Dugem

 Ada yang hilang, tapi tak surut

Bukanlah sesuatu yang buruk ketika pesta diisi lineup DJ lokal, karena pada masa itu hal tersebut terjadi dalam berbagai keriaan yang digelar. Yang menarik, justru pesta-pesta ini meninggalkan kesan mendalam bagi yang pernah mengalaminya. Tidak mengherankan jika nama seperti Anton, Riri, Romi, Naro, dan Remy Irwan akan selalu mengesankan pemuja keriaan kala itu. Para DJ tersebut agaknya meninggalkan jejak yang signifikan dalam dance scene Indonesia.  

Dibanding kondisi sekarang, ketika berbagai festival besar kerap digelar, Rully dan Alibudi dari The Beat Magazine sependapat, pemuja keriaan kurang memahami arti pergelaran yang ada. “Bahkan dilihat dari harga tiket pun berbeda, sekarang bisa mencapai jutaan rupiah, dulu paling Rp 200.000-an,” ucap Rully.  

Kultur yang sama juga terjadi pada penonton konser musik. Esensi berpesta atau menonton menjadi berkurang karena penggunaan gadget. “Setiap orang selalu memegang telepon seluler untuk merekam jalannya show. Hal itu sangat berbeda dengan masa rave party, ketika orang lebih memilih dance sebebas-bebasnya,” ujar Ali.  

Kategori umur pun kini tidak menjadi batasan, sedangkan pada akhir 1990 hingga awal 2000-an, hanya pemuja keriaan berusia dewasa yang datang ke klub. Bukan cuma itu, tujuan utama pengunjung melihat penampilan DJ dan menikmati pesta diiringi lagu-lagu dari disc jockey. Dulu bukan sembarang orang yang menggagas acara seperti rave dan festival. Biasanya yang menggelar eventtersebut orang yang mengerti, memiliki kualitas, dan punya link serta backgroundyang bagus dalam dance music. Salah satunya Rini Noor dengan Nepathya-nya.  

Harus diakui ingar-bingar rave party sempat teredam. Bahkan bagi orang awam, kegiatan itu seperti ditelan bumi. Gerakannya yang sempit membuat penyebaran informasi tentang keriaan seperti ini minim. Namun Ali yakin rave party tidak hilang, tapi keberadaannya makin terjaga. “Mungkin setahun cuma ada satu atau dua, tapi kualitas pelaksanaannya terjaga,” katanya.  

Tapi bagaimanapun kemajuan scene dance music Indonesia tetap membawa kegembiraan siapa pun yang terlibat di dalamnya. Justru dengan perkembangan yang pesat, hal seperti itu bisa ditemukan kembali. Terbukti beberapa komunitas mulai naik ke permukaan: Trance dengan Indotrance, drum dan bas dengan Javabass, techno dengan Jakarta Techno Militia, house dengan Solid House Community, begitu juga dengan genre yang lain akhirnya keluar sebagai identitas. So, pilihan berpesta menjadi semakin banyak.  

Sumber: MALE Zone, MALE 146 http://male.detik.com

Related Stories

spot_img

Discover

AlUla dan The Red Sea Punya Tawaran Panas 2026

Ramadan, Tapi Versi Paling Stylish Lupakan bayangan Ramadan yang serba sunyi dan repetitif. Di Saudi,...

Java Jazz Festival Buka Babak Baru di Usia 21

Penyelenggara Java Festival Production mengumumkan penyelenggaraan myBCA International Java Jazz Festival 2026, yang menandai...

Genki Sushi Hadirkan Wajah Baru di Summarecon Mall Bekasi

Mengawali 2026 dengan energi segar, Genki Sushi resmi membuka gerai terbarunya di Summarecon Mall...

Ramadhan ala Sudestada

Di bulan ketika waktu terasa lebih pelan dan meja makan kembali jadi pusat cerita,...

Persaingan di Kantor

Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob Sejak kecil kita sudah dilatih untuk bersaing. Juara kelas....

Vagabond Hadir di Jakarta

Jakarta tidak kekurangan bar. Yang langka adalah bar dengan point of view. Vagabond datang...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here