Home Blog Page 113

Ballad of Bad Dad

0

Burhanuddin Abe, seorang pria berbadan tegap dengan kulit sawo matang ini merupakan contoh orang yang memilih gaya hidup sebagai free father. Abe, pangilan akrabnya, ditemui di sela-sela kesibukannya yang cukup padat di sebuah coffee shop di Senayan City, berbagi bercerita tentang seluk-beluk kehidupan dan pekerjaannya. Waktunya memang tidak menentu dan tidak dapat dipastikan. Lulusan Fisipol, jurusan Hubungan Internasional UGM ini mengaku bahwa waktunya banyak ia habiskan di lapangan terutama di nightlife.

Kehidupannya dalam keluarga dirasakannya sangat kurang. “Paling hanya Sabtu dan Minggu saja, bahkan kalau tidak Sabtu, ya Minggu,” ujar editor tamu untuk rubrik Marketing Perspective di The Jakarta Post ini. Jika berkumpul dengan keluarga, ia selalu memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin untuk berinteraksi dengan keluarga. Bila tidak ada waktu untuk bertemu, ia pun menyempatkan diri untuk menghubungi keluarga melalui telepon.

Ia mengambil jalan hidup seperti ini, karena kehidupan dan pekerjaannya berada dalam lingkaran lifestyle. Ia sangat menikmati pekerjaan seperti ini. “Paling tidak bisa refreshing sambil menghasilkan uang,” tambah konsultan PR yang pernah bekerja dengan Rhenald Kasali itu. Dengan relasi di lingkaran lifestyle, pria yang pernah teribat dalam program reality show Joe Millionaire di RCTI ini bisa memperoleh penghasilan, menghidupi keluarga dan segala keperluannya.

Berhubung pecinta musik jazz dan dangdut ini bekerja di lingkungan lifestyle, setiap bekerjapun ia seperti bujangan, namun ia tetap ingat bahwa di rumah ada yang menanti. Ketika di luar rumah, ia harus bisa bersosialisasi dengan siapapun dan mengerti kondisi.

Saat di rumah, Abe berperan menjadi seorang bapak yang patut dicontoh oleh keluarga. “Menikah bukan berarti kehidupan sosial kita hilang,” ujar pengelola majalah gratis untuk kaum lajang Jakarta Single: dan Editor in Chief majalah kuliner dan entertainment, Appetite Journey ini.

Banyak keuntungan menjadi free father yang sangat lifestyle. Penggemar salsa ini dapat melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan keinginan, dan dapat mengasah kreativitasnya tanpa beban. Namun di sisi yang lain, menjadi orang seperti itu juga tidak gampang. Selain harus jauh dari keluarga, biaya hidup sehari-hari cukuplah besar. “Kalau kita tidak bisa pandai-pandai mengatur dan memanfaatkan pergaulan, kita tidak akan mendapatkan timbal balik yang setimpal. Malah bisa nihil,” tukas penulis buku “50 Usahawan Tahan Banting” dan biografi pasangan Alex – Martha Tilaar ini.

Diakui olehnya, dukungan keluarga sangat besar dalam mengembangkan kariernya. Tapi juga sebaliknya, halangan dari keluarga tentu bisa menghalangi kariernya. Maka ayah dua anak ini selalu memberi pengertian pada keluarga tentang pekerjaan yang sedang dilakoni, sehingga keluarga tidak banyak mengeluh terhadap pekerjaannya.

Dalam kehidupan sebagai free father, sangat diperlukannya family quality time, mengingat sempitnya waktu untuk keluarga, setiap ada kesempatan dimanfaatkan untuk komunikasi dengan keluarga. “Walau ada sebagian pria punya banyak waktu senggang tapi jarang digunakan untuk keluarga, sementara yang tidak punya waktu selalu meluangkan waktu untuk keluarga. Jadi yang lebih baik adalah pria yang sempit punya waktu, tapi perhatian pada keluarga,” tambah kontributor majalah SWA, Platinum Society, ME, dan Her World ini. (20 Agustus 2007)

Sumber: Male Emporium

My Journey to Feel the Light

0

Andreas Darwis Triadi adalah sosok penting di dunia fotografi Indonesia. Sebagai fotografer komersial lelaki kelahiran Solo tahun 1954 ini telah melayani segala pesanan rumit dengan keterampilan rekayasa gambar sesuai dengan permintaan klien. Sementara sebagai seniman foto, ia telah melakukan pengembaraan dalam berbagai macam pendekatan fotografi sesuai dengan tuntutan idealismenya.

