Home Blog Page 112

Play with Champagne!

0

Minuman ini tidak bisa dipisahkan dengan pesta. Champagne adalah hasil fermentasi buah anggur oleh ragi, yang berfungsi mengubah kandungan gula menjadi alkohol (12%-13%) tapi apa yang membedakannya dengan wine? Arena balap mobil Formula 1 mana mungkin melupakan minuman yang satu. Setiap kali ada penobatan pemenangnya selalu ada semprotan champagne. Tidak hanya F1, minuman asal Prancis ini selalu hadir di sela-sela pesta, entah itu sekadar seremoni pembukaan gerai, launching produk, atau perayaan di hotel-hotel berbintang.

Champagne adalah salah satu jenis wine yang memercik dan terdapat gelembung udara di dalamnya. Bahkan tim peneliti Prancis mengatakan rasa champagne terletak pada buihnya ini. Makin halus buihnya, makin enak nikmat rasanya, begitu menurut peneliti dari University of Reims Champagne-Ardenne.

Sama seperti wine, minuman ini dibuat dari anggur pilihan yang difermentasi, yang berasal dari Champagne. Hanya saja, dengan propses tertentu, terciptalah bubble (gelembung) pada champagne hingga memiliki rasa yang unik.

Di luar Champagne, wilayah Prancis itu, minuman sejenis walaupun proses fermentasinya sama tidak berhak memakai nama champagne. Kata yang tepat untuk wine dengan taste yang sama tapi diproduksi di luar Champagne — sebutlah Australia, Brasil, Afrika Selatan atau Spanyol – adalah sparkling wine.

Tapi apa pun namanya, kedua minuman tersebut bisa dihidangkan kapan saja, untuk menemani hindangan apa – sebelum, sesudah atau selama acara makan berlangsung. Berbeda dengan jenis wine yang lain, sebutlah white wine yang cocok sebagai teman bersantap dengan daging putih (ayam, unggas, atau ikan), dan red wine dengan daging merah (sapi atau steak), champagne lebih fleksibel, bahkan lebih fleksibel dibandingkan dengan rose wine yang meski fleksibel tapi syaratnya harus bernuansa romantis.

Photo by Anna Bratiychuk on Unsplash

Champagne terbagi menjadi dua jenis, berdasarkan kandungan gulanya. Brut adalah jenis yang paling sedikit mengandung gula (hampri tidak ada gula), hingga extra sec, yang dikenal juga dengan sebutan extra dry, memiliki sedikit rasa manis.

Sec berarti kering, dalam bahasa Prancis, sebenarnya mengacu kepada wine yang agak manis. Demi sec dan doux, keduanya sangat manis dan merupakan pilihan yang sangat tepat untuk dihidangkan sebagai pencuci mulut.

Berikut ini beberapa merek champagne yang terkenal; Piper Heidsieck, Brut, Cuvee Diplomatic, Dom Perignon, Moet et Chandon, Pommery & Greno Demi Sec, Pommery Greno Brut, G.H. Mumm & Co, Cordon Rounge Brut, dan Vueve Cliqot Ponsardin.

Cara Menyajikan

Ada gelas yang diperuntukkan untuk semua jenis anggur. Gelas ini sebaiknya dapat menampung sekitar 10 oz, transparan agar kita bisa melihat warna wine dengan baik, serta memiliki badan gelas yang menciut ke atas. Tapi akan lebih cocok kalau champagne atau sparkling wine disajikan dalam gelas bertipe flute, yang memungkinkan untuk memandangnya secara seksama gelembung yang bermunculan dan keharuman aromanya dapat tercium secara bertahap.

Kelihatannya sepele, tapi jika Anda tuan rumah sebuah pesta, harus tahu cara menyajikan minuman ini dengan baik, bahkan bisa menunjukkan “kelas” Anda. Champagne atau sparkling wine sebaiknya disajikan pada suhu 5-8 derajat C, dan biasanya disajikan dalam keranjang es agar tetap dingin.

