Tuesday, October 06, 2009

Batik, World Heritage


BATIK akhirnya diakui sebagai world heritage, 2 Oktober lalu. Pada tanggal itu pula, bertepatan dengan hari Jumat, Jakarta (juga kota-kota di Indonesia yang lain) seperti lautan batik. Tidak hanya di perkantoran, tapi juga di jalanan, di mal-mal, bahkan di pusat-pusat hiburan (di panti pijat ada nggak ya). Paling tidak, di hari itu kita boleh berbangga sebagai bangsa.

Tapi, tahukah saudara-saudara, dari 76 seni dan budaya warisan dunia yang diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), Indonesia hanya menyumbangkan satu, yakni batik tersebut, sementara China 21 dan Jepang 13 warisan. Apa boleh buat!

Dan yang penting, pengakuan saja tidaklah cukup sebenarnya, karena di dalamnya juga ada tuntutan dan tanggung jawab. Apalagi, batik sebetulnya bukan monopoli Indonesia. Jepang dikenal juga seagai negara pembuat batik, meskipun sekarang sudah langka. Demikian India, China, Thailand, dan negeri jiran Malaysia. Memang, yang membuat hati berbunga sebagai bangsa, batik Indonesia memang beda, sebagai produk sangat canggih dan punya karakter yang kuat.

Yang juga membuat bangga, pengakuan UNESCO juga menumbangkan klaim Malaysia terhadap batik – meski klaim-klaim terhadap yang lain sebagai miliknya belum juga kita bereskan, sebutlah angklung, reog, tari pendet, dan belakangan klai terhadap beberapa jenis makanan yang sebetulnya sudah bercokol lama di Bumi Nusantara.

Yang jelas, batik Indonesia, terutama Jawa, menjadi acuan dunia karena teknik pembuatannya unik dan coraknya kuat, tidak sekadar kain bercorak tapi memuat pandangan dan filosofis hidup pembuatnya. Batik Jawa mempunyai corak yang khas; berbasis motif geometris, dan motif inspirasi dari dunia flora dan fauna. Seni adiluhung ini bertali-temali dengan wujud budaya yang lain, seperti seni ukir, pertunjukan wayang, pertanian, bahkan bahasa.

Dengan adanya pengakuan UNESCO, kita memang wajib berbangga diri sebagai bangsa Indonesia. Tapi pengakuan ini juga, kita dituntut untuk selalu mengembangkan industri batik di Tanah Air, selalu melakukan promosi, preservasi, dan proteksi warisan budaya dunia ini.

Pengukuhan ini seharusnya bukan euforia sesaat, tapi juga membawa konsekwensi yang tersendiri. Di antaranya adalah tanggung jawab pemerintah dan masyarakat untuk selalu menyosialisasikan pemakaian batik sebagai bagian dari budaya, tidak sekadar tren fashion sesaat, di Indonesia. Batik memang bukan sekadar tekstil bermotif batik, tapi lebih dari itu, selain ada teknologi (pembuatannya) yang membedakan dengan kain tekstil yang lain, ada filosofi yang terkandung di dalamnya.

Sebetulnya tidak hanya batik yang patut mendapat pengakuan lembaga seperti UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Masih banyak budaya aduluhung lain yang patut kita perjuangkan untuk mendapat pengakuan, atau kita klaim sebagai milik kita dengan mendaftarkan copyright-nya – sebelum kita kebakaran jenggot karena negeri tetangga melakukannya terlebih dahulu.

Masih banyak aspek budaya di negeri ini yang masih sangat perlu perhatian dan jika memang ingin dikaitkan dengan momentum batik Indonesia yang masuk dalam daftar warisan budaya dunia versi UNESCO. Sesungguhnya warisan budaya dunia itu ada di Indonesia! (Burhanuddin Abe)

No comments:

Post a Comment