Kalau akhirnya kali ini Darwis meneruskan perjalanan kreatifnya dalam My Journey to Feel the Light adalah sebuah keniscayaan. Proyek ini, mendokumentasikan proses pemotretannya dalam sebuah dalam docutainment dalam format video, yang kemudian diteruskan dalam bentuk buku ini, adalah obsesinya sejak dulu.

”Paling tidak saya ingin menunjukkan bahwa saya pernah berbuat. Ini penting sebagai catatan sejarah, bukan untuk kepentingan saya pribadi, tapi untuk publik yang lebih luas,” ungkap anak keempat dari delapan bersaudara pasangan Sumantri Brotosewoyo-Sukarti ini.

Memang, ini bukan ide orisinal, sebab banyak fotografer yang sudah melakukannnya. Apalagi dengan adanya media TV yang berkembang pesat sangat mungkin proyek seperti ini sudah banyak diproduksi. Di luar negeri kita memang sudah bisa menyaksikan karya-karya dokumentasi fotografi yang bagus dan menarik. Tapi di Indonesia, lelaki yang pernah menjadi pilot di perusahaan charter flight selama 1,5 tahun sebelum memutuskan menjadi fotografer itu, sering merasa geregetan, karena fotografi hanya selintas saja, tanpa pernah menjadi fokus utama.

Mengapa Yogyakarta? Karena kota ini sudah tidak asing bagi Darwis Triadi. Pria berkumis yang dibesarkan dalam keluarga modern tapi masih kental dengan nilai-nilai Jawa ini sudah familier dengan Kota Budaya itu. Tentu Yogyakarta bukan tujuan akhir, justru titik awal untuk melangkah menggali kreativitas ke kota-kota lain di Indonesia, lokasi-lokasi yang eksotis, bahkan tidak menutup kemungkinan ke pusat-pusat keajaiban dunia.

Teknik memang penting, yang harus diketahui dan dipelajari oleh seorang fotografer untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Termasuk tuntutan teknologi mutakhir kamera digital di mana gambar bisa dihasilkan secara instan. Tapi bagi Darwis Triadi masa itu sudah terlewati. ”Tahapan yang paling tinggi itu adalah bagaimana merasakan cahaya,” kata ayah dua putri itu sambil menambahkan bahwa tiga fase yang dilalui oleh seorang fotografer adalah fix the light, see the light, dan feel the light.

Menurut Darwis, cahaya adalah unsur yang paling penting dalam fotografi. Hanya saja, ketika memotret di luar ruang (outdoor) ketika sinar matahari tidak bersahabat alias tidak sesuai yang diharapkannya, misalnya tertutup awan, banyak fotografer yang panik. “Padahal, fotograger yang baik harusnya bisa menyesuaikan diri dalam kondisi dan cuaca apa pun. Kita yang create cahaya!” ujar Darwis yang mengaku basic-nya di outdoor itu.

Melalui karyanya kali ini Darwis, yang terjun di fotografi fashion sejak 1979 itu, ingin membuktikan bahwa ia tidak hanya bisa meng-create cahaya, tapi juga menangkap objek, sehingga menghasilkan gambar dengan angle dan komposisi yang kadang-kadang tidak dipikirkan dan dilihat mata orang kebanyakan.

Di era kamera digital ini ada yang berpendapat bahwa faktor teknik tidak lagi dominan. Orang awam bisa menghasilkan gambar bagus dari kamera pocket digital dengan hanya mengikuti petunjuk yang tersedia. ”Tapi justru itulah tantangan seorang fotografer profesional,” ujar Darwis yang biasa menggunakan Canon EOS-1 Ds Mark II (16 Megapixel), kamera SLR yang tercanggih, serta kamera medium format menggunakan digital back Phase One H10 (10 Megapixel).

Simfoni Pasar Burung

0

Secara tradisional ada lima simbol prestisius yang harus dimiliki oleh lelaki Jawa; rumah, istri, keris, kuda, dan burung perkutut. Bisa dipahami Pasar Ngasem atau yang dikenal juga sebagai Pasar Burung menjadi meeting point yang cukup penting bagi masyarakat Yogyakarta. Pasar ini tidak hanya menjadi pusat transaksi burung perkutut, yang kalau juara dalam perlombaan berkicau harganya bisa setara dengan mobil mewah, tapi juga jenis burung lainnya.

Sebagai pecinta burung meski sebatas hobi, saya merasa tidak asing dengan Pasar Burung. Pasar yang buka mulai jam 9 pagi hingga jam 4 sore itu mempunyai atmosfer yang khas. Kicau burung yang merdu, bersahut-sahutan bagai simfoni alam, keramaian orang-orangnya, lengkap dengan kekumuhannya, serta aromanya yang khas.

