Wednesday, October 15, 2008

Sang Pemimpi dari Belitong

Andrea Hirata
Berkat novelnya Andrea Hirata bisa menjadi ikon baru di industri kebudayaan pop Indonesia. Tapi pemuda yang memilih hidup sebagai single ini enggan disebut sebagai selebriti. Kendati clubbing, minum wine, “saya tetap orang kampung,” katanya. (Burhanuddin Abe

TAK pelak lagi, Andrea Hirata adalah penulis paling populer saat ini. Novelnya, Laskar Pelangi, yang bercerita tentang perjuangan sepuluh anak kampung dalam meraih cita-cita, seolah memberi setitik kesegaran di tengah-tengah dahaga pembaca terhadap karya-karya berkualitas. 

Laskar Pelangi adalah fenomena. Novel yang pertama kali diterbitkan Bentang, Yogyakarta, September 2005, tidak hanya menjadi best seller (bulan Mei 2008 memasuki cetakan ke 22), tapi ikut melejitkan nama penulisnya bak selebriti yang kehadirannya selalu ditunggu-tunggu. Dalam setahun tak kurang dari 200 acara yang harus ia hadiri, baik sebagai pembicara dalam bedah buku atau pun sekadar “jumpa fans”. 

Andrea sendiri tidak pernah menyangka, sambutan publik atas novelnya begitu tinggi. Padahal, ”Saya menulis buku itu hanya sekadar mencurahkan isi hatinya tentang perjuangan guru saya semasa saya bersekolah di SD Muhammadiyah, Belitong Timur, Bangka Belitung,” ujar anak kelima dari pasangan Seman Said Harun Hirata dan Masturah ini.

Siapa nyana, novel yang mungkin tidak akan pernah sampai ke tangan pembaca jika tidak ada seorang temannya yang diam-diam mengirimkan karyanya ke sebuah penerbit ini, nyatanya memang mendapat tempat di khasanah sastra Indonesia, sekaligus sukses secara bisnis. 

Tapi tentu, tak adil jika kelarisan novel ini disebut hanya karena faktor keberuntungan semata. Pujian dari sejumlah kalangan di atas sudah menjadi bukti bahwa novel ini sanggup meninggalkan kesan yang mendalam di benak para pembaca. ”Saya larut dalam empati yang dalam sekali. Sekiranya novel ini difilmkan, akan dapat membangkitkan ruh bangsa yang sedang mati suri,” komentar Ahmad Syafi’i Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah.

Pujian lain datang dari Sapardi Djoko Damono, sastrawan dan Guu Besar Fakulas Ilmu Budaya UI. ”(Buku ini adalah) ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, yang menjawab inti pertanyaan kita tentang hubungan-hubungan antara gagasan sederhana, kendala, dan kualitas pendidikan.” 

Komentar memang bisa datang dari mana saja, apalagi kenyataannya tulisan Andrea tidak sekadar pengalaman masa kecil, tapi sebuah memoar yang sulit dicari tandingannya dalam khasanah sastra kontemporer saat ini. Tidak heran kalau buku ini pun ramai diperbincangkan, diresensi, diulas di berbagai milis, dan akhirnya laris manis di pasaran. Buku ini bahkan sudah diterjemahkan dalam bahasa Melayu dan diterbitkan di sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Myanmar. Dan tak lama buku Laskar Pelangi akan diterbitkan di Eropa dan Amerika Serikat, tentu dalam terjemahan bahasa Inggris.

Mimpi Backpacker 
Tidak berhenti pada novel ternyata, Laskar Pelangi kini masuk ke industri film, yang tentu mempunyai potensi sebagai film laris. Film yang diproduksi Miles Production dengan sutradara Riri Riza ini sound track-nya digarap dan dinyanyikan ramai-ramai oleh para musisi top saat ini – mulai dari Ipank, Nidji, Sherina, hingga Gita Gutawa. 

