Ikigai: Alasan yang Membuat Kita Ingin Bagun Pagi

Kita bisa melihatnya pada sosok Jiro Ono, maestro sushi Jepang. Di usianya yang telah melampaui delapan dekade, Jiro tetap datang setiap hari ke restoran kecilnya di Tokyo dan mengerjakan detail demi detail dengan ketelitian nyaris obsesif. Restorannya hanya memiliki sedikit kursi, namun menjadi destinasi kuliner dunia. Bagi Jiro, pekerjaan bukan sekadar profesi, melainkan jalan hidup yang terus diasah. Dalam dokumenter Jiro Dreams of Sushi, ia berbicara tentang pentingnya jatuh cinta pada pekerjaan, mendedikasikan hidup untuk mengasah keahlian, dan terus bergerak menuju kesempurnaan meskipun puncak itu sendiri mungkin tak pernah benar-benar tercapai.

Di situ kita melihat satu dimensi penting dari ikigai: makna tidak selalu datang karena seseorang sudah “sampai”, melainkan karena ia merasa sedang berjalan ke arah yang benar. Yang memberi energi bukan semata hasil akhir, tetapi keyakinan bahwa apa yang dikerjakan memang pantas ditekuni dengan sepenuh hati.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Kisah serupa tampak pada Jane Goodall. Ketika masih muda, ketertarikannya pada kehidupan primata mungkin terdengar tidak lazim, bahkan tidak menjanjikan masa depan yang jelas. Namun ia mengikuti rasa ingin tahunya, memulai penelitian di hutan Afrika, dan dari sana membangun kontribusi besar bagi ilmu pengetahuan sekaligus gerakan konservasi. Ikigai, dalam kasus ini, bukan hadir karena jalannya mulus, melainkan karena ada keberanian untuk setia pada rasa ingin tahu yang mendalam.

Di Indonesia, bentuk ikigai bisa muncul dalam skala yang jauh lebih dekat dengan keseharian. Ukke R. Kosasih dan suaminya, misalnya, membangun Kabin Kebun dari keinginan untuk hidup lebih sederhana: mengurangi konsumsi berlebih, kembali dekat dengan tanah, dan menata ulang hidup agar tidak sepenuhnya didikte oleh ritme kota.

Dari rumah tinggal di tengah lanskap Cisarua, tempat itu berkembang menjadi beberapa kabin sederhana yang menawarkan pengalaman tinggal dekat alam. Ia tidak lahir dari ambisi ekspansi bisnis besar, melainkan dari pilihan hidup yang otentik—dan justru karena itu terasa kuat. Rumah menjadi ruang hidup, bukan sekadar aset. Bisnis menjadi perpanjangan dari nilai, bukan sekadar mesin pertumbuhan.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa ikigai sering kali muncul ketika pekerjaan, cara hidup, dan nilai personal berhenti berjalan sendiri-sendiri. Ada titik temu di mana seseorang merasa: ini saya, ini yang penting bagi saya, dan ini cara saya berkontribusi.

Ikigai tidak selalu bernama karier

Namun, akan keliru bila ikigai hanya dipahami sebagai “pekerjaan ideal” atau “passion yang dibayar”. Justru dalam pengertian aslinya, ikigai sering kali jauh lebih sederhana—dan lebih manusiawi.

Bagi banyak orang Jepang, ikigai tidak terletak pada profesi, melainkan pada keluarga, teman, rutinitas kecil, kebun yang dirawat, hewan peliharaan, komunitas, atau ritual pagi yang membuat hidup terasa utuh. Dalam survei terhadap 2.000 responden Jepang, hanya sekitar sepertiga yang mengaitkan ikigai dengan pekerjaan. Selebihnya menemukan makna dalam hal-hal yang tampak kecil, tetapi memberi rasa keterhubungan dan kontinuitas.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Related Stories

spot_img

Discover

AI Melaju, Pertahanan Bisnis Tertinggal

Perusahaan di Indonesia berlomba memanfaatkan kecerdasan buatan. Namun, fondasi keamanan, tata kelola, dan ketahanan...

Pasihan

Menyelami Jiwa Subak Melalui Pasihan, Film Dokumenter Baru dari SAKA Museum di AYANA Bali Di...

Luigis Enters a New Era—Without Losing Its Soul

Di tengah derasnya transformasi Canggu menjadi salah satu destinasi gaya hidup paling dinamis di...

Sebuah Sanctuary di Tengah Jakarta

Wajah Baru JimBARan Lounge AYANA Midplaza Merayakan Ketenangan dan Warisan Kuliner Nusantara Di kota yang...

Tantangan Berikutnya bagi Dunia Usaha Indonesia

Membuktikan Nilai AI bagi Bisnis Adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia terus meningkat. Namun,...

Saat Trisara Mengajarkan Arti Kemewahan yang Sesungguhnya

Phuket yang Tak Banyak Orang Kenal Di tengah tren slow travel yang semakin digemari...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here