Suasana seperti ini memberikan inspirasi tersendiri bagi saya, dan membangkitkan gairah kreativitas saya sebagai seorang fotografer. Lana, model yang saya foto, berkebaya encim modern berwarna terang, menjadikan paling menonjol di antara kerumunan orang-orang. Berpayung merah makin membuat makin kontras di antara pasar yang padat. Lana sendiri memang menonjol, dengan wajah Indonya, berkulit terang, berhidung bangir. Persis noni-noni Belanda zaman dulu yang sedang JJS (jalan-jalan sore).

Model bergerak cepat, berjalan di antara kerumunan orang-orang pasar. Untuk menangkap sang objek saya menggunakan otofokus. Kalau tidak, tentu akan ada kendala mengabadikan momen-momen indah yang kadang-kadang harus diputuskan dalam hitungan detik. Saya menggunakan kamera Canon EOS-1 Ds Mark II dengan resolusi 16 Megapixel, yang mampu menangkap objek 16 frame per detik.

Sinar matahari yang masih kuat siang itu, sekitar jam 14.00, bisa diakali dengan memberi fill in ke arah objeknya, untuk mengurangi kontras akibat back light – sinar matahari dari belakang objek. Kendala model yang bergerak bisa diatasi dengan menggunakan lighting Broncolor Mobilite yang portable dan luwes bergerak mengikuti gerakan model dan perpindahan angle kamera.

Saya cukup puas karena bisa dapat feel-nya. Dari dari suasana tersebut itu muncul satu touch yang luar biasa. Itulah efek yang ingin saya tampilkan, yang mungkin orang lain tidak melihatnya. (Darwis Triadi/Ilustrasi utama by Miss Zhang on Unsplash)

Yogyakarta, 16 – 19 April 2005

Keramaian Pasar Prambanan

0

Kalau ingin tahu tentang kondisi sosial masyarakat tertentu datanglah ke pasarnya. Nasehat dari seorang teman tersebut ada benarnya. Pasar Prambanan, sekitar 15 kilometer dari Yogyakarta, adalah gambaran khas orang-orang desa, tepatnya pinggiran kota, yang sedang berubah.

Hari masih pagi. Sisa embun semalam baru saja menguap. Jalanan menuju ke Pasar Prambanan mulai ramai. Angkot, dokar, dan becak, paling banyak mendominasi jalan. Beberapa orang tampak bersepeda. Kendaraan angin yang biasa mereka kendarai untuk untuk mobilitas sehari-hari itu populasinya kini agak berkurang. Paling tidak, tidak sebanyak yang saya saksikan pada masa kanak-kanak saya dulu.

Di pasar yang padat itu terlihat kesibukan para pedagang dan pembeli. Orang-orang desa tidak lagi polos, dan itu tergambar dari wajah mereka yang seolah menanggung beban berat kehidupan. Yang membedakan mereka dengan orang Jakarta adalah kekeluargaan antar mereka yang masih kental, serta kepasrahan menjalani kehidupan.

Pasar tradisional yang khas Jawa itu saya jadikan latar belakang dua orang model, Melda dan Puri. Sebuah angle yang unik, perempuan modern, yang dalam sudut pandang konvensional umumnya selalu bersetting hal-hal yang serba indah. Dua orang model tersebut seolah mewakili generasi ”pasar swalayan” yang sedang menikmati jalan-jalan di pasar tradisional lama. Berinteraksi dengan masyarakat yang jarang dilakukan oleh orang-orang kota, layaknya sebuah perjalanan menjadi manusia kembali. (Darwis Triadi/HL Photo by Ailbhe Flynn on Unsplash)

Yogyakarta, 16 – 19 April 2005

Senja di Tamansari

0

Senja di Tamansari. Inilah saat-saat yang paling romantis di pesanggrahan yang dibangun Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758. Bangunan ini dulunya tempat untuk bercengkrama dan berekreasi, terlihat dari bangunan-bangunan yang ada seperti lorong-lorong dengan taman-taman bunga, kolam pemandian yang luas dengan hiasan pohon di sekelilingnya.

Peninggalan sejarah ini tidak terawat. Temboknya berlumut, mengelupas, hingga bata merahnya terlihat. Suasananya yang seperti terasing, kontras dengan kepadatan rumah penduduk yang menempel di sekitar bangunan. Melalui kamera saya berusaha menangkap sisa-sisa kejayaan masa lalu. Dan ini sangat pas sebagai latar belakang Puri, sang model, yang memancarkan eksotisme Jawa. Dengan kebaya merah serta kain batik yang juga dominan merah, Puri yang berkulit gelap justru terlihat menonjol.

