Digital Publishing is Revolving

Kehadiran digital publishing tak bisa dibendung lagi. Bila tak ikut, kematian perlahan pasti menjelang.

Digitalisasi merambah ke seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia penerbitan. Perlahan tapi pasti, proses digitalisasi media terus berlangsung. Cerita tutupnya majalah konvensional (cetak) bukan hal baru, sementara lahirnya majalah-majalah digital adalah sebuah keniscayaan.

Di AS, seperti dituturkan dalam artikel di Econtentmag.com, yang ditulis oleh Keith Loria, Alliance for Audited Media melaporkan bahwa pada semester pertama 2014 industri media digital menunjukkan sinyal perkembangan yang positif.  

Sementara itu, seperti dilansir dari AdAge.com, PricewaterhouseCoopers melalui Global Entertainment and Media Outlook memperkirakan nilai iklan di media digital akan menanjak tahun ini. Besarnya sekitar 22,4 persen atau US$ 3,9 miliar, dan akan mencapai US$ 7,6 miliar pada 2018. Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di media cetak.  

Memang, tidak mudah mengubah kebiasaan dari cetak menjadi digital. Sebuah artikel yang ditulis Atlantic.com mengungkapkan bagaimana Time Inc memiliki masalah, dan perubahan platform menjadi digital juga bukan solusi yang dipandang tepat. Permasalahannya tak hanya mengubah dari kertas menjadi file digital, tapi lebih dari itu.  

Mungkin film The Secret Life of Walter Mitty bisa menjadi gambaran betapa move on itu tidak mudah. Dalam film tersebut dituturkan, Walter Mitty adalah pegawai yang memiliki tanggung jawab atas klise film analog yang dikirimkan oleh beberapa fotografer. Permasalahan timbul ketika media itu berubah platform. Selain jasa Walter sudah tidak diperlukan, masih ada beberapa pegawai lain yang akan terkena perampingan. Sebuah perubahan ternyata tidak menguntungkan semua pihak, ada pihak-pihak, yang apa boleh buat, harus dikorbankan.  

Celakanya, perubahan ke arah digital bukan berarti semua persoalan menjadi beres. Setidaknya ada sejumlah PR yang lain yang harus dikerjakan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Di internal ada masalah kreativitas, di eksternal ada persaingan yang tidak kalah sengitnya. Belum lagi pasar digital yang memang belum matang, ini yang disebut masa transisi dari konvensional ke digital.    

Dalam masa transisi, media digital adakalanya mengalami fase stagnan. Dalam hal ini, biasanya beberapa orang dengan data yang sangat minim akan langsung menjatuhkan vonis bahwa di dunia digital pun tidak ada masa depan. Benarkah?

Yang jelas, fakta yang tidak bisa dimungkiri adalah, berbagai macam kecanggihan teknologi dimiliki tablet komputer yang dipakai sebagai media. Untuk memenuhi inovasi di ruang digital yang luas, hadir banyak pilihan untuk membuat artikel menjadi lebih menarik. Salah satunya dengan memasukkan multimedia di dalamnya. Dalam hal ini, contoh paling simpel adalah artikel yang dilengkapi video. Dengan adanya fitur tersebut, pada akhirnya artikel yang dibuat memang bukan tulisan belaka.

Marcus Rich, kepala publisher majalah terbesar di Kerajaan Inggris, percaya, dengan meningkatkan inovasi, seperti programmatic advertising dan kecerdasan penggunaan software untuk memberi ruang iklan digital secara lebih efisien, kesempatan akan berkembang lebih baik. Untuk memenuhi kebutuhan itu, workflow yang digunakan pun tentunya berbeda dengan budaya media cetak.  

Belum berhenti di situ, media digital pun bisa menjadi lebih menarik lagi dengan adanya fitur interaktif. Fitur Tap & Choose, Swipe, dan foto 360 derajat, misalnya, menjadikan artikel yang dihadirkan jauh lebih menarik ketimbang sekadar tulisan. Belum lagi adanya directlink yang bisa ditambahkan untuk membantu promo pihak tertentu.  

Beberapa hal tersebut seharusnya bisa menjadi ajang pembuktian kreativitas, baik dari redaksi maupun pemasang iklan. Nah, apalagi jika berbicara mengenai iklan yang ada di area digital, pihak pemasang iklan memiliki keleluasaan menyampaikan pesan dari brand-nya dengan berbagai fitur yang tersedia. Kecanggihan teknologi dalam komputer tablet terhitung memiliki banyak sisi yang lebih menguntungkan ketimbang merugikan.  

Well, whether you like it or not, the digital era has arrived.

Sumber: MALE Zone by Witanto Prasetyo, MALE Edisi 88

Related Stories

spot_img

Discover

Hidangan Mediterania Klasik ala Restoran Scusa di Ayana Segara Bali

Restoran baru di Ayana Segara Bali ini menghadirkan perjalanan kuliner ke kawasan Mediterania Bergabung dalam daftar restoran...

Journey Through Java with Aman

The cultural heartland of Indonesia, Java is studded with ancient treasures engulfed by pea-green...

30 Tahun Taman Air Waterbom Bali

Taman air paling berkelanjutan di Asia ini mengumumkan proyek perluasan berdesain arsitektur yang akan...

Rumari and Friends

Bergabunglah dengan four-hands dinner ‘East meets West’ yang dikuratori oleh Chef Gaetan Biesuz dari Rumari dan...

Jember Utara dan Che Guevara

Bagi Che Guevara, satu tokoh utama dalam Revolusi Kuba, mengisap cerutu bukanlah kemewahan, tapi...

Starbucks Signing Store Pertama di Indonesia

Gerai Starbucks di Jakarta adalah Signing Store ke-17 perusahaan secara global yang menciptakan peluang yang setara...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here