Java Jazz Festival 2011

PERHELATAN musik terbesar besar tahun apalagi kalau bukan Java Jazz 2011. Selama event tersebut (4, 5, 6 Maret) buat saya adalah hari jazzy nasional – yang juga tercermin dari status-status Facebook dan Twitter saya.

Dulu saya rajin nongkrongin Jamz, pub jazz milik Peter Gontha, di kawasan Blok M yang kemudian pindah ke kawasan Hotel Aryaduta Semanggi Jakarta, hanya untuk menyaksikan penampilan musisi-musisi jazz dunia. Kemudian berlanjur ke Blue Note di bilangan Sudirman, Jakarta

Tapi tujuh tahun terakhir ini, semua maestro jazz bisa hadir dalam satu event, yakni Java Jazz – yang sayangnya karena jadwalnya yang kadang-kadang bersamaan tidak semua bisa kita nikmati. Bayangkan saja, tahun ini ada Santana, George Benson, Acoustic Alchemy, Roy Hargrove Quintet, Los Amigos (India), LLW, DREW, Ron King Big Band, Fourplay, Corinne Bailey Rae, dan lain-lain. 

Photos: Ristiyono

Indonesia sendiri menampilkan banyak musisi, di antaranya Sandhy Sondoro, Fariz RM, Barry Likumahua, Erwin Gutawa, Gigi, Otti Djamalus-Yance Manusama, Endah & Ressa, Andine, Dira Sugandi, Bubbie Chen, Kahitna, Yovie Widiyanto ‘Tribute To Elfa Secioria’, Indra Lesmana, dan masih banyak lagi.

Dalam event yang resminya bertajuk Axis Jakarta International Java Jazz Festival 2011 ini, keanekaragaman musik jazz ada di sini, mulai dari mainstream, swing, cool, bebop, latin, cuban, samba, bossas, fusion, retro, hingga musik jazz yang dipengaruhi oleh ‘world music’ dari Timur Tengah, India, bahkan etnik Indonesia. 

Orang boleh saja berdebat apakah musik yang tampil cukup ngejazz atau tidak, yang jelas, semua jenis musik tersebut masing-masing mempunyai crowd. Java Jazz Festival yang dihelat di JIExpo, Kemayoran, Jakarta ini sepertinya mengaburkan batas antara jazz dan bukan jazz, dan itu bukan persoalan bagi penonton yang membutuhkan hiburan dan keriaan, apa pun nama jenis musiknya.

Saya sendiri menaruh perhatian pada George Benson dan Santana, yang keduanya dikemas dalam paket special show. George Benson di hari pertama tampil dengan konsep ‘Tribute to Nat King Cole’, dan di hari kedua membawakan single hits-nya. Benson, musisi kelahiran Pittsburgh, 22 Maret 1943, sudah beberapa kali manggung di Jakarta dengan lagu-lagunya yang cukup akrab di telinga penggemarnya di Indonesia, sebutlah Nothing’s Gonna Change My Love For You, Greatest Love of All, hingga Give Me The Night.

Menyaksikan penampilan Carlos Santana bagi saya adalah pengalaman yang tak terlupakan. Permainan gitarnya yang “sangat latin” dan lebih dekat ke rock dan blues ketimbang jazz, benar-benar seperti menyengat. Musisi kelahiran Meksiko, 20 Juli 1947 itu mampu menyihir penonton dalam sebuah pertunjukan yang luar biasa. 

Related Stories

spot_img

Discover

Nyepi, Tapi Tetap Stylish di Ayana Bali

Setahun sekali, Bali mendadak jadi versi “airplane mode”. Nggak ada clubbing, nggak ada macet,...

Belitung yang Dijaga Waktu

Alam, Warisan, dan Cara Hidup di Tanjung Kelayang Reserve Di Kepulauan Belitung, lanskap tidak sekadar...

Da Maria, dan Seni Tetap Relevan di Bali

Di Bali, restoran datang dan pergi seperti ombak. Yang bertahan lama? Biasanya bukan yang...

Hawker Legends di NIHI Sumba

Ketika Warisan Rasa Tak Perlu Berteriak Ada jenis kemewahan yang tak merasa perlu menjelaskan dirinya...

AlUla dan The Red Sea Punya Tawaran Panas 2026

Ramadan, Tapi Versi Paling Stylish Lupakan bayangan Ramadan yang serba sunyi dan repetitif. Di Saudi,...

Java Jazz Festival Buka Babak Baru di Usia 21

Penyelenggara Java Festival Production mengumumkan penyelenggaraan myBCA International Java Jazz Festival 2026, yang menandai...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here