Salah satu bagian Tamansari yang saya sukai adalah Pulo Cemethi – ada juga yang menyebut Sumur Gantung – yang dulu konon berfungsi untuk peninjauan Sultan bila ada musuh yang datang. Bangunan ini bentuknya mirip bangunan menara yang bertingkat. Di sekitarnya dulu konon laut buatan. Matahari hampir tenggelam, dan di atap tertinggi Pulo Cemethi itu saya mengabadikan Lana dan Puri. Waktunya sangat pendek, karena karena terlambat sedikit saja, langit biru dengan rona merah senja tidak bisa terekam kamera secara sempurna.

Dari suasana menjelang malam itu saya munculkan warna yang terang. Ketika mendekati gelap, saya ambil supaya warna langit birunya muncul. Untuk kondisi seperti ini saya membutuhkan pencahayaan berdaya besar, membuat pilihan jatuh pada Broncolor Para yang jangkauannya juga luas. Dan yang terakhir coba saya terangkan lagi, dengan twilite filter, supaya warna oranyenya keluar. Saya cukup puas karena ambient light-nya dapat. Pose dan ekspresi model sangat mengesankan, dengan latar belakang bangunan tua serta panorama alam di waktu senja yang sangat menawan. Saya mendapatkan golden moments.

Memotret di outdoor kuncinya satu, kita harus menyatu dengan alam. Sementara dengan model, seorang fotografer harus bisa berkomunikasi dengan baik, sehingga tidak ada jarak antara fotografer dan objeknya. Memotret tidak sekadar menekan tombol, seorang fotografer yang baik harus mengerti benar apa dan siapa objeknya. Ketika memotret kita harus menggauli si objek, seolah-olah kita bersanggama dengan objek itu. (Darwis Triadi/Photo HL by NordWood Themes on Unsplash)

Yogyakarta, 16 – 19 April 2005

Misteri Ratu Boko

0

Mengunjungi Ratu Boko yang terletak di dataran tinggi di Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, selalu membuat saya merinding. Candi yang bertenggaan dengan Candi Prambanan ini, berjarak dua kilometer arah selatan, tidak hanya magis, tapi bobot vibrasinya sangat kuat.

Kompleks kepurbakalaan Ratu Boko, yang juga dikenal dengan nama Kraton Boko, karena menurut legenda di situlah letak istana Ratu Boko, saudara Loro Jonggrang, terbuat dari batu putih dan batu andesit. Situs ini merupakan peninggalan sejarah yang menunjukkan unsur-unsur agama Budha dan Hindu dari abad 8 – 10 Masehi, yakni pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

Candi Prambanan sebagai salah satu peninggalan terbesar dari Kerajaan Mataram Kuno, memiliki keterkaitan dengan kompleks Ratu Boko. Candi Prambanan terletak pada salah satu garis imajiner dengan Ratu Boko, sehingga para ahli memperkirakan bahwa Candi Prambanan sebagai daerah sakral, sedangkan kompleks Ratu Boko sebagai tempat pemukiman yang lebih profan.

Banyak elemen menarik di seputar Ratu Boko yang bisa dieksplorasi dalam sebuah karya fotografi, bahkan dalam survei sebelumnya seolah-olah ada yang menuntun ke tempat-tempat yang luar biasa magisnya. Lokasi di seputar kolam pemandian adalah pilihan yang luar biasa indahnya untuk mengabadikan Lana dan Melda dalam suasana yang dramatik.

Di Kraton Boko ini saya berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan elemen-elemen ruang luar (landscape) dan benda-benda sekitar lokasi yang mungkin sering luput dari mata awam. Secara teknis hampir tidak ada kendala. Ibaratnya, kalau kita sudah menemukan lorong tertentu, apa pun bisa diwujudkan.

Tinggal framing saja, mana yang mau dilebarkan, mana yang mau dipersempit. Pose Lana yang memanfaatkan pohon sebagai elemen utama, contohnya. Framing-nya bagus. Karena sinar matahari yang kuat, maka saya tambahkan filter polarisasi yang bisa meredam cahaya yang terlalu terang. Ada asap buatan, seperti suasana desa di pagi hari.

Menjelang sore cuaca agak mendung. Sewaktu pemotretan saya mengandalkan long flash berdaya kuat Broncolor Para. Sedangkan teknik yang saya gunakan adalah mix light, yakni memadukan dua sumber cahaya dengan suhu warna yang berbeda: cahaya matahari sore dan flash. Saya juga pakai filter, sehingga warna ungu bisa masuk, sehingga bisa lebih dramatik lagi. Dengan latar belakang candi yang artsitik, ini juga bisa disebut sebagai foto fashion arsitektur.

Matahari tenggelam di ufuk barat, sesi pemotretan diakhiri di salah satu pintu gerbang seputar Kraton Boko. Puri berpose bak Loro Jonggrang, diiringi sepuluh pengawal lelaki bertelanjang dada. Bangunan sebagai latar belakang mencerminkan bangunan yang sangat kokoh, masif. Tapi yang saya tonjolkan tetaplah sosok perempuan yang sangat eksotik, matching dengan latar belakang yang ada di sekitarnya.

Mood-nya saya dapat, saya cukup puas. Ada awan yang menutupi langit, tapi saya bisa adjust. Tadinya saya berharap ada lapisan-lapisan awan, tapi mendungnya bukan yang cloudy, tapi awan yang rata. Saya tidak bisa menampilkan lapisan-lapisan awan itu, jadi saya putuskan untuk menggelapkan semua back ground-nya. Saya hanya bermain dengan filter. Golden light saya tidak dapat, tapi golden moment bisa saya peroleh. (Darwis Triadi)

(Ilustrasi HL oleh William Bayreuther on Unsplash)

Yogyakarta, 16 – 19 April 2005

Digital Life Style

0

Dengan fasilitas hotspot yang penyebarannya makin merata membuat orang bisa melakukan aktivitas dan pekerjaan dari mana saja. Ngerumpi dan presentasi sekaligus, bisa dilakukan di kedai kopi. Gaya hidup di era digital yang semakin memanfaatkan teknologi nirkabel, mengubah paradigma lama tentang konsep meeting points.

Starbucks, Plaza Senayan Jakarta. Jam makan siang telah usai, tapi tidak ada tanda-tanda para pengunjung yang rata-rata para eksekutif muda itu bergegas-gegas kembali ke kantornya. Danny Wirianto, salah satunya, bahkan sibuk memelototi layar laptopnya. “Saya sedang menunggu email dari klien,” ujar lelaki 33 tahun itu sambil menyeruput Frappucino, variasi kopi yang disajikan dingin.

Pemilik Semut Api Colony, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kehumasan (PR) dan event organizer itu, merasa tidak harus bekerja di kantor untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Di kedai kopi ber-AC di plaza itulah ia menghabiskan sebagian besar waktunya. “Di tempat yang mempunyai fasilitas hotspot ini saya gunakan untuk baca email, browsing untuk mengetahui informasi terkini, menyusun agenda, bahkan membuat proposal,”katanya.

Asal tahu saja, hotspot adalah salah satu layanan yang disediakan penyedia jasa Internet, di mana dengan menggunakan layanan tersebut, pengguna dapat menikmati akses Internet nirkabel (wireless) melalui laptop atau PDA yang telah dilengkapi dengan teknologi Wi-Fi (wireless fidelitiy), di lokasi-lokasi tertentu, seperti kafe, mal, maupun hotel.

Konsep kantor tradisional memang tidak berlaku bagi Danny. Pekerjaannya mengharuskan ia menjalani mobilitas yang tinggi, bertemu klien di sebuah kafe, atau bekerja di venue yang ada fasilitas hotspot-nya. Agenda hariannya, sebagai contoh, jam 10 pagi ia ketemu teman di Time Break Café, Plaza Semanggi, dilanjutkan dengan makan siang, jam 2 siang ia bertemu klien di Mister Bean Coffee, Cilandak Town Square. Malamnya, tidak jarang ia teruskan dengan mengikuti acara di sebuah hotel berbintang, terutama kalau ia yang menjadi event organizer-nya.

“Jadi, tidak perlu ke kantor lagi, lebih efisien. Apalagi jalanan Jakarta kan makin macet saja. Yang penting, komunikasi saya dengan staf di kantor lancar-lancar saja,” ungkap jebolan Kendall College of Art & Design, yang mempunyai beberapa klien, seperti Bank Danamon, Bank Mandiri, LG, dan Paparon’s Pizza itu.

Danny memang tidak sendiri, banyak profesional muda, sebutlah marketing manager, konsultan, creative director, event organizer, pemilik perusahaan, bahkan freelancer yang tidak perlu berkantor, tapi memanfaatkan kafe-kafe yang dilengkapi dengan fasilitas hotspot sebagai meeting points. Di era multimedia saat ini, berkomunikasi dengan mudahnya dilakukan oleh siapa saja, dengan siapa saja, via ponsel, atau perangkat nirkabel lainnya, seperti notebook, PC tablet, PDA, ‘komputer terbang’, dan seterusnya, sebagai communication tools.