Ya, nama Andrea Hirata tidak hanya diperhitungkan di jagad pernovelan Indonesia, tapi ia adalah ikon baru dalam kebudayaan pop Indonesia. Andreanis adalah istilah yang diciptakan bagi mereka yang jadi fans Andrea Hirata. 

Namun, di tengah glamoritas yang mungkin menyertai kehidupannya kini, Andrea adalah Andrea yang dulu yang tetap bersahaja. “Saya tetap orang kampung yang sebenarnya tidak suka popularitas,” ujar lajang kelahiran Belitong 24 Oktober, 34 tahun yang lalu.

Meski menggeluti sastra, Andrea sebenarnya ahli dalam bidang ekononomi. Ia juga menggemari sains -- fisika, kimia, biologi, astronomi. Andrea mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Ia sedang mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya.

Andrea berpendidikan ekonomi di Universitas Indonesia, mendapatkan beasiswa Uni Eropa unutk studi master of science di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi Ilmiah. 

Out of the Blue
Sebelum menulis Laskar Pelangi, nama Andre sebetulnya tidak dikenal sebelumnya, out of the blue. Ajaib memang, sebelumya ia tidak pernah menulis sepotong cerpen pun, tiba-tiba ia menghasilkan Laskar Pelangi, novel setebal 529 halaman yang ia selesaikan dalam waktu tiga minggu.

Anda tidak pernah menulis sebelumnya, tiba-tiba menghasilkan Laskar Pelangi yang fenomenal?

Penjelasannya mungkin begini. Saya percaya dalam komunitas tertentu, atau masyarakat yang mendiami wilayah tertentu memiliki kecederungan bakat tertentu. Orang-orang Bali, terutama yang tinggal di Ubud, misalnya, mempunyai kemampuan yang kuat untuk menjadi pelukis. Dan lingkungan yang membentuk saya adalah lingkungan masyarakat Melayu yang sosio lingustik, yang kental budaya satranya. Dalam kesehaian mereka sangat gemar berpantun, merangkai kata-kata indah.

Untuk menulis novel setebal 529 halaman, Anda hanya membutuhkan waktu tiga pekan, bisa dijelaskan?

Menulis Laskar Pelangi adalah keinginan lama. Di otak ini semua sudah tergambar dengan jelas, apa yang ingin saya tulis. Niat saya untuk menulis buku ini sudah ada sejak saya kelas 3 SD, ketika saya demikian terkesan pada jerih payah kedua guru SD saya Ibu Muslimah dan Bapak Harfan Effendi, serta 10 sahabat masa kecil saya, yang disebut Laskar Pelangi. 

Ibaratnya, outline dan plot-plot sudah ada di kepala, dan ketika punya waktu untuk menuangkannya dalam tulisan, itu hanya masalah teknis semata. Tapi sebetulnya, saya tidak menulis what I think, tapi what I feel. Jadi, semuanya lancar....

Selain banyak mendapat pujian, ada beberapa kritik terhadap Laskar Pelangi. Di antaranya, mengapa Anda banyak memakai kata asing. Pohon Filicium, misalnya, pasti tidak dikenal oang desa di Belitong. 

Kritik pasti saya perlukan, dan itu sangat saya hargai. Saya bisa menjawab begini, novel saya bercerita tentang anak-anak, tapi bukan novel anak-anak. Ada penulis yang suka memakai sudut pandang anak-anak, tapi ada yang pakai sudut pandang dewasa. Dalam kasus Laskar Pelangi, saya memilih yang kedua. Orang dewasa, dengan pengetahuan saat ini, bercerita kembali tentang masa kecilnya.

Novel saya adalah memoar, saya sudah memiliki informasi yang mengendap di kepala saya. Tapi untuk mendalaminya saya memerlukan riset, saya harus mengkonfirmasikan lagi beberapa hal yang berkenaan dengan biologi, fisika, dan kimia waktu menggambarkan karakter Lintang yang jenius. Juga ketika mendeskripsikan anatomi kandungan material tambang di Belitong.

