Wednesday, September 11, 2013

Perish or Publish


KETIKA berkunjung ke sebuah toko buku di pusat perbelanjaan paling besar di Jakarta, Grand Indonesia, saya sempat terkejut. Pertama, toko buku yang tadinya menempati dua lantai, kini tinggal satu lantai saja. Kedua, dengan mengecilnya ruangan toko, ikut tergusur pula coffee shop favorit saya di situ.

Maklum, di venue di lokasi paling mahal di Jakarta dengan pemandangan kota yang luar biasa itu, saya biasa membaca artikel favorit, baik dari buku atau majalah, tapi terutama dari iPad, dengan ditemani secangkir Arabika.

Tutupnya kafe atau toko buku, mungkin hal yang biasa, pasti ada hitung-hitungan bisnis yang kurang match. Tapi ketika toko buku yang lain di kawasan Senen, yang tadinya luas dan kini hanya menyisakan 1,5 lantai, mulai timbul kecurigaan, apakah produk buku (cetak) mulai ditinggalkan pembacanya?

Di era internet, informasi kini makin mudah didapat, baik dari PC, laptop, bahkan ponsel cerdas. Merebaknya PC tablet yang makin ringkas dan praktis membuat orang lebih suka membaca melalui sabak digital tersebut ketimbang buku, majalah, tabloid, atau koran. Yang menarik, harga jual bacaan versi digital ini lebih murah ketimbang versi cetak.

Semua fakta tadi, kembali menerbitkan pertanyaan yang lebih fundamental, apakah era cetak segera berakhir?

Pada kenyataannya, tiras media cetak saat ini tidak beranjak naik, bahkan ada kecenderungan menurun. Di AS selama lima tahun terakhir, sejumlah perusahaan media cetak mengalami perubahan secara dramatis, entah itu berhenti terbit atau berganti platform digital. Sebutlah Philadelphia Inquirer yang bangkrut, atau The Minneapolis Star dan Seattle Post Intelligencer yang menghentikan produksi cetaknya dan menggantinya dalam versi digital.

Yang mutakhir, apalagi kalau bukan Washington Post, yang semula dimiliki keluarga Graham selama empat generasi,  takluk kepada Jeff Bezos. CEO Amazon ini mengucurkankan dana US$ 250 juta (sekitar Rp 2,57 triliun) untuk mendapatkan salah satu harian paling berpengaruh di AS itu.

Di tangan Jeff Bezos, pasti akan ada perubahan di tubuh Washington Post dalam beberapa tahun ke depan, yang erat kaitannya dengan perkembangan internet. Maklum, Bezos salah satu pelopor di industri TI. Di Seattle ia berhasil menghadirkan Kindle, perangkat untuk membaca buku secara digital. Kelak bisnis e-book yang dikembangkannya pun semakin membesar seiring dengan membesarnya Amazon.com, bisnis perdagangan online yang sangat sukses.

Bezos meyakini bahwa koran cepat atau lambat akan punah. "Dalam dua dekade mendatang tidak akan ada lagi media cetak, mungkin akan menjadi barang mewah di sejumlah hotel yang menawarkannya sebagai layanan istimewa," ujarnya dalam sebuah wawancara di Berliner-Zeitung, tahun lalu.

Tampaknya sudah bisa ditebak, perubahan apa yang akan dilakukan Bezos terhadap Washington Post kelak, salah satunya adalah menjadikan koran prestisius itu memiliki pasar digital yang lebih kuat, terutama di tablet.

Revolusi media memang sedang berlangsung. Hukum besi media masih berlaku, perish or publish. Jika tidak ingin tergilas oleh zaman, ada baiknya mendengar pendapat tokoh pers kawakan Amir Effendi Siregar. “Sudah saatnya penerbit media cetak menyesuaikan diri dan memanfaatkan perkembangan teknologi, kawin dengan media online dan digital, tumbuh dan berkembang bersama melalui langkah kreatif dan inovatif,” ujar Ketua Dewan Pimpinan SPS Pusat dan Dosen Komunikasi, UII, Yogyakarta itu. (Burhan Abe)

Sumber: MALE 46 http://male.detik.com