Orang-orang dengan gaya hidup seperti Danny itulah agaknya merupakan peluang tersediri bagi sejumlah kafe atau coffee shop. Starbucks, misalnya, yang jumlah gerainya di Jakarta kini sudah 25 atau total 32 di seluruh Indonesia, menciptakan apa yang disebut sebagai the third place atau tempat ketiga sesudah rumah dan kantor bagi semua orang.

Photo by Ben Kolde on Unsplash

“Keberadaan Starbucks yang terletak di tempat-tempat yang strategis memudahkan orang untuk datang menikmati sajian minuman kopi berkualitas,“ jelas Kiki Soewarso, Public Relations Manager Starbucks Indonesia, PT Sari Coffee Indonesia.

Dengan fasilitas hotspot, demikian Kiki, pengunjung tidak hanya bisa berkomunikasi via dunia maya. Suasana yang nyaman membuat minum kopi di Starbucks membuat pengunjung betah berlama-lama menikmati suasana, menikmati kopi sendirian, berdua atau beramai-ramai, bahkan untuk informal meeting dengan kolega. “Ada yang datang pagi hari, siang, sore, atau malam,’’ ujarnya.

Berpetualang Rasa ke Negeri Kangguru

0

Selama 10 hari, 14 – 24 Maret 2002, enam wartawan dari pelbagai negara mendapat undangan Australian Tourist Commission untuk program Epicurean Experiences Theme Tour, merasakan kelezatan makanan dan minuman terbaik di restoran-restoran terkemuka di Brisbane (Queensland), Canberra (Australian Capital Territory), dan Melbourne (Victoria). Mereka adalah Diego Bigongiari (Argentina), Anneli Dierks (Jerman), Sarenda Eloff-Voster (Afrika Selatan), Eta Kroon (Swedia), Tamara Rubanowski (Selandia Baru), dan Burhan Abe (Majalah ME – Indonesia). Berikut catatan pengalamannya.

Australia mempunyai banyak sisi. Berbagai tema bisa dijual sebagai komoditi wisata. Menjajal makanan enak, dan mencicipi wine terbaik merupakan pengalaman yang mempunyai kesan tersendiri.

Undangan ke Australia dari ATC (Australian Tourist Commission) memang bukan yang pertama bagi Majalah ME. Tapi kali ini dengan tema Epicurean Experiences – Food & Wine Theme Tour, tetap saja menarik perhatian. Yang terbayang adalah tur ke pelbagai tempat sambil mencicipi makanan dan minuman yang paling enak di wilayah tersebut. Maklum, Epicurean sendiri berarti “the enjoyment of good food and drink”. “Habis dari tur, berat badan pasti naik beberapa kilo,” komentar Yovita Poerwadi dari ATC Jakarta.

Sambil mengantongi jadwal acara yang sudah tersusun rapi saya sudah membayangkan hal-hal yang menyenangkan, termasuk soal mencicipi makanan dan merasakan nikmatnya anggur Australia. Saya hitung, ada sekitar 18 restoran – yang pastinya kelas satu, atau memiliki keistimewaan tertentu – yang harus kami kunjungi, belum termasuk makan siang dan acara wine tasting di vineyard (perkebunan anggur) dan winery (pembuatan wine).

Rabu 13 Maret jam 20.05, pesawat Qantas Airways dengan nomer penerbangan QF 042 membawa saya ke Sydney. Sekitar tujuh jam perjalanan terasa menyenangkan dan jauh dari membosankan. Sampai di bandara internasional Sydney jam menunjukkan pukul 06.45 waktu setempat – terdapat perbedaan lima jam dengan Jakarta.

Saya kagum melihat sarana di bandara yang begitu modern dan berfasilitas lengkap. Informasi apa pun rasanya tersedia, bahkan ada fasilitas warnet yang bisa dipakai sepuasnya tanpa beaya sepeser pun – untuk penerbangan domestik harus pakai koin 2 dolar Australia untuk setiap pemakaian 20 menit.

Fasilitas itu saya gunakan untuk berkirim email ke beberapa rekan, termasuk ke contact persons yang mengatur perjalanan ini, sambil menunggu jadwal penerbangan berikutnya ke Brisbane pada pukul 13.10.

