Sang Pemimpi dari Belitong

Ya, nama Andrea Hirata tidak hanya diperhitungkan di jagad pernovelan Indonesia, tapi ia adalah ikon baru dalam kebudayaan pop Indonesia. Andreanis adalah istilah yang diciptakan bagi mereka yang jadi fans Andrea Hirata. 

Namun, di tengah glamoritas yang mungkin menyertai kehidupannya kini, Andrea adalah Andrea yang dulu yang tetap bersahaja. “Saya tetap orang kampung yang sebenarnya tidak suka popularitas,” ujar lajang kelahiran Belitong 24 Oktober, 34 tahun yang lalu.

Meski menggeluti sastra, Andrea sebenarnya ahli dalam bidang ekononomi. Ia juga menggemari sains — fisika, kimia, biologi, astronomi. Andrea mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Ia sedang mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya.

Andrea berpendidikan ekonomi di Universitas Indonesia, mendapatkan beasiswa Uni Eropa unutk studi master of science di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom.

Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi Ilmiah. 

Out of the Blue

Sebelum menulis Laskar Pelangi, nama Andre sebetulnya tidak dikenal sebelumnya, out of the blue. Ajaib memang, sebelumya ia tidak pernah menulis sepotong cerpen pun, tiba-tiba ia menghasilkan Laskar Pelangi, novel setebal 529 halaman yang ia selesaikan dalam waktu tiga minggu.

Anda tidak pernah menulis sebelumnya, tiba-tiba menghasilkan Laskar Pelangi yang fenomenal?

Penjelasannya mungkin begini. Saya percaya dalam komunitas tertentu, atau masyarakat yang mendiami wilayah tertentu memiliki kecederungan bakat tertentu. Orang-orang Bali, terutama yang tinggal di Ubud, misalnya, mempunyai kemampuan yang kuat untuk menjadi pelukis. Dan lingkungan yang membentuk saya adalah lingkungan masyarakat Melayu yang sosio lingustik, yang kental budaya satranya. Dalam kesehaian mereka sangat gemar berpantun, merangkai kata-kata indah.

Untuk menulis novel setebal 529 halaman, Anda hanya membutuhkan waktu tiga pekan, bisa dijelaskan?

Menulis Laskar Pelangi adalah keinginan lama. Di otak ini semua sudah tergambar dengan jelas, apa yang ingin saya tulis. Niat saya untuk menulis buku ini sudah ada sejak saya kelas 3 SD, ketika saya demikian terkesan pada jerih payah kedua guru SD saya Ibu Muslimah dan Bapak Harfan Effendi, serta 10 sahabat masa kecil saya, yang disebut Laskar Pelangi. 

Ibaratnya, outline dan plot-plot sudah ada di kepala, dan ketika punya waktu untuk menuangkannya dalam tulisan, itu hanya masalah teknis semata. Tapi sebetulnya, saya tidak menulis what I think, tapi what I feel. Jadi, semuanya lancar….

Previous article
Next article

Related Stories

spot_img

Discover

CURE Bali Tidak Berusaha Mengesankan—Justru Itu Kelebihannya

Ada restoran yang datang dengan suara bising. Ada juga yang datang dengan niat. CURE Bali...

Dapur Masa Depan Ada di Jakarta

Saat Teknologi Bertemu Ambisi Kuliner Indonesia Di kota yang tak pernah benar-benar tidur, dapur kini...

Mengelola Atasan

Bukan Tentang Menyenangkan, Tapi Membuat Mereka Lebih Tajam Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob “People don’t...

Strategi Baru Centara: Mengubah Hotel Jadi “Experience Platform” di...

Industri perhotelan global sedang bergeser. Ketika kamar mewah dan fasilitas premium menjadi standar, diferensiasi...

Kompas yang Tak Pernah Bergerak

Di banyak organisasi, “visi” sering lebih mirip dekorasi daripada navigasi. Ia terpajang rapi di...

POCO X8 Pro Series: Main Cepat, Tampil Tajam

Ada dua tipe orang di dunia smartphone hari ini: mereka yang sekadar pakai, dan...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here