Ternyata dengan gaya itu novel Anda sukses....

Sukses memang di luar dugaan saya. Bangga juga, Laskar Pelangi banyak didiskusikan, berapa banyak karya ilmiah, skripsi dan tesis, yang lahir dari novel ini. Juga melahirkan buku lagi, seperti Laskar Pelangi: The Phenomenon karya Asrori Karni. Ada film yang dibikin Riri Reza. Sound track digarap pada musisi seperti Nidji, Sherina, Mara Karma untuk taste Melayunya, dan lain-lain. Pemeritah Daerah Belitong juga memanfaatkan momen ini untuk kampanye pariwisatanya. Saat ini ada musisi besar, saya belum bisa menyebut nama, yang berminat membuat lagu dari puisi-puisi yang ada di buku Laskar Pelangi.

Add caption
Nilai multiple effect-nya besar?

Benar, bukunya sendiri kini sudah terjual 1 juta kopi lebih. Sudah menghasilkan minimal Rp 12 miliar.

Katanya ada tawaran menggiurkan dari sebuah PH (production house) yang membeli copyright Laskar Pelangi. Dia berani bayar Rp 7 miliar?

Ya, benar, tapi saya enggak mau. Karena yang dibeli adalah copyright semuanya, mereka bebas bikin apa saja dengan Laskar Pelangi, masanya hingga 15 tahun.

Secara ekonomoni Anda boleh dikatakan lebih dari cukup, tapi mengapa Anda masih setia sebagai pegawai negeri (Andrea kini masih tercatat sebagai pegawai di kantor pusat PT Telkom, Bandung – Red)?

Memang, banyak yang melontarkan pertanyaan demikian. Secara materi, yang saya dapatkan dari profesi penulis saat ini jauh lebih besar daripada gaji yang saya dapakan dari Telkom. Tapi uang kan bukan satu-satunya yang memberikan kepuasan batin. Ketika bergelut dengan sastra maka saya memanfaatkan otak kanan, dan ketika saya bergaul dengan ilmu pasti otak kirilah yang bekerja. Saya tidak ingin memforsir salah satunya, tapi melupakan yang lain. Saya ingin antara otak kanan dan otak kiri seimbang.

Mengapa Anda belum menikah? 

Saya memutuskan tidak menikah. Ada faktor usia juga, terlalu tua untuk memulai rumah tangga. Dalam kehidupan percintaan saya boleh dikatakan saya paceklik, sepanjang hidup hanya jatuh cinta dua kali. Yang pertama pada usia 13 tahun, dengan A Ling, dan yang kedua pada usia 26 tahun, dengan Katia. Selebihnya saat ini saya tidak mempunyai teman dekat (wanita).

Dengan penggemar yang banyak dan fanatik tentu tidak susah menemukan jodoh? 

Bukan begitu, saya adalah tipe orang pembosan. Kalau saya menikah kemudian di tengah jalan bosan, bagaimana? Ibu saya juga sudah sering menyuruh saya menikah, tapi berat untuk melaksanakannya...

Atau, Anda takut dengan komitmen? 

Sama sekali bukan itu. Kalau saya takut dengan komitmen, mana mungkin saya mau menyekolahkan dua keponakan saya hingga lulus perguruan tinggi.

Dalam masyarakat Timur orang kan tabu kalau tidak menikah?

Memang. Tidak hanya Ibu, orang-orang dekat saya juga terus mendesak dan mendorong-dorong saya untuk menikah dan berkeluarga. Tapi menjadi single adalah pilihan hidup saya. Oh ya, saya hetero, bukan gay. Normal, tidak ada kelaian dalam orientasi seksual saya. Alasan tidak menikah simpel saja, saya suka bosan.

Tidak takut, karena hidup sendiri, di masa tua kelak sendiri dan kesepian? 

Pasti takut. Itu sebabnya, mungkin tahun depan saya mengadopsi anak.

Majalah ME, Oktober 2008

No comments:

Post a Comment