Di Sydney saya mempunyai jadwal wawancara dengan Paul Curtis, Qantas Chef Executive di Qantas Flight Catering Limited (QFCL) Building yang lokasinya tak jauh dari bandara – hanya 10 menit dengan taksi. Saya menggali informasi seputar Snap Fresh, program baru yang diluncurkan Qantas pada Februari lalu.

Wineries and Vineyard

0

Australia dikenal sebagai salah satu negara penting yang menghasilkan buah anggur dan minuman anggur (wine). Beruntung kami mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Sunshine Coast, salah satu wilayah penting di Queensland yang memproduksi wine, sekitar 112 km dari Brisbane. Wilayah pantai sekaligus pegunungan dengan iklim yang sejuk, sangat cocok bagi tumbuhnya tanaman anggur. Ada 10 perkebunan anggur sekaligus tempat produksi wine. Kami mengunjungi Settlers Rise Vineyard & Winery yang berlokasi di Montville.

Perkebunan dan pembuatan anggur ini dikelola seperti perusahaan keluarga. Pemiliknya adalah Peter Scudamore-Smith, ahli wine yang pandai mencampur berbagai jenis anggur sehingga bisa menghasilkan blended wines premium. Sebelum mendirikan perusahaan sendiri dan malang melintang di dunia wine selama 23 tahun, Peter adalah seorang Bachelor of Wine Science dan juga Master of Wine pada Institute of Masters of Wine di Inggris.

Agenda kami hari itu adalah mencicipi wine seperti yang dilakukan para sommelier (ahli wine). Sebelumnya kami juga disuruh mencicipi aneka keju dari Coolabine Farmstead Goat Cheeses, cracker, serta kopi organik yang juga produksi Montville. Untuk acara wine testing sendiri, kami dipandu oleh Heidi Bracko, Manajer Settlers Rise yang juga istri Peter.

Sebanyak 9 jenis wine telah disiapkan, mulai dari yang ringan (sparkling wine, white wine, sweet wine) hingga yang berat (red wine). Tidak seperti cara minum biasa, karena hanya sedikit saja wine yang kami cicipi setelah dicium terlebih dahulu aroma melalui bibir gelasnya. Sedikit dikumur-kumur lalu dibuang ke tempat yang telah disediakan.

Ini memang pengalaman unik. Rupanya wine tasting juga dijual sebagai paket wisata di wilayah ini, dengan harga 10 hingga 15 dolar Australia per kepala, tergantung dari jenis tur serta sedikit banyaknya jenis wine yang dicicipi.

Yang baru pertama kali mencoba mungkin tidak bisa membedakan rasa antara satu wine dengan wine yang lain. Tapi yang sudah terbiasa akan bisa menikmati wine yang masing-masing memiliki rasa dan aroma yang unik itu. Misalnya Verdelho, jenis white wine tahun 2001 mempunyai aroma seperti pisang.

Sedangkan jenis merah Lake Baroon Cabernet/Merlot tahun 2000 terasa lebih pekat dengan rasa yang rada sepet. Yang terkesan dengan jenis wine tertentu bisa membelinya, dengan harga antara 11,5 hingga 26,50 dolar Australia per botol.

Selain wine di pegunungan, wilayah ini lautnya juga terkenal sebagai penghasil ikan, mulai dari salmon hingga baramundi. Kami berkesempatan mencoba menimati “seafood extragavanza” untuk makan siang di salah satu restoran terkenal, Terrace Seafood Restaurant.

Pilihan yang sangat tepat karena restoran yang berlokasi di tepi pantai sekaligus pegunungan ini sering memperoleh berbagai penghargaan, mulai dari The Best Torism Restaurant in Queensland & Sunshine Coast Award (1998, 1999, dan 2000), hingga The Best Torism Restaurant in Australia Award (2000).

Pilihan entre-nya bermacam-macam, mulai dari salad, sup tom yum, hingga fresh oyster (tiram segar). Yang terakhir ini disajikan dalam piring besar, sementara tiramnya ditaruh dalam rangka yang berbentuk seperti miniatur tangga memutar. Untuk menu utamanya saya memilih The Terrace Platters, yang terdiri dari Moreton Bay bugs (sejenis udang), prawns (udang besar), kepiting, cumi, dan oyster, dimasak dengan santan dan cabai, disajikan dengan buah-buahan tropis. Hmm… (Burhan Abe)

ME 2002

Noosa Cuisine

0

Perjalanan selanjutnya adalah ke Noosa, kawasan pantai di Sunshine Coast dan menginap di The Sebel Resort Noosa. Pantai selalu menarik perhatian orang Australia. Menjadi area untuk berjemur atau sekadar menikmati hangatnya matahari, yang merupakan kemewahan tersendiri bagi penduduk yang berdiam di wilayah empat musim.

