Saturday, February 23, 2008

Makanan Sehat vs Makanan Enak



Di tengah isu global warming, climate change, dan sejenisnya, sebuah proyek apartemen yang mempunyai konsep “go green” diluncurkan Januari lalu tahun ini. Tidak hanya itu, tempat peluncurannya pun di sebuah kafe yang menyediakan “healthy food” di bilangan Jakarta Selatan. Aha, strategi yang sangat brilian!

Hanya saja, ketika menikmati hidangan yang tersedia, sorry to say, kok tidak ada yang maknyus. Tampilannya memang menarik, tapi di lidah terasa hambar. Dibilang tidak enak sebenarnya juga tidak, tapi rasanya kurang nendang, gitu loh. “Makanan sehat tidak tidak selalu enak. Sebaliknya, makanan enak tidak beranding lurus dengan kesehatan,” ujar gastronom William Wongso.

Begitulah, rasa kadang-kadang harus dikalahkan kalau ingin hidup lebih sehat. Kesadaran seperti ini agaknya mulai menjadi tren dunia. Di Indonesia yang memang sedikit paradoks. Ketika orang-orang Amerika menghindari burger yang dianggap junk food, kita justru sedang tergila-gila dengan makanan yang satu itu. Bahkan, perusahaan besar di Indonesia yang mefokuskan diri kepada produk-produk life style, baru saja mendapatkan franchise untuk membuka gerai burgernya di sini.

Kasadaran akan hidup sehat memang belum merata di Indonesia. Atau, kalau tahu infonya, tidak semua orang berniat hidup sehat dengan berbagai alasan – misalnya dari segi biaya, hidup sehat ternyata tidak murah. Diet Coke, misalnya, harganya lebih mahal ketimbang kola biasa. Tapi asal tahu di AS volume penjualan Diet Coke sudah mengalahkan yang reguler. Sayur organik, selain tidak gampang mendapatkannya (dan tampilannya tidak kelihatan “segar”, seringkali berulat), harganya pun bisa dua kali lipat.

Apa boleh buat, hidup sehat – dengan mengonsumsi makananan sehat yang tidak digaransi lezat, memang masih eksklusif. Kita juga mafhum kalau restoran yang hadir dengan konsep menu sehat, baik dari pemilihan bahan maupun cara memasaknya, bisa dihitung dengan jari. Tapi apa pun motivasinya, kita harus acungi jempol kepada para pengusaha yang menjadi pionir, mau terjun di bisnis “makanan diet” ini. Di tengah membanjirnya restoran-restoran yang hanya “menguja rasa”, masih ada yang peduli dengan kesehatan. Di tengah serbuan produk-produk makanan ber-MSG, mengandung kadar gula tinggi, mempunyai zat pengawet, masih ada produk yang sehat dan aman dikonsumsi.

Pola hidup dan pola makan kita sudah sudah terlampau biasa mengonsumsi produk-produk yang berbahaya bagi kesehatan. Healthy restaurant ibarat oase di tengah padang belantara makanan sampah, dan healthy food products ibarat “penawar rindu” orang-orang yang mendambakan kesehatan.

Memang, menurut seorang pakar nutrisi sehat, kalau ingin hidup sehat, tidak cukup dengan pemilikan rumah makan tertentu atau pun pemilihan produk-produk yang memenuhi standar kesehatan, tapi juga harus mengetahui olah masak yang sehat pula. "Mengukus, merebus, memanggang, dan membakar adalah metode yang lazim digunakan dalam menu diet atau menu sehat," ujarnya.

Hidup sehat adalah pilihan, termasuk konsekwensinya meninggalkan makanan enak – paling tidak yang selama ini dianggap enak. Siapkah Anda mengganti nasi dengan beras merah, misalnya? Atau mengganti gula dengan madu, minimal dengan gula rendah kalori. Garam pun harus jenis garam diet (nutrisalin), santan diganti susu rendah lemak, minyak sebaiknya canola oil atau bahkan minyak zaitun mengandung antioksidan tinggi. Roti tidak boleh mengandung bahan tambahan seperti aditif, preservatif, apalagi zat kimia, yang biasa terkandung di roti-roti modern saat ini. Dan siap-siaplah meninggalkan ayam goreng yang gurih dan lezat itu, karena yang disarankan dalam hidup sehat adalah ayam bakar atau ayam rebus, itu pun tanpa kulit dan garamnya tidak boleh berlebihan. Huh!

2 comments: