 300 gram dari USDA Prime Black Angus, Yellowfin Tuna NY Strip dengan charred lemon, brown butter, dan fine herbs, serta Whole Maine Lobster dengan spicy béarnaise, chives, dan tarragon.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Byrd House Bali

0

Rayakan Kemerdekaan Lewat Tafsir Modern Kuliner Nusantara

Nusantara Degustation Dinner menghadirkan perjalanan tujuh babak rasa Indonesia di pesisir Sanur

Perayaan kemerdekaan tak selalu harus berlangsung dengan upacara, bendera, atau perlombaan. Di Sanur, Bali, Byrd House Bali memilih cara lain: menyajikan Indonesia melalui makanan.

Pada 16 Agustus 2026, pukul 19.00–22.00 WITA, destinasi gaya hidup di tepi Pantai Segara itu menggelar Nusantara Degustation Dinner, sebuah pengalaman bersantap yang menempatkan kekayaan kuliner Indonesia sebagai pusat perhatian. Dalam konsep tersebut, hidangan-hidangan yang akrab di meja makan Indonesia diolah kembali melalui pendekatan gastronomi modern.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Acara ini dirancang bukan sekadar sebagai jamuan makan malam, melainkan perjalanan rasa yang mempertemukan cita rasa tradisional dengan teknik dan penyajian kontemporer. Semangatnya berangkat dari keberagaman budaya Indonesia, lalu diterjemahkan ke dalam rangkaian hidangan yang lebih refined.

Konsep tersebut terasa sejak hidangan pembuka. Fresh oyster dan sea urchin dipadukan dengan sentuhan kemangi, menciptakan pertemuan antara karakter laut dan aroma khas Nusantara. Setelah itu, perjalanan bergerak menuju sejumlah hidangan yang lebih familiar bagi lidah Indonesia, tetapi tampil dalam interpretasi berbeda.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Rujak, misalnya, dipertemukan dengan torched mackerel. Lumpia kepiting hadir dalam tekstur renyah, sementara bulung buni selada khas Bali menjadi bagian dari rangkaian pembuka. Hidangan-hidangan klasik seperti rendang sapi, opor bebek, udang balado, dan sayur urap juga mendapat perlakuan kontemporer.

Pendekatan tersebut memperlihatkan satu hal: makanan tradisional tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang sama untuk tetap memiliki identitas. Dalam ruang gastronomi modern, resep dan cita rasa lama dapat dibaca kembali tanpa harus kehilangan akar budayanya.

Perjalanan kemudian berlanjut melalui Soto Sari Laut. Sup seafood ini menggabungkan kekayaan rempah Indonesia dengan sentuhan santan, sebelum tamu memasuki bagian utama dari degustation.

Nasi kuning menjadi salah satu elemen penting dalam sajian utama. Ia ditemani sate kambing dengan saus kacang serta kerapu dengan sambal kecombrang. Kombinasi tersebut mempertemukan rasa darat dan laut dalam satu rangkaian, dengan karakter rempah yang menjadi benang merah. Jika hidangan utama membawa tamu pada kekayaan rasa gurih, pedas, dan aromatik, bagian penutup justru bermain dengan nostalgia.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

AI Melaju, Pertahanan Bisnis Tertinggal

0

Perusahaan di Indonesia berlomba memanfaatkan kecerdasan buatan. Namun, fondasi keamanan, tata kelola, dan ketahanan teknologi belum selalu bergerak secepat ambisinya. Risiko terbesar justru bisa muncul ketika AI sudah telanjur menjadi bagian dari bisnis sehari-hari.

Ada paradoks dalam demam kecerdasan buatan di Indonesia. Perusahaan semakin agresif mengadopsi AI untuk mengejar pertumbuhan, efisiensi, dan inovasi. Namun, semakin dalam teknologi itu masuk ke jantung bisnis, semakin besar pula risiko yang harus ditanggung.

Ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai nilai transaksi bruto US$100 miliar pada 2025. Pada 2030, nilainya diproyeksikan mendekati US$180 miliar, menurut laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company. AI diperkirakan menjadi salah satu mesin pertumbuhan berikutnya.

Gaptek Bukan Alasan:  Mahir Digital Tanpa Jadi Anak IT

Masalahnya, banyak perusahaan tampaknya ingin berlari sebelum selesai membangun pagar pengaman. Survei PwC’s 29th Global CEO Survey menunjukkan 75 persen CEO di Indonesia berencana mengejar peluang pertumbuhan di luar bisnis utama perusahaan dalam tiga tahun mendatang. Angkanya hampir dua kali lipat rata-rata Asia-Pasifik yang mencapai 37 persen.

Semangat ekspansi itu berjalan beriringan dengan investasi pada teknologi baru. Tetapi manfaat AI belum dirasakan secara merata.

Sekitar satu dari lima CEO di Indonesia mengaitkan AI dengan pertumbuhan pendapatan. Lebih dari seperempat melihat penghematan biaya. Hanya sekitar satu dari sepuluh yang mengaku memperoleh kedua manfaat tersebut sekaligus. Ada jarak antara ambisi dan kemampuan mengeksekusi.

Cuan dari Rumah: 5 Bisnis Digital yang Bisa Kamu Mulai Hari Ini

Hanief Bastian, Technical Manager Manage Engine Indonesia

PwC menemukan 63 persen organisasi di Indonesia telah memiliki budaya yang mendukung AI. Sebanyak 57 persen mengaku mampu mengintegrasikan teknologi tersebut. Namun hanya 36 persen yang telah memformalkan proses AI yang bertanggung jawab.

Pertanyaannya sederhana: kalau perusahaan belum sepenuhnya siap mengelola AI, seberapa siap mereka menghadapi konsekuensi ketika AI gagal?

Cuma Modal HP: Bisa Cuan dari YouTube? Simak Rahasianya!