The Magic of Wine

0

Anggur tentu bukan sekadar minuman, melainkan gaya hidup. Menjualnya pun konon bukan perkara mudah, tapi harus memahami karakter social drink ini, serta komunitas peminumnya yang sangat eksklusif.

Pakar anggur asal Prancis, Bruno Baudry, datang ke Jakarta beberapa waktu lalu. Ia yang mewakili salah satu perusahaan anggur terbesar di dunia, Castel, ingin membagi ilmunya seputar minuman gaul itu di Kyoya, restoran ala Jepang di kawasan Sudirman yang sejak Desember tahun lalu mempunyai wine club.

Dalam acara icip-icip anggur itu, Baudry juga membawa beberapa botol anggur Virginia yang diproduksi Castel tahun 2003 — konon merupakan tahun terbaik, karena memiliki musim panas terpanjang selama 500 tahun terakhir. Namun yang jelas, menghadirkan sommelier merupakan salah satu cara mengenalkan anggur ke calon konsumennya secara tepat. Sebelumnya, beberapa klub penggemar anggur di Jakarta juga mengadakan acara serupa, yang biasanya disponsori oleh merek anggur tertentu atau distributornya di sini.

Memang, kebiasaan minum anggur di Indonesia tergolong baru dan komunitasnya masih kecil, apalagi dibandingkan dengan biangnya di Prancis sana. The Wine Room pernah mendeteksi bahwa dalam setahun setiap orang Prancis saat ini minum sekitar 120 liter, meningkat dari 80 liter anggur per tahun pada 1960-an. Bandingkan dengan Indonesia yang konsumsinya diperkirakan hanya 0,2 liter anggur per kapita per tahun.

Kecil memang, tapi Reimer A. Simorangkir meyakini bahwa penggemar anggur di Indonesia terus bertambah meski tergolong masih eksklusif. Itu pula yang menjadi pertimbangan ketika bersama empat koleganya ia mendirikan Vin+, wine shop yang berlokasi di bilangan Kemang, Jakarta, akhir Oktober tahun lalu.

Reimer mengaku sudah terjun di bisnis anggur sejak 15 tahun yang lalu. Menurut mantan Direktur Kemang Duty Free, yang konsentrasi penjualannya juga di anggur untuk kalangan ekspatriat itu, di era globalisasi ini banyak orang Indonesia yang telah atau sedang belajar ke luar negeri. Banyak orang Indonesia yang berhubungan dengan orang bule.

Artinya, budaya Eropa atau Barat, sebutlah kebiasaan minum anggur, sudah bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. “Kami melihat ada peluang pasarnya di sini. Kami hanya memberi sarana di mana orang bisa datang dan memilih anggur ke wine shop kami,” katanya.

Reimer yang Direktur Utama Vin+ menegaskan, sebenarnya konsep bisnisnya bukan hanya menjual anggur, tapi juga menjual gaya hidup. Pasarnya pun, untuk anggur premium yang berbeda dari yang dijual di pasar swalayan, misalnya, termasuk unik. “Potensinya lumayan besar. Apalagi kalau perekonomian membaik, kalangan menengah akan tumbuh dan gaya hidupnya pun mulai berstandar internasional,” tuturnya.

Wine
Photo by Matthieu Joannon on Unsplash

Dengan investasi Rp 2 miliar, Reimer optimistis bisnisnya bisa mencapai breakevent point dalam waktu dua tahun. Keyakinan ini bukan tanpa alasan, karena ia bukanlah orang baru di bisnis anggur, dan mempunyai jejaring yang bisa diandalkan. Menurutnya, ada beberapa komunitas peminum anggur di Jakarta dan di luar Jakarta. Misalnya, Wine Spirit Circle, yang beranggotakan sekitar 1.000 orang, 30% anggotanya adalah orang Indonesia.

