Pilihan cocktail lainnya bergerak di spektrum yang berbeda namun tetap terasa familiar. Margarita menawarkan rasa citrus yang clean dan timeless lewat perpaduan tequila, triple sec, lemon, dan sugar—simple, tajam, dan selalu relevan. Sementara Long Island membawa karakter yang lebih bold lewat kombinasi light rum, vodka, tequila, gin, triple sec, lemon, dan cola. Meski dikenal “berbahaya” di banyak meja bar, versi di Markette tetap terasa smooth dan surprisingly approachable.
Cosmopolitan hadir lebih ringan dan vibrant dengan karakter fruity dari cranberry juice, sementara Piña Colada menawarkan nuansa tropical yang creamy dan comforting. Kombinasi light rum, coconut rum, coconut milk, dan pineapple menciptakan rasa yang terasa seperti short escape kecil dari kehidupan kota yang terlalu padat. Namun Markette tidak berhenti di area easy-going saja.
Untuk mereka yang menikmati cocktail dengan karakter lebih dewasa dan spirit-forward, tersedia Negroni dan Old Fashioned yang disajikan by glass. Negroni membawa bitterness yang kompleks dan elegan—jenis rasa yang biasanya baru benar-benar diapresiasi ketika seseorang mulai nyaman dengan hidupnya sendiri. Sementara Old Fashioned tampil hangat, rich, dan timeless lewat karakter bourbon yang smooth dan dalam.
Keduanya bukan minuman untuk diminum cepat. Keduanya meminta waktu. Dan mungkin itu yang membuatnya terasa relevan dengan usia tertentu.
“Banyak orang datang ke Markette untuk makan, tapi sebenarnya kami juga ingin menghadirkan pengalaman yang bisa dinikmati lebih santai di luar jam makan utama. Kadang orang hanya ingin duduk lebih lama, ngobrol tanpa buru-buru, atau menikmati suasana weekend dengan sesuatu yang familiar namun tetap terasa spesial,” ujar Cendyarani, President Director ISMAYA Group. Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi cukup akurat membaca bagaimana budaya menikmati malam di Jakarta mulai berubah.
Hari ini, orang tidak selalu mencari tempat paling keras, paling eksklusif, atau paling sulit dimasuki. Ada kejenuhan terhadap segala sesuatu yang terasa terlalu performatif.
Banyak orang mulai kembali mencari tempat yang memberi ruang untuk menjadi lebih santai—tempat di mana mereka bisa menikmati makanan enak, cocktail yang familiar, dan percakapan yang mengalir tanpa tekanan sosial untuk selalu terlihat “having the best night ever”.

Karena sering kali, malam terbaik justru tidak datang dari rencana besar. Melainkan dari keputusan impulsif untuk menambah satu ronde lagi. Dari kalimat “sebentar lagi pulang” yang akhirnya molor dua jam. Dari obrolan yang awalnya biasa saja, lalu berubah menjadi sesuatu yang diam-diam terasa penting. Dan di kota seperti Jakarta, kemampuan untuk menikmati malam tanpa tergesa mungkin sudah menjadi bentuk luxury baru yang paling relevan.