Itu sebabnya Noosa yang beriklim subtropis menjadi sangat hidup. Padanannya mungkin Kuta di Bali, tapi dalam versi yang lain, lebih tertata rapi. Pembangunan secara modern di wilayah ini dimulai sejak 1940. Dan kini, kota dengan 40.000 penduduk ini berkembang pesat, berbagai tempat pelesiran didirikan, hotel-hotel mewah bermunculan.

Resto dan kafe juga berkembang pesat di Noosa. Masing-masing tidak hanya unik, tapi juga stylish. Lebih dari 200 fine dining restaurant, belum termasuk fast food outlet. Ada yang berlokasi di tepi pantai, di tebing, juga di pinggir sungai. Jenis makanannya terdiri dari daging-dagingan hingga seafood, dimasak ala makanan Barat.

Belakangan bahan makanan organik menjadi tren dengan pengaruh masakan ala Asia dan Mediteranean. Yang menarik, “rahasia dapur” masing-masing resto itu sering dipublikasikan dalam koran lokal, juga diterbitkan dalam bentuk buku. Di antaranya adalah Noosa – The Cook Book (1999) yang memuat lebih dari 30 resep resto ternama di kawasan Noosa. Dengan berbagai keunikannya, pantas saja kalau Jane Robinson, Marketing Co-Ordinator Tourism Noosa Limited, menyebut Noosa sebagai salah satu melting pot yang penting di Australia.

Di Noosa kami berkesempatan menikmati makan malam di dua restoran ternama. Ricky Ricardo’s dan Berardo’s Restaurant. Resto yang pertama berlokasi di tepi sungai. Ricky yang pernah memenangkan American Express Award 2001 dan Best Sunshine Coast Restaurant itu menyajikan makanan ala Mediteranean.

Sementara Berardo’s dengan pemilik yang juga sekaligus chef David Rayner menyuguhkan sajian khas Australia, mewakili salah satu gaya Noosa Cuisine. Meski masuk melalui pintu kecil di tengah-tengah keramaian Noosa, di dalamnya ternyata lega. Dengan dekorasi etnik-modern yang serba putih, serta alunan piano, suasana menjadi romantis. Selama makan kami ditemani langsung oleh David yang kelahiran Inggris sambil menjelaskan satu per satu makanan yang datang ke meja kami. Makanan pembukanya terdiri dari tiga jenis, yakni sepotong ikan tuna yang dimasak ala sashimi, dada burung, dan kemudian salad yang terdiri dari tomat dan sayur-sayuran organik.

Menu utama banyak pilihan, dan saya memilih lobster yang dimasak dengan white wine, chili, basil dan vanila. Pilihan teman-teman yang lain beraneka, tapi semuanya memuji kelezatannya, dan saya mengamininya. Restoran yang masuk “the big five” di Noosa itu mengklaim makanan yang disajikan hampir 95% terbebas dari bahan kimia. Oleh koran lokal, The Courier Mail, Berardo’s juga dipuji sebagai resto yang mempunyai makanan yang enak, suasana yang mengasyikkan, serta mempunyai wine list yang sempurna.

Ke Noosa kurang lengkap kalau tidak mengetahui rahasia makanannya. Maka, kami pun pergi Villa Alba House of Sunshine untuk ikut cooking class – salah satu item yang dijual sebagai daya tarik pariwisata. Vila tersebut terletak di Noosa Valley, dekorasinya bergaya Eropa modern yang dipengaruhi gaya Bali, mempunyai kolam renang, serta berhalaman luas dengan pemandangan kebun dan pepohonan besar.

Selain para wartawan ada beberapa ibu yang ikut bergabung. Pemandu kursus tersebut sekaligus pemilik vila adalah sepasang suami istri, Sebastian dan Fiona Falzon. Dari namanya mereka memang berasal dari Italia. Siang itu kami membuat makanan Italia, terdiri dari agnello (seperti gule kambing dengan kentang), tortellini (pastel kecil yang berisi daging), serta Italian Easter.

Fiona yang pengacara tapi mempunyai hobi memasak itu menerangkan resep sambil mempraktekannya. Para peserta tidak hanya menyimak, tapi juga ikut membantu. Acara masak-memasak memakan waktu sekitar dua jam, kemudian diakhiri dengan makan siang bersama dari hasil masakan tersebut. Tidak lupa, selama makan berlangsung tersedia berbagai wine Australia. (Burhan Abe)

ME 2002