Ada juga International Wine Food Society. “Di luar itu, ada beberapa klub kecil atau grup-grup informal yang beranggotakan 20-an orang. Mereka sering bertemu sebulan sekali untuk makan bersama sambil minum anggur,” ia menjelaskan.

Inner Beauty

0

Cantik tidak melulu soal fisik. Ada yang lebih penting ketimbang penampilan lahiriah. Tapi mengapa perempuan Indonesia merasa kurang puas dengan tubuhnya?

Perempuan mana yang tidak ingin cantik, dan lelaki mana yang tidak ingin melihat perempuan cantik? Kloplah! Tidak heran kalau para wanita berlomba-lomba untuk mempercantik diri, baik itu dengan memilih busana yang menarik atau pun tata rias yang bisa memperindah penampilan. Termasuk memakai produk-produk yang masuk kategori health care, atau pun mengonsumsi berbagai makanan suplemen, misalnya.

Saya sempat heran ketika istri saya sangat fasih menyebut berbagai istilah-istilah, yang kadang-kadang mirip dengan istilah kedokteran. Ekstrak bengkuang, sea minerals, pro vitamin B5, squalene oil, chamomile extract, repair Q enzyme Q10, dan seterusnya. Semua itu ternyata unsur-unsur dalam kosmetik dalam urusan kecantikan, mulai zat dari memutihkan kulit, ekstrak yang menghaluskan, melembutkan kulit, hingga elemen yang menghambat penuaan dini.

Sama fasihnya ketika anak kami lahir dengan menyebut AHA, DHA, Omega 3, dan lain-lain, yang katanya adalah unsur-unsur yang harus ada dalam susu bayi.

Kita mencari informasi tentang berbagai hal untuk meningkatkan kualitas kehidupan yang lebih baik. Namun iklan di media rupanya mempunyai pengaruh yang lebih kuat, bahkan mendikte, apa sebaiknya yang kita konsumsi. Makanan apa yang menyehatkan, minuman yang menyegarkan, kosmetik apa yang bisa membuat cantik. Semuanya dengan janji-jani yang luar biasa.

Ada shampo yang tidak hanya membersihkan rambut, tapi juga meluruskan. Sabun mandi tidak hanya membuat badan bersih, tapi mampu menjadikan secantik bintang film. Wow!

Cantik memang menjadi obsesi setiap perempuan. Saya mafhum ketika ada teman perempuan saya menyempatkan waktu untuk berlama-lama di salon. Tapi saya hanya bisa bengong, ketika teman perempuan yang lain membolos dari kantornya hanya karena punya janji dengan beauty therapist untuk melakukan facial treatment dengan menggunakan sinar laser agar kulit wajah mulus, padahal menurut saya wajahnya sudah mulus. So what gitu lho!

Katanya itu belum seberapa, karena kabarnya operasi plastik kini menjadi pilihan jalan pintas untuk menjadi cantik. Apalagi, ada contoh dalam tayangan TV asal AS yang kini ditayangkan di sini, The Swan. Program reality show itu menjaring peserta wanita yang tidak puas dengan dirinya. Dalam tiga bulan wanita-wanita yang berpenampilan biasa-biasa saja disulap menjadi manusia baru yang “lahir kembali”, bak model dengan tubuh ideal.

Dengan para ahlinya, mereka dipermak secara mental, tapi terutama fisik. Lemak yang berlebihan di beberapa bagian tubuh disedot, kantung mata ditarik biar kencang, gigi dirapikan, bahkan hidup yang pesek bisa dipermak dengan operasi plastik.

Tidak banyak memang perempuan Indonesia yang mau “mempermak” tubunya habis-habisan. Paling tidak kalau dibandingkan dengan wanita-wanita negara tetangga di Asia, Jepang, misalnya, 39 persen wanitanya rata-rata sudah melakukan operasi plastik, Taiwan 40 persen, bahkan Korea Selatan 53 persen.