Dari Petualangan hingga Koleksi

Namanya Steve Fosset. Mungkin tidak banyak orang mengenalnya, tapi catatan tentang petualangannya itulah yang membuat pria kelahiran Tennessee, Amerika Serikat, 22 April 1944, ini populer. Bahkan di kalangan para petualang namanya pun sangat disegani. 

Betapa tidak, Fossett tak cuma tangguh menaklukkan ombang-ombak ganas di laut mana pun. Ia juga seorang pendaki gunung yang andal, meski tak pernah bisa menaiki puncak Everest. Dan kini, ia telah mencatatkan dirinya sebagai penerbang solo paling cepat yang mengitari bumi tanpa henti: 67 jam dengan jarak 37 ribu kilometer! ”Inilah obsesi terbesar saya,” katanya. 

Fosset mulanya dikenal sebagai petualang laut. Banyak perjalanannya di lautan menjadi parameter keberanian seorang petualang. Berbagai pengalaman sudah dikecapnya dalam petualangan laut. Terombang-ambing di lautan bisa jadi malah menyenangkan untuknya.

Dengan modal sebuah kapal bercadik dua bernama Chayenne, ia terabas hampir keseluruhan rute laut terganas di dunia. Mulai dari usaha memecahkan rekor tercepat dalam melintas Lautan Atlantik, Bermuda, Miami hingga New York, hingga lautan Mediterian menjadi santapan kegiatan perjalanan gilanya. 

Tidak hanya berpetualang di laut, ia juga mengarungi angkasa dengan menaiki balon udara keliling dunia. Laksana cerita Jules Verne dalam Around The World in 80 Days, ia tempuh perjalanan dua bulannya melintasi udara bumi. ”Saya tidak melakukan ini untuk kesenangan saja, tapi juga menciptakan sejarah,” ujarnya.

Kalau dikatakan petualangan gila mungkin tidak salah. Tapi bagi Fosset, semua yang dilakukannya adalah sebuah kesenangan, kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran, tapi juga hampir menjadi profesi.

Mungkin tidak harus seperti Fosset, tapi berpetualang memang mulai menjadi hobi para eksekutif saat ini. Dari berpetualang, tepatnya soft adventure, mereka menuai pengalaman menarik dan berharga bagi kehidupan mereka. Dunia petualang bagi para pehobi menjadi tantangan tersendiri yang mengasyikkan. Sebuah perusahaan rokok global pun berani membentuk adventure team dalam program tahunannya.

Para peserta tidak harus seorang petualang beneran, tapi paling tidak harus lulus dari berbagai ujian, mulai dari mengemudikan motor trail, jeep terbuka di medan off road, triatlon, rafting, berenang, dan sebagainya. Cukup seru, selain peminatnya bejibun, kegiatan ini bisa membentuk brand image yang baik terhadap produk ini.

Kegiatan berpetualang tidak hanya menyenangkan, tapi melahirkan banyak cerita. Seperti pengalaman Amir Maulana yang hobi naik gunung. Berada di puncak gunung bagi lulusan Fakultas Ekonomi UI Jakarta ini menjadi kenikmatan tersendiri yang sulit dicari bandingannya. 

Profesional di bidang perbankan yang di masa mahasiswa menjadi pengurus klub pecinta alam ini merasa tenang saat melakukan pendakian gunung dan sensasinya ketika berhasil ke puncaknya. “Kita menjadi dekat dengan Tuhan,” kata Amir yang pernah menaklukkan Gunung Semeru dua kali itu.

Previous article
Next article

Related Stories

spot_img

Discover

Luigis Enters a New Era—Without Losing Its Soul

Di tengah derasnya transformasi Canggu menjadi salah satu destinasi gaya hidup paling dinamis di...

Sebuah Sanctuary di Tengah Jakarta

Wajah Baru JimBARan Lounge AYANA Midplaza Merayakan Ketenangan dan Warisan Kuliner Nusantara Di kota yang...

Tantangan Berikutnya bagi Dunia Usaha Indonesia

Membuktikan Nilai AI bagi Bisnis Adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia terus meningkat. Namun,...

Saat Trisara Mengajarkan Arti Kemewahan yang Sesungguhnya

Phuket yang Tak Banyak Orang Kenal Di tengah tren slow travel yang semakin digemari...

Seni Memberi yang Tak Pernah Kehilangan Makna

Fairmont Jakarta Mengangkat Tradisi Mooncake Menjadi Simbol Kemewahan yang Penuh Cerita Di tengah dunia yang...

Belajar Adil

Ketika Kepemimpinan Dimulai dari Keputusan yang Tak Akan Memuaskan Semua Orang Di dunia yang semakin...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here