Monday, June 09, 2014

Musik dan Media Sosial

"Music doesn't lie. If there's something to be changed in this world, it can only happen through music." —Jimi Hendrix

Jimi Hendrix
Musik tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan banyak yang menyatakan tidak bisa hidup tanpa musik. Lalu, bagaimana industri musik di era digital? Sejak Internet berkembang, musik memiliki lahan tersendiri di dunia maya, tak terkecuali di media sosial. Ketika Friendster berjaya, musik memiliki tempat tersendiri, seperti di MySpace dan Last.fm. Bahkan, menyadari pentingnya keberadaan musik, media sosial seperti Twitter sempat berusaha mengambil alih SoundCloud.

Fin Leavell adalah orang pertama yang mengunggah karya musik pribadinya ke MySpace, yang kemudian menjadi tren yang cukup luas. MySpace pun berkembang semakin besar sebagai media sosial musik, setelah Rupert Murdoch, pemilik Fox News dan 20th Century Fox, membeli MySpace dan mendirikan MySpace Records pada 2005. 

MySpace Records merupakan label yang siap menerbitkan bakat terpendam yang ada di seantero MySpace. Beberapa nama yang sukses melalui MySpace adalah Lily Allen, Owl City, Hollywood Undead, Sean Kingston, dan Arctic Monkeys.

Ketika Facebook muncul dengan berbagai fitur, yang membuat banyak pengguna MySpace beralih pada 2008. Runtuhnya MySpace pada 2011 bisa jadi merupakan penyebab pengguna akun media sosial mencari alternatif lain. SoundCloud, yang ditemukan pada 2007, tampaknya bisa mengisi kekosongan tersebut. Pada Juli 2013 media sosial ini mampu menjaring 40 juta pengguna dan 200 juta pendengar.

Selain dua platform tersebut, bermunculan media sosial yang mengedepankan musik sebagai andalannya, mulai Google+, Spotify, 8tracks, Reverbnation, OurStage, hingga Fanbridge. Bahkan beberapa media sosial besar akhirnya memasukkan fitur musik dalam platform mereka. Facebook hingga Twitter pun melakukan hal itu. 

Lily Allen
Media sosial memang membantu pelaku seni musik lebih dekat dengan pencinta karyanya. Setiap orang di seluruh penjuru dunia selalu berusaha update informasi tentang artis idolanya, terutama yang berkaitan dengan karyanya. Jumlah view di YouTube dan downloader menjadi nilai jual sang musikus. Hal ini yang terjadi pada Psy, penyanyi asal Korea Selatan, yang kemudian mendunia berkat lagu Gangnam Style-nya. Begitu juga yang terjadi pada Justin Bieber. 

Belum lagi fenomena trending topic di Twitter, yang juga menjadi ajang jualan bagi musikus. Dulu, ketika sebuah televisi swasta di Indonesia memiliki program tayangan langsung pertunjukan band, trending topic menjadi salah satu hal yang dikejar para pengisi acara tersebut. Bukan hanya di Indonesia, hal itu juga berlaku dalam acara internasional, seperti MTV Video Music Awards, yang mampu menghasilkan 306.100 tweet per menit melalui hashtag #VMA-nya.

Musik tidak akan pernah bisa lepas dari kehidupan sosial manusia. Dalam bentuk apa pun, musik akan selalu memiliki tempat yang signifikan. Jauh hari Eve Shepherd, dalam tulisannya yang bertajuk "How Social Media Has Redefined the Music Industry", mengatakan musik itu sendiri merupakan media sosial. 

Sejak dulu orang primitif berkumpul dan menyaksikan tarian persembahan dengan mengelilingi api unggun. Pada era berikutnya, musik membuat anak muda bertukar kaset dan mixtape. Bahkan, dalam setiap konser, orang pun akan berkumpul menonton pertunjukan. So, yes, music is social. 

Perkembangan era digital yang sangat pesat akan mempengaruhi semua jenis kegiatan dan industri, termasuk industri musik. Saat ini setiap pelaku seni musik dapat dengan mudah berinteraksi dengan penggemar karyanya. Hal ini terjadi karena perkembangan teknologi dan media sosial dari hari ke hari yang semakin banyak jenisnya. 

Justin Bieber
Berikut ini beberapa media sosial yang sering digunakan oleh pencinta musik untuk bersosialisasi di Internet. 

Facebook
Sebagai media sosial terbesar, tidak bisa dimungkiri banyak orang memilih Facebook untuk berinteraksi. Musikus/band biasanya memilih menggunakan fasilitas Fanpage untuk update segala jenis informasi yang akan disampaikan. Bahkan beberapa di antaranya menggunakan fasilitas ini untuk memperkenalkan karya hingga klip video terbarunya.

Twitter
Keterbatasan 140 karakter yang disediakan oleh Twitter tidak membuat penggunanya menyerah menggunakan media sosial ini untuk berinteraksi. Banyak musikus atau penggemar musik bertukar informasi melalui Twitter. Bahkan beberapa di antaranya menggunakan Twitter sebagai ajang untuk memberitahukan jadwal manggung hingga penjualan merchandise. Twitter sebenarnya memiliki Twitmusic yang lebih spesifik lagi untuk bersosialisasi mengenai musik.

MySpace
MySpace memiliki peran penting dalam pertumbuhan musik pada era Internet. Sempat vakum, tapi kemudian Justin Timberlake bersama Specific Media LLC menghidupkannya kembali. Artis seperti Lilly Allen dan Arctic Monkeys pernah sukses melalui media ini. So, tentu saja media sosial ini masih dilirik untuk digunakan berinteraksi dalam bidang yang berhubungan dengan musik.

Last.fm
Jejaring sosial yang satu ini akan memperluas pengetahuan tentang musik. Hal ini terjadi karena setiap membuka halaman yang menyajikan informasi tentang seorang musikus/band, Last.fm akan menghadirkan hingga lima musikus/band lain dengan jenis yang sama. Fitur bertukar pesan dan chat pun tersedia di sini.

YouTube
Mengedepankan video sebagai unggulannya, YouTube menjadi salah satu media sosial yang cukup penting dalam industri musik. Bahkan kebanyakan musikus menggunakan media ini sebagai ajang perkenalan karya atau klip video terbaru mereka. Meski mengedepankan format video, tidak sedikit juga yang berbagi lagu melalui media ini. 

SoundCloud
Di sini setiap pengguna bisa berbagi bebunyian yang direkam dan diunggah. Banyak musikus dan produser yang menggunakan media ini untuk berbagi. Ada yang menyediakannya secara gratis untuk diunduh atau langsung dihubungkan dengan portal musik, seperti Beatport dan iTunes. 

Reverbnation
Inilah media sosial yang berfungsi menjalin hubungan di antara pelaku industri musik. Mereka bisa melakukan promo karya hingga mencari panggung untuk dicoba. 

Kompoz
Media sosial ini menarik, karena penggunanya bisa melakukan kolaborasi, baik offline maupun online. Hal ini tentunya sangat bermanfaat bagi musikus.


Sumber: MALE Zone by Witanto Prasetyo, MALE 85 http://male.detik.com