Sunday, June 13, 2010

Table for Seven






Tonight's dinner at Ce Wei, GF, Intiland Tower (used to be Dharmala Sakti) next to ANZ Building Jl Jend Sudirman/KH Mas Mansyur Jakarta. @7.30pm, 7 of us. Cu!

Pesan pengingat itu dikirim melalui Facebook Mobile. Ya, untuk kesekian kalinya kami berkumpul dalam sebuah perjamuan makan malam dengan pilihan tempat yang berpindah-pindah. Kami sebut ini sebuah ritual – menikmati wine dinner sambil mengobrol ringan.

Penggagasnya adalah Ida Bayuni, pemilik konsultan PR (public relations) B&W Communications, yang didirikannya sejak Juni 2001. Pesertanya adalah beberapa wartawan senior, serta klien B&W yang kebetulan kali ini adalah Singapore Tourism Board (STB), Jakarta – diwakili oleh Chooi Yee Choong (Regional Director ASEAN & Oceania) dan Retno putri Nugroho (Asst. Manager, Tourism Business Indonesia). Para wartawan yang hadir, selain saya adalah M. Rasyid Ganie (Djakarta), Wahyu Indrasto (Eksekutif), dan Sari Narulita (Her World).

Ce Wei Restaurant yang berlokasi di Intiland Tower Jakarta itu adalah venue ke sekian yang kami pilih. Kalau biasanya yang kami kunjungi adalah wine lounge, kali ini adalah restoran cina. Master chefs-nya berasal dari Hong Kong, Malaysia, dan Singapura.

Cina mempunyai kekayaan kuliner yang kaya, serta mengembangkan seni masak-memasak yang mengagumkan. Ragam maupun gaya masakanya unik dari daerah ke daerah, masing-masing dengan kekhasan masakan tersendiri. Mulai dari hidangan ringan dan lembut hingga yang sophisticated dan penuh gaya.

Di Ce Wei kami bertujuh bisa merasakan hidangan manis asam ala Hunan, atau masakan ala Szechuan yang pedas, atau ala Kanton yang khas dengan tumis-tumisannya. Sekadar pengetahuan, harga makanan di Ce Wei dengan porsi standar berkisar 10 – 30 dolar AS per orang.

Yang sulit adalah bagaimana memadukan makanan tersebut dengan wine? Selain tidak ada sommelier-nya di restoran tersebut, yang lebih parah wine cellar-nya juga tidak ada. Tapi itu bukan halangan, Pak Chooi dari STB sudah berniat membawa sendiri minuman, tidak hanya wine tapi juga Baileys Irish Cream.

Minuman pertama, white wine asal Napa Valley, California. Wine Chardonnay tahun 2006 ini pas untuk pembuka, rasanya sedikit manis, dan menerbitkan selera untuk mencoba course-course yang lain.

Wine berikutnya adalah jenis merah Cabernet Merlot tahun 2004, asal Australia. Rasanya kompleks, dengan meski masih tergolong ringan. “Pilihan saya selalu red wine,” ujar Ida, dan ini diamini oleh yang lain.

Berikutnya adalah Bordeaux, Chateau Teyssier, 2007. Bordeaux adalah sebuah wilayah barat daya Prancis, terletak di mulut Sungai Gironde, salah satu penghasil anggur terbaik di dunia. Ciri wine Bordeaux, yang kebanyakan merah, tidak hanya satu jenis varietas saja, tapi blend atau campuran dari beberpa jenis anggur. Rasanya sudah pasti sangat kompleks.

Tapi yang menarik wine tidak menjadi primadona malam itu. Karena masih ada Baileys Irish Cream, yang bisa diminum sesudah acara makan berakhir. Minuman yang rada kental ini adalah paduan antara Irish whiskey dan cream based liqueur, dibuat pertama kali oleh Gilbeys asal Irlandia, dan mereknya sekarang dipegang oleh Diageo.

Rasanya yang manis, serta kandungan alkohol yang tidak lebih dari 17% ini digemari kaum perempuan. Biasa dijadikan campuran koktail, atau bahkan kopi, tapi disajikan ‘on ice’ juga tidak masalah. Yum yum… (Burhanuddin Abe)

http://www.perempuan.com/index.php?comp=myday&do=index&id=20

No comments